Pengeroposan tulang alias osteoporosis tidak terjadi serta merta begitu saja. Biasanya, ini akan didahului dengan tahapan penurunan kepadatan tulang yang disebut osteopenia.

Osteoporosis umum tampak pada usia dewasa akhir menjelang lansia, tetapi permulaan dan perkembangan osteopenia sangat dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang bahkan sedini usia muda. Apa pasal?

Apa itu osteopenia?

Osteopenia adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan kondisi peralihan tulang yang sehat menuju osteoporosis. Tulang osteopenia mengalami penurunan kepadatan secara perlahan sehingga menjadi lebih lemah dibandingkan tulang normal, tetapi belum rentan untuk mengalami kerusakan dan patah seperti gejala osteoporosis.

Osteopenia terjadi ketika sel tulang mengalami pergantian, di mana sel tulang yang hancur jumlahnya lebih banyak dibandingkan sel tulang yang dibentuk baru. Akibatnya, simpanan mineral dalam tulang jadi lebih sedikit. Proses ini cenderung terjadi secara perlahan, tetapi faktor gaya hidup yang tidak sehat serta nutrisi tulang yang tidak mencukupi akan mempercepat proses perkembangan osteopenia.

Peralihan osteopenia menjadi osteoporosis juga sangat dipengaruhi oleh kesehatan dan kepadatan tulang saat orang tersebut masih muda atau sebelum ia memasuki usia 30 tahun. Pada orang yang punya tulang sehat, osteopenia bisa baru muncul  di atas usia 50 tahun. Hilangnya kepadatan tulangg juga tidak selalu berujung pada osteoporosis, karena hal tersebut sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, pola makan, rutinitas aktivitas fisik, serta kecukupan suplementasi nutrisi tulang.

Faktor risiko osteopenia

Hilangnya kepadatan tulang merupakan hal yang wajar yang terjadi karena perkembangan usia, tetapi osteopenia lebih mungkin terjadi jika Anda:

  • Perempuan yang mengalami perubahan hormonal akibat menopause
  • Perempuan dengan riwayat kehamilan pada usia remaja
  • Memiliki tulang yang kurang padat secara genetik
  • Mengalami gangguan makan atau asupan nutrisi yang tidak mencukupi
  • Sering mengalami menorrhea (perdarahan berlebih saat menstruasi)
  • Mengonsumsi rokok dan alkohol
  • Mengalami stres yang tidak terkontrol
  • Mengonsumsi kafein berlebih dari coklat, soda, minuman berenergi, kopi ataupun teh
  • Memiliki kondisi badan yang terlalu kurus
  • Kurang beraktivitas fisik dan gaya hidup serba mager

Selain itu, penurunan kepadatan tulang juga dapat dipicu oleh penyakit dan kondisi kesehatan tertentu, di antaranya:

  • Asma
  • Penyakit degeneratif seperti kanker dan diabetes
  • Peradangan kronis seperti arthritis, leukemia, limfoma, lupus
  • Peradangan saluran cerna seperti Crohn, ulcerative colitis dan inflammatory bowel disease (IBS)
  • Penyakit Celiac
  • Penyakit hati
  • Penyakit ginjal dan menjalani cuci darah
  • Memiliki riwayat transplantasi organ
  • Mengalami berbagai sindroma malabsorbsi
  • Kekurangan hormon gonad, tiroid dan paratiroid
  • Kelebihan hormon steroid akibat penyakit maupun penggunaan hormon steroid
  • Penggunaan obat tertentu yang dapat menurunkan kepadatan tulang seperti obat epilepsi, diuretik, anti-kanker, terapi hormon tiroid.

Bagaimana kondisi ini dapat dikenali?

Osteopenia tidak memiliki gejala tertentu dan tidak menimbulkan rasa nyeri, namun tulang yang rapuh akan mudah patah. Tulang yang mudah patah kemungkinan besar dikarenakan kondisi osteopenia sudah berkembang menjadi osteoporosis, terutama yang terjadi di sekitar bagian pinggang dan tulang belakang.

Kerapuhan tulang juga dapat menimbulkan efek terhadap kerusakan tulang belakang yang sulit dikenali karena tidak memiliki gejala dan rasa nyeri spesifik. Meskipun demikian, seiring dengan berjalannya waktu tulang belakang yang mengalami osteopenia mengalami perubahan postur sehingga seseorang cenderung terlihat membungkuk dan tampak berkurangnya tinggi badan. Itulah sebabnya baik osteoporosis maupun osteopenia merupakan masalah kesehatan tulang yang serius yang berpeluang menimbulkan komplikasi dan membatasi pergerakan seseorang.

Selain itu, osteopenia hanya dapat dikonfirmasi dengan pengujuan kepadatan mineral tulang. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan pemindaian dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA). Pemeriksaan kepadatan tulang sebaiknya dilakukan pada individu perempuan menjelang usia menopause (50 tahun), laki-laki ataupun perempuan dengan faktor risiko serta individu yang mengalami patah tulang saat berusia diatas 50 tahun.

Adakah cara untuk mencegah kerusakan tulang?

Meski klise, kita tidak boleh menyepelekan makna di balik pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Pencegahan pada dasarnya bertujuan untuk mencegah tulang mengalami percepatan kerusakan. Perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol serta memulai rutinitas aktivitas fisik merupakan suatu hal yang perlu dilakukan.

Olahraga angkat beban merupakan jenis aktivitas fisik yang efektif untuk mempertahankan kepadatan tulang.  Penuhi juga kebutuhan kalsium dan vitamin D dari asupan utuh sepeti produk olahan susu, sayur bayam dan brokoli, kacang-kacangan dan ikan berminyak seperti salmon dan sarden. Mengonsumsi suplemen makanan sebagai tambahan asupan nutrisi juga boleh dilakukan, asal konsultasikan terlebih dulu dengan dokter Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca