Fibrosis hati (liver) adalah kondisi ketika hati dipenuhi oleh jaringan parut sehingga tidak lagi mampu berfungsi dengan baik. Jaringan parut merupakan jaringan bekas luka yang terbentuk sebagai bagian dari proses penyembuhan.
Pembentukan fibrosis berawal dari peradangan atau cedera hati yang berulang-ulang atau berlangsung dalam jangka panjang. Peradangan dan cedera hati biasanya timbul akibat penyakit hati kronis, seperti hepatitis B, hemokromatosis, atau perlemakan hati.

Jaringan parut amat berbeda dengan jaringan hati yang sehat. Ini karena jaringan parut tersusun atas komponen matriks ekstraseluler (ECM), bukan sel-sel hati hidup yang mampu memperbaiki diri dan menjalankan fungsi hati.
Fibrosis yang tidak ditangani akhirnya dapat menurunkan fungsi hati dan mengganggu kemampuannya dalam menyembuhkan diri. Jika peradangan terus berlanjut, penderita berisiko mengalami penyakit hati yang lebih serius.
Penyakit ini terbagi ke dalam beberapa stadium yang menunjukkan seberapa parah kerusakan hati. Salah satu sistem penilaian yang paling sering digunakan ialah sistem METAVIR.
Ada dua komponen dalam penilaian ini, yaitu kelas (grade) dan stadium (stage). Kelas aktivitas menggambarkan seberapa cepat fibrosis hati berkembang, sedangkan stadium menandakan jumlah dan tingkat keparahan peradangan pada hati.
Nilai aktivitas berkisar dari A0 hingga A3 dengan keterangan sebagai berikut.
Sementara itu, stadium fibrosis hati terbagi menjadi sebagai berikut.
Fibrosis liver stadium awal biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun, begitu penyakit ini bertambah parah, jaringan hati akan mulai mengalami kerusakan sehingga penderita menunjukkan gejala berupa:
Sayangnya, penyakit ini sering kali baru terdiagnosis begitu mencapai stadium berat. Sebuah laporan dari jurnal The Lancet Gastroenterology & Hepatology menyebutkan bahwa sekitar 6 – 7% populasi dunia memiliki fibrosis hati dan tidak menyadarinya.
Pembentukan fibrosis umumnya berawal dari penyakit yang menyerang organ hati. Penyakit ini menyebabkan cedera atau peradangan pada hati yang bersifat kambuhan atau berlangsung selama bertahun-tahun.
Beberapa penyakit kronis yang kerap menyerang hati yakni:
Hati akan berusaha memperbaiki diri setiap kali mengalami cedera atau peradangan. Proses perbaikan ini memerlukan banyak bahan, khususnya protein. Kendati berguna, pada proses ini jugalah protein berlebih dapat menumpuk dalam jaringan hati.
Jika hati terus mengalami cedera atau peradangan, lama-kelamaan sel-sel hati tidak akan mampu memperbaiki dirinya lagi. Pada saat yang sama, protein berlebih berupa kolagen dan glikoprotein terus menumpuk lalu membentuk jaringan parut.
Seiring perkembangan penyakit, jaringan parut dapat memenuhi seluruh organ ini. Fibrosis hati yang tidak diobati dengan baik akhirnya bisa mengakibatkan sirosis, yakni tahap akhir penyakit hati yang harus ditangani dengan transplantasi hati.
Risiko terjadinya fibrosis hati lebih tinggi pada orang-orang yang:
Di bawah ini beberapa metode untuk mendiagnosis fibrosis pada liver.
Biopsi hati yakni metode diagnosis umum dengan menyuntikkan jarum panjang dan kecil ke dalam perut hingga mencapai hati. Ia kemudian akan mengambil sedikit sampel jaringan hati Anda untuk diperiksa lebih lanjut.
Tes yang termasuk ke dalam liver elastography ini menggunakan gelombang suara berfrekuensi rendah untuk menguji seberapa kaku hati Anda. Ketika seseorang mempunyai fibrosis hati, jaringan parut pada hatinya membuat jaringan hati menjadi lebih kaku.
Tes darah biasanya digunakan pada penderita hepatitis C kronis yang berisiko memiliki fibrosis. Selain itu, ada pula tes lain yang menggunakan perhitungan khusus, seperti tes rasio aminotransferase dengan keping darah (APRI).
Pengobatan fibrosis liver biasanya ditentukan berdasarkan faktor penyebabnya. Setelah mengetahui penyakit yang menyebabkan fibrosis, dokter akan memberikan program perawatan khusus untuk Anda.
Berikut beberapa program perawatan yang mungkin disarankan.
Dokter mungkin juga meresepkan obat-obatan antifibrotik untuk mengurangi peluang pembentukan fibrosis baru pada jaringan hati. Resep obat-obatan ini juga bergantung pada penyebabnya sebagai berikut.
Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang menyehatkan hati dapat membantu mengurangi kemungkinan terbentuknya fibrosis baru. Berikut beberapa penyesuaian yang dapat Anda lakukan.
Fibrosis hati terjadi akibat pembentukan jaringan parut di dalam hati. Apabila dibiarkan, penyakit ini bisa menyebabkan sirosis hati yang berakibat fatal.
Maka dari itu, penderita penyakit hati kronis amat disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi hati sejak dini.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Liver problems – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 27 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/liver-problems/symptoms-causes/syc-20374502
Liver problems – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2021). Retrieved 27 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/liver-problems/diagnosis-treatment/drc-20374507
Chronic Liver Disease/Cirrhosis. (2021). Retrieved 27 July 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/chronic-liver-disease-cirrhosis
Fatty Liver Disease and Liver Fibrosis. (2021). Retrieved 27 July 2021, from https://www.radiologyinfo.org/en/info/fatty-liver-disease
Bataller, R., & Brenner, D. (2005). Liver fibrosis. Journal Of Clinical Investigation, 115(2), 209-218. doi: 10.1172/jci24282
Versi Terbaru
07/09/2023
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Nanda Saputri
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)