home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyakit Hepatitis

Definisi|Tanda-tanda dan gejala|Penyebab dan faktor risiko|Komplikasi|Diagnosis|Pengobatan di rumah
Penyakit Hepatitis

Definisi

Apa itu hepatitis?

Hepatitis adalah salah satu penyakit yang menjadi ancaman kesehatan utama di dunia. Penyakit ini menyebabkan peradangan hati akibat infeksi virus, sehingga mudah ditularkan dari orang ke orang.

Hati (liver) termasuk organ pencernaan dan berperan penting terhadap proses metabolisme tubuh. Infeksi virus hepatitis dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dalam proses pencernaan hingga penyaringan racun dan zat berbahaya dalam tubuh.

Penyakit liver yang satu ini dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:

  • hepatitis A,
  • hepatitis B,
  • hepatitis C,
  • hepatitis D, dan E.

Penyebab hepatitis pun beragam, mulai dari penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, hingga gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun). Namun, infeksi virus adalah penyebab utama dari penyakit ini.

Seberapa umum kondisi ini?

Hepatitis adalah salah satu masalah kesehatan yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri hepatitis mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat, produktivitas, angka harapan hidup, dan dampak sosial ekonomi masyarakat.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI pada 2014, Indonesia merupakan negara kedua dengan wabah penyakit hepatitis B tertinggi di Asia Tenggara setelah Myanmar.

Hingga saat ini diperkirakan 10 dari 100 orang Indonesia (28 juta orang) terinfeksi hepatitis B atau C. Empat belas juta kasus di antaranya berpotensi untuk berkembang hingga stadium kronis.

Dari stadium kronis akan semakin berisiko tinggi untuk menderita kanker hati. Dengan prevalensi yang meningkat pada penduduk berusia di atas 15 tahun.

Secara garis besar, jenis hepatitis yang paling sering terjadi di Indonesia disebabkan oleh virus hepatitis A (19,3%), B (21,8%), dan C (2,5%).

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala penyakit ini?

Tidak semua kasus hepatitis menunjukkan gejala. Gejala yang tidak terlalu kentara muncul pada tahap awal infeksi dalam sekitar 80% kasus. Sisanya bisa menunjukkan gejala dengan tingkat yang bervariasi, meliputi:

  • demam,
  • kelelahan,
  • kehilangan nafsu makan,
  • mual atau muntah,
  • nyeri lambung,
  • nyeri sendi atau otot,
  • perubahan frekuensi BAB dan buang air kecil,
  • kulit dan bagian putih mata menguning (jaundice),
  • gatal-gatal,
  • perubahan mental, seperti kurang konsentrasi atau koma, serta
  • perdarahan dalam.

Kapan harus periksa ke dokter?

Bila Anda mengalami tanda dan gejala yang disebutkan, segera periksakan diri ke dokter. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi.

Penyebab dan faktor risiko

Apa saja penyebab hepatitis?

Berikut ini beberapa hal yang bisa menjadi penyebab penyakit ini.

Virus hepatitis

Penyebab utama hepatitis adalah infeksi virus yang terjadi pada hati, sehingga menyebabkan peradangan.

Kasus yang paling sering terjadi di Indonesia adalah infeksi virus hepatitis, A, B, dan C (HAV, HBV, dan HCV). Ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga cara penularannya pun berbeda.

Hepatitis A

Hepatitis A (infeksi virus HAV) adalah penyakit yang umum terjadi pada masyarakat di negara berkembang. Penyakit ini menyebabkan gejala yang paling ringan dibandingkan jenis lainnya.

Kebanyakan kasus penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Bila sudah akut, penderitanya dapat mengalami sakit kepala, mual, dan muntah. Penularan HAV dapat terjadi lewat beberapa cara, yaitu:

  • konsumsi makanan dan minuman yang tercemar,
  • kontak langsung dengan penderita, serta
  • berhubungan seks tanpa kondom.

Virus penyebab penyakit liver ini termasuk RNA virus yang tidak diselubungi pelindung. Setelah masuk ke dalam hati, HAV mengalami masa inkubasi selama 2 – 6 minggu. Ketika menginfeksi, HAV bereplikasi di dalam sel hepatosit hati.

Tidak seperti kebanyakan virus, HAV tidak menimbulkan kerusakan pada sel hati. Kerusakan yang terjadi disebabkan oleh respons dari sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, pada orang yang terinfeksi HAV dapat ditemukan anti-HAV IgM dan anti-HAV IgG.

Hepatitis B

Mulanya orang yang terinfeksi HBV akan menderita hepatitis B akut. Gejala dari kondisi ini biasanya meliputi:

  • rasa sakit pada bagian perut atas sebelah kanan,
  • penyakit kuning, serta
  • urine berubah warna menjadi gelap dan pekat.

Infeksi HBV akut berisiko berkembang ke stadium kronis. Penyakit ini bisa dicegah melalui vaksinasi sejak dini.

Penularan HBV 95% terjadi secara vertikal, yaitu ketika masa perinatal atau proses persalinan, dan 5% berlangsung secara horizontal, melalui proses transfusi darah, penggunaan jarum suntik, pisau cukur, dan transplantasi organ.

Hepatitis C

Pasien penyakit hati kronis, seperti sirosis hati atau kanker hati cenderung lebih mudah mengalami hepatitis C. Kondisi ini umumnya disebabkan infeksi HCV yang berkembang ke tahap kronis, sehingga dibutuhkan pengobatan khusus.

Sejauh ini belum ada vaksin yang dapat mengurangi penyebaran HCV. Bahkan, virus ini juga terbagi menjadi 6 jenis gen atau genotip dengan karakteristik virus yang berbeda. Itu sebabnya, pembuatan vaksin perlu menciptakan antibodi yang dapat melawan variasi dari genotip HCV.

Sama seperti HBV, infeksi HCV dapat ditularkan melalui transfusi darah, cairan tubuh, dan transplantasi organ. Penularan virus pada saat persalinan atau melalui hubungan seksual juga dapat terjadi, tetapi kemungkinannya masih sangat kecil.

Virus ini terdiri atas satu sel RNA yang dlindungi oleh selubung yang hanya bisa hidup pada sel manusia atau simpanse. HCV bereplikasi dengan cepat sehingga jumlahnya meningkat dengan drastis di dalam darah selama infeksi berlangsung.

Pertambahan virus hepatitis C tidak bisa diikuti oleh jumlah antibodi (anti-HCV) yang diproduksi sistem imun melawan infeksi HCV. Reaksi sistem imun yang kesulitan melawan infeksi HCV ini lantas menyebabkan peradangan pada hati.

Hepatitis D dan E

Meskipun dua virus hepatitis lainnya yaitu HDV (virus hepatitis D) dan HEV (virus hepatitis E) tak banyak ditemukan kasusnya di Indonesia, penyebarannya tetap perlu diwaspadai.

HDV atau yang disebut dengan virus delta merupakan jenis virus hepatitis yang paling jarang ditemukan, tetapi juga paling berbahaya di antara virus hepatitis lainnya.

HDV memerlukan HBV untuk dapat berkembang biak sehingga hanya bisa ditemukan pada penderita hepatitis B.

HEV memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan HAV yaitu termasuk jenis virus RNA yang ditularkan melalui fecal oral atau masuk melalui mulut.

Hepatitis non-virus

Peradangan hati juga bisa disebabkan oleh zat-zat beracun, kandungan obat-obatan, dan bahan kimia berbahaya yang mampu menghancurkan sel-sel di dalam hati atau disebut hepatosit.

Paparan dari zat beracun ini dapat menyebabkan 70 – 85 persen kerusakan hepatosit dalam hati. Terlebih penyakit hepatitis non-virus dapat terjadi akibat penggunaan suplemen diet yang memengaruhi fungsi kerja hati.

Hepatitis alkoholik

Hepatitis alkoholik merupakan peradangan yang terjadi di dalam hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol selama bertahun-tahun. Namun orang yang memiliki ketergantungan terhadap alkohol tidak lantas mengidap penyakit ini.

Dalam beberapa kasus, orang yang mengonsumsi alkohol dalam batas normal juga bisa terkena penyakit ini.

Penderita penyakit ini biasa mengalami gejala kehilangan nafsu makan akibat konsumsi alkohol yang berlebihan, rasa sakit perut bagian atas, hingga mual dan muntah-muntah.

Tak jarang, penderita juga kerap mudah kehilangan fokus atau mengalami perubahan tingkah laku selama mengalami penyakit ini. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya kadar toksin di dalam tubuh.

Selain itu, kandungan alkohol juga dapat melemahkan kerja hati sehingga membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi virus hepatitis.

Bahkan konsumsi alkohol bisa menimbulkan beberapa penyakit hati lainnya, seperti perlemakan hati alkoholik atau suatu kondisi di mana terlalu banyak penumpukan lemak di hati atau sirosis yaitu kerusakan hati kronis.

Hepatitis autoimun

Hepatitis autoimun adalah kondisi ketika sistem imun menyerang sel-sel hati. Tidak hanya peradangan, kerusakan sel hati ini juga dapat menyebabkan kegagala fungsi hati bila tidak segera ditangani.

Penyebab utama dari masalah liver ini belum diketahui pasti. Namun, penyakit ini merupakan kelainan genetik yang berkembang akibat faktor lingkungan.

Gejalanya pun umumnya sama dengan gejala lainnya. Akan tetapi, gangguan kesehatan ini dapat dikendalikan dengan minum obat-obatan untuk menekan kerja sistem imun yang terlalu reaktif.

Hepatitis autoimun dibagi menjadi dua tipe, yaitu autoimun tipe 1 yang lebih umum dan autoimun tipe 2. Selain itu, penderita penyakit ini juga dapat mengalami penyakit autoimun lainnya, meliputi:

Apa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami kondisi ini?

Penyakit hepatitis dapat dipicu oleh sejumlah faktor risiko yaitu sebagai berikut.

  • Berbagi jarum dengan orang lain, baik untuk penggunaan obat maupun tato atau tindik.
  • Menderita HIV karena dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
  • Berhubungan seks tanpa kondom.
  • Penggunaan obat yang dapat merusak hati, seperti acetaminophen dan methotrexate.
  • Berbagi alat makan dengan penderita hepatitis A dan E.
  • Pemakaian sumber air dan makanan yang terkontaminasi.
  • Melakukan prosedur medis, seperti transfusi darah atau kemoterapi.
  • Penularan dari ibu ke anak.

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari hepatitis?

Komplikasi hepatitis lebih rentan terjadi pada pasien hepatitis B dan C. Hal ini juga lebih sering terjadi ketika infeksi HBV berlangsung dalam jangka waktu yang lama atau termasuk infeksi kronis.

Berikut ini beberapa komplikasi yang muncul akibat gangguan fungsi hati ini.

Fibrosis

Tahap awal dari kerusakan hati adalah fibrosis, yaitu jaringan hati yang mengeras. Bila dibiarkan, fibrosis akan berkembang menjadi sirosis.

Kondisi ini memerlukan waktu 20 – 30 tahun untuk berkembang dan menghalangi aliran darah ke hati (sirosis).

Sirosis

Peradangan hati yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis bisa menyebabkan luka yang merusak fungsi hati secara jangka panjang. Sirosis yang ditandai dengan munculnya luka pada hati menyebabkan hati tidak lagi berfungsi secara normal.

Menurut American College of Gastroenterology, sekitar 20% penderita hepatitis C kronis akan mengalami sirosis. Begitu sirosis terjadi, sekitar 50% pasien akan mengalami komplikasi yang mengancam nyawa dalam 5 – 10 tahun berikutnya.

Sampai ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Transplantasi hati menjadi satu-satunya pilihan untuk pulih.

Kanker hati

Kanker hati adalah salah satu komplikasi yang paling rentan terjadi pada pasien hepatitis. Bila dibiarkan, kanker hati dapat menyebabkan gejala yang berat.

Itu sebabnya, dokter akan menganjurkan pemeriksaan USG setiap 6 hingga 12 bulan untuk menunjukkan bila ada tumor yang terbentuk. Semakin cepat ditemukan, pengobatan kanker hati membuka peluang kesembuhan yang lebih besar.

Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan melalui operasi pengangkatan sel kanker dan bagian hati yang rusak ataupun melakukan transplantasi hati.

Fulminant hepatitis B

Fulminant hepatitis B adalah kondisi ketika sistem imun yang bereaksi melawan infeksi virus justru menyebabkan kerusakan hati yang parah. Gejala dari penyakit ini pun beragam, antara lain:

  • pingsan,
  • pembengkakan pada perut, dan
  • muncul penyakit kuning (jaundice).

Penyakit ini memerlukan penanganan medis secepatnya karena dapat menyebabkan gagal hati.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Banyak orang yang mengalami hepatitis justru tidak menyadari telah terinfeksi virus. Itu sebabnya, penyakit ini lebih sering terdeteksi tanpa sengaja ketika pemeriksaan medis rutin.

Cara terbaik untuk memeriksakan penyakit ini adalah menjalani tes darah yang akan menunjukkan hasil fungsi hati dengan mengukur:

Selain tes darah, dokter bisa mendiagnosis penyakit ini melalui pemeriksaan fisik dari gejala yang dialami, seperti kulit atau mata menguning. Pemeriksaan riwayat diperlukan untuk tahu dari mana Anda bisa terkena virus tersebut.

Bagaimana cara mengobati penyakit hepatitis?

Berikut ini beberapa cara yang dilakukan untuk mengatasi hepatitis.

Obat-obatan

Obat-obatan yang paling umum dalam pengobatan hepatitis meliputi sebagai berikut.

  • Interferon
  • Obat antivitus protease inhibitor
  • Obat antivitus analog nukleosida
  • Polymerase inhibitor dan kombinasi terapi obat
Interferon

Interferon adalah kombinasi obat-obatan antivirus. Obat ini bertujuan untuk mengurangi efek samping dan memungkinkan obat tetap berada di tubuh untuk waktu yang lebih lama.

Selain itu, interferon juga menambah asupan protein untuk melawan infeksi dan membantu sistem imun melawan HCV agar tidak terjadi komplikasi. Interferon meliputi sebagai berikut.

  • injeksi peginterferon alfa-2a (Pegasys)
  • injeksi peginterferon alfa-2b (PegIntron, Sylatron)
  • injeksi interferon alfa-2b (Intron A)
Obat antivirus protease inhibitor

Protease inhibitor digunakan untuk mencegah penyebaran virus dengan menghentikan reproduksinya. Obat-obatan ini bisa digunakan secara oral. Di bawah ini adalah beberapa obat-obatan antivirus protease inhibitor.

  • Telaprevir (Incivek)
  • Boceprevir (Victrelis)
  • Paritaprevir (ini adalah protease inhibitor tetapi hanya tersedia dalam Viekira Pak)
Obat-obatan antivirus analog nukleosida

Obat-obatan antivirus analog nukleosida juga bekerja untuk mencegah pembentukan virus baru. Obat ini juga digunakan dalam kombinasi dengan terapi lainnya untuk mengobati hepatitis.

Obat yang paling umum dari jenis ini adalah ribavirin (Copegus, Moderiba, Rebetol, Ribasphere, Ribasphere Ribapak, Virazole).

Meski begitu, efek samping dari ribavirin cukup berbahaya, yakni menyebabkan cacat lahir pada bayi baru lahir. Itu sebabnya, para ibu hamil tidak disarankan menggunakan obat ini.

Selain itu, ribavrin juga dapat menekan pertumbuhan pada anak-anak. Risiko ini bisa dialihkan dari pria kepada pasangan wanitanya dalam pembuahan.

Polymerase inhibitor dan kombinasi terapi obat

Polymerase inhibitor mencegah perkembangan penyakit hepatitis dengan menghentikan produksi virus. Pengobatan ini termasuk polymerase inhibitor sovaldi (Sofosbuvir).

Obat ini terkadang digunakan dalam kombinasi dengan ribavirin sampai selama 24 minggu.

Dokter juga bisa menggunakan kombinasi ledipasvir dan sofosbuvir (Harvoni) untuk mengobati penyakit ini. Obat-obatan ini harus digunakan dengan makanan dan tidak boleh ditumbuk.

Efek samping yang umum meliputi:

Pengobatan di rumah

Apa pengobatan rumahan untuk mengatasi hepatitis?

Perawatan hepatitis biasanya berfokus untuk mengurangi gejala. Anda juga bisa melakukan beberapa perawatan sederhana untuk mengurangi risiko komplikasi, yaitu sebagai berikut.

  • Lebih banyak beristirahat.
  • Membagi makanan menjadi beberapa porsi kecil untuk mengatasi mual.
  • Memilih makanan berkalori tinggi, seperti jus buah atau susu untuk mendapatkan energi.
  • Menghentikan konsumsi alkohol selama terinfeksi virus.
  • Menghindari berhubungan seksual tanpa kondom.
  • Selalu mencuci tangan, terutama setelah dari toilet.
  • Tidak menyiapkan makanan untuk orang lain selama terinfeksi.

Penyakit hepatitis merupakan infeksi peradangan yang disebabkan oleh virus. Dengan menerapkan kebersihan yang baik seperti mencuci tangan, Anda akan terlindungi diri dari penyakit liver ini.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pertanyaan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hepatitis. (2019). World Health Organization. Retrieved 17 October 2019, from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/hepatitis

Hepatitis A – symptoms & causes . (2019). Mayo Clinic. Retrieved 17 October 2019, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hepatitis-a/symptoms-causes/syc-20367007

Hepatitis B – symptoms & causes. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 17 October 2019, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hepatitis-b/symptoms-causes/syc-20366802.

Hepatitis C – symptoms & causes. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 17 October 2019, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hepatitis-c/symptoms-causes/syc-20354278.

Alcoholic hepatitis. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 17 October 2019, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alcoholic-hepatitis/symptoms-causes/syc-20351388.

Autoimmune Hepatitis. (2019). National Organization for Rare Disease. Retrieved 22 December 2020, from https://rarediseases.org/rare-diseases/autoimmune-hepatitis/.

Hepatitis. (n.d). Departemen Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [PDF File]. Retrieved 17 October 2019, from http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-hepatitis.pdf

Autoimmune hepatitis. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 17 October 2019, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autoimmune-hepatitis/symptoms-causes/syc-20352153

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi
Tanggal diperbarui 06/01/2021
x