4 Masalah Utama yang Disebabkan Oleh Obesitas Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh:

Masa anak-anak merupakan masa pertumbuhan di mana tubuh mengalami tahapan penyesuaian kebutuhan nutrisi dan pembentukan organ sebelum perkembangan lebih lanjut pada usia remaja hingga dewasa. Berat badan lebih dan obesitas merupakan masalah kesehatan karena tubuh memiliki penyimpanan energi dalam jumlah lemak tubuh yang abnormal. Apabila hal ini terjadi pada anak-anak, maka akan menyebabkan ketidakseimbangan asupan dan perkembangan fisik yang tidak sesuai.

Obesitas pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama faktor pola asuh orangtua dan pola pemberian asupan makanan. Tubuh anak-anak yang masih memerlukan penyesuaian asupan makanan akan menyimpan banyak energi dalam bentuk lemak jika tidak diimbangi dengan konsumsi secukupnya dan aktivitas fisik. Jika pola asupan tidak dapat diimbangi, maka anak akan mengalami obesitas.

Pada umumnya, anak yang mengalami obesitas mengalami gangguan pertumbuhan dan ditandai dengan kelebihan lemak yang dapat terlihat jelas permukaan tubuh yang melebihi proporsi tinggi badan dan usianya. Akibatnya terdapat komplikasi kesehatan yang disebabkan ketidakseimbangan sistem endokrin dan gangguan sistem kardiovaskuler, serta pertumbuhan tulang dan otot yang tidak optimal. Selain itu juga sering ditemukan anak yang mengalami obesitas mengalami masalah sosial dan psikologis.

1. Komplikasi kesehatan

Pada umumnya komplikasi kesehatan akibat obesitas pada anak erat kaitannya dengan perkembangan penyakit degeneratif, di antaranya:

  • Gejala prediabetesKondisi ini menyebabkan tubuh anak tidak dapat mencerna glukosa secara optimal dan meningkatkan kadar glukosa di dalam darah. Jika kondisi ini terus berlangsung maka pada saat usia remaja anak tersebut dapat menderita diabetes mellitus.
  • Sindrom metabolikSindrom metabolik merupakan kumpulan gejala perkembangan penyakit degeneratif seperti tingginya tekanan darah, tingginya kadar kolesterol “jahat” atau LDL (low density lipoprotein) dan rendahnya kolesterol “baik” atau HDL (high density lipoprotein) dan penumpukan lemak di sekitar perut anak.
  • Gejala asmaAnak yang mengalami obesitas lebih berisiko mengalami asma. Menurut para peneliti, salah satu  yang menyebabkan hal ini adalah obesitas dapat menyebabkan inflamasi pada sistem kardiovaskuler di mana jaringan lemak di sekitar pembuluh darah paru-paru menyebabkan paru lebih sensitif terhadap rangsangan udara dari luar dan menyebabkan gejala asma.
  • Gangguan tidur. Dikenal juga dengan sleep apnea yang merupakan gangguan pernapasan yang terhenti untuk sesaat akibat penimbunan lemak pada anak yang mengalami obesitas.
  • Hepatic steatosisKondisi liver berlemak atau yang dikenal juga sebagai fatty liver disease merupakan penyebab penumpukan lemak di tubuh dan di dalam pembuluh darah. Meskipun tidak menimbulkan gejala yang serius di waktu muda namun dapat menimbulkan kerusakan liver.
  • Pubertas lebih awalMerupakan gejala yang lebih banyak dialami oleh perempuan karena ditandai dengan menstruasi dini. Hal ini merupakan tanda ketidakseimbangan hormonal yang nantinya dapat menimbulkan masalah kesehatan perempuan setelah dewasa.

2. Gangguan pertumbuhan muskuloskeletal

Berat badan yang berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tulang, sendi, dan otot pada anak. Pada masa anak-anak, tulang dan sendi sedang mengalami pertumbuhan sehingga belum memiliki bentuk dan kekuatan yang optimal, apabila seorang anak mengalami berat badan berlebih maka akan merusak area pertumbuhan tulang dan dapat mencederai tulang.

Berikut  beberapa gangguan kesehatan tulang yang berisiko dialami oleh anak dengan obesitas:

  • Slipped capital femoral epiphysis (SCFE)Merupakan kondisi tulang paha (femur) yang mundur ke belakang akibat area pertumbuhan tulang tidak dapat menahan berat badan. Pada kasus yang serius kaki yang mengalami gangguan ini tidak dapat menahan berat badan sedikit pun.
  • Penyakit Blount. Gangguan ini ditandai dengan kaki yang bengkok akibat perubahan hormon dan tekanan yang terlalu berat pada kaki yang sedang mengalami pertumbuhan sehingga mengalami kecacatan.
  • Patah tulangAnak yang mengalami obesitas berisiko mengalami patah tulang akibat berat badan berlebih dan tulang yang tidak terlalu kuat akibat jarang beraktivitas fisik.
  • Flat feet. Adalah istilah untuk menggambarkan kondisi kaki yang mudah lelah sehingga tidak berjalan dengan jarak yang jauh.
  • Gangguan koordinasi. Anak yang mengalami obesitas cenderung sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan memiliki kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk seperti tidak dapat melompat dan berdiri dengan satu kaki.

3. Masalah dalam interaksi sosial

Anak yang mengalami obesitas cenderung mendapat stigma dan kurang diterima di lingkungan sosial seusianya. Mereka juga cenderung mengalami pandangan negatif, diskriminasi, hingga perilaku bully oleh teman-temannya karena kondisi badan mereka. Anak yang obesitas juga cenderung terpinggirkan dalam permainan yang membutuhkan kekuatan fisik, karena mereka bergerak cenderung lambat dibandingkan anak lain seusianya.

Kondisi sosial yang buruk seperti ini juga berpotensi mendorong mereka untuk menarik diri dari lingkungan dan lebih memilih untuk tinggal di rumah. Dengan jumlah teman yang lebih sedikit maka akan lebih sedikit aktivitas di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas sendetari sehingga mengurangi waktu mereka untuk beraktivitas fisik.

4. Gangguan psikologis

Gangguan psikologis dari anak dengan obesitas merupakan hasil dari stigma dan diskriminasi sosial, diantaranya:

  • Minder – merupakan kecenderungan merasa rendah diri bahkan kehilangan rasa percaya diri akibat body image yang dimiliki.
  • Masalah perilaku dan gangguan belajar – anak yang overweight cenderung memiliki kemampuan berinteraksi dan memiliki kecemasan dan cenderung menarik diri di lingkungan sosial, misalnya lingkungan sekolah. Hal ini dapat berdampak kepada kemampuan akademik di sekolah.
  • Depresi – disebabkan oleh akumulasi dari masalah psikologis yang dipicu oleh interaksi sosial. Tidak hanya menarik diri, anak yang mengalami depresi akan kehilangan semangat dalam beraktivitas. Masalah depresi pada anak sama beratnya dengan depresi pada orang dewasa.

Dampak dari lemak tubuh berlebih pada anak tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan tetapi juga membatasi anak untuk berinteraksi serta pertumbuhan mental anak yang kurang optimal.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca