8 Penyebab dan Faktor Risiko Obesitas yang Perlu Diketahui
Obesitas adalah kondisi penumpukan lemak tubuh berlebih yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan.

Obesitas dapat berkembang ketika asupan energi dalam jangka panjang melebihi energi yang digunakan tubuh. Namun, penyebab obesitas tidak hanya berkaitan dengan makan berlebihan atau kurang olahraga.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan obesitas sebagai penyakit kronis yang melibatkan interaksi faktor biologis, genetik, perilaku, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi rasa lapar, pengaturan energi, pilihan makanan, aktivitas fisik, dan cara tubuh menyimpan lemak.
Memahami penyebab, faktor risiko, dan dampak obesitas dapat membantu Anda mengenali hal-hal yang bisa dikelola dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Apa saja penyebab dan faktor risiko obesitas?
Obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
Salah satu mekanisme yang berperan adalah ketidakseimbangan energi dalam jangka panjang, yaitu ketika asupan energi lebih besar daripada energi yang digunakan tubuh untuk fungsi dasar dan aktivitas sehari-hari.
Kelebihan energi dapat disimpan dalam bentuk lemak. Meski demikian, berat badan dipengaruhi pula oleh sistem hormonal, faktor genetik, kesehatan, obat-obatan, dan lingkungan.
Berikut delapan penyebab dan faktor risiko obesitas yang dapat saling berkaitan.
1. Faktor genetik
Faktor genetik dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami obesitas, antara lain melalui pengaturan nafsu makan, rasa kenyang, dan penggunaan energi.
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan obesitas dapat memiliki risiko lebih tinggi karena faktor genetik dan lingkungan yang dibagi bersama.
Gen tertentu dapat memberikan instruksi agar tubuh merespons perubahan dari lingkungannya, termasuk menyimpan lemak lebih banyak.
Gen dapat memengaruhi beberapa fungsi tubuh yang berkaitan dengan pengaturan berat badan, seperti:
- metabolisme basal (BMR),
- distribusi lemak,
- pengaturan pengeluaran dan penyimpanan energi,
- sinyal tubuh, seperti nafsu makan dan rasa lapar atau kenyang.
Pada kasus yang lebih jarang, perubahan pada gen tertentu dapat menyebabkan obesitas monogenik atau sindromik yang muncul sejak usia dini.
Kelainan tertentu dapat memengaruhi jalur pengaturan rasa lapar dan kenyang di otak, termasuk jalur leptin-melanokortin.
Pada sebagian bentuk obesitas genetik yang langka, gejala dapat berupa rasa lapar berlebihan dan kenaikan berat badan sangat cepat sejak usia anak.
2. Pola makan tidak sehat

Pola makan tidak sehat yang sering menghasilkan asupan energi melebihi kebutuhan tubuh dapat meningkatkan risiko obesitas, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang.
Asupan makanan dan minuman tinggi energi, ukuran porsi, dan frekuensi konsumsi dapat ikut memengaruhi keseimbangan energi.
Beberapa kebiasaan yang dapat berkontribusi terhadap asupan energi berlebih antara lain:
- jarang mengonsumsi makanan kaya serat, seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan,
- sering mengonsumsi makanan padat energi dalam porsi besar,
- konsumsi minuman manis atau berkalori tinggi,
- sering ngemil makanan tinggi kalori tanpa memperhatikan rasa lapar dan kenyang,
- porsi makan yang berlebihan,
- sering mengonsumsi makanan ultra-proses tinggi lemak atau gula dalam porsi besar.
3. Jarang bergerak atau berolahraga
Kurang aktivitas fisik dan terlalu banyak waktu duduk dapat berkontribusi terhadap risiko obesitas.
Saat aktivitas fisik berkurang, energi yang digunakan tubuh untuk bergerak juga dapat menurun. Bila tidak seimbang dengan asupan energi dalam jangka panjang, risiko kenaikan berat badan dapat meningkat.
Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara perilaku sedentari, rendahnya aktivitas fisik, dan masalah kesehatan metabolik.
Waktu duduk atau menatap layar yang panjang dapat berkaitan dengan rendahnya aktivitas fisik. Namun, hubungan dengan obesitas dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, tidur, dan lingkungan.
Meningkatkan aktivitas fisik yang sesuai kondisi tubuh dan mengurangi waktu sedentari dapat menjadi bagian dari pengelolaan berat badan.

“Aku mulai olahraga, jaga makan, dan mengurangi snack serta gula. Tapi ada fase ketika aku merasa sudah usaha, sementara berat badan nggak turun-turun.”
— Ratu Maura, sedang menjalani penanganan obesitas
Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa perubahan berat badan tidak selalu sederhana. Jika berat badan sulit dikelola meski sudah melakukan perubahan pola makan dan aktivitas fisik, tenaga kesehatan dapat membantu mengevaluasi faktor lain yang berperan.
4. Penyakit dan obat tertentu
Kondisi medis tertentu dapat memengaruhi berat badan atau meningkatkan risiko kenaikan berat badan, misalnya hipotiroidisme, sindrom Cushing, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Tidak semua orang dengan kondisi tersebut akan mengalami obesitas.
Sebagian obat dapat menyebabkan kenaikan berat badan sebagai efek samping. Pengaruhnya bergantung pada jenis obat, dosis, durasi penggunaan, dan kondisi masing-masing orang. Contohnya antara lain:
- antidepresan tertentu,
- obat antikejang tertentu,
- sebagian obat untuk diabetes,
- antipsikotik tertentu,
- kortikosteroid sistemik yang digunakan dalam kondisi tertentu,
- obat penghambat beta tertentu (beta-blocker).
Jika Anda mengalami perubahan berat badan setelah menggunakan obat tertentu, konsultasikan dengan dokter. Jangan menghentikan atau mengganti obat tanpa arahan tenaga kesehatan.
5. Kurang tidur dan gangguan tidur
Kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas dapat memengaruhi pengaturan rasa lapar, nafsu makan, serta energi untuk beraktivitas.
Kebiasaan tidur yang terganggu juga dapat berkaitan dengan pilihan makanan dan rutinitas sehari-hari yang meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Hubungannya tidak selalu langsung dan dapat dipengaruhi kondisi kesehatan lain.
6. Usia
Seiring bertambahnya usia, perubahan komposisi tubuh, aktivitas fisik, dan beberapa faktor hormonal dapat memengaruhi pengaturan berat badan. Usia adalah faktor risiko, bukan penyebab tunggal obesitas.
Pada sebagian orang, massa otot dapat berkurang seiring usia, dan aktivitas fisik juga dapat berubah.
Berkurangnya massa otot juga dapat mengubah kebutuhan energi tubuh, sehingga pola makan dan aktivitas mungkin perlu disesuaikan.
Meski demikian, kenaikan berat badan bukan hal yang pasti terjadi saat menua. Dukungan gizi, aktivitas fisik yang sesuai, dan evaluasi kesehatan tetap bermanfaat.
7. Stres
Stres berkepanjangan dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan berat badan pada sebagian orang.
Stres kronis dapat memengaruhi respons hormonal, kualitas tidur, dan perilaku makan. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat berkaitan dengan perubahan berat badan atau distribusi lemak tubuh.
Sebagian orang cenderung makan lebih banyak atau memilih makanan tinggi energi saat stres, sedangkan sebagian lainnya justru mengalami penurunan nafsu makan.
Stres yang berlarut-larut juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan tidur sehingga perlu dipahami bersama faktor lain yang berperan terhadap risiko obesitas.
8. Lingkungan
Kebiasaan makan dan gaya hidup seseorang turut dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, dan kondisi ruang tinggalnya.
Contohnya, pilihan makanan seseorang dapat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan sehat, kebiasaan keluarga, harga pangan, dan paparan pemasaran makanan tinggi gula dan kalori..
Jam kerja panjang dan lingkungan kerja yang membuat orang banyak duduk dapat membatasi kesempatan untuk aktif bergerak.
Keterbatasan ruang aman untuk berjalan atau berolahraga juga dapat memengaruhi aktivitas fisik masyarakat.
Memiliki satu atau beberapa faktor risiko di atas tidak berarti seseorang pasti akan mengalami obesitas.
Beberapa faktor dapat dikelola melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik yang sesuai, dan tidur cukup. Selain pola hidup sehat, dukungan dari lingkungan serta tenaga kesehatan juga bisa diperlukan.
Kesimpulan
- Genetik atau faktor keturunan.
- Pola makan yang sering menghasilkan asupan energi berlebih.
- Gaya hidup tidak aktif bergerak.
- Kondisi medis serta efek samping obat tertentu.
- Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk.
- Usia.
- Stres.
- Lingkungan.
#BeraniBicaraBerat #ObesitasAdalahPenyakit