home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

9 Dampak dari Obesitas yang Perlu Anda Waspadai

9 Dampak dari Obesitas yang Perlu Anda Waspadai

Obesitas alias kegemukan kini sudah menjadi hal yang mudah dijumpai pada masyarakat, terutama di Indonesia. Padahal, penyakit ini tidak boleh dibiarkan begitu saja karena bisa memicu penyakit tertentu yang dapat mengancam jiwa. Tak percaya? Simak berbagai bahaya obesitas yang sebenarnya mengintai Anda selama ini.

Bahaya obesitas yang harus dihindari

resistensi leptin

Obesitas adalah kondisi yang terjadi akibat penumpukan lemak pada tubuh dan menjadi salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Pasalnya, jumlah kasus obesitas terus meningkat secara keseluruhan.

Peningkatan angka tersebut pada akhirnya juga memengaruhi dampak dari obesitas. Itu sebabnya, kenali apa saja komplikasi dari kegemukan ini bila tidak segera ditangani karena bisa membahayakan jiwa.

Berikut ini beberapa dampak obesitas yang perlu Anda hindari agar bisa mengatasi kegemukan dengan baik.

1. Penyakit jantung

Salah satu bahaya utama dari obesitas yang paling sering terjadi adalah penyakit jantung. Faktanya, ada dua hal yang membuat kelebihan lemak pada tubuh ini dapat memengaruhi kesehatan jantung Anda.

Mengubah kadar kolesterol

Sudah bukan rahasia umum lagi bila obesitas dapat memicu lonjakan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Bahkan, penyakit kegemukan ini juga bisa mengurangi kolesterol baik (HDL) yang berperan penting dalam mengurangi risiko penyakit jantung.

Menaikkan tekanan darah

Selain kadar kolesterol, dampak dari obesitas lainnya adalah kenaikan tekanan darah. Begini, penyandang obesitas memerlukan lebih banyak darah untuk memasok oksigen dan nutrisi ke tubuh.

Akibatnya, tekanan darah pun meningkat karena tubuh memerlukan lebih banyak tekanan untuk mengalirkan darah. Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah penyebab umum dari serangan jantung. Sayangnya, hal ini sering terjadi pada penderita obesitas.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila penyandang obesitas memiliki tingkat risiko yang tinggi terhadap penyakit jantung, seperti serangan jantung.

2. Stroke

Selain penyakit jantung, bahaya lain dari obesitas yang perlu diwaspadai adalah stroke. Hal tersebut dapat terjadi akibat sejumlah faktor di bawah ini.

Peradangan

Para penyandang obesitas lebih berisiko terhadap stroke akibatnya adanya peradangan. Peradangan ini terjadi karena penumpukan jaringan lemak berlebih yang menghambat aliran darah, sehingga risiko stroke pun bisa terjadi.

Tekanan darah tinggi

Sama seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi adalah penyebab utama stroke. Itu sebabnya, bahaya obesitas bisa menimbulkan stroke karena tidak dapat mengendalikan tekanan darah dengan baik.

Pembesaran sisi kiri jantung

serangan jantung

Orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas berpotensi mengalami pembesaran sisi kiri jantung (hipertrofi ventrikel kiri).

Dampak dari obesitas ini dapat terjadi karena adanya peningkatan tekanan darah dan ketegangan pada jantung. Beberapa ahli melaporkan bahwa kondisi ini merupakan faktor risiko penyakit jantung dan stroke, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

3. Diabetes

Pada dasarnya, penyebab utama dari diabetes belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap berbagai jenis diabetes. Salah satunya adalah diabetes tipe 2 yang merupakan komplikasi dari obesitas.

Faktanya, obesitas dipercaya dapat meningkatkan 80-85% risiko terhadap diabetes tipe 2. Artinya, orang yang mengalami kegemukan 80 kali lebih mungkin mengembangkan diabetes jenis ini dibandingkan mereka dengan berat badan ideal.

Ada beberapa kondisi yang membuat obesitas dapat mengakibatkan diabetes tipe dua.

Respon peradangan

Salah satu alasan mengapa obesitas bisa memberikan dampak terhadap diabetes adalah respons tubuh terhadap peradangan. Hal ini dikarenakan lemak perut dapat merangsang sel lemak melepaskan bahan kimia ‘pro-inflamasi’.

Senyawa kimia ini ternyata dapat membuat tubuh kurang sensitif terhadap insulin yang dihasilkan. Pasalnya, fungsi sel yang bertugas merespons insulin terganggu akibat respon peradangan ini.

Gangguan metabolisme lemak

penyebab metabolisme tubuh lambat

Tidak hanya menghasilkan peradangan, bahaya obesitas lainnya ternyata juga mengganggu metabolisme lemak. Perubahan metabolisme ini memicu pelepasan molekul lemak ke dalam darah oleh jaringan adiposa.

Alhasil, sel yang responsif terhadap insulin pun tidak bekerja dengan baik. Selain itu, obesitas juga berisiko menyebabkan pra-diabetes, yaitu kondisi metabolik yang biasanya mudah berkembang menjadi diabetes tipe 2.

4. Tekanan darah tinggi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa faktor utama mengapa obesitas berbahaya bagi kesehatan adalah bisa memicu peningkatan tekanan darah.

Begini, ukuran tubuh yang kian membesar ternyata juga meningkatkan tekanan darah. Hal ini terjadi karena jantung secara otomatis harus memompa darah lebih keras ke seluruh tubuh.

Bila komplikasi obesitas ini tak segera dicegah, akan ada banyak bahaya dan masalah kesehatan serius yang dapat terjadi, seperti penyakit jantung dan stroke.

5. Batu empedu

gejala batu empedu

Kegemukan atau obesitas ternyata juga membuat Anda lebih berisiko terhadap penyakit batu empedu, terutama bila Anda seorang wanita.

Para ahli telah menemukan bahwa pasien obesitas memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi dalam empedu. Hal ini ternyata bisa menyebabkan pembentukan batu empedu.

Di lain sisi, penyandang obesitas juga memiliki bahaya terhadap pembesaran kantong empedu yang memengaruhi fungsinya. Pasalnya, jumlah lemak yang banyak di sekitar pinggang sangat mungkin mengembangkan batu empedu. Hal tersebut dibandingkan dengan mereka yang memiliki lemak di sekitar pinggul dan paha.

Meski begitu, menurunkan berat badan dengan cepat juga bisa menyebabkan batu empedu. Itu sebabnya, Anda perlu berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter untuk mengetahui cara menurunkan berat badan ketika mengalami obesitas.

6. Masalah pernapasan

Sebenarnya, penyebab utama mengapa masalah pernapasan menjadi risiko dari obesitas masih menjadi misteri. Namun, ada sejumlah kondisi yang bisa menjadi kemungkinan alasan di balik komplikasi kegemukan ini.

Lemak di sekitar perut ternyata bisa mengganggu fungsi paru-paru dan memicu gejala masalah pernapasan. Pasalnya, ada kemungkinan bahwa jaringan lemak pada dinding perut dan sekitarnya dapat menghambat pergerakan diafragma.

Kondisi ini ternyata juga menghambat paru-paru mengembang selama inspirasi dan mengurangi kapasitas paru. Bahkan, fungsi otot pernapasan juga bisa menurun pada penyandang obesitas seperti pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Ada pun sederet masalah pernapasan yang bisa menjadi risiko dari obesitas, meliputi:

  • dispnea saat beraktivitas,
  • sleep apnea,
  • asma,
  • penyakit paru obstruktif kronis,
  • emboli paru, dan
  • pneumonia.

7. Kanker

Dilansir dari National Cancer Institute, penyakit kanker ternyata juga bisa menjadi salah satu komplikasi dari obesitas yang perlu diwaspadai. Namun, apa yang menjadi penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Walaupun demikian, para ahli percaya bahwa kondisi ini mungkin terjadi akibat peradangan dari lemak viseral, yaitu lemak yang mengelilingi organ vital. Bagaimana lemak viseral memengaruhi risiko penyakit kanker?

Peradangan akibat lemak viseral

Sel lemak viseral memiliki ukuran yang besar dengan jumlah yang cukup banyak. Lemak berlebih ini tidak mempunyai banyak ruang untuk oksigen, sehingga rentan terhadap peradangan.

Peradangan adalah respons alami tubuh terhadap cedera dan penyakit. Namun, peradangan yang terjadi dalam jangka panjang akibat lemak viseral dapat merusak tubuh. Hal ini ternyata bisa meningkatkan risiko terhadap kanker.

Kanker dapat terjadi ketika sel berkembang biak dan merusak sel-sel di sekitarnya hingga menyebabkan penyakit. Semakin banyak sel yang membelah diri dan bereproduksi, semakin tinggi risiko pembentukan tumor.

Gangguan insulin

Gangguan insulin penyebab gula darah naik

Selain itu, peradangan yang disebabkan oleh obesitas juga mengganggu fungsi insulin dan kondisi ini disebut sebagai resistensi insulin. Jika tubuh tidak merespons insulin dengan baik, tubuh akan menghasilkan lebih banyak insulin.

Akibatnya, insulin akibat resistensi insulin dapat memicu peningkatan jumlah sel yang diproduksi. Hal ini ternyata bisa memicu terjadinya kanker.

Peningkatan estrogen

Peningkatan insulin yang disebabkan oleh peradangan juga memengaruhi hormon estrogen. Hormon estrogen yang terlalu tinggi ternyata bisa menambah produksi sel yang bisa memicu pertumbuhan tumor.

Estrogen adalah hormon yang penting bagi tubuh. Pada wanita, ovarium adalah sumber utama estrogen. Sementara itu, pria juga dapat mengubah testosteron menjadi estrogen berkat bantuan enzim.

Akan tetapi, sel lemak pada prian dan wanita juga dapat menghasilkan estrogen. Itu sebabnya, jumlah estrogen yang tinggi biasanya tampak pada orang gemuk.

Sejumlah penyakit kanker yang bisa menjadi risiko dari obesitas antara lain:

  • kanker endometrium,
  • adenokarsinoma esofagus,
  • kanker payudara, dan
  • kanker usus besar.

8. Osteoartritis

osteoarthritis lutut

Osteoartritis adalah masalah persendian yang dapat menimbulkan rasa sakit dan kaku. Risiko terhadap penyakit ini bisa meningkat karena obesitas atau kegemukan. Pasalnya, berat badan berlebih bisa memberikan ekstra tekanan pada sendi dan tulang rawan.

Seiring dengan berjalannya waktu, sendi dan tulang rawan akan melemah hingga persendian mengalami osteoartritis. Selain itu, orang yang mengalami obesitas juga rentan terhadap peradangan, termasuk pada sendi.

Hal ini dapat terjadi karena lemak berlebih menambah beban pada tulang rawan. Artinya, beban tersebut akan mendorong pelepasan senyawa kimia yang dapat menyebabkan kerusakan sendi.

9. Infertilitas

Bagi para penyandang obesitas mungkin perlu berhati-hati karena penyakit ini memiliki bahaya terhadap masalah seksual, terutama infertilitas.

Masalah kesuburan ini ternyata dapat terjadi karena obesitas menurunkan tingkat keberhasilan kehamilan dalam siklus pembuahan alami. Pada wanita yang menjalani terapi yang mempercepat dan menambah ovulasi, obesitas dapat mengganggu keberhasilan terapi ini.

Selain itu, tingkat leptin yang tinggi dan adiponektin yang rendah juga menurunkan peluang pembuahan. Masalah kesuburan ini dapat diatasi bila pasien menurunkan berat badan dengan baik.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Health Risks of Being Overweight. (2015). National Institute of Diabetes and Digestive anad Kidney Diseases. Retrieved 17 February 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/weight-management/health-risks-overweight

Three Ways Obesity Contributes to Heart Disease. (2019). Penn Medicine. Retrieved 17 February 2021, from https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/metabolic-and-bariatric-surgery-blog/2019/march/obesity-and-heart-disease 

Obesity and Stroke Fact Sheet. (n.d). Obesity Action Coalition [PDF File]. Retrieved 17 February 2021, from https://www.obesityaction.org/wp-content/uploads/Obesity-and-Stroke-Fact-Sheet.pdf 

Dieting & Gallstones. (2017). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 17 February 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/gallstones/dieting 

Mandal, A. (2019). Obesity and Infertility. News-Medical. Retrieved 17 February 2021, from https://www.news-medical.net/health/Obesity-and-Infertility.aspx 

Obesity and Cancer. (2017). National Institute of Cancer. Retrieved 17 February 2021, from https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/obesity/obesity-fact-sheet 

The Health Effects of Overweight and Obesity. (2020). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 17 February 2021, from https://www.cdc.gov/healthyweight/effects/index.html 

Wei, O.Y. (2020). The Relationship Between Obesity, Diabetes and the Heart. Mount Elizabeth. Retrieved 17 February 2021, from https://www.mountelizabeth.com.sg/healthplus/article/the-relationship-between-obesity-diabetes-and-the-heart 

Mandal, A. (2019). Obesity and Respiratory Disorders. News-Medical. Retrieved 17 February 2021, from https://www.news-medical.net/health/Obesity-and-respiratory-disorders.aspx 

Underferth, D. (2017). How does obesity cause cancer?. MD Anderson Cancer Center. Retrieved 17 February 2021, from https://www.mdanderson.org/publications/focused-on-health/how-does-obesity-cause-cancer.h27Z1591413.html

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Tanggal diperbarui 17/11/2018
x