home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan Tulang Anda

5 Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan Tulang Anda

Sudah bukan rahasia umum lagi bila obesitas yang tak terkendali dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Salah satunya adalah dampak obesitas pada kesehatan tulang. Apa saja hal yang perlu diwaspadai?

Dampak obesitas pada tulang

Para penyandang obesitas memiliki risiko lebih besar terhadap patah tulang. Sindrom ini ternyata memiliki nama lain yang disebut obesitas osteosarcopenic.

Sindrom ini merupakan hasil dari dampak obesitas pada kesehatan tulang dan massa otot Anda. Berikut ini beberapa komplikasi dari obesitas terhadap tulang yang dibiarkan berlarut-larut.

1. Menurunkan kepadatan tulang

penyebab obesitas

Salah satu bahaya obesitas terhadap kesehatan tulang yaitu menurunkan kepadatan tulang.

Pada dasarnya, tulang mempunyai kemampuan untuk memperbaharui diri. Hal ini dilakukan dengan menghancurkan jaringan tulang yang sudah rusak dengan sel osteoklas.

Setelah itu, tubuh akan membangun jaringan baru dengan sel osteoblas. Bila kecepatan keduanya berjalan seimbang, tulang akan senantiasa padat dan kuat.

Sayangnya, kecepatan tersebut tidak seimbang pada orang dengan obesitas. Sementara itu, proses penghancuran jaringan tulang meningkat 3 kali lipat lebih cepat.

Semakin banyak jaringan tulang dihacurkan daripada pembentukannya, kepadatan tulang akan semakin berkurang.

2. Meningkatkan risiko patah tulang

Dampak obesitas terhadap kepadatan tulang tersebut ternyata menghasilkan tulang yang lebih mudah patah, terutama pada lansia.

Seiring bertambahnya usia, kepadatan tulang akan ikut menurun dan hal ini akan diperparah dengan penumpukan lemak akibat obesitas.

Bagaimana tidak, kepadatan mineral tulang yang rendah dan jaringan lunak yang tak dapat melindungi dari dampak cedera membuat Anda lebih berisiko.

Pengobatan patah tulang cenderung sulit, terutama pada penyandang obesitas. Pasalnya, perangkat yang digunakan untuk memperbaiki tulang mungkin tak cukup kuat untuk menopang berat badan pasien.

Bila hal ini terjadi pada anak-anak dengan obesitas, penggunaan kruk dan bergerak dengan gips pun akan terasa lebih berat.

3. Menghambat pertumbuhan anak

Obesitas tak hanya terjadi pada orang dewasa, melainkan juga bisa menyerang anak-anak. Sama seperti orang dewasa, mereka pun berisiko mengalami patah tulang.

Dampak dari obesitas pada tulang ini nantinya memengaruhi daerah growth plate anak. Growth plate merupakan area jaringan tumbuh di ujung tulang panjang.

Dareah ini menghasilkan jaringan tulang baru agar anak bisa tumbuh tinggi. Beberapa contoh tulang panjang berada di bagian kaki dan lengan.

Sementara itu, patah tulang pada bagian growh plate menyebabkan fungsi jaringan ini tidak bekerja dengan baik. Hal ini tentu mengganggu proses pertumbuhan tulang panjang.

Alhasil, anak obesitas mungkin mengalami kurang tinggi secara permanen, tulang bengkok, hingga arthritis.

4. Mengganggu perkembangan koordinasi anak

Anak-anak yang mengalami obesitas sering mengalami kesulitan ketika bergerak. Kondisi ini biasanya ditandai dengan beberapa hal.

  • Mengalami masalah saat bergerak atau berdiri dengan satu kaki.
  • Sulit melakukan gerakan motorik halus, seperti menulis dan mengikat tali sepatu.
  • Sering merasa kikuk saat bergerak.

Masalah terhadap perkembangan koordinasi ini dapat mengganggu dan membatasi kemampuan anak ketika berolahraga.

Maka dari itu, tak heran bila usaha anak dalam menurunkan berat badan ketika mengalami obesitas akan terasa sulit.

5. Membuat telapak kaki datar pada anak

sepatu anak kaki datar

Dampak obesitas ternyata juga berpengaruh pada tulang kaki, terutama anak-anak. Penyandang obesitas cenderung memiliki telapak kaki yang datar.

Kabar buruknya, telapak kaki datar membuat Anda menjadi lebih mudah lelah saat berjalan jauh.

Hal ini terjadi karena semakin banyak berat yang Anda bawa, semakin sulit lengkungan pada telapak kaki untuk mempertahankan bentuknya.

Selain itu, ligamen dan otot yang menahan lengkungan tersebut harus cukup kuat untuk menahan gaya yang turun melalui kaki.

Itu sebabnya, pemilik telapak kaki datar direkomendasikan untuk melakukan latihan peregangan yang berfokus pada tendon di bagian tumit.

Anda juga disarankan memakai sepatu khusus untuk memperbaiki bentuk kaki.

Bagaimana pola makan memengaruhi kesehatan tulang?

Setelah mengetahui apa saja dampak obesitas pada kesehatan tulang, kenali bagaimana pola makan menjadi sangat berpengaruh.

Begini, tubuh mendapatkan kalsium dari makanan yang dikonsumsi. Bila tubuh kekurangan kalsium dari makanan, mineral ini akan dikeluarkan dari tempat penyimpannya di tulang.

Seiring berjalannya waktu, kondisi ini bisa melemahkan pertumbuhan tulang baru, sedangkan kehilangan kekuatan tulang dapat memicu risiko osteoporosis.

Tak hanya itu, tubuh memerlukan vitamin D untuk menyerap kalsium dari makanan. Mengingat sumber vitamin D dari makanan cukup sedikit, banyak orang direkomendasikan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D.

Di lain sisi, penyandang obesitas memiliki pola makan yang kurang baik dan mungkin tidak memenuhi kebutuhan gizi. Alhasil, masalah tulang pun dapat terjadi.

Itu sebabnya, penyandang obesitas perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk merencanakan pola makan guna mencegah hal ini.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

The Impact of Childhood Obesity on Bone, Joint, and Muscle Health. (2019). American Academy of Orthopaedic Surgeons. Retrieved 11 June 2021, from https://orthoinfo.aaos.org/en/staying-healthy/the-impact-of-childhood-obesity-on-bone-joint-and-muscle-health/ 

Shapses, S. A., Pop, L. C., & Wang, Y. (2017). Obesity is a concern for bone health with aging. Nutrition research (New York, N.Y.), 39, 1–13. https://doi.org/10.1016/j.nutres.2016.12.010. Retrieved 11 June 2021. 

Speck, J. (2019). Body Weight and Flat Feet. Fix Flat Feet. Retrieved 11 June 2021, from https://www.fixflatfeet.com/weight-loss-and-flat-feet/ 

Mandal, A. (2019). Obesity and Fractures. News Medical. Retrieved 11 June 2021, from https://www.news-medical.net/health/Obesity-and-fractures.aspx 

Obesity and Bone Health. (n.d). The Regents of The University of California. Retrieved 11 June 2021, from https://www.ucsfbenioffchildrens.org/education/obesity-and-bone-health

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x