home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

12 Imunisasi Lanjutan yang Perlu Anak Dapatkan

12 Imunisasi Lanjutan yang Perlu Anak Dapatkan

Vaksinasi tidak hanya anak dapatkan satu kali, ada imunisasi lanjutan yang perlu anak terima. Pengulangan vaksinasi ini untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh guna mencegah dari penyakit infeksi. Berikut rangkaian imunisasi lanjutan yang perlu anak terima.

Kenapa anak harus mendapatkan imunisasi lanjutan?

jenis imunisasi

Anak-anak harus mendapatkan imunisasi sejak bayi baru lahir untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah terkena berbagai penyakit infeksi.

Imunisasi bekerja dengan cara memasukkan virus yang telah melalui proses pelemahan agar tubuh mengenal virus tersebut.

Jadi, ketika ada virus masuk ke dalam tubuh, tubuh sudah mempunyai bekal untuk melawannya.

Ada banyak jenis imunisasi yang pemberiannya harus diulang berkali-kali.

Terkadang, satu kali pemberian tidak cukup untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam merespons virus yang masuk.

Pemberian imunisasi berulang dapat membangkitkan respons imun yang lebih baik. Selain itu, imunisasi lanjutan bertujuan untuk memberikan perlindungan tambahan.

Beberapa vaksin imunisasi memberi tingkat perlindungan yang rendah setelah satu kali pemberian.

Ini yang membuat pemberian imunisasi yang harus diulang selanjutnya dapat memberikan perlindungan yang lebih besar.

Apa saja jenis imunisasi lanjutan yang perlu anak dapatkan?

Bolehkah bayi dimandikan setelah imunisasi

Selain imunisasi wajib saat anak masih bayi, ada imunisasi lanjutan yang perlu si kecil dapatkan.

Berdasarkan jadwal imunisasi lanjutan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terbaru tahun 2020, berikut imunisasi lanjutan untuk anak.

1. DPT

Imunisasi DPT bertujuan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Imunisasi ini anak dapatkan sebanyak lima kali.

  1. Usia 2 bulan atau paling cepat pada usia 6 minggu
  2. Usia 4 bulan
  3. Umur 6 bulan
  4. Usia 18 bulan
  5. Usia 5 tahun

Setelah itu, anak mendapatkan vaksin Td atau Tdap pada usia 10-12 tahun sebagai booster untuk melindungi anak dari tetanus dan difteri.

Selanjutnya, imunisasi booster anak ulangi setiap 10 tahun.

2. Hepatitis B (HB)

Imunisasi ini anak terima sebanyak 3 kali untuk mencegah anak dari penyakit hepatitis B dengan rincian berikut.

  1. Kurang dari 24 jam jam setelah anak lahir
  2. Bayi berusia 1-2 bulan
  3. Bayi usia 6-18 bulan

Bila vaksin hepatitis B bersamaan dengan DPT, pemberian imunisasi ini bisa bayi dapatkan sata berusia usia 2, 3, dan 4 bulan.

3. Polio

Vaksin polio berfungsi untuk mencegah penyakit polio pada anak yang pemberiannya sebanyak 4 kali.

Pemberian pertama vaksin polio segera setelah bayi lahir. Setelah itu, vaksin kedua, ketiga, dan keempat saat bayi usia 2, 3, dan 4 bulan.

Pada usia 18 bulan, imunisasi polio lanjutan bisa anak dapatkan untuk mendapat kekebalan tubuh yang sempurna dari penyakit polio.

4. Pneumokokus (PCV)

Vaksin ini untuk melindungi anak dari bakteri penyebab meningitis dan pneumonia. Pemberian vaksin PCV sebanyak 4 kali sesuai kelompok usia.

Pada anak usia kurang dari satu tahun, pemberian PCV setiap dua bulan, seperti pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian keempat vaksin PCV ini pada bayi usia 12-15 bulan.

5. Campak

Vaksin campak untuk mencegah penyakit campak dan pemberian pertama kali pada bayi usia 9 bulan.

Setelah itu, imunisasi campak lanjutan pada usia 18 bulan dan pemberian ketiga pada usia 6-7 tahun atau saat anak baru masuk sekolah.

Vaksin campak kedua tidak perlu anak dapatkan bila sudah mendapatkan vaksin MMR.

6. MMR

Vaksin MMR bertugas untuk mencegah anak mengalami penyakit mumps (gondong), measles (campak), dan rubella (campak jerman).

Jika anak sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, pemberian vaksin MMR saat anak berusia 15 bulan (minimal jarak pemberian 6 bulan dari vaksin campak).

Pemberian imunisasi MMR lanjutan saat anak berusia 5 tahun.

7. Rotavirus

Imunisasi rotavirus berfungsi untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi karena rotavirus, seperti sakit diare.

Vaksin rotavirus monovalen yang terdiri dari satu jenis virus dengan pemberian dua kali, yaitu pada usia bayi 6-14 minggu dan setelah 4 minggu dari pemberian pertama.

Sementara itu, vaksin rotavirus pentavalen yang terdiri dari beberapa jenis virus dengan pemberian tiga kali, yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan.

Bayi menerima injeksi vaksin hepatitis B sebagai pengganti vaksin hepatitis B

8. Varisela

Untuk mencegah penyakit cacar air, anak perlu mendapatkan vaksin varisela sesuai jadwal dari IDAI yaitu setelah anak berusia 1 tahun.

Berdasarkan catatan dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin varisela bisa memberikan perlindungan sebesar 90-97 persen selama 7-10 tahun.

Bila anak pernah mendapatkan vaksin varisela, kemungkinan terkena cacar air semakin kecil. Jika terinfeksi, anak hanya merasakan gejala ringan yang tidak mengganggu.

9. Hepatitis A

Imunisasi lanjutan yang perlu anak dapatkan adalah hepatitis A untuk mencegah infeksi virus hepatitis lewat makanan dan feses penderitanya.

Anak menerima imunisasi hepatitis A sebanyak dua kali dengan jeda 6-12 bulan setelah suntikan pertama.

Pemberian pertama kali adalah saat anak berusia 2 tahun dan imunisasi lanjutan 6-12 bulan kemudian.

10. Influenza

Vaksin influenza bisa anak dapatkan saat ia berusia 6 bulan dan pemberiannya bisa kapan saja, tidak ada jadwal pasti. Hal yang terpenting anak sudah berusia 6 bulan.

Imunisasi influenza lanjutan anak dapatkan setiap satu tahun sekali.

Meski flu adalah penyakit umum, imunisasi flu bisa mencegah anak terkena penyakit meski cuaca sedang tidak menentu.

11. Tifoid

Imunisasi tifoid berfungsi untuk mencegah infeksi bakteri salmonella typhii, yakni penyebab penyakit tifus.

Anak akan menerima vaksin tifoid pertama kali saat anak berusia 2 tahun. Imunisasi tifoid lanjutan bisa anak dapatkan setiap tiga tahun sekali.

Imunisasi tifoid bisa melindungi anak dari tifus sekitar 50-80 persen. Maka dari itu, orangtua tetap harus menjaga pola makan anak agar tidak tertular penyakit ini.

12. Japanese encephalitis (JE)

Penularan penyakit lewat nyamuk tidak hanya pada demam berdarah, tetapi juga penyakit japanese encephalitis (JE).

Seperti namanya, penyakit ini pertama kali hadir di Jepang pada tahun 1871 dengan sebutan summer encephalitis.

Imunisasi JE mulai anak dapatkan saat ia berusia 12 bulan. Sementara itu, imunisasi JE lanjutan pada rentang waktu 1-2 tahun berikutnya.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Vaccine Safety: Dosing Safety | Children’s Hospital of Philadelphia. (2021). Retrieved 3 November 2021, from https://www.chop.edu/centers-programs/vaccine-education-center/vaccine-safety/dosing-safety

IDAI | Jadwal Imunisasi IDAI 2020. (2021). Retrieved 3 November 2021, from https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/jadwal-imunisasi-idai-2020

Birth-18 Years Immunization Schedule | CDC. (2021). Retrieved 3 November 2021, from https://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/child-adolescent.html

Varicela. (2021). Retrieved 3 November 2021, from https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/varicella.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Sp.A