home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping Imunisasi DPT pada Anak

Apa itu imunisasi DPT?|Jenis imunisasi DPT|Siapa saja yang perlu mendapatkan imunisasi DPT?|Bagaimana jadwal pemberian imunisasi DPT pada anak?|Apakah ada kondisi yang membuat anak tidak perlu atau menunda imunisasi DPT?|Harga vaksin DPT|Apa efek samping dari pemberian imunisasi DPT?
Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping Imunisasi DPT pada Anak

Ada beberapa jenis imunisasi wajib yang diberikan pada bayi, DPT salah satunya. Imunisasi DPT adalah singkatan dari tiga penyakit berbeda, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Mengapa vaksin ketiga penyakit ini bersifat wajib dan menjadi satu? Berikut penjelasan seputar vaksin DPT pada anak.

 

 

 

 

 

 

Apa itu imunisasi DPT?

Jadwal imunisasi bayi

Vaksin atau imunisasi DPT adalah imunisasi untuk mencegah tiga penyakit mematikan, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Penyebab ketiga penyakit serius tersebut adalah infeksi bakteri.

Kombinasi imunisasi DPT sudah berlaku sejak tahun 1940-an hingga saat ini.

Difteri dan pertusis bisa menyebar lewat kontak langsung (orang ke orang) sedangkan tetanus bisa masuk ke dalam tubuh lewat luka yang terbuka.

Vaksin DPT bisa mencegah ketiga penyakit tersebut secara bersamaan tapi kini WHO sudah mengembangkan beberapa jenis imunisasi DPT.

Pada dasarnya, jenis imunisasi tersebut mampu mencegah penyakit berikut:

Difteri

Penyebab penyakit yang satu ini adalah infeksi bakteri. Cara kerjanya dengan menyerang tenggorokan dan sistem pernapasan atas.

Bakteri bernama Corynebacterium diphtheria ini menghasilkan racun dan bisa memengaruhi organ tubuh lain.

Difteri menyebabkan selaput jaringan mati menumpuk pada tenggorokan dan amandel. Selaut jaringan yang menumpuk membuat Anda kesulitan bernapas dan menelan.

Difteri bisa menular lewat kontak fisik langsung, seperti embusan napas, batuk, atau bersin dari seseorang yang terinfeksi.

Pertusis

Sama seperti difteri, penyebab pertusis adalah infeksi bakteri. Melansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), masyarakat luas mengenal pertusis sebagai batuk rejan.

Batuk rejan adalah kondisi batuk yang tidak terkendali membuat seseorang sulit makan, minum, sampai bernapas.

Pertusis menjadi masalah kesehatan yang sangat serius pada bayi dan anak-anak karena bisa menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak, sampai kematian.

Sementara itu pada anak remaja dan orang dewasa, pertusis bisa menyebabkan:

  • Penurunan berat badan
  • Tidak bisa mengontrol kandung kemih
  • Pingsan
  • Patah tulang rusuk

Empat hal tersebut bisa terjadi karena kondisi batuk yang sangat parah.

Tetanus

Penyebab penyakit yang memiliki nama lain lockjaw ini adalah bakteri clostridium tetani.

Infeksi dari bakteri tersebut menyebar lewat spora dari bakteri pada luka yang terbuka.

Setelah masuk ke dalam tubuh lewat luka, spora akan berkembang menjadi bakteri dan memproduksi racun berbahaya bernama tetanospamin.

Penderita tetanus menunjukkan tanda kejang otot sampai kesulitan bernapas dan berakhir pada kematian.

Polio

Penyebab penyakit poliomyelitis adalah infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat dan membuat kerusakan pada sistem saraf motorik.

Polio bisa mengakibatkan kelumpuhan pada otot, bisa sementara bahkan permanen. Pada kasus yang sangat parah, polio memengaruhi sistem pernapasan dan kemampuan menelan.

Ketika seseorang terkena polio, kondisinya tidak bisa sembuh sepenuhnya.

Namun dengan adanya imunisasi polio, baik yang bergabung dengan DPT atau tidak, bisa mencegah penularan penyakit ini dan menurunkan angka kejadian polio secara signifikan.

HiB (haemophilus influenza tipe B)

Haemophilus influenzae type b (HiB) adalah bakteri yang menyebabkan infeksi pada bagian organ tubuh, seperti otak, paru-paru, saluran pernapasan, tulang, dan jantung.

Bakteri ini cenderung lebih mudah menyerang bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah.

Namun, orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah juga memiliki kemungkinan terkena bakteri ini.

Imunisasi HiB bisa mencegah anak dari berbagai penyakit berat, seperti meningitis, infeksi peradangan tulang (osteomielitis), infeksi laring (epiglotitis), pneumonia, dan septikemia.

Hepatitis (HB)

Imunisasi hepatitis B (HB) termasuk ke dalam vaksin gabungan dengan DPT, bisa dalam kelompok pentabio atau pentavalen.

Penyebab hepatitis B adalah virus hepatitis B yang berisiko berkembang menjadi kanker hati dan sangat menular.

Vaksin hepatitis B dosis pertama harus bayi dapatkan segera setelah bayi lahir.

Imunisasi hepatitis B yang bergabung dengan DPT bisa bayi dapatkan setelah berusia 2,3, dan 4 bulan.

Jenis imunisasi DPT

Mengutip dari WHO, vaksin ini bernama pentavalen, gabungan dari imunisasi DPT, HiB (haemophilus influenza tipe B) yang menyebabkan radang otak, dan hepatitis B (HB).

Semuanya bersatu dalam suntikan tunggal, sehingga dalam satu suntikan bisa mencegah 5 penyakit sekaligus.

Ada juga imunisasi kombinasi bernama pentabio, gabungan dari vaksin DPT, HB, dan polio.

Tujuan vaksin kombinasi adalah untuk mengurangi suntikan yang bayi terima, sehingga bisa mencegah beberapa penyakit hanya dengan satu suntikan. Pemberiannya dilakukan pada usia 2,3, dan 4 bulan.

Kedua jenis imunisasi ini sama dan anak bisa mendapatkannya di puskesmas, klinik, dan rumah sakit.

Siapa saja yang perlu mendapatkan imunisasi DPT?

imunisasi dpt anak

Center for Disease of Control and Prevention (CDC) merekomendasikan setiap orang untuk mendapatkan vaksin DPT. Siapa saja yang perlu mendapatkan imunisasi tersebut?

Bayi dan anak-anak

Menurut Center for Disease of Control and Prevention (CDC), bayi membutuhkan tiga kali vaksin DPT sebagai imunisasi dasar. Hal ini penting untuk melindungi tubuh dari tiga penyakit mematikan itu.

Kemudian, anak-anak yang berusia lebih dari usia satu tahun mendapatkan 2 kali imunisasi ulangan (booster). Vaksin booster bekerja untuk menguatkan vaksin yang sudah anak dapatkan sebelumnya.

Untuk anak-anak yang memiliki reaksi parah terhadap vaksin pertusis, dokter biasanya akan merekomendasikan pemberian vaksin TD (tetanus difteri).

Namun anak yang mendapatkan vaksin TD tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit pertusis dan akan lebih mudah tertular.

Remaja

Anak dengan rentang usia remaja, sekitar usia 11 dan 12 tahun, perlu mendapatkan vaksin DPT untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Untuk anak yang belum mendapatkan imunisasi DPT sebelumnya, perlu menerima satu kali vaksin yang sama dalam satu bulan setelah suntikan pertama.

Ibu hamil

Amankah ibu hamil imunisasi? Ya, tergantung jenisnya. Ibu hamil perlu mendapatkan imunisasi DPT pada awal bulan setiap trimester kehamilan.

Ini untuk mencegah bayi mengalami pertusis atau batuk rejan pada awal kehidupannya setelah lahir.

Orang dewasa

Semua orang dewasa dari berbagai usia perlu mendapatkan vaksin DPT ulangan (booster) setiap 10 tahun sekali. Ini untuk menguatkan vaksin yang sebelumnya anak dapatkan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana jadwal pemberian imunisasi DPT pada anak?

Imunisasi hepatitis bayi saat pandemi corona

Melalui situs resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa jadwal pemberian imunisasi DPT anak 3 kali sebagai imunisasi dasar.

Setelah itu ada dua kali imunisasi ulang (booster), sehingga totalnya ada 5 kali imunisasi DPT pada anak. Berikut jadwal imunisasi DPT sesuai arahan IDAI:

  • Vaksinasi dasar ketika bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan
  • Booster pada usia 18 bulan
  • Booster saat anak masuk usia 5-7 tahun sebelum masuk sekolah

Bagaimana bila si kecil terlambat mendapatkan imunisasi DPT? IDAI menjelaskan pada situs resminya bahwa anak tidak perlu mengulang imunisasi dari awal, tetapi tetap lanjutkan sesuai jadwal.

Sebagai contoh, anak terlambat imunisasi dasar kedua, tetap lanjutkan imunisasi dasar ketiga sesuai jadwal.

Kalau anak Anda belum mendapatkan imunisasi pada usia kurang dari 12 bulan atau satu tahun, lakukan imunisasi dasar dengan jeda waktu (interval) yang sama yaitu jeda satu bulan.

Sementara itu, bila imunisasi DPT 4 anak dapatkan sebelum usia 4 tahun, pemberian imunisasi DPT 5 paling cepat 6 bulan setelahnya.

Kalau si kecil menerima vaksin DPT 4 setelah usia 4 tahun, pemberian vaksin DPT 5 tidak perlu lagi.

Kemudian vaksin ulang (booster) memiliki tujuan untuk melindungi dari penyakit tetanus dan difteri (Td), IDAI rekomendasikan setiap 10 tahun.

Apakah ada kondisi yang membuat anak tidak perlu atau menunda imunisasi DPT?

bayi disuntik

Imunisasi DPT sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus yang mematikan. Namun, apakah ada yang membuat seseorang tidak bisa mendapatkan vaksin ini?

Mengutip dari Healthy Children, anak yang sedang tidak enak badan atau sakit ringan perlu menunda pemberian vaksin dan tunggu sampai benar-benar sembuh.

Sakit ringan yang anak derita sebagai efek samping vaksin DPT ini yaitu batuk, pilek, atau demam.

Sementara itu, efek samping yang parah yaitu alergi yang sampai mengancam keselamatan jiwa. Meski ini kasus yang sangat jarang terjadi.

Bila anak Anda memiliki reaksi alergi parah dari kandungan dalam vaksin, sebaiknya tidak mendapatkan vaksin DPT terlebih dahulu. Jelaskan pada dokter bila anak Anda memiliki kondisi:

  • Kejang atau masalah sistem saraf.
  • Sakit parah atau bengkak setelah vaksin yang mengandung difteri, pertusis, dan tetanus.
  • Pernah mengalami Guillain-BarréSyndrome (GBS) atau kelemahan otot.

Ini adalah kasus yang sangat jarang terjadi, tapi bila anak Anda mengalaminya segera konsultasikan ke dokter.

Harga vaksin DPT

Ketika bayi Anda menginjak usia 2, 4, dan 6 bulan, si kecil wajib untuk mendapatkan imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Ada beberapa jenis vaksin DPT dengan harga yang berbeda, berikut penjelasannya.

Vaksin DPT produksi Indonesia

Terdapat dua jenis imunisasi DPT, pentavalen dan pentabio yang terdiri dari gabungan vaksin. Untuk vaksin pentabio berisi 5 jenis vaksin yaitu DPT (difteri, pertusis, tetanus), hepatitis B, dan polio.

Tujuannya, untuk mengurangi suntikan yang anak terima, maka pada usia 6 bulan, bayi Anda bisa menerima vaksin pentabio. Harga vaksin ini cukup terjangkau karena produksi dari Indonesia.

Imunisasi DPT produksi lokal ini bisa Anda dapatkannya di puskesmas dan tidak ada biaya karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Vaksin DPT produksi Belgia

Vaksin produksi Belgia memakai komponen pertusis yang tidak menyebabkan demam tinggi, hanya ringan saja.

Pemberian imunisasi DPT ini juga bisa Anda lakukan dengan menggabungkan sesuai dengan jadwalnya.

Sebagai contoh, satu vaksin sudah terdiri dari vaksin Hepatitis B dan Polio inaktif.

Selain itu terdapat pilihan vaksin Hib (Hemofilus influenza tipe B) – untuk mencegah influenza yang menyebabkan radang otak dan berbeda dengan influenza biasa.

Vaksin DPT produksi Prancis

Sebagian kalangan lebih menyukai vaksin ini karena kenyamanan pada bayi yang tidak membuat demam.

Harganya pun jauh lebih mahal dari vaksin-vaksin yang Puskesmas sediakan. Namun, efektivitasnya sama saja dengan vaksin-vaksin DPT lainnya.

Bila si kecil mendapatkan vaksin bukan dari Puskesmas, biasanya menggunakan vaksin yang tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Namun secara umum, rentang harga imunisasi DPT sekitar Rp135 ribu sampai Rp300 ribu sekali suntikan.

Apa efek samping dari pemberian imunisasi DPT?

bayi konsultasi ke dokter

Setiap obat memiliki efek samping, tidak terkecuali imunisasi DPT. Namun efek samping imunisasi yang anak rasakan biasanya ringan dan akan hilang sendiri. Hanya pada beberapa kasus yang sangat langka bisa terjadi reaksi serius.

Efek samping ringan yang paling sering bayi dan anak-anak alami setelah vaksin DPT yaitu:

  • Rasa nyeri pada area suntikan (3 dari 4 remaja mengalami ini)
  • Kemerahan atau bengkak pada area suntikan (1 dari 5 orang mengalami ini)
  • Demam ringan 38 derajat celcius (1 dari 25 anak)
  • Sakit kepala (3 sampai 4 orang dari 10 anak)
  • Mual, muntah, diare, sakit perut (1 dari 4 remaja)
  • Menggigil dan nyeri sendi (1 dari 10 anak)
  • Ruam sampai pembengkakan kelenjar (sangat jarang terjadi)

Efek samping ringan ini terjadi setelah anak mendapatkan vaksin dan tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Demam biasanya terjadi satu sampai tiga hari setelah pemberian vaksin.

Untuk mengatasinya, Anda bisa memberikan obat penurun panas atau paracetamol untuk meredakan demam ketika anak Anda merasa tidak nyaman.

Pada level yang sangat parah, meski jarang terjadi, efek samping pemberian imunisasi DPT adalah reaksi alergi.

Sebagai contoh, gatal-gatal, pembengkakan wajah dan tenggorokan, kesulitan bernapas, detak jantung cepat, pusing dan lemas.

Perhatikan reaksi pada si kecil, bila mengalami tanda tersebut, segera hubungi dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

(2020). Retrieved 5 May 2020, from https://www.immunize.org/vis/indonesian_tdap.pdf

Your Child’s Immunizations: Diphtheria, Tetanus & Pertussis Vaccine (DTaP) (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 5 May 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/dtap-vaccine.html

DTaP Vaccine: What You Need to Know (VIS). (2020). Retrieved 5 May 2020, from https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/immunizations/Pages/Diphtheria-Tetanus-Pertussis-Vaccines-What-You-Need-to-Know.aspx

(2020). Retrieved 5 May 2020, from https://www.who.int/vaccine_safety/initiative/tools/DTP_vaccine_rates_information_sheet.pdf

Vaccine Information Statement | Diphtheria-Tetanus-Pertussis | VIS | CDC. (2020). Retrieved 5 May 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/dtap.html

Diphtheria, Tetanus, and Whooping Cough Vaccination | What You Should Know | CDC. (2020). Retrieved 5 May 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/dtap-tdap-td/public/index.html

Pilihan Imunisasi DPT untuk Bayiku | Klinik Vaksinasi. (2020). Retrieved 27 May 2020, from https://www.klinikvaksinasi.com/pilihan-imunisasi-dpt-untuk-bayiku/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Riska Herliafifah
Tanggal diperbarui 05/05/2020
x