Polio

Polio

Pada 2014, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Indonesia sudah bebas dari penyakit polio. Ini merupakan penyakit infeksi yang menyerang sistem saraf pusat. Seperti apa penyakit ini?

Apa itu polio?

Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus. Penyakit ini disebut juga dengan poliomyelitis (poliomielitis).

Virus polio dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan pada sistem saraf motorik.

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan kelumpuhan pada otot, baik yang bersifat sementara maupun permanen.

Pada kasus yang lebih berat, polio dapat memengaruhi kemampuan bernapas dan menelan pada anak.

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, sekarang sudah ada vaksinasi yang dapat mencegah penularan polio.

Apakah polio sudah hilang di Indonesia?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa WHO menyatakan Indonesia bebas polio sejak 2014. Pada 2022, masihkah berlaku?

Faktanya, terdapat penemuan tiga kasus anak positif polio di Aceh pada November 2022. Ini berdasarkan rilisan berita dari situs web resmi Kementerian Kesehatan RI.

Sebelumnya pada 2018, data yang ditunjukkan WHO juga menemukan adanya kasus polio di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Munculnya kembali kasus polio berhubungan erat dengan kasus anak yang tidak diimunisasi, sehingga herd immunity (kekebalan kelompok) berkurang.

Apa saja tanda dan gejala polio?

Polio memiliki tanda dan gejala yang bervariasi. Namun terkadang, beberapa anak yang sudah terinfeksi virus tidak menunjukkan tanda dan gejala apa pun.

Gejala yang muncul juga tergantung pada jenis polio apa yang menyerang si kecil. Terdapat 3 jenis infeksi yaitu nonparalisis, paralisis, serta sindrom pascapolio.

Ketiganya memiliki tanda dan gejala yang sedikit berbeda, berikut penjelasannya.

1. Nonparalisis

Tanda-tanda dan gejala dari jenis nonparalisis dapat berlangsung dari 1 hingga 10 hari. Gejala yang muncul mungkin menyerupai flu biasa, dan disertai pula dengan:

  • demam,
  • sakit tenggorokan,
  • sakit kepala,
  • mual dan muntah,
  • tubuh kelelahan, serta
  • meningitis.

Jenis nonparalisis juga biasa disebut dengan polio abortif.

2. Paralisis

Sekitar 1 persen kasus poliomielitis dapat berkembang menjadi jenis paralisis.

Sesuai dengan namanya, jenis paralisis dapat menyebabkan kelumpuhan (paralysis) pada beberapa bagian, yaitu:

Gejala awal yang muncul mungkin tidak berbeda jauh dengan gejala nonparalisis. Namun, setelah 1 minggu, gejala yang lebih parah akan timbul. Tanda-tandanya di bawah ini.

  • Kehilangan refleks.
  • Nyeri dan kejang otot yang parah.
  • Salah satu bagian tubuh terasa lemas dan tidak bertenaga.
  • Kelumpuhan tiba-tiba, dapat bersifat sementara atau permanen.
  • Bentuk bagian tubuh yang tidak sempurna, terutama di pinggang, pergelangan kaki, dan kaki.

Perhatikan bila anak Anda merasakan gejala di atas.

3. Sindrom pascapolio

Ada kemungkinan virus kembali lagi meski anak sudah disembuhkan. Kondisi ini dapat terjadi sekitar 15 hingga 40 tahun setelah pertama kali terinfeksi virus.

Di bawah ini tanda dan gejala yang umumnya muncul.

  • Lemah otot dan sendi
  • Nyeri otot yang semakin memburuk
  • Lebih mudah lelah
  • Penyusutan otot
  • Kesulitan bernapas dan menelan (disfagia)
  • Depresi
  • Kesulitan mengingat dan berkonsentrasi

Diperkirakan sekitar 25 – 50% orang yang sembuh dari polio kembali menunjukkan tanda dan gejala di atas.

Jika anak memiliki satu atau lebih gejala dan pertanyaan lain terkait polio, konsultasikan dengan dokter.

Apa penyebab polio?

Masalah kesehatan ini disebabkan oleh virus polio yang masuk melalui rongga mulut, hidung, dan menyebar ke dalam aliran darah.

Poliomielitis sangat mudah menular, umumnya virus ditemukan di feses yang terinfeksi.

Penularan bisa terjadi pada beberapa kondisi di bawah ini.

  • Terpapar batuk dan bersin dari penderita
  • Kurang memiliki akses air bersih
  • Sanitasi yang buruk
  • Minum air yang terkontaminasi virus

Virus bisa ditularkan melalui batuk atau bersin karena virus tersebut dapat bertahan hidup di dalam tenggorokan dan usus. Namun, kasus kejadiannya lebih jarang ditemukan.

Apa faktor yang meningkatkan risiko penyakit polio?

Masalah kesehatan ini dapat terjadi pada hampir semua orang. Penyakit ini tidak mengenal kelompok usia serta golongan ras penderitanya.

Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena polio.

Berikut faktor-faktor risiko yang dapat memicu seseorang untuk terkena polio.

  • Usia anak-anak (0 – 59 bulan)
  • Tidak pernah mendapatkan suntik vaksinasi polio
  • Wanita hamil
  • Penderita HIV
  • Bepergian atau tinggal di daerah dengan virus
  • Berdekatan langsung dengan orang yang terinfeksi virus
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk
  • Bekerja di laboratorium dan menangani virus tersebut
  • Baru saja melakukan operasi pengangkatan amandel
  • Menderita stres berat

Perlu diketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti pasti akan terserang penyakit atau kondisi kesehatan tertentu.

Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang dapat menderita suatu penyakit atau kondisi kesehatan tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Apa saja komplikasi penyakit polio?

Polio, terutama yang berjenis paralisis, dapat mengakibatkan kelumpuhan temporer (sementara) atau permanen pada otot.

Selain itu, penyakit ini juga dapat menyebabkan cacat fisik, kelainan bentuk tulang, bahkan kematian.

Anak yang pernah terkena penyakit ini, kemungkinan dapat mengalami kondisi yang disebut dengan sindrom post-polio.

Tanda-tanda dan gejalanya meliputi di bawah ini.

  • Nyeri otot dan sendi yang bertambah parah
  • Penyusutan otot
  • Kelelahan tanpa alasan yang jelas
  • Lebih mudah kedinginan
  • Mengalami gangguan tidur, seperti sleep apnea
  • Kesulitan konsentrasi
  • Daya ingat menurun
  • Perubahan suasana hati, yang berpotensi menjadi depresi

Sindrom ini rata-rata akan muncul 35 tahun setelah penderita pertama kali terinfeksi.

Bagaimana polio didiagnosis?

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah anak Anda mengalami:

  • kelumpuhan atau kaku di bagian leher dan punggung,
  • kesulitan bernapas,
  • sulit menelan, serta
  • refleks tubuh lain tidak wajar.

Selain itu, untuk mendapatkan hasil diagnosis yang lebih akurat, dokter akan mengambil sampel dari sumsum tulang belakang.

Cairan tersebut akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi.

Virus polio juga mungkin dapat bersarang pada beberapa bagian tubuh, seperti:

  • cairan dahak tenggorokan,
  • feses, serta
  • cairan serebrospinal (cairan yang melapisi otak dan saraf tulang belakang).

Kemungkinan, dokter juga dapat mengambil sampel dari area-area tersebut.

Apa pengobatan polio?

Polio merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Di bawah ini beberapa jenis obat yang mungkin diberikan dokter.

  • Ibuprofen untuk baru meredakan rasa sakit.
  • Obat anti kejang untuk menenangkan otot.
  • Antibiotik untuk mengobati infeksi saluran kencing.
  • Ventilator atau alat bantu pernapasan.
  • Terapi fisik untuk meringankan rasa sakit.
  • Rehabilitasi paru untuk memperpanjang ketahanan fungsi paru-paru.

Pengobatan yang ada hanya berfokus pada pereda rasa sakit, mencegah terjadinya komplikasi kesehatan, serta menambah tenaga.

Bagaimana mencegah penyakit polio?

Kondisi kesehatan ini tidak dapat disembuhkan. Namun, Anda dapat mencegahnya dengan melakukan vaksinasi.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksinasi polio dapat dilakukan melalui oral polio vaccine (OPV) inactivated polio vaccine (IPV).

Pemberian keduanya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan usia anak, dengan rincian di bawah ini.

  • Pemberian OPV dilakukan pada saat baru lahir.
  • Usia 2, 3, 4 bulan dapat diberikan OPV maupun IPV.
  • Usia 18 bulan sebagai booster.
  • Antara 4 – 6 tahun, ketika anak baru pertama kali masuk sekolah.

IPV berpotensi menyebabkan alergi pada beberapa anak. Efek samping dari alergi ini dapat berupa sesak napas, mengi, percepatan detak jantung, hingga pusing.

Selain vaksin, di bawah ini beberapa hal yang bisa membantu mencegah poliomielitis.

  • Biasakan membawa bekal makan sendiri saat pergi ke sekolah.
  • Biasakan anak mencuci tangan.
  • Ajari anak memakai hand sanitizer jika tidak ada sabun.
  • Pastikan anak menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang benar-benar bersih.
  • Ajari anak menutup mulut ketika sedang batuk atau bersin.

Bila ada pertanyaan, konsultasikan dengan dokter untuk menyesuaikan dengan kondisi si kecil.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Riska Herliafifah · Tanggal diperbarui 25/11/2022

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan