backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Vaksin Hepatitis A

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 14 jam lalu

Vaksin Hepatitis A

Imunisasi sangat penting untuk mencegah penularan penyakit sejak dini. Namun, jenis imunisasi yang harus diterima setiap orang sangat banyak, salah satunya vaksin hepatitis A. Seberapa penting vaksin ini? Apakah Anda harus mendapatkannya meski sudah melakukan imunisasi hepatitis B? Berikut penjelasannya.

Apa itu vaksin hepatitis A?

Vaksin hepatitis A adalah jenis vaksin yang diberikan untuk mencegah infeksi virus penyebab hepatitis A (HAV). Bukan hanya pada orang dewasa, hepatitis A pada anak juga bisa terjadi.

Virus penyakit hepatitis A sangat menular dan bisa menginfeksi bagian hati secara akut sehingga mengakibatkan peradangan.

Oleh sebab itu, manfaat pemberian imunisasi hepatitis A tidak hanya berdampak positif terhadap kesehatan pribadi, melainkan juga bisa membasmi wabah penyakit yang merugikan banyak orang.

Mengutip dari WHO, ada dua tipe vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi virus hepatitis A dan penularannya.

Pertama, live attenuated vaccines khusus digunakan untuk menghentikan wabah hepatitis A di India dan Tiongkok.

Kedua, vaksin HAV non-aktif (formaldehyde-inactivated vaccines) yang digunakan di negara selain India dan Tiongkok.

Untuk orang dewasa, biasanya terdapat vaksin kombinasi yang sekaligus dapat melawan infeksi virus hepatitis A dan B.

Pada masing-masing pemberian, dosis imunisasi hepatitis A untuk anak-anak berumur 1—15 tahun adalah 0,5 ml.

Sementara pada orang dewasa, pemberian vaksin hepatitis A sebanyak dua kali dengan rentang waktu 6 bulan setelah vaksinasi pertama. Dosisnya 1 ml untuk setiap pemberian vaksin.

Namun, untuk orang yang memiliki kondisi kesehatan dengan kekebalan tubuh yang tinggi, mendapatkan satu dosis vaksin sudah cukup efektif untuk menangkal infeksi virus hepatitis A.

Siapa yang membutuhkan vaksin hepatitis A?

hepatitis b immunoglobulin

Meski WHO dan pemerintah sudah melakukan strategi pencegahan melalui pemberian imunisasi hepatitis A, sekelompok orang masih berisiko terjangkit penyakit ini.

Untuk itu, pemberian vaksin mungkin perlu dilakukan beberapa kali pada sebagian orang. Berikut ketentuan pemberian vaksin hepatitis A.

1. Bayi dan anak-anak

Berdasarkan jadwal imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksin hepatitis A pada anak dapat dilakukan saat si Kecil berusia 12—24 bulan sebanyak dua kali dengan jeda 6—36 bulan setelah suntikan pertama.

Sebagai contoh, berikut jeda pemberiannya.

  • Usia 12 bulan untuk suntikan pertama.
  • Usia 3 tahun untuk suntikan kedua.

2. Orang dewasa

Frontline Medical Communications menerbitkan penelitian bahwa orang dewasa termasuk ke dalam kelompok orang yang rentan terhadap paparan virus hepatitis A.

Ini membuat pemberian vaksin hepatitis A masih perlu dilakukan untuk meredakan epidemi. Berikut beberapa kondisinya. 

  • Akan berpergian ke tempat yang mengalami wabah penyakit hepatitis A (vaksin hepatitis A sebaiknya diberikan 2—4 minggu sebelum keberangkatan).
  • Pulang dari tempat yang terjangkit epidemi hepatitis A.
  • Memiliki penyakit hati kronis.
  • Tinggal bersama orang yang terinfeksi virus hepatitis A.
  • Menjalani pengobatan yang menggunakan jarum suntik.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Bekerja dalam penelitian virus hepatitis A.
  • Merawat atau berinteraksi dengan hewan primata yang terinfeksi.

Sementara itu, ibu hamil dan menyusui tetap bisa mendapatkan imunisasi hepatitis A. Vaksin ini tidak berdampak buruk pada proses menyusui dan tidak menyebabkan keguguran pada ibu hamil.

Siapa yang tidak boleh mendapatkan vaksin hepatitis A?

vaksin hepatitis b rekombinan

Manfaat imunisasi ini yaitu menjadi salah satu cara untuk mencegah penyebaran dan penularan penyakit hepatitis A.

Namun, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang harus menunda, bahkan tidak boleh menerima vaksin. Berikut penjelasannya.

1. Memiliki alergi yang mengancam jiwa

Memiliki reaksi alergi kronis yang mengancam keselamatan jiwa. Biasanya, reaksi dari alergi akan muncul setelah mendapatkan vaksin hepatitis A.

Oleh karena itu, tanyakan terlebih dahulu pada tenaga medis kandungan apa saja yang ada di dalam vaksin tersebut.

2. Sakit ringan

Biasanya, Anda tetap diperbolehkan mendapatkan vaksin hepatitis A jika mengalami batuk pilek atau merasa tidak enak badan.

Namun, jika mengalami penyakit parah, misalnya demam tinggi, Anda bisa menunda pemberian vaksin sampai pulih.

Apa efek samping vaksin hepatitis A?

kisaran harga vaksin hpv

Seperti obat lainnya, vaksin juga memiliki efek samping meski umumnya ringan.

Menurut WHO, imunisasi hepatitis A umumnya bekerja dengan efektif tanpa menimbulkan efek samping berarti, tapi kemungkinan terjadinya reaksi yang berbahaya tetap ada.

Mengutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), ada efek samping imunisasi yang mungkin terjadi. Berikut di antaranya.

1. Efek samping ringan yang umum terjadi

Biasanya, imunisasi hepatitis A hanya menimbulkan efek samping ringan yang tidak membahayakan, seperti:

  • kemerahan pada area suntikan,
  • demam ringan,
  • sakit kepala, dan
  • kelelahan.

Kondisi di atas biasanya timbul segera setelah pemberian imunisasi dan akan hilang sendiri 1—2 hari. Dokter akan menjelaskan reaksi ini lebih detail saat konsultasi.

2. Efek samping berat yang sangat langka

Pemberian vaksin dapat memicu terjadinya reaksi alergi yang cukup serius, meski sangat jarang terjadi.

Rasio kemungkinan 1 di antara 1 juta dosis vaksin, tetapi reaksi ini dapat berlangsung dalam beberapa menit saja setelah pemberian vaksin. Reaksi yang muncul, yaitu:

  • pembengkakan pada wajah,
  • tubuh menggigil,
  • kesulitan bernapas, dan
  • jantung berdegup kencang.

Selain itu, beberapa orang bisa pingsan setelah menjalani vaksin.

Untuk mengatasinya, berbaringlah selama 15 menit setelah melakukan imunisasi hepatitis A. Cara ini bisa membantu untuk mencegah pingsan dan terluka akibat terjatuh.

Beri tahu dokter bila mengalami pusing, pandangan kabur, atau telinga mendengung.

Namun, hal yang perlu orangtua ingat, efek samping anak yang tidak menerima imunisasi atau anak terlambat imunisasi lebih besar daripada yang mendapat vaksin.

Jadi, penting bagi orangtua untuk memberikan pencegahan agar si Kecil tidak tertular dan menyebarkan penyakit berbahaya.

Kesimpulan



Vaksin hepatitis A adalah cara yang efektif dan aman untuk mencegah penyakit hepatitis A. Bukan hanya membantu melindungi Anda, tetapi juga orang lain dari penyakit yang dapat dicegah ini. Jika Anda mempertimbangkan vaksinasi hepatitis A, berkonsultasilah kepada dokter atau penyedia layanan kesehatan untuk informasi lebih lanjut.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 14 jam lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan