home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

Apa itu vaksin MMR?|Siapa yang perlu mendapatkan vaksin MMR?|Apa kondisi yang membuat anak bisa menunda imunisasi MMR?|Apa efek samping vaksin MMR?|Kapan harus ke dokter?
Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

Pemberian imunisasi pada anak adalah salah satu cara pencegahan penyakit infeksi berbahaya sejak usia dini. Salah satu jenis vaksin yang harus didapat oleh orang-orang Indonesia adalah vaksin MMR. Imunisasi ini untuk melindungi anak dari penyakit Measles atau campak, Mumps atau gondongan, dan Rubella atau campak Jerman. Jangan anggap sepele ketiga penyakit tersebut, berikut penjelasan seputar vaksin MMR.

Apa itu vaksin MMR?

penyakit campak pada bayi

Vaksin MMR adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah tiga penyakit sekaligus.

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya.

Anak-anak adalah kelompok usia yang paling rentan terinfeksi MMR karena daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

Namun, orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah juga berpeluang untuk ketularan salah satu atau lebih dari penyakit ini.

Apalagi jika orang dewasa tidak mendapatkan vaksin MMR ketika masih kecil. Berikut penjelasan seputar penyakit campak, gondongan, dan rubella.

1. Meales (campak)

Measles atau campak adalah infeksi virus sangat menular yang menyerang pernapasan.

Virus penyebab campak dapat sangat mudah menyebar melalui percikan liur atau lendir yang keluar dari mulut orang sakit campak saat batuk atau bersin.

Penyakit campak juga mudah menular dari sentuhan langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Selain itu, campak bisa menular lewat kebiasaan saling berbagi barang pribadi, seperti pinjam-meminjam alat makan atau minum dari gelas yang sama.

Gejala campak yang harus Anda waspadai adalah:

  • Ruam merah di kulit
  • Batuk
  • Hidung mengeluarkan ingus
  • Demam
  • Bintik putih di mulut (bintik Koplik)

Campak yang sudah parah dapat menyebabkan pneumonia pada anak (radang paru), infeksi telinga, dan kerusakan otak.

Komplikasi campak lainnya yang juga fatal adalah ensefalitis (radang otak) yang dapat menyebabkan anak kejang-kejang sehingga membutuhkan imunisasi.

2. Mumps (gondongan)

Mumps (parotitis) atau di Indonesia sering disebut dengan nama gondongan adalah infeksi virus menular yang menyerang kelenjar ludah.

Setiap orang dapat terinfeksi gondongan, tapi penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia 2-12 tahun.

Virus penyebab gondongan menular lewat air liur (ludah) yang keluar bersama embusan udara saat orang sakit gondongan batuk atau bersin.

Selain itu, si kecil juga dapat terkena penyakit ini jika bersentuhan langsung atau menggunakan barang seseorang yang terjangkit penyakit gondongan.

Gejala gondongan yang paling jelas adalah pembengkakan kelenjar ludah sehingga area pipi dan sekitar leher terlihat bulat, bengkak membesar.

Berikut adalah gejala gondongan lainnya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan kelenjar ludah
  • Nyeri otot
  • Rasa sakit saat mengunyah atau menelan
  • Nyeri pada wajah atau kedua sisi pipi
  • Sakit tenggorokan

Kadang-kadang, virus gondongan juga dapat menyebabkan peradangan pada testis, ovarium, pankreas, atau meninges (selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang).

Tuli dan meningitis adalah risiko komplikasi lainnya yang mungkin terjadi akibat gondongan. Kondisi ini membuat semua orang membutuhkan vaksin MMR sebagai langkah pencegahan.

3. Rubella (campak jerman)

Rubella atau sering disebut dengan campak jerman adalah infeksi virus rubella yang menyebabkan kemunculan bintik-bintik ruam merah pada kulit.

Virus penyebab campak jerman juga menyebabkan kelenjar getah bening leher dan belakang telinga membengkak.

Tanda-tanda dan gejala rubella seringkali sangat ringan sehingga sulit untuk orangtua perhatina, terutama pada anak-anak.

Gejala campak jerman pada anak biasanya mulai muncul sekitar 2-3 minggu setelah tubuh mulai terpapar virus. Berikut gejalanya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Hidung tersumbat atau pilek
  • Mata merah meradang
  • Ruam merah muda halus pada wajah dan dengan cepat menyebar ke batang tubuh, kemudian ke lengan dan kaki, sebelum menghilang dalam urutan yang sama.
  • Sendi-sendi tubuh sakit, terutama pada wanita.

Semua orang berisiko terkena rubella atau campak jerman. Rubella pada anak dan dewasa umumnya dapat cepat membaik, tidak berbahaya, dan jarang menyebabkan komplikasi fatal.

Campak jerman baru sangat berbahaya jika terjadi pada wanita hamil, khususnya dalam 4 bulan pertama kehamilannya.

Jika seorang wanita terinfeksi rubella saat hamil muda, bayi berisiko mengalami kecacatan atau bahkan bayi lahir mati.

Siapa yang perlu mendapatkan vaksin MMR?

vaksin mmr untuk bayi

Vaksin MMR penting untuk mencegah penyakit campak, gondong, dan rubella pada anak. Berikut kelompok orang yang perlu mendapatan vaksin MMR:

Anak kecil dan balita

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MMR wajib diberikan pada anak mulai usia 9 bulan sampai selambat-lambatnya kurang dari 15 tahun.

Imunisasi yang mencakup penyakit campak ini juga akan masuk ke dalam jadwal vaksinasi rutin selanjutnya.

Kemudian imunisasi lanjutan (booster) anak dapatkan pada usia 18 bulan dan 5-7 tahun.

Selain itu, anak-anak berusia 6-11 bulan yang akan bepergian ke luar negeri harus menerima setidaknya dosis pertama vaksin MMR sebelum keberangkatan.

Sebelum berusia 12 bulan, anak-anak juga harus sudah menerima dosis vaksin kedua.

Orang dewasa

Menurut Center for Disease Control and Prevention, (CDC), orang dewasa berusia 18 tahun harus menerima dua dosis imunisasi campak sekaligus kapan saja jika tidak pernah mendapatkan vaksin ini sebelumnya.

Orang dewasa baru wajib imunisasi susulan dengan 1 dosis saja, apabila mereka dapat membuktikan bahwa mereka telah mendapat vaksin atau sudah pernah terkena penyakit MMR sebelumnya.

Bila orang berusia 12 bulan atau lebih telah menerima satu dosis vaksin MMR tetapi dokter mengganggapnya berpeluang besar terkena gondong, harus mendapatkan satu lagi vaksin gondong.

Setiap orang perlu menerima dosis vaksin MR setidaknya 28 hari setelah imunisasi pertama atau kedua.

Apa kondisi yang membuat anak bisa menunda imunisasi MMR?

bayi tidur setelah imunisasi

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada beberapa kelompok orang tertentu yang tidak perlu mendapatkan vaksin MMR, yaitu:

  • Memiliki reaksi alergi yang parah atau mengancam jiwa terhadap neomycin atau komponen lain dari vaksin.
  • Mengalami reaksi serius terhadap dosis MMR atau MMRV masa lalu (campak, gondong, rubella, dan varicella).
  • Menderita kanker atau menerima perawatan kanker yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  • Penderita HIV/AIDS atau gangguan sistem kekebalan tubuh lainnya.
  • Penerima obat yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti steroid.
  • Orang yang sedang menderita TBC atau tuberculosis.

Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat terlindungi oleh vaksin secara langsung.

Akan tetapi, mereka dapat merasakan perlindungan dari penyakit MMR apabila orang-orang di sekitarnya sudah melengkapi vaksin. Itu adalah herd immunity atau kekebalan kelompok.

Selain itu, kemungkinan Anda boleh menunda vaksin MMR apabila memiliki kondisi berikut:

  • Saat ini memiliki penyakit kronis dari stadium sedang hingga parah.
  • Sedang hamil atau dalam program hamil.
  • Baru-baru ini menjalani transfusi darah atau memiliki kondisi yang membuat Anda mudah berdarah atau memar.
  • Telah menerima vaksin untuk penyakit lain selain MMR, dalam empat minggu terakhir.

Jika memiliki pertanyaan tentang Anda atau si kecil harus mendapatkan vaksin MMR, konsultasikan dengan dokter.

Apa efek samping vaksin MMR?

bayi mandi saat demam setelah imunisasi polio

Vaksin termasuk ke dalam jenis obat sehingga bisa menimbulkan efek samping.

Reaksi yang timbul biasanya ringan dan akan hilang dengan sendirinya. Namun pada kasus yang sangat jarang, bisa menimbulkan masalah serius.

Efek samping imunisasi campak, gondongan, dan rubella (MMR) tingkat ringan seperti:

  • Nyeri pada bagian suntikan
  • Demam ringan
  • Kemerahan sekitar area suntikan

Kalau ini terjadi, biasanya akan mulai dalam waktu dua minggu setelah pemberian vaksin MMR. Kemungkinan untuk terkena efek samping akan menurun ketika ini adalah vaksin kedua si kecil.

Sementara itu, efek samping lain yang mungkin muncul tetapi sangat jarang terjadi yaitu:

  • Kejang (mata terbelalak dan tersentak) yang terjadi karena demam
  • Ruam seluruh tubuh
  • Trombosit rendah yang bersifat sementara
  • Tuli
  • Kerusakan otak

Kondisi berat hanya terjadi 1 dari 1 juta pemberian vaksin MMR, sehingga kemungkinannya sangat kecil untuk menyebabkan cedera serius.

Efek samping anak yang tidak mendapatkan imunisasi lebih berbahaya karena ia tidak mendapatkan kekebalan tubuh untuk melawan penyakit menular.

Vaksin MMR tidak menyebabkan autisme

Sebagian masyarakat sering menghubungkan antara vaksin MR atau MMR dengan autisme, padahal sebenarnya tidak ada hubungannya.

Berdasarkan keterangan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), efek samping vaksin MR umumnya hanya berupa reaksi ringan.

Berdasarkan penelitian berjudul The MMR Vaccine and Autisme, kedua hal ini tidak memiliki hubungan.

Autisme merupakan kondisi gangguan perkembangan saraf yang berhubungan dengan genetik sebelum bayi berusia 1 tahun.

Sementara anak usia kurang dari 1 tahun belum waktunya mendapatkan vaksin MMR. Maka, studi epidemiologi belum menemukan hubungan antara keduanya.

Kapan harus ke dokter?

vaksin mmr

Anda perlu membawa anak ke dokter ketika mengalami efek samping vaksin MMR yang berat. Apalagi jika anak memiliki tanda-tanda reaksi alergi berat yang bisa mengancam jiwa, seperti:

  • Wajah dan tenggorokan bengkak
  • Kesulitan bernapas
  • Denyut jantung cepat
  • Kelelahan
  • Gatal-gatal

Tanda-tanda tersebut biasanya akan terlihat beberapa menit sampai jam setelah pemberian vaksin.

Saat membawa anak ke dokter, beritahu petugas medis bahwa ini adalah kali pertama si kecil mendapat vaksin MMR. Ini akan membantu dokter dalam mengenali kondisi anak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Rubella – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 18 May 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rubella/symptoms-causes/syc-20377310

Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR). (2017). Retrieved 18 May 2020, from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr

MMR Tidak Menyebabkan Autisme (Bagian I). (2014). Retrieved 18 May 2020, from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/mmr-tidak-menyebabkan-autisme-bagian-i

MMR Tidak Menyebabkan Autisme (Bagian 2). (2015). Retrieved 18 May 2020, from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/mmr-tidak-menyebabkan-autisme-bagian-2

MMR Vaccination | What You Should Know | Measles, Mumps, Rubella | CDC. (2020). Retrieved 18 May 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/mmr/public/index.html

Safety Information for Measles, Mumps, Rubella (MMR) Vaccine | CDC. (2020). Retrieved 18 May 2020, from https://www.cdc.gov/vaccinesafety/vaccines/mmr-vaccine.html

(2020). Retrieved 18 May 2020, from https://www.immunize.org/vis/indonesian_mmr.pdf

MMR (measles, mumps and rubella) vaccine. (2019). Retrieved 18 May 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/mmr-vaccine/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nanda Saputri Diperbarui seminggu yang lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita