home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Infeksi Cacing Pita

Definisi infeksi cacing pita|Tanda-tanda dan gejala infeksi cacing pita|Penyebab infeksi cacing pita|Faktor-faktor risiko|Komplikasi infeksi cacing pita|Diagnosis infeksi cacing pita|Pengobatan infeksi cacing pita|Pencegahan infeksi cacing pita
Infeksi Cacing Pita

Definisi infeksi cacing pita

Penyakit cacing pita adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing berjenis Taenia (taeniasis). Dalam dunia medis, infeksi ini disebut dengan taeniasis dan sistiserkosis.

Perbedaan keduanya adalah jenis cacing pita yang menjadi penyebabnya. Pada taeniasis, penyebab utamanya adalah cacing Taenia dewasa, sedangkan sistiserkosis disebabkan oleh larva cacing Taenia, khususnya jenis Taenia solium.

Salah satu penyebab seseorang terinfeksi cacing pita adalah mengonsumsi daging sapi atau babi yang tidak matang dan terkontaminasi cacing tersebut.

Orang-orang biasanya tidak menyadari ada cacing yang satu ini di dalam tubuhnya karena penyakit ini jarang menimbulkan tanda dan gejala.

Namun, jika larva cacing sampai keluar dari usus dan membentuk kista di jaringan lain, infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ dan jaringan tubuh.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Infeksi cacing pita adalah penyakit yang umum dijumpai di berbagai belahan dunia.

Namun, penyakit ini paling banyak ditemui di negara-negara dengan terbiasa makan daging sapi kurang matang, terutama di Eropa Timur, Rusia, Afrika Timur, dan Amerika Latin.

Selain itu, penyakit infeksi ini kerap terjadi di tempat-tempat dengan sistem sanitasi yang buruk, misalnya pemukiman yang terlalu dekat dengan peternakan sapi dan sering terpapar kotoran sapi.

Menurut CDC, kasus tertinggi penyakit ini ada di negara-negara Amerika Latin, Eropa Timur, Afrika sub-Sahara, India, dan Asia.

Di Asia sendiri, penyakit ini banyak ditemukan di Korea, Tiongkok, Taiwan, Indonesia, dan Thailand.

Meski terbilang umum, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati dengan cara yang tepat.

Pasalnya, larva cacing mampu bertahan hidup di dalam tubuh manusia hingga 30 tahun lamanya.

Tanda-tanda dan gejala infeksi cacing pita

Kebanyakan orang yang terinfeksi cacing ini tidak mengalami gejala apapun.

Namun, orang yang terinfeksi cacing pita dengan ukuran lebih besar (seperti Taenia saginata) punya kemungkinan lebih besar untuk mengalami gejala.

Beberapa gejala khas dari infeksi cacing ini biasanya meliputi:

  • sering sakit perut,
  • nafsu makan menurun,
  • berat badan turun drastis tanpa sebab,
  • mengalami gangguan pencernaan,
  • terlihat lemah, lesu, dan tidak bersemangat, dan
  • sulit tidur atau bahkan mengalami insomnia.

Beberapa orang yang terinfeksi cacing jenis ini juga mengalami iritasi di daerah perianal, yaitu area di sekitar anus.

Iritasi ini disebabkan oleh pecahan cacing atau telur yang dikeluarkan dalam tinja. Biasanya, orang baru sadar kalau mereka terkena penyakit cacingan ketika melihat pecahan cacing atau telur di tinja mereka.

Sementara itu, larva cacing pita jenis T. solium penyebab sistiserkosis bisa menimbulkan gejala-gejala yang cukup jelas apabila telah menginfeksi organ tubuh seperti otot, mata, dan otak.

Berikut adalah gejala infeksi cacing pita jenis T. solium yang mungkin muncul:

Bila Anda mengalami tanda-tanda dan gejala yang telah disebutkan di atas, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter sebelum infeksi bertambah parah.

Penyebab infeksi cacing pita

Ada 3 jenis utama parasit penyebab infeksi cacing pita, yaitu:

  • Taenia saginata, yang berasal dari daging sapi.
  • Taenia solium, yang berasal dari daging babi.
  • Taenia asiatica, berasal dari daging babi, namun hanya ditemukan di Asia.

Taeniasis bisa disebabkan oleh 3 jenis cacing tersebut. Namun, sistiserkosis hanya bisa disebabkan oleh serangan cacing T. solium.

Siklus hidup ketiga jenis cacing tersebut sangatlah mirip. Secara umum, berikut penjelasan tentang siklus hidup cacing pita:

1. Telur cacing lepas ke lingkungan

Cacing pita atau Taenia adalah hewan parasit. Oleh karena itu, hewan ini memerlukan tubuh inang agar dapat berkembang biak.

Usus halus manusia adalah satu-satunya tempat yang tepat bagi cacing Taenia untuk bertahan hidup.

Cacing dewasa berkembang biak dengan cara bertelur. Telur cacing yang telah matang berkembang menjadi larva oncospheres yang masih mengandung telur.

Selanjutnya, larva oncospheres yang masih berisi telur terlepas dari tubuh cacing pita dewasa dan keluar dari anus bersama feses manusia.

2. Infeksi hewan ternak

Saat telur cacing pita keluar dari tubuh manusia, ada kemungkinan telur cacing ini dapat berpindah ke inang lain.

Babi dan sapi adalah dua jenis hewan yang sering menjadi inang dari cacing pita. Sapi dan babi terinfeksi cacing ini karena makan pangan ternak yang telah terkontaminasi telur cacing.

Saat berada di dalam usus binatang, larva oncospheres menetas menjadi embrio cacing, kemudian menyerang dinding usus dan masuk ke dalam sistem peredaran darah pada hewan tersebut.

Larva kemudian menyebar ke bagian bagian tubuh hewan yang lain, seperti di otot lidah, jantung, hati, sistem limfatik, dan bahu. Embrio cacing pita dapat bertahan selama beberapa tahun pada tubuh hewan tersebut.

3. Infeksi manusia

Manusia bisa menelan larva cacing pita yang tersembunyi di dalam daging hewan mentah atau tidak matang saat dimasak.

Anda juga bisa menelan cacing ini karena mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah tercemar kotoran manusia atau hewan yang mengandung cacing maupun telurnya.

Setelah tertelan, scolex (kepala) cacing akan menempel kuat ke dinding usus halus dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang menumpahkan telur di kotoran manusia yang terinfeksi.

Cacing dewasa bisa memanjang sampai 15 meter dan mampu bertahan hidup hingga 30 tahun dalam tubuh manusia.

Setelah telur-telur baru bermigrasi ke anus dan masuk ke dalam tinja, kemudian siklus hidup cacing akan berulang kembali.

Siklus hidup cacing pita
Siklus hidup cacing pita

Faktor-faktor risiko

Hampir semua orang bisa terkena infeksi cacing yang satu ini. Namun, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terserang penyakit ini.

Beberapa faktor risiko infeksi cacing pita di antaranya adalah sebagai berikut:

  • jarang mandi dan mencuci tangan,
  • berada di peternakan yang kotor atau memiliki sistem sanitasi yang buruk,
  • tinggal di pemukiman padat dengan sistem sanitasi yang kurang baik,
  • memakan daging mentah atau kurang matang, terutama daging sapi dan babi, dan
  • tinggal di wilayah dengan kasus penyakit taeniasis atau sistiserkosis yang tinggi.

Komplikasi infeksi cacing pita

Komplikasi ketika seseorang terinfeksi cacing pita sebenarnya sangat jarang terjadi.

Akan tetapi, apabila pengobatan yang diberikan kurang maksimal, cacing berkembang semakin besar, atau larva cacing mencapai organ tubuh lainnya, kemungkinan besar komplikasi bisa terjadi.

Berikut adalah beberapa komplikasi akibat infeksi cacing pita:

1. Penyumbatan sistem pencernaan

Jika cacing pita tumbuh semakin besar, cacing dapat menyumbat usus dan berisiko mengakibatkan usus buntu.

Selain itu, saluran empedu dan pankreas Anda bisa ikut terkena dampaknya.

2. Kerusakan otak dan sistem saraf pusat

Infeksi cacing Taenia yang telah merusak otak dan sistem saraf pusat disebut dengan neurosistiserkosis.

Jika kondisi ini terjadi, Anda berisiko mengalami gangguan penglihatan, kejang, meningitis, hidrosefalus, demensia, bahkan berakhir dengan kematian.

3. Gangguan organ tubuh lainnya

Ketika larva cacing pita bergerak ke hati, paru-paru, atau organ lainnya, akan terbentuk kista.

Seiring berjalannya waktu, kista tersebut bertambah besar dan mengganggu fungsi organ yang terdampak.

Kista cacing yang pecah dapat melepaskan lebih banyak larva, dan menyebarkan larva-larva tersebut ke organ tubuh lainnya.

Diagnosis infeksi cacing pita

Sebelum menentukan pengobatan yang tepat, dokter harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan apakah benar Anda terinfeksi cacing pita atau tidak.

Pemeriksaan untuk mengetahui adanya cacing pita biasanya dilakukan dengan cara-cara berikut:

Tes analisis feses

Jika dokter menduga ada cacing di dalam usus, dokter memerlukan sampel feses untuk diperiksa di laboratorium.

Tes darah

Tes darah juga diperlukan untuk mengecek pembentukan antibodi di dalam darah. Antibodi biasanya muncul ketika tubuh sedang melawan infeksi, termasuk infeksi cacing pita.

Tes pengambilan gambar

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan melalui CT scan, MRI scan, atau USG untuk mengecek adanya kista cacing di organ-organ tubuh tertentu.

Pengobatan infeksi cacing pita

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Penyakit cacing pita biasanya diobati dengan obat cacing yang diresepkan dokter. Praziquantel dan albendazole merupakan obat-obatan yang sering diresepkan dokter.

Kedua obat ini memiliki sifat antelmintik, yaitu bertugas untuk membunuh cacing dan telurnya.

Biasanya, obat cacing pita tersebut diminum selama beberapa minggu supaya tubuh Anda benar-benar terbebas dari infeksi.

Nantinya, cacing tainea akan dikeluarkan dari tubuh bersama dengan feses.

Selama mengonsumsi obat-obatan tersebut, Anda mungkin akan mengalami beberapa efek samping seperti pusing dan sakit perut.

Pencegahan infeksi cacing pita

Agar terhindar dari penyakit ini, Anda bisa melakukan langkah-langkah pencegahan sederhana.

Berikut adalah beberapa tips mencegah infeksi cacing yang bisa Anda ikuti:

1. Memasak daging hingga matang

Salah satu cara untuk mencegah penyakit infeksi cacing pita adalah dengan memasak daging hingga matang.

Jika memungkinkan, Anda bisa menggunakan termometer makanan untuk mengukur suhu dalam daging yang dimasak.

Selain itu, hindari mencicipi daging sampai daging tersebut matang sempurna.

United States Department of Agriculture (USDA) atau setara dengan Kementarian Pertanian di Indonesia merekomendasikan sejumlah hal berikut sebagai cara mengolah daging yang benar:

  • Untuk potongan daging utuh (tidak termasuk daging unggas). Masak sampai setidaknya daging bersuhu 63 derajat Celcius. Diamkan daging selama sekitar 3 menit sebelum dimakan.
  • Untuk daging cincang (tidak termasuk daging unggas). Masak sampai setidaknya daging bersuhu 71 derajat Celcius. Daging cincang tidak memerlukan waktu istirahat sebelum dikonsumsi.

2. Menyimpan daging dengan suhu yang tepat

Pastikan Anda untuk memerhatikan cara menyimpan daging yang benar. Setelah dibeli, segera letakkan daging sapi di kulkas bersuhu 1 derajat Celcius atau di freezer bersuhu -18 derajat Celcius.

Hal ini dilakukan untuk menjaga agar daging tetap segar, mempertahankan nutrisinya, dan memperpanjang umur simpan makanan.

Jika disimpan dalam kulkas, pastikan daging yang dimasak diletakkan terpisah dari daging mentah, makanan mentah, dan makanan beku pada umumnya.

3. Menjaga kebersihan

Cara lain untuk mencegah infeksi dari cacing yakni dengan selalu menjaga kebersihan pribadi.

Anda dan keluarga harus selalu membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum dan setelah makan serta sebelum dan setelah mengolah daging.

Penting juga untuk selalu cuci tangan setelah Anda buang air buang air kecil atau buang air besar.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Parasites – Taeniasis – CDC. (2020). Retrieved December 21, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/taeniasis/gen_info/faqs.html 

Parasites – Cysticercosis – CDC. (2020). Retrieved December 21, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/cysticercosis/gen_info/faqs.html 

Taeniasis: Biology – CDC. (2013). Retrieved December 21, 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/taeniasis/biology.html 

Taeniasis – Stanford University. (n.d.). Retrieved December 21, 2020, from https://web.stanford.edu/group/parasites/ParaSites2004/Taeniasis/#life%20cycle 

What is taeniasis and cysticercosis? – WHO. (n.d.). Retrieved December 21, 2020, from https://www.who.int/taeniasis/disease/en/ 

Tapeworm infection – Mayo Clinic. (2020). Retrieved December 21, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tapeworm/symptoms-causes/syc-20378174 

Wong, DJ. (2013). Tapeworm infection – DermNet NZ. Retrieved December 21, 2020, from https://dermnetnz.org/topics/tapeworm-infection/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ajeng Quamila Diperbarui 12/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x