Infeksi Cacing Pita

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi infeksi cacing pita

Penyakit cacing pita adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing berjenis Taenia. Dalam dunia medis, infeksi ini disebut dengan taeniasis dan sistiserkosis.

Yang membedakan keduanya adalah jenis cacing pita yang menyebabkannya. Pada taeniasis, penyebab utamanya adalah cacing Taenia dewasa, sedangkan sistiserkosis disebabkan oleh larva cacing Taenia, khususnya jenis Taenia solium.

Salah satu penyebab seseorang terinfeksi cacing pita adalah mengonsumsi daging sapi atau babi yang tidak matang dan terkontaminasi cacing tersebut.

Orang-orang biasanya tidak menyadari ada cacing pita di dalam tubuhnya karena penyakit ini jarang menimbulkan tanda-tanda dan gejala yang berarti.

Namun, jika larva cacing sampai keluar dari usus dan membentuk kista di jaringan lain, infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan organ dan jaringan.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Infeksi cacing pita adalah penyakit yang umum dijumpai di berbagai belahan dunia. Namun, penyakit ini paling banyak ditemui di negara-negara dengan kebiasaan mengonsumsi daging sapi kurang matang, terutama di Eropa Timur, Rusia, Afrika Timur, dan Amerika Latin.

Selain itu, penyakit infeksi ini juga banyak terdapat di tempat-tempat dengan sistem sanitasi yang buruk, misalnya pemukiman yang terlalu dekat dengan peternakan sapi dan sering terpapar kotoran sapi.

Menurut CDC, kasus tertinggi penyakit ini ada di negara-negara Amerika Latin, Eropa Timur, Afrika sub-Sahara, India, dan Asia. Di Asia sendiri, penyakit ini banyak ditemukan di Korea, Tiongkok, Taiwan, Indonesia, dan Thailand.

Meski terbilang umum, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati dengan cara yang tepat. Pasalnya, larva cacing mampu bertahan hidup di dalam tubuh manusia hingga 30 tahun lamanya.

Tanda-tanda dan gejala infeksi cacing pita

Kebanyakan orang yang terinfeksi cacing ini tidak mengalami gejala apapun. Namun, orang yang terinfeksi cacing pita dengan ukuran lebih besar (seperti Taenia saginata) lebih mungkin mengalami gejala-gejala.

Beberapa gejala khas dari infeksi cacing ini biasanya meliputi:

  • Sering sakit perut
  • Nafsu makan menurun
  • Berat badan turun drastis tanpa sebab
  • Mengalami gangguan pencernaan
  • Terlihat lemah, lesu, dan tidak bersemangat
  • Sulit tidur, atau bahkan mengalami insomnia

Beberapa orang yang terinfeksi cacing jenis ini juga mengalami iritasi di daerah perianal, yaitu area di sekitar anus. Iritasi ini disebabkan oleh pecahan cacing atau telur yang dikeluarkan dalam tinja. Biasanya, orang baru sadar kalau mereka terkena penyakit cacingan ketika melihat pecahan cacing atau telur di tinja mereka.

Sementara itu, larva cacing pita jenis T. solium penyebab sistiserkosis bisa menimbulkan gejala-gejala yang cukup jelas apabila telah menginfeksi organ tubuh seperti otot, mata, dan otak. Berikut adalah gejala-gejala yang mungkin muncul:

  • Adanya benjolan lunak di bawah kulit
  • Penglihatan buram atau kabur
  • Pembengkakan pada retina mata
  • Sakit kepala
  • Kejang
  • Sulit fokus
  • Keseimbangan tubuh terganggu

Apabila Anda mengalami tanda-tanda dan gejala yang telah disebutkan di atas, jangan tunda waktu untuk periksa ke dokter sebelum infeksi bertambah parah.

Penyebab infeksi cacing pita

Ada 3 jenis utama parasit penyebab infeksi cacing pita, yaitu:

  • Taenia saginata, yang berasal dari daging sapi
  • Taenia solium, yang berasal dari daging babi
  • Taenia asiatica, berasal dari daging babi, namun hanya ditemukan di Asia

Taeniasis bisa disebabkan oleh 3 jenis cacing tersebut. Namun, sistiserkosis hanya bisa disebabkan oleh serangan cacing T. solium.

Siklus hidup ketiga jenis cacing tersebut sangatlah mirip. Secara umum, berikut penjelasan tentang siklus hidup cacing pita:

1. Telur cacing lepas ke lingkungan

Cacing pita atau Taenia adalah hewan parasit. Oleh karena itu, hewan ini memerlukan tubuh inang agar dapat berkembang biak, dan usus halus manusia adalah satu-satunya tuan rumah bagi cacing Taenia untuk bertahan hidup.

Cacing dewasa berkembang biak dengan cara bertelur. Telur cacing yang telah matang berkembang menjadi larva oncospheres yang masih mengandung telur, kemudian terlepas dari tubuh cacing pita dewasa dan keluar dari anus bersama feses manusia.

2. Infeksi hewan ternak

Saat telur cacing pita keluar dari tubuh manusia, ada kemungkinan telur cacing ini dapat berpindah ke inang lain. Babi dan sapi adalah dua jenis hewan yang sering menjadi inang dari cacing pita. Sapi dan babi terinfeksi cacing ini dengan mengonsumsi pangan ternak yang terkontaminasi telur cacing.

Di usus binatang, larva oncospheres menetas menjadi embrio cacing, kemudian menyerang dinding usus dan masuk dalam sistem peredaran darah pada hewan tersebut. Larva kemudian menyebar ke bagian bagian tubuh hewan yang lain, seperti di otot lidah, jantung, hati, sistem limfatik, dan bahu. Embrio cacing pita dapat bertahan selama beberapa tahun pada hewan tersebut.

3. Infeksi manusia

Manusia bisa menelan larva cacing pita yang tersembunyi pada daging hewan yang mentah atau dimasak tidak matang. Anda juga bisa menelan cacing ini dari mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar kotoran manusia atau hewan yang mengandung terinfeksi oleh cacing.

Setelah tertelan, scolex (kepala) cacing akan menempel kuat ke dinding usus halus dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang menumpahkan telur di kotoran manusia yang terinfeksi. Cacing dewasa bisa memanjang sampai 15 meter dan mampu bertahan hidup hingga 30 tahun dalam tubuh manusia.

Setelah telur-telur baru bermigrasi ke anus dan masuk ke dalam tinja, kemudian siklus hidup cacing akan berulang kembali.

Siklus hidup cacing pita
Siklus hidup cacing pita

Faktor-faktor risiko

Hampir semua orang bisa terkena infeksi cacing pita. Namun, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terserang penyakit ini. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Jarang mandi dan mencuci tangan
  • Berada di peternakan yang kotor atau memiliki sistem sanitasi yang buruk
  • Tinggal di pemukiman padat dengan sistem sanitasi yang kurang baik
  • Memakan daging mentah atau kurang matang, terutama daging sapi dan babi
  • Tinggal di wilayah dengan kasus penyakit taeniasis atau sistiserkosis yang tinggi

Komplikasi infeksi cacing pita

Komplikasi sangat jarang terjadi ketika seseorang terkena infeksi cacing pita. Namun, apabila pengobatan yang diberikan kurang maksimal dan cacing berkembang semakin besar, atau larva cacing mencapai organ tubuh lainnya, kemungkinan besar komplikasi bisa terjadi.

Berikut adalah beberapa komplikasi akibat penyakit ini:

  • Penyumbatan sistem pencernaan
    Jika cacing pita tumbuh semakin besar, cacing dapat menyumbat usus dan berisiko mengakibatkan usus buntu. Selain itu, saluran empedu dan pankreas Anda juga bisa terpengaruh.
  • Kerusakan otak dan sistem saraf pusat
    Infeksi cacing Taenia yang telah merusak otak dan sistem saraf pusat disebut dengan neurosistiserkosis. Jika kondisi ini terjadi, Anda berisiko mengalami gangguan penglihatan, kejang, meningitis, hidrosefalus, demensia, bahkan berakhir dengan kematian.
  • Gangguan organ tubuh lainnya
    Ketika larva cacing pita bergerak ke hati, paru-paru, atau organ lainnya, maka akan terbentuk kista. Seiring berjalannya waktu, kista tersebut bertambah besar dan mengganggu fungsi organ yang terdampak. Kista cacing yang pecah dapat melepaskan lebih banyak larva, dan menyebarkan larva-larva tersebut ke organ tubuh lainnya.

Diagnosis dan pengobatan infeksi cacing pita

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Sebelum menentukan pengobatan, dokter harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan apakah benar Anda terinfeksi cacing pita atau tidak. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan cara-cara berikut:

  • Tes analisis feses
    Jika dokter menduga ada cacing di dalam usus, dokter memerlukan sampel feses untuk diperiksa di laboratorium.
  • Tes darah
    Tes darah juga diperlukan untuk mengecek pembentukan antibodi di dalam darah. Antibodi biasanya muncul ketika tubuh sedang melawan infeksi, termasuk infeksi cacing pita.
  • Tes pengambilan gambar
    Dokter juga akan melakukan pemeriksaan melalui CT scan, MRI scan, atau USG untuk mengecek adanya kista cacing di organ-organ tubuh tertentu.

Bagaimana cara mengobati infeksi cacing pita?

Penyakit cacing pita biasanya diobati dengan obat cacing yang diresepkan dokter. Praziquantel dan albendazole merupakan obat-obatan yang sering diresepkan dokter.

Kedua obat ini memiliki sifat antelmintik, yaitu bertugas untuk membunuh cacing dan telurnya. Biasanya obat-obatan tersebut dikonsumsi selama beberapa minggu supaya tubuh Anda benar-benar terbebas dari infeksi. Nantinya, cacing tainea akan dikeluarkan dari tubuh bersama dengan feses.

Selama mengonsumsi obat-obatan tersebut, Anda mungkin akan mengalami beberapa efek samping seperti pusing dan sakit perut.

Pencegahan infeksi cacing pita

Agar terhindar dari penyakit ini, Anda bisa melakukan langkah-langkah pencegahan sederhana. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda ikuti:

1. Memasak daging hingga matang

Salah satu cara untuk mencegah penyakit infeksi cacing pita adalah dengan memasak daging hingga matang. Kalau memungkinkan, termometer makanan harus digunakan untuk mengukur suhu dalam daging yang dimasak. Selain itu, jangan mencicipi daging sampai daging tersebut matang sempurna.

United States Department of Agriculture (USDA), atau setara dengan Kementarian Pertanian di Indonesia merekomendasikan sejumlah hal berikut sebagai cara mengolah daging yang benar:

  • Untuk potongan daging utuh (tidak termasuk daging unggas). Masak sampai setidaknya daging bersuhu 63°C yang diukur dengan termometer makanan yang ditusukkan di bagian daging yang paling tebal. Lalu diamkan dagingnya sebentar selama tiga menit sebelum dikonsumsi.
  • Untuk daging cincang (tidak termasuk daging unggas). Masak sampai setidaknya daging bersuhu 71°C. Daging cincang tidak memerlukan waktu istirahat sebelum dikonsumsi.

2. Menyimpan daging dengan suhu yang tepat

Pastikan juga untuk memerhatikan cara menyimpan daging yang benar. Taruh daging sapi di kulkas bersuhu 1°Celcius atau di freezer bersuhu -18°C segera setelah membelinya. Hal ini dilakukan untuk menjaga daging tetap segar, mempertahankan nutrisinya, dan memperpanjang umur simpan makanan.

Jika disimpan dalam kulkas, pastikan daging yang dimasak diletakkan terpisah dari daging mentah, makanan mentah, dan makanan beku pada umumnya.

3. Menjaga kebersihan

Cara lainnya adalah dengan selalu menjaga kebersihan pribadi, dengan selalu cuci tangan sebelum dan setelah makan serta setelah dan sebelum mengolah daging. Selain itu, penting juga untuk selalu cuci tangan setelah Anda buang air buang air kecil/besar.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Urat menonjol pada permukaan kulit memang kerap ditemui pada orang berusia lanjut. Lalu apa artinya kalau masih muda sudah mengalami kondisi ini?

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Informasi Kesehatan 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

Keracunan makanan dapat berujung pada kematian. Pelajari pertolongan pertama untuk menagtasi keracunan makanan di sini sebelum terlambat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ternyata menonton film sedih bukan cuma membuat kita menangis, tapi ada juga manfaat lainnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
bahaya rokok, bahaya merokok bagi kesehatan, dampak rokok, efek rokok, berhenti merokok

Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit