9 Jenis Vaksin yang Diperlukan Orang Dewasa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Banyak orang yang beranggapan bahwa vaksin hanya dibutuhkan oleh bayi dan balita. Padahal, orang dewasa juga perlu mendapatkan vaksin untuk melindungi diri dari berbagai penyakit. Sayangnya, kesadaran orang dewasa melakukan vaksin masih rendah; entah karena biaya vaksin yang tidak murah, tidak tahu vaksin apa saja yang dibutuhkan, tidak tahu jadwal pemberian vaksin seharusnya, atau karena memang tidak percaya bahwa vaksin dapat melindungi Anda dari penyakit.

Apa saja jenis-jenis vaksin untuk dewasa?

1. Vaksin influenza

Penyakit ini biasanya ditandai dengan batuk, demam, dan nyeri otot. Vaksin influenza diberikan satu tahun sekali untuk mencegah terjadinya flu yang mudah menular, terutama ketika sedang musim pancaroba atau hujan.

2. Vaksin pneumonia

Pneumonia adalah penyakit radang paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus yang menyerang saluran napas bagian bawah dan menular lewat batuk, bersin, dan ketika bicara. Serangan pneumonia lebih rentan pada orang berusia lebih dari 60 tahun atau orang dengan daya tahan tubuh yang rendah.

3. Vaksin HPV

Kanker serviks adalah penyakit kanker yang disebabkan oleh Human Papiloma Virus yang menular lewat kontak seksual. Vaksin ini sangat dianjurkan untuk diberikan sebelum Anda melakukan hubungan seksual, karena pemberian vaksin lebih dini dapat meningkatkan efektivitas vaksin dalam mencegah kanker serviks.

Vaksin HPV mulai dapat diberikan pada usia 11 atau 12 tahun. Vaksin HPV kedua dapat diberikan 1 sampai 2 bulan setelah vaksin HPV pertama. Dan vaksin HPV ketiga dapat diberikan 6 bulan setelah vaksin HPV pertama.

4. Vaksin tetanus, difteri, dan pertusis

Vaksin ini diberikan untuk melindungi Anda dari tiga penyakit, yaitu tetanus yang menyebabkan kejang otot dan pengetatan otot rahang yang ekstrim; difteri yang menyebabkan masalah pernapasan, kelumpuhan, gagal jantung dan kematian; serta pertusis atau batuk rejan. Vaksin ini biasanya telah diberikan saat Anda masih balita, namun, Anda tetap perlu melakukan vaksinasi ulang setidaknya 10 tahun sekali.

5. Vaksin hepatitis A

Hepatitis A adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus hepatitis A yang disebarkan oleh kotoran/tinja penderita; biasanya melalui makanan. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak; sehingga pemberian vaksin juga sudah dapat diberikan saat anak berusia 2 tahun. Vaksinasi ini juga perlu dilakukan ulang setiap 10 tahun sekali.

6. Vaksin hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat memicu terjadinya sirosis hati atau kanker hati. Sebenarnya, vaksin ini sudah diberikan saat Anda baru lahir, namun dapat diberikan ulang setiap enam bulan sekali.

7. Vaksin measles, mumps, dan rubella (MMR)

Vaksin ini diberikan untuk mencegah tiga penyakit, yaitu measles atau campak, mumps atau gondongan, dan rubella atau campak jerman. Vaksin ini diberikan jika Anda bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan dan sering berpergian; Anda memerlukan dua dosis vaksin dengan jarak pemberian minimal 4 minggu. Pemberian vaksin dapat diulangs etiap 10 tahun.

8. Vaksin varisela (cacar air)

Vaksin ini diberikan pada orang yang belum pernah terkena cacar air, orang yang dekat dengan penderita cacar air, atau orang dewasa sehat yang tidak hamil. Vaksin terdiri dari 2 dosis yang diberikan dengan jarak 4-8 minggu; vaksin ini bisa diberikan kapan saja. Pemberian vaksin dapat diulang setiap 20 tahun sekali.

Oleh karena vaksin ini dibuat dengan virus hidup, maka Anda tidak perlu mendapatkannya jika Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena penyakit (seperti kanker atau HIV) atau perawatan medis (seperti steroid atau kemoterapi).

9. Vaksin lainnya

Vaksin tertentu dianjurkan pada orang dewasa, khususnya jika Anda berpergian ke negara tertentu, seperti vaksin meningitis yang diberikan bagi jamaah calon haji atau Anda yang ingin pergi ke wilayah sub-sahara afrika. Vaksin yellow fever dan japanese encephalitis yang diberikan jika Anda berpergian ke negara Afrika Selatan. Vaksin rabies yang diberikan pada orang yang sering kontak dengan hewan; seperti dokter hewan, pemilik hewan piaraan, pekerja laboratorium, atau pergi ke daerah endemis yang berisiko kontak dengan hewan atau individu yang menderita rabies.

Setiap vaksin bisa Anda dapatkan kecuali jika Anda memiliki alergi atau kondisi tertentu. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda dapat melakukan vaksinasi dan efek samping apa yang mungkin saja terjadi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Alergi Paracetamol

Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
melihat bullying

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit