5 Cara Mewujudkan Keluarga Akur, Harmonis, dan Bahagia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Setiap orang pastinya ingin memiliki keluarga yang harmonis. Semua anggota keluarganya akur, saling menyayangi, kompak, dan terbebas dari cekcok. Membangun keluarga bahagia bukan sekadar mimpi di siang bolong, kok!

Cara paling jitu membangun keluarga bahagia

keluarga bahagia

1. Bikin jadwal khusus untuk waktu keluarga

Ayah bekerja, ibu mengurus rumah, si kakak kuliah, sementara adik sibuk ekskul dan bimbel sana-sini?Meski setiap orang rumah punya kesibukannya masing-masing, jangan lupakan pentingnya waktu khusus keluarga.

Jadwalkan waktu-waktu tertentu untuk kumpul keluarga yang harus disepakati semua orang. Misalnya, makan malam bersama. Buat juga peraturan khusus, misalnya tidak boleh membawa gadget. Isi waktu makan malam dengan percakapan ringan, seperti bagaimana hari kakak dan adik di sekolah seharian tadi atau hal lucu atau menarik lainnya yang kebetulan terjadi di kantor ayah.

Sementara saling bertukar cerita, tunjukkan rasa ketertarikan terhadap aktivitas harian anggota keluarga Anda. Dengan begini, mereka akan merasa kehadiran mereka selalu dinanti dan mereka jadi semakin terbiasa untuk terbuka berbagi cerita.

Aktivitas lainnya yang bisa Anda jadikan tradisi keluarga rutin adalah menonton film, olahraga di taman kota, atau main board game seperti monopoli atau ular tangga. Minta para anggota keluarga meluangkan waktu di malam minggu untuk menghabiskan waktu bersama.

2. Jadilah sahabat bagi anak

Hubungan orangtua dan anak idealnya tidak berjalan satu arah saja; orangtua berkata dan anak harus menurut, tidak boleh membantah. Jika ya, maka akan ada konsekuensi yang menanti. Interaksi yang membelenggu seperti ini sebetulnya tidak sehat, membuat anak merasa selalu dikekang dan tidak punya kebebasan sendiri.

Mereka jadi enggan atau merasa sulit untuk membuka diri tanpa mengecewakan orangtua. Mereka juga merasa kesal karena orangtua tidak memahami apa yang mereka rasa atau inginkan. Akibatnya, orangtua dan anak akan selalu cekcok. Anak pun akan merasa jauh dengan keluarganya sendiri.

Membangun keluarga bahagia bisa dimulai dari mempererat ikatan emosional antara orangtua dan anak. Ingat-ingat lagi bahwa dulu Anda juga sama seperti mereka; pernah jadi anak yang ingin selalu dimengerti oleh orangtua Anda sendiri. Maka, tempatkanlah diri Anda sebagai teman anak.

Jangan hanya menekankan aturan dan keinginan Anda secara sepihak saja. Beri penjelasan pada anak mengapa menurut Anda peraturan itu penting dan dengarkan alasan anak jika mereka merasa keberatan. Dari situ, Anda berdua bisa saling berkompromi untuk mencari jalan tengah yang terbaik.

Begitu pula jika Anda sedang bertengkar dengan anak atau ketika mendengarkan anak curhat tentang masalahnya. Dengarkanlah mereka setulus hati dan tawarkan solusi jika mereka menghadapi kesulitan. Anda harus bisa berperan menjadi teman mereka yang bisa mendengarkan apa isi hati mereka. Jangan terkesan memojokkan maupun menghakimi.

3. Biasakan saling memaafkan

Sifat pemaaf adalah karakteristik penting yang harus dibangun sejak dini, dimulai dari lingkup keluarga. Pertengkaran saudara memang tidak dapat dihindari, namun Anda harus membiasakan “budaya” saling memaafkan.

Tengahi dulu “perang dingin” antar si kakak dan si adik kemudian coba dengarkan baik-baik apa yang menjadi penyebab mereka berbuat masalah. Nah, setelahnya Anda bisa meminta mereka mengatakan “aku minta maaf ya” secara bergantian. Ajak mereka untuk saling berpegangan tangan selama 15 menit sementara itu tanpa melepas tangan saudaranya. Ini bisa memperkuat hubungan antar saudara walaupun mereka habis bertengkar sebelumnya.

Agar anak-anak dapat mengerti betapa pentingnya kata “maaf”, Anda dan pasangan juga harus membiasakan berkata maaf apabila berbuat keliru. Begitu pula ketika Anda yang bertengkar dengan anak. Jadilah pihak yang berbesar hati untuk meminta maaf duluan.

Dengan melihat orangtuanya, anak akan belajar pentingnya saling memaafkan tanpa dendam.

4. Sempatkan waktu berlibur

Jika bosan di rumah, tidak ada salahnya rencanakan liburan setiap enam bulan sekali untuk melepas penat.

Berlibur bisa jadi agenda asyik keluarga untuk menghabiskan waktu bersama dan membangun kenangan keluarga bahagia. Tidak perlu muluk-muluk pergi ke luar negeri jika kondisi tidak memungkinkan. Pulang kampung ke rumah nenek juga dapat menghadirkan atmosfer kedekatan antara satu sama lain.

Tidak punya waktu banyak dan biaya terbatas? Carilah destinasi liburan lokal lainnya, seperti taman bermain, kebun binatang, atau museum terdekat untuk belajar bersama dan mencari suasana yang berbeda.

5. Buat ritual perayaan sendiri

Membangun keluarga bahagia bisa dimulai dari menjalani ritual unik yang belum tentu dimiliki oleh keluarga lainnya. Misalnya, merayakan ulang tahun setiap anggota keluarga tidak hanya dengan potong kue dan tiup lilin, tapi juga sesi memasak bersama. Tentukanlah menu makanan spesial yang disukai oleh seluruh anggota keluarga dan hanya “boleh” dimakan saat acara ulang tahun saja.

Menurut Barbara Fiese, PhD, dosen dan ketua studi psikologi di Universitas Syracuse di New York,  ritual sederhana seperti contoh di atas tetaplah bermakna dan tiap anggota keluarga umumnya senang hati terlibat dalam hal itu. Tradisi masing-masing keluarga umumnya unik, sehingga tak jarang anggota keluarga selalu menunggu-nunggu momen ini. Ritual dapat membawa anggota keluarga jadi makin dekat satu sama lain.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca