Ada Endapan Putih Pada Air Kencing? Hati-hati, 9 Kondisi Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Urine terbentuk dari zat-zat sisa serta cairan yang tak diperlukan oleh tubuh. Dalam kondisi sehat, urine yang dikeluarkan akan berwarna kuning cerah dan bersih dari bercak apa pun. Namun jika tiba-tiba Anda melihat ada endapan putih pada urine, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, hal ini bisa jadi tanda kondisi kesehatan tertentu.  Kondisi apa saja yang menyebabkan adanya endapan putih pada urine? Simak ulasannya berikut ini.

Berbagai kondisi yang menyebabkan adanya endapan putih pada urine

Munculnya endapan putih pada urine bisa terjadi pada wanita dan juga pria. Pada wanita, kondisi ini bisa normal terjadi karena efek dari sistem reproduksi. Meski begitu, endapan putih pada urine bisa saja tanda suatu penyakit, sama halnya pada pria.

Sebagian besar penyakit menunjukkan gejala yang hampir sama, jadi perlu diagnosis dari dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Berikut kondisi yang menyebabkan endapan putih pada urine.

1. Masa subur

Endapan berwarna putih pada urine biasanya berasal dari lendir yang diproduksi oleh rahim. Kondisi ini wajar terjadi pada wanita yang berada dalam masa subur (ovulasi). Saat masa subur, sel telur dilepaskan dari indung telur ke tuba fallopi untuk dibuahi oleh sperma dan rahim memproduksi lebih banyak lendir (keputihan).

Endapan dari keputihan ini memiliki tekstur kental dan warnanya seperti susu atau bisa menyerupai serabut putih jika dikeluarkan bersama urine. Walaupun normal terjadi, jika lendir menimbulkan bau busuk, berubah warna menjadi hijau atau terdapat darah, segara lakukan pemeriksaan ke dokter.

2. Hamil

Selama kehamilan ada berbagai perubahan hormon yang terjadi pas tubuh, salah satunya keputihan. Kondisi ini sama terjadi ketika masa subur tiba, bedanya keputihan menjadi lebih banyak.

Jumlah lendir yang meningkat tersebut pasti akan ikut terbawa keluar bersama dengan urine. Apalagi ketika hamil, desakan untuk buang air kecil menjadi lebih sering sehingga kemungkinan untuk menemukan bintik putih pada urine juga menjadi lebih sering.

Namun, perhatikan bila lendir berubah warna menjadi merah muda atau lebih gelap, apalagi disertai rasa gatal dan terbakar. Mungkin Anda telah mengalami infeksi dan harus mendapatkan diagnosis dan pengobatan dari dokter.

3. Infeksi saluran kemih (ISK)

Penyakit umum menyebabkan adanya bercak putih pada urine adalah infeksi saluran kemih. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang masuk ke uretra, menyebar ke kandung kemih, atau ginjal.

Bakteri tersebut berkembang biak dan menyebabkan infeksi. Selain bakteri, ISK juga bisa disebabkan oleh jamur, parasit, atau virus, tapi jarang terjadi.

ISK lebih rentan terjadi pada wanita karena jarak antara vagina, tempat masuknya bakteri, dengan uretra dan organ lainnya lebih dekat. Namun, pria juga tetap berisiko dengan terkena penyakit ini.

Selain adanya bercak putih pada urine, gejala ISK lainnya yang meliputi adalah nyeri pada panggul, sering muncul desakan untuk pipis disertai rasa sakit dan terbakar nyeri, urine berubah warna dan berbau busuk.

4. Bacterial vaginosis

Bacterial vaginosis (infeksi bakteri vagina) terjadi akibat ketidakseimbangan bakteri alami di vagina yang akhirnya menyebabkan peradangan. Kadang kondisi ini tidak menimbulkan gejala apa pun.

Namun, sebagian wanita merasakan gatal pada vagina, rasa terbakar saat buang air kecil dan muncul cairan putih keabu-abuan bercampur dengan urine. Kondisi ini bisa diobati dengan antibiotik dan probiotik untuk menyeimbangkan kembali bakteri di vagina.

5. Prostatitis

penyebab infeksi saluran kencing

Prostatitis menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada kelenjar prostat yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun non-bakteri. Peradangan yang disebabkan oleh bakteri biasanya akan menyebabkan adanya endapan putih pada urine.

Selain adanya bercak putih, pria dengan kondisi ini sering kesulitan buang air kecil karena terasa nyeri, ada denyutan di sekitar penis atau rektum, urine berbau busuk, atau rasa sakit pada skrotum.

Pengobatan yang dilakukan bergantung dari seberapa parah kondisi. Untuk prostatitis bakteri akut, akan memerlukan terapi antibiotik selama dua sampai empat minggu dan disarankan untuk minum air putih lebih banyak.

6. Infeksi jamur vagina

Jamur Candida albicans banyak ditemukan pada vagina dan pada dasarnya tidak berbahaya. Namun, bila jamur tersebut berkembang biak lebih dari yang dibutuhkan bisa menyebabkan infeksi jamur vagina.

Anda mungkin akan sering mengalami keputihan yang ikut bercampur dengan urine. Selain itu, gejala lain yang muncul adalah rasa gatal disertai pembengkakan di vagina, nyeri saat buang air kecil atau melakukan hubungan seks.

Segera periksakan kondisi Anda ke dokter bila mengalami gejala-gejala tersebut. Dokter akan memberikan obat antijamur, baik itu oral maupun topikal.

7. Penyakit menular seksual

Klamidia, gonore, dan trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual yang menular melalui hubungan seksual, baik anal maupun oral. Orang dengan kondisi ini, memiliki urine berwarna keruh karena partikel-partikel kecil berwarna putih yang ikut terbawa.

Gejala antara pria dan wanita sedikit berbeda. Biasanya wanita akan mengalami rasa gatal pada vagina dan nyeri pada panggul. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan perawatan dokter dan mengikuti terapi antibiotik.

8. Ejakulasi retrograde

Saat ejakulasi sperma yang harusnya keluar melalui penis justru masuk ke kandung kemih, sehingga air mani yang dikeluarkan sedikit atau bahkan tidak ada. Kondisi ini disebut juga dengan orgasme kering. Pria yang mengalami ejakulasi retrograde tetap bisa orgasme, namun kesuburannya menjadi berkurang.

Air mani yang masuk ke dalam kandung kemih, nantinya akan keluar bersamaan dengan urine. Oleh sebab itu akan terdapat endapan putih pada urine. Kondisi ini tidak menimbulkan masalah pada kesehatan secara langsung, tetapi perawatan infertilitas diperlukan bila pasangan berencana untuk memiliki anak.

9. Batu Ginjal

Ketika kadar kalsium oksalat terlalu tinggi, maka akan terjadi penumpukan zat dan bisa mengeras membentuk batu. Kondisi ini disebut dengan batu ginjal. Seiring waktu, batu tersebut akan bergerak ke kandung kemih dan menghalangi urine yang akan dikeluarkan. Saat urine melewati batuan ini, partikel batuan berwana putih akan ikut terbawa oleh urine.

Gejala lain yang meliputi adalah sering buang air kecil tapi terasa nyeri dan terbakar, urine berubah menjadi keruh atau berdarah, demam disertai tubuh menggigil, mual dan muntah, serta nyeri di sekitar perut dan pinggang.

Batu ginjal yang berukuran kecil dapat diobati dengan obat antiradang nonsteroid, seperti ibuprofen. Namun, bila ukuran batu lebih besar maka memerlukan operasi untuk mengangkat batu tersebut.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca