home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kencing Berbusa, Apakah Kondisi Ini Berbahaya?

Kencing Berbusa, Apakah Kondisi Ini Berbahaya?

Air kencing yang sehat umumnya akan berwarna jernih hingga kuning muda. Terkadang, Anda juga akan menemukan kencing berbusa saat buang air kecil. Lantas, gejala penyakit apa kondisi ini?

Berbagai kondisi penyebab kencing berbusa

kondisi tidak jadi kencing paruresis

Kencing berbusa adalah kondisi cairan urine yang menimbulkan buih saat buang air kecil. Pada beberapa kasus, urine berbusa yang lebih jarang terjadi tergolong normal.

Namun, kondisi ini mungkin perlu Anda waspadai apabila cairan urine tampak keruh, jumlah busa air kencing banyak, dan sering terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Adapun sejumlah masalah kesehatan tertentu yang mungkin bisa menimbulkan gejala air kencing berbusa seperti di bawah ini.

1. Dehidrasi

Kurang minum air putih bisa menyebabkan Anda mengalami dehidrasi. Kondisi dehidrasi bisa memicu kencing berbusa akibat konsentrasi zat limbah dalam urine lebih banyak daripada cairannya.

Saat mengalami dehidrasi, urine Anda juga akan mengalami perubahan warna. Mungkin dari yang sebelumnya cerah kekuningan, menjadi tampak lebih gelap dan pekat.

Dehidrasi juga bisa menyebabkan kencing berbau menyengat. Konsentrasi zat limbah yang lebih banyak dibandingkan cairan, bisa membuat urine memiliki bau amonia yang kuat.

2. Penyakit ginjal

Kencing sering berbusa bisa menjadi salah satu gejala awal penyakit ginjal. Fungsi vital organ ginjal yakni menyaring protein dari dalam darah. Namun, protein dapat bocor dari ginjal ke dalam urine jika Anda mengalami kerusakan atau penyakit ginjal.

Albuminuria merupakan istilah medis untuk menggambarkan gejala gangguan urologi tersebut. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, kondisi yang juga disebut proteinuria hanya ditemukan pada orang yang ginjalnya bermasalah.

Pasalnya, ginjal yang berfungsi penuh tidak memungkinkan sejumlah besar protein yang seharusnya berada di dalam darah masuk ke dalam cairan urine.

3. Diabetes

Peningkatan kadar gula darah yang tidak terkontrol menjadi penyebab penyakit diabetes. Kadar gula darah tinggi memicu peningkatan protein dalam ginjal yang menyebabkan urine berbusa.

Nefropati diabetik yakni kondisi kerusakan ginjal akibat komplikasi diabetes. Gangguan ini dapat merusak sel-sel dan pembuluh darah kecil (glomeruli) di dalam ginjal.

Kerusakan ginjal lama-kelamaan dapat menurunkan fungsi ginjal dalam menyaring zat limbah. Alhasil, peningkatan kadar zat limbah bisa menyebabkan air kencing Anda berbusa.

4. Ejakulasi retrograde

Ejakulasi retrograde atau ejakulasi terbalik menjadi salah satu kondisi yang bisa menyebabkan urine berbusa, walaupun lebih jarang ditemukan.

Pria yang mengalami gangguan kesehatan ini bisa mendapati air mani yang tidak keluar melalui ujung penis, melainkan masuk ke dalam kandung kemih saat pria mengalami ejakulasi.

Selain keluarnya sedikit, air mani yang masuk ke kandung kemih juga bisa bercampur dengan urine. Alhasil, air kencing yang pria keluarkan dapat terlihat keruh dan berbusa.

5. Pengobatan infeksi saluran kemih

Penggunaan obat infeksi saluran kemih (ISK) juga bisa memengaruhi kondisi urine Anda. Dokter akan memberikan resep obat pereda nyeri, seperti phenazopyridine.

Phenazopyridine yaitu obat pereda nyeri yang bisa Anda minum jika mengalami rasa sakit saat berkemih. Efek samping obat ini mungkin bisa menyebabkan kencing berbusa.

Selain itu, efek samping salah satu obat penyakit ISK ini juga akan mengubah warna cairan urine Anda menjadi jingga kemerahan.

Apakah kencing berbusa bahaya?

urine berubah warna

Tidak selamanya kencing berbusa menjadi gejala penyakit berbahaya. Jika Anda mengeluarkan banyak urine dengan cepat dan kuat, urine bisa berbusa dan akan segera menghilang.

Menurut sebuah studi dalam Clinical Journal Of The American Society Of Nephrology, senyawa organik yang disebut surfaktan juga dapat menyebabkan kencing berbuih.

Surfaktan yang terkandung dalam sabun dan produk pembersih toilet lainnya bisa menjebak kantong gas pada permukaan cairan dan menciptakan gelembung. Sehingga, Anda akan menemukan kencing berbusa saat buang air kecil.

Jika itu penyebabnya, busa akan segera hilang setelah pembersih hilang dari permukaan toilet.

Anda perlu mewaspadai kencing berbusa disertai dengan timbulnya gejala-gejala lain. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • kelelahan,
  • mual dan muntah,
  • kehilangan nafsu makan,
  • mengalami gangguan tidur,
  • urine keruh atau berwarna lebih gelap,
  • pembengkakan tangan, kaki, wajah, dan perut,
  • lebih sedikit air mani atau orgasme kering pada pria, dan
  • infertilitas atau gangguan kesuburan pada pria.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter apabila timbul tanda-tanda tersebut. Dokter akan melakukan diagnosis untuk menentukan penanganan yang sesuai kondisi Anda.

Ciri-ciri Urine yang Normal Menurut Warna, Bau, dan Jumlahnya

Bagaimana cara mengatasi kencing berbusa?

Pengobatan untuk kencing berbusa tergantung dari penyebabnya. Jika urine lebih pekat, minumlah air putih lebih banyak untuk meredakan dehidrasi dan menghentikan urine berbusa.

Jika diabetes yang menyebabkannya, dokter akan memberikan obat atau suntikan insulin untuk mengurangi kadar gula darah. Penderita diabetes juga perlu memeriksa kadar gula darah secara teratur.

Pria dengan ejakulasi retrograde mungkin tidak perlu pengobatan, karena kondisi ini tergolong tidak berbahaya. Namun, perlu konsultasi ke dokter spesialis andrologi apabila kondisi ini memengaruhi kesuburan Anda.

Dokter mungkin akan meresepkan obat atau prosedur medis tertentu untuk penderita ginjal. Perubahan gaya hidup juga bisa dokter rekomendasikan, seperti:

  • menjaga pola makan sehat dengan membatasi asupan garam dan protein,
  • memenuhi kebutuhan air putih setiap hari,
  • mengendalikan tekanan darah tinggi,
  • mengelola kadar gula darah,
  • berolahraga secara teratur,
  • berhenti merokok dan membatasi alkohol, serta
  • tidak sembarangan minum obat dan vitamin.

Kencing berbusa tidak selamanya menjadi gejala penyakit berbahaya. Namun, jika kondisi ini terjadi terus-menerus dan muncul gejala lain, segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Foamy urine: What does it mean?. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 6 August 2021, from https://www.mayoclinic.org/foamy-urine/expert-answers/faq-20057871

When to Worry About Foamy Urine. UPMC HealthBeat. (2021). Retrieved 6 August 2021, from https://share.upmc.com/2021/03/foamy-urine/

What are the Causes of Foamy Urine in Men?. Nova IVF Fertility. Retrieved 6 August 2021, from https://www.novaivffertility.com/fertility-help/what-are-the-causes-of-foamy-urine/

Albuminuria: Albumin in the Urine | NIDDK. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Retrieved 6 August 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/tests-diagnosis/albuminuria-albumin-urine

Khitan, Z., & Glassock, R. (2019). Foamy Urine. Clinical Journal Of The American Society Of Nephrology, 14(11), 1664-1666. https://doi.org/10.2215/cjn.06840619

Alicic, R., Rooney, M., & Tuttle, K. (2017). Diabetic Kidney Disease. Clinical Journal Of The American Society Of Nephrology, 12(12), 2032-2045. https://doi.org/10.2215/cjn.11491116

Parnham, A., & Serefoglu, E. C. (2016). Retrograde ejaculation, painful ejaculation and hematospermia. Translational andrology and urology, 5(4), 592–601. https://doi.org/10.21037/tau.2016.06.05

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 18/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan