Penyakit Kandung Kemih

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit kandung kemih?

Penyakit kandung kemih adalah berbagai gangguan yang menyerang fungsi kandung kemih. Kandung kemih merupakan organ berbentuk kantong yang terletak pada rongga panggul. Fungsinya untuk menampung urine (air kencing) sebelum dikeluarkan dari tubuh.

Urine yang diproduksi di ginjal dialirkan menuju kandung kemih melalui saluran kencing ureter. Kandung kemih lalu akan menampung urine selama beberapa jam. Lapisan otot yang menyusun organ ini mampu menampung urin normal hingga mencapai kapasitas 400-600 mL.

Saat Anda ingin buang air kecil, otot kandung kemih akan mengerut. Kedua katup yang terletak pada ujung kandung kemih kemudian terbuka sehingga urine mengalir keluar dari tubuh. Proses keluarnya urine terjadi melalui saluran yang disebut uretra.

Pada kondisi normal, seseorang biasanya buang air kecil sebanyak 6-8 kali dalam 24 jam. Namun, fungsi kandung kemih dapat menurun akibat bertambahnya usia, masalah kesehatan tertentu, serta sejumlah faktor lainnya.

Frekuensi kencing lebih banyak atau sedikit dari jumlah tersebut dapat menandakan gangguan otot atau penyakit pada kandung kemih. Selain masalah buang air kecil, gangguan kandung kemih umumnya juga menyebabkan nyeri dan beberapa gejala lain.

Gejala-gejala tersebut perlu dikonsultasikan ke dokter dan segera ditangani, sebab sakit kandung kemih yang dibiarkan begitu saja bisa menyebabkan komplikasi. Dampak yang paling umum yakni sulit menahan kencing atau bahkan tidak dapat kencing sama sekali.

Jenis

Macam-macam penyakit kandung kemih

Ada beragam jenis penyakit yang menyerang kandung kemih. Penyakit dapat berasal dari penurunan fungsi otot, infeksi, pembentukan batu, hingga masalah pada saraf yang mengatur aliran urine dari kandung kemih.

Berikut beberapa gangguan kandung kemih yang paling umum:

1. Infeksi kandung kemih

Infeksi kandung kemih terjadi saat bakteri masuk ke dalam saluran kemih dan bergerak menuju kandung kemih. Begitu mencapai kandung kemih, bakteri akan menempel pada dindingnya dan menyebabkan peradangan.

Penyakit ini sering dihubungkan dengan infeksi saluran kemih (ISK). Pasalnya, sistem perkemihan meliputi kandung kemih, saluran uretra dan ureter, serta ginjal. Infeksi pada salah satu area sangat berpotensi menyebar ke area lainnya.

2. Batu kandung kemih

Penyakit batu kandung kemih disebabkan oleh penumpukan mineral yang terkandung dalam urine. Batu kandung kemih berukuran kecil biasanya hilang sendiri terbawa aliran urine, tapi terkadang batu kandung kemih bisa terus menumpuk dan bertambah besar.

Seperti halnya batu ginjal, pembentukan batu kandung kemih juga menimbulkan sakit saat buang air kecil. Jika tidak ditangani, batu kandung kemih dapat menghalangi aliran urine dan menyebabkan infeksi.

3. Sistitis

Interstitial cystitis atau sistitis adalah sekumpulan masalah kronis (jangka panjang) pada kandung kemih. Kondisi ini menyebabkan tekanan pada kandung kemih dan rasa nyeri. Penderita biasanya juga sering ingin buang air kecil, tapi urine yang keluar hanya sedikit.

Infeksi kandung kemih yang tidak diobati dapat berujung menjadi sistitis. Namun, sistitis sendiri bukanlah infeksi. Penyebab pastinya tidak diketahui, tapi penderita kemungkinan memiliki dinding kandung kemih yang lebih lemah sehingga zat beracun bisa masuk ke dalamnya.

4. Poliuria

Poliuria (kondisi sering buang air kecil) adalah gangguan kandung kemih yang ditandai dengan produksi urine berlebih. Orang dewasa umumnya memproduksi tiga liter urine setiap hari, tapi penderita poliuria bisa memproduksi hingga 15 liter urine dalam sehari.

Ada banyak kondisi yang berkaitan dengan poliuria, mulai dari penyakit diabetes tipe 1 dan 2, penyakit ginjal, hingga kehamilan. Mengingat penyebabnya sangat beragam, penderita sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat diagnosis yang tepat.

5. Kandung kemih neurogenik

Neurogenic bladder atau kandung kemih neurogenik merupakan berbagai gangguan perkemihan akibat masalah pada otak, sumsum tulang belakang, atau saraf. Gangguan pada sistem tersebut menyebabkan hilangnya kontrol otot-otot kandung kemih.

Sistem saraf mengatur kandung kemih saat menampung dan mengosongkan urine di dalamnya. Masalah pada saraf-saraf perkemihan dapat mengakibatkan kandung kemih overaktif, inkontinensia urine, atau kesulitan untuk buang air kecil.

6. Inkontinensia urine

Inkontinensia urine adalah berkurangnya kemampuan kandung kemih untuk menahan kencing. Kondisi ini sering ditemukan pada lansia karena fungsi otot kandung kemih menurun seiring pertambahan usia.

Akan tetapi, inkontinensia urine juga bisa disebabkan oleh faktor lain, seperti gangguan saraf, persalinan, atau penyakit kelenjar prostat. Tergantung penyebabnya, penyakit ini dapat berlangsung sementara hingga menahun.

7. Kandung kemih overaktif

Overactive bladder (OAB) atau kandung kemih overaktif bukanlah penyakit, melainkan gejala dari gangguan kandung kemih lainnya. Penderita OAB amat sering merasa ingin buang air kecil dan terkadang bisa mengompol karena tidak kuat menahannya.

Tanpa penanganan yang baik, OAB dapat membuat kegiatan sehari-sehari terasa lebih sulit. Penderitanya mungkin akan menghindari kegiatan dengan orang lain karena takut berada jauh dari kamar mandi.

8. Disuria

Disuria merupakan rasa tidak nyaman, sakit, atau terbakar saat buang air kecil. Kondisi ini umum dikenal sebagai sakit kencing atau anyang-anyangan. Rasa sakit pada disuria sering kali menjadi gejala dari infeksi kandung kemih, terutama sistitis.

Selain infeksi bakteri, disuria juga dapat disebabkan oleh pembentukan batu ginjal, batu kandung kemih, serangan virus, hingga infeksi menular seksual. Kondisi ini bisa hilang dalam beberapa hari, tapi terkadang perlu ditangani dengan obat bila tergolong parah.

Gejala

Apa saja gejala penyakit kandung kemih?

Kondisi kandung kemih dan frekuensi buang air kecil setiap orang berbeda-beda. Meski begitu, ada gejala tertentu yang mungkin menandakan gangguan pada kandung kemih. Berikut sederet gejala yang kerap muncul saat kandung kemih bermasalah:

  • Nyeri atau rasa terbakar baik sebelum, saat, atau setelah buang air kecil.
  • Sulit atau tidak bisa menahan buang air kecil.
  • Keluar urine saat batuk atau bersin.
  • Ingin buang air kecil lebih dari delapan kali dalam sehari.
  • Mendadak ingin buang air kecil.
  • Sering ingin buang air kecil pada malam hari.
  • Sering ingin buang air kecil, tapi urine yang keluar hanya sedikit.
  • Saat buang air kecil, aliran urine sangat lemah.
  • Merasa tidak tuntas setelah buang air kecil.
  • Urine keruh, berbau, atau berdarah.

Kapan harus pergi ke dokter?

Beberapa orang bisa saja memiliki bakteri dalam kandung kemih atau urinenya, tapi tidak menunjukkan gejala penyakit apa pun. Jika Anda mengalami kondisi ini, Anda mungkin tidak perlu menjalani pengobatan.

Namun, apabila Anda terus mengalami gejala atau gejala bertambah parah, segeralah periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab dan solusinya. Selalu diskusikan dengan dokter sebelum Anda menjalani pengobatan apa pun.

Penyebab

Apa penyebab penyakit kandung kemih?

Penyebab gangguan kandung kemih dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, yakni:

1. Infeksi bakteri

Infeksi pada kandung kemih umumnya disebabkan oleh bakteri E. coli yang hidup di usus dan anus. Bakteri ini bisa berpindah ke saluran kencing saat Anda berhubungan seks atau membersihkan alat kelamin dari belakang ke depan.

Infeksi juga dapat terjadi bila Anda sering menunda buang air kecil. Bakteri pada urine terus berkembang sehingga jumlahnya lebih banyak dari bakteri baik. Lama-kelamaan, kandung kemih mengalami infeksi dan peradangan.

2. Penumpukan mineral pada urine

Bila urine tidak dikeluarkan hingga tuntas, mineral di dalamnya dapat menumpuk dan membentuk kristal. Biasanya, buang air kecil tidak tuntas diakibatkan oleh pembesaran prostat, kerusakan saraf, pemakaian kateter, dan infeksi tertentu pada kandung kemih.

3. Hilangnya kontrol otot-otot kandung kemih

Ada sejumlah kondisi yang bisa mengganggu kontrol otot-otot kandung kemih sehingga Anda jadi lebih sering buang air kecil, di antaranya:

  • Pertambahan usia
  • Infeksi kandung kemih
  • Cacat lahir
  • Terganggunya aliran urine akibat tumor atau batu saluran kemih
  • Batuk menahun
  • Sistokel atau turunnya kandung kemih
  • Penyakit prostat pada laki-laki
  • Menopause dan persalinan pada perempuan

4. Penyakit atau gangguan kesehatan tertentu

Poliuria dan disuria umumnya disebabkan oleh gangguan kesehatan yang sudah ada. Poliuria sering dialami penderita penyakit diabetes dan gagal ginjal. Ginjal penderita sudah tidak bisa bekerja dengan baik sehingga urine yang diproduksi lebih banyak.

Sementara itu, disuria kerap berkaitan dengan penyakit infeksi seperti sistitis, infeksi ginjal, dan ISK. Infeksi memicu peradangan, nyeri, serta rasa panas saat kencing. Inilah gejala-gejala yang umum dialami penderita disuria.

Kandung kemih neurogenik juga berkaitan dengan gangguan kesehatan. Dalam kasus ini, penyebabnya adalah kerusakan saraf. Bila saraf kandung kemih rusak, sinyal dari otak tidak akan sampai dengan baik. Kandung kemih akhirnya tidak mampu menahan atau mengeluarkan urine seperti seharusnya.

5. Lainnya

Penyakit tertentu seperti sistitis terkadang tidak diketahui penyebabnya. Kebanyakan kasus sistitis berawal dari infeksi bakteri. Akan tetapi, ada pula sistitis yang disebabkan oleh kelainan pada dinding kandung kemih.

Dinding kandung kemih pun menjadi lemah sehingga mudah dimasuki bakteri maupun zat beracun. Ada pula dugaan bahwa penyakit kandung kemih berkaitan dengan alergi, penyakit autoimun, dan genetik. Namun, hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut.

Faktor Risiko

Siapa yang berisiko sakit kandung kemih?

Siapa pun bisa terkena penyakit kandung kemih. Meski demikian, risikonya lebih tinggi pada orang-orang yang memiliki kondisi berikut:

  • Sembelit. Feses yang menumpuk pada usus besar dapat menekan kandung kemih sehingga lebih sulit untuk menahan buang air kecil.
  • Obesitas. Penderita obesitas lebih rentan mengalami kebocoran urine dari kandung kemih.
  • Diabetes. Penyakit ini merusak saraf yang mengatur fungsi kandung kemih.
  • Merokok. Gangguan kandung kemih lebih banyak dialami oleh mereka yang merokok.
  • Jarang berolahraga. Padahal, olahraga membantu menguatkan otot kandung kemih dan mencegah sembelit.
  • Pola makan. Makanan pedas dan asam, kafein, serta minuman bersoda dapat memperparah sakit kandung kemih.
  • Obat-obatan. Obat tertentu dapat melemaskan saraf kandung kemih sehingga urine keluar tanpa sengaja.
  • Cedera panggul. Operasi prostat, kekerasan seksual, dan persalinan bisa menyebabkan kerusakan saraf kandung kemih.
  • Memakai kateter urine. Pemakaian kateter meningkatkan risiko masuknya bakteri ke dalam kandung kemih.

Obat dan Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mengatasi penyakit kandung kemih?

Secara umum, ada tiga cara mengatasi gangguan pada kandung kemih, yaitu:

1. Konsumsi obat-obatan

Obat-obatan digunakan untuk mengatasi segala penyakit pada kandung kemih yang berkaitan dengan infeksi. Pengobatan mungkin berbeda-beda pada tiap orang, tapi obat yang paling umum dikonsumsi adalah antibiotik.

Gejala infeksi biasanya berkurang setelah beberapa hari mengonsumsi antibiotik. Meski demikian, Anda tetap harus meminum antibiotik hingga tuntas. Jika tidak, infeksi dapat kambuh kembali dan bahkan lebih parah dari sebelumnya.

2. Terapi dan pemakaian alat medis

Terapi berguna untuk mengurangi keinginan buang air kecil berlebihan atau keluarnya urine tanpa sadar. Metode ini digunakan sebagai pengobatan inkontinensia urine, kandung kemih overaktif, dan kandung kemih neurogenik.

Terapi mungkin terdiri dari mengikuti jadwal buang air kecil, latihan otot dasar panggul, serta latihan menahan buang air kecil. Bila dinilai perlu, dokter juga bisa menyarankan pemakaian kateter atau alat khusus pada vagina untuk mengurangi urine yang keluar.

3. Operasi batu kandung kemih

Metode ini khusus digunakan untuk mengeluarkan endapan batu dari kandung kemih. Ada tiga jenis operasi yang dapat dilakukan, yakni:

  • Transurethral cystolitholapaxy: memasukkan tabung kecil dengan kamera ke dalam kandung kemih, lalu batu dihancurkan dengan laser atau ultrasound.
  • Percutaneous suprapubic cystolitholapaxy: membuat sayatan kecil pada kandung kemih, lalu batu dikeluarkan.
  • Sistostomi: operasi terbuka pada kandung kemih untuk mengeluarkan batu berukuran besar.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit kandung kemih?

Kesehatan kandung kemih dipengaruhi oleh berbagai hal. Anda mungkin tidak dapat menghindari semua faktor penyebab sakit kandung kemih, tapi Anda bisa mengontrol kondisi yang sudah ada dan menjalani gaya hidup sehat untuk mengurangi risikonya.

Agar kesehatan kandung kemih Anda senantiasa terjaga, coba terapkan tips berikut:

  • Minum air yang cukup. Air adalah minuman terbaik untuk kandung kemih. Cukupi kebutuhan air Anda dengan minum sedikitnya delapan gelas air sehari.
  • Tidak merokok. Jika Anda merokok, cobalah menguranginya mulai sekarang.
  • Batasi konsumsi alkohol dan kafein. Pilihlah minuman bebas kafein seperti air, jus buah tanpa gula, atau minuman herbal.
  • Jaga berat badan tetap sehat. Makanlah sesuai porsi yang diperlukan dan cek berat badan Anda secara berkala.
  • Lebih banyak bergerak. Lakukan olahraga ringan dan terutama latihan kegel untuk menguatkan otot-otot kandung kemih.
  • Tidak menunda buang air kecil. Usahakan untuk buang air kecil setiap 3-4 jam sekali. Jangan terburu-buru saat buang air kecil.
  • Membersihkan vagina dari depan ke belakang usai buang air kecil. Lakukan ini agar bakteri dari anus tidak masuk ke vagina.

Penyakit kandung kemih merupakan masalah kesehatan yang cukup umum. Bila Anda mengalami gejalanya, konsultasikan dengan dokter guna mendapat penanganan yang tepat. Ikuti pula tips pencegahan untuk menjaga kandung kemih tetap sehat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sistokel (Kandung Kemih Turun)

Sistokel adalah kondisi ketika kandung kemih turun atau jatuh ke area vagina, akibat melemahnya dinding rahim. Bagaimana pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 13 Agustus 2020 . Waktu baca 8 menit

Batu Kandung Kemih

Batu kandung kemih terbentuk akibat penumpukan kristal mineral urine di dalam kandung kemih. Pelajari penyebab, gejala, dan pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

Kandung Kemih Overaktif (Overactive Bladder)

Kandung kemih overaktif (overactive bladder) adalah masalah fungsi penyimpanan kandung kemih yang menyebabkan dorongan tiba-tiba untuk buang air kecil.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 10 menit

Interstitial Cystitis (Sistitis)

Interstitial cystitis (sistitis) adalah penyakit kronis yang menyebabkan tekanan dan nyeri pada kandung kemih, serta rasa sakit pada panggul.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

uretritis adalah

Uretritis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit
sistoskopi

Memahami Prosedur Sistoskopi untuk Masalah Kandung Kemih

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 4 September 2020 . Waktu baca 10 menit
anuria adalah

Anuria (Kencing Tidak Keluar): Penyebab, Pengobatan, dll.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit
obstruksi outlet kandung kemih bladder outlet obstruction

Bladder Outlet Obstruction (Obstruksi Outlet Kandung Kemih)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit