Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Sudah menjadi kebiasaan turun temurun bahwa pria kencing dengan posisi berdiri. Hal itu pun tampaknya didukung dengan sarana pembuangan urologi yang menggantung, seperti yang terdapat di mal, perkantoran, dan tempat-tempat umum.

Akan tetapi, berbagai penelitian terkait posisi buang air kecil justru memiliki hasil yang beragam. Lantas, bagaimana posisi buang air kecil yang benar dan adakah bahaya posisi kencing berdiri untuk pria?

Bahaya posisi kencing berdiri

penyebab kencing nanah

Sejumlah peneliti di Departemen Urologi di Leiden University Medical Center, Belanda, mengumpulkan dan menganalisis 11 studi yang membandingkan efek posisi kencing sambil duduk atau jongkok dengan posisi kencing berdiri.

Ada tiga hal yang diamati sebagai penanda buang urine normal, yakni kecepatan laju air kencing, waktu yang dibutuhkan untuk kencing, dan terakhir adalah jumlah air kencing yang tersisa di kandung kemih. Ketiganya merupakan faktor penentu kemampuan tubuh dalam mengeluarkan urine.

Penelitian ini dilakukan terhadap dua kelompok. Kelompok pertama adalah pria yang sehat, sedangkan kelompok kedua terdiri dari pria yang mengidap gangguan saluran kemih bawah.

Hasilnya, pada pria yang sehat, tidak ditemukan perbedaan atau bahaya mencolok antara posisi kencing berdiri dengan kencing jongkok. Baik kencing berdiri ataupun berjongkok, keduanya tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap kelompok ini.

Sementara itu, laporan analisis menyatakan bahwa pengidap gangguan saluran kemih bawah justru diuntungkan saat buang air kecil sambil berjongkok. Mereka lebih bisa mengosongkan kandung kemihnya dengan hanya tersisa 25 mililiter urine dalam organ tersebut.

Pria yang mengidap gangguan saluran kemih bawah juga bisa mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk kencing jika mereka kencing sambil jongkok dibandingkan berdiri. Rata-rata perbedaannya adalah 0,62 detik lebih singkat dibandingkan kencing berdiri.

Posisi kencing awalnya juga diduga berpengaruh terhadap risiko kanker prostat serta kualitas seks. Namun, dugaan ini tidak terbukti dalam studi tersebut. Tampaknya tak ada kaitan langsung antara posisi kencing dengan risiko kanker atau kualitas seks.

Kencing berdiri berisiko infeksi saluran kemih

Jika ada yang perlu dicemaskan dari kebiasaan kencing berdiri, mungkin itu adalah risiko penyebaran bakteri dari urine. Saat kencing berdiri, urine dapat menempel pada ubin urinal atau berubah menjadi cipratan kecil yang bisa menyebar ke mana-mana.

Bakteri dari urine bisa berpindah ke orang lain dan menyebabkan infeksi saluran kemih, terutama bagian bawah yang meliputi kandung kemih dan uretra. Berikut adalah beberapa gejala dari infeksi saluran kemih bawah.

  • Nyeri atau perih saat buang air kecil.
  • Rasa ingin selalu buang air kecil dan tidak bisa ditahan.
  • Rasa tidak nyaman dan nyeri pada perut bagian bawah.
  • Warna urin yang keruh, bahkan kadang-kadang air kencing bercampur darah.
  • Badan terasa lelah, tidak enak, dan nyeri.
  • Perasaan bahwa urin tidak sepenuhnya keluar setelah selesai buang air kecil.

Gangguan saluran kemih bawah dapat sembuh sendiri, tapi sering kali pasien membutuhkan obat infeksi seluruh kencing. Jika tidak diobati, infeksi mungkin saja menyebar hingga ureter atau bahkan ginjal.

Manfaat kencing sambil berjongkok

kencing duduk

Kencing sambil berjongkok mungkin tidak berpengaruh besar bagi pria yang sehat. Namun, kebiasaan ini bermanfaat bagi pengidap infeksi saluran kemih bawah yang biasanya bermasalah dalam mengosongkan kandung kemihnya.

Ketika penderita gangguan saluran kemih bawah kencing sambil berdiri, tubuhnya berusaha keras untuk mempertahankan tulang belakang yang tegak. Posisi ini akan mengaktifkan banyak otot di dekat pinggul dan panggul.

Kondisi tersebut berbeda dengan ketika Anda kencing sambil berjongkok atau duduk. Posisi kencing sambil berjongkok dapat membuat otot punggung dan pinggul lebih rileks sehingga membuat proses pengeluaran urine jadi lebih mudah.

Selain itu, saat buang air kecil sambil jongkok, posisi ini sama seperti saat buang air besar. Kandung kemih Anda berada pada sudut yang tepat dan mendapatkan lebih banyak tekanan yang dibutuhkan agar semua air kencing bisa keluar dari tubuh tanpa bersisa.

Perut Anda juga akan memberikan tekanan tambahan untuk mengoptimalkan aliran air kencing dari kandung kemih. Jika urine keluar seutuhnya dari kandung kemih, hal ini akan membersihkan bakteri dari saluran kemih dan mengurangi risiko infeksi.

Apakah pria yang sehat juga perlu kencing duduk?

Mengingat laporan penelitian sebelumnya, para peneliti menyarankan agar pria dengan gangguan saluran kemih bawah kencing dengan posisi duduk. Kebiasaan ini akan membantu mengeluarkan urine dengan lebih cepat dan menyeluruh.

Dengan alasan yang sama, pria yang sehat sebenarnya boleh saja membiasakan diri untuk kencing sambil duduk atau berjongkok. Namun, Anda juga tetap boleh kencing berdiri bila situasinya tidak memungkinkan, misalnya saat berada di toilet umum yang penuh.

Posisi kencing sambil berdiri maupun berjongkok tidak begitu berpengaruh terhadap kemampuan mengosongkan urine ataupun kecepatan aliran urine. Meski begitu, bila Anda memang perlu buang air kecil sambil berdiri, pastikan Anda menjaga kebersihan toilet dan urinal guna mencegah infeksi saluran kemih.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Penyebab Tubuh Anda Mengeluarkan Kentut

Kentut adalah hal yang normal terjadi. Tapi apa yang jadi penyebab tubuh mengeluarkan kentut? Lalu, kenapa kentut bau dan berbunyi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Fakta Unik 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Jenis Tepung Apa yang Paling Sehat untuk Masak?

Saat pergi ke pasar atau supermarket, ada begitu banyak jenis tepung yang ditawarkan. Terigu, tapioka, tepung beras, dan sebagainya. Mana yang paling sehat?

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Sudah Benarkah Cara Anda Keramas Selama Ini? Cek di Sini!

Walaupun Anda rajin keramas, belum tentu rambut Anda bersih. Berikut ulasan mengenai langkah mencuci rambut dengan benar.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 23 November 2020 . Waktu baca 9 menit

Serba Serbi Obat Tidur yang Perlu Anda Ketahui (Plus Penyebab Kenapa Susah Tidur)

Anda susah tidur? Mungkin Anda bisa menggunakan obat tidur apotek atau obat tidur alami. Namun sebelumnya, ketahui juga apa saja efek obat tidur pada tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 November 2020 . Waktu baca 14 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat bengkoang

Tak Hanya Memutihkan Kulit, Ini 6 Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit
diet tanpa sayur

5 Cara Diet Tanpa Sayur yang Aman untuk Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 3 menit
manfaat teh chamomile

6 Khasiat Teh Chamomile yang Baik Bagi Tubuh

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 3 menit
cara merangsang istri

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit