Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Sudah menjadi kebiasaan turun temurun bahwa pria kencing dengan posisi berdiri. Hal itu pun tampaknya didukung dengan sarana pembuangan urologi yang menggantung, seperti yang terdapat di mal, perkantoran, dan tempat-tempat umum.

Akan tetapi, berbagai penelitian terkait posisi buang air kecil justru memiliki hasil yang beragam. Lantas, bagaimana posisi buang air kecil yang benar dan adakah bahaya posisi kencing berdiri untuk pria?

Bahaya posisi kencing berdiri

penyebab kencing nanah

Sejumlah peneliti di Departemen Urologi di Leiden University Medical Center, Belanda, mengumpulkan dan menganalisis 11 studi yang membandingkan efek posisi kencing sambil duduk atau jongkok dengan posisi kencing berdiri.

Ada tiga hal yang diamati sebagai penanda buang urine normal, yakni kecepatan laju air kencing, waktu yang dibutuhkan untuk kencing, dan terakhir adalah jumlah air kencing yang tersisa di kandung kemih. Ketiganya merupakan faktor penentu kemampuan tubuh dalam mengeluarkan urine.

Penelitian ini dilakukan terhadap dua kelompok. Kelompok pertama adalah pria yang sehat, sedangkan kelompok kedua terdiri dari pria yang mengidap gangguan saluran kemih bawah.

Hasilnya, pada pria yang sehat, tidak ditemukan perbedaan atau bahaya mencolok antara posisi kencing berdiri dengan kencing jongkok. Baik kencing berdiri ataupun berjongkok, keduanya tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap kelompok ini.

Sementara itu, laporan analisis menyatakan bahwa pengidap gangguan saluran kemih bawah justru diuntungkan saat buang air kecil sambil berjongkok. Mereka lebih bisa mengosongkan kandung kemihnya dengan hanya tersisa 25 mililiter urine dalam organ tersebut.

Pria yang mengidap gangguan saluran kemih bawah juga bisa mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk kencing jika mereka kencing sambil jongkok dibandingkan berdiri. Rata-rata perbedaannya adalah 0,62 detik lebih singkat dibandingkan kencing berdiri.

Posisi kencing awalnya juga diduga berpengaruh terhadap risiko kanker prostat serta kualitas seks. Namun, dugaan ini tidak terbukti dalam studi tersebut. Tampaknya tak ada kaitan langsung antara posisi kencing dengan risiko kanker atau kualitas seks.

Bagaimana Proses Pembentukan Urine dalam Sistem Perkemihan Manusia?

Kencing berdiri berisiko infeksi saluran kemih

Jika ada yang perlu dicemaskan dari kebiasaan kencing berdiri, mungkin itu adalah risiko penyebaran bakteri dari urine. Saat kencing berdiri, urine dapat menempel pada ubin urinal atau berubah menjadi cipratan kecil yang bisa menyebar ke mana-mana.

Bakteri dari urine bisa berpindah ke orang lain dan menyebabkan infeksi saluran kemih, terutama bagian bawah yang meliputi kandung kemih dan uretra. Berikut adalah beberapa gejala dari infeksi saluran kemih bawah.

  • Nyeri atau perih saat buang air kecil.
  • Rasa ingin selalu buang air kecil dan tidak bisa ditahan.
  • Rasa tidak nyaman dan nyeri pada perut bagian bawah.
  • Warna urin yang keruh, bahkan kadang-kadang air kencing bercampur darah.
  • Badan terasa lelah, tidak enak, dan nyeri.
  • Perasaan bahwa urin tidak sepenuhnya keluar setelah selesai buang air kecil.

Gangguan saluran kemih bawah dapat sembuh sendiri, tapi sering kali pasien membutuhkan obat infeksi seluruh kencing. Jika tidak diobati, infeksi mungkin saja menyebar hingga ureter atau bahkan ginjal.

Manfaat kencing sambil berjongkok

kencing duduk

Kencing sambil berjongkok mungkin tidak berpengaruh besar bagi pria yang sehat. Namun, kebiasaan ini bermanfaat bagi pengidap infeksi saluran kemih bawah yang biasanya bermasalah dalam mengosongkan kandung kemihnya.

Ketika penderita gangguan saluran kemih bawah kencing sambil berdiri, tubuhnya berusaha keras untuk mempertahankan tulang belakang yang tegak. Posisi ini akan mengaktifkan banyak otot di dekat pinggul dan panggul.

Kondisi tersebut berbeda dengan ketika Anda kencing sambil berjongkok atau duduk. Posisi kencing sambil berjongkok dapat membuat otot punggung dan pinggul lebih rileks sehingga membuat proses pengeluaran urine jadi lebih mudah.

Selain itu, saat buang air kecil sambil jongkok, posisi ini sama seperti saat buang air besar. Kandung kemih Anda berada pada sudut yang tepat dan mendapatkan lebih banyak tekanan yang dibutuhkan agar semua air kencing bisa keluar dari tubuh tanpa bersisa.

Perut Anda juga akan memberikan tekanan tambahan untuk mengoptimalkan aliran air kencing dari kandung kemih. Jika urine keluar seutuhnya dari kandung kemih, hal ini akan membersihkan bakteri dari saluran kemih dan mengurangi risiko infeksi.

Normalkah Kencing Bercabang Saat Buang Air Kecil?

Apakah pria yang sehat juga perlu kencing duduk?

Mengingat laporan penelitian sebelumnya, para peneliti menyarankan agar pria dengan gangguan saluran kemih bawah kencing dengan posisi duduk. Kebiasaan ini akan membantu mengeluarkan urine dengan lebih cepat dan menyeluruh.

Dengan alasan yang sama, pria yang sehat sebenarnya boleh saja membiasakan diri untuk kencing sambil duduk atau berjongkok. Namun, Anda juga tetap boleh kencing berdiri bila situasinya tidak memungkinkan, misalnya saat berada di toilet umum yang penuh.

Posisi kencing sambil berdiri maupun berjongkok tidak begitu berpengaruh terhadap kemampuan mengosongkan urine ataupun kecepatan aliran urine. Meski begitu, bila Anda memang perlu buang air kecil sambil berdiri, pastikan Anda menjaga kebersihan toilet dan urinal guna mencegah infeksi saluran kemih.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Katanya, sengatan lebah bisa bikin seseorang meriang dan panas dingin. Lalu bagaimana cara pertolongan pertama dalam mengobati sengatan lebah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Bagi korban KDRT, meninggalkan pasangan yang abusive tak semudah itu. Ini dia alasan korban KDRT bertahan meski hubungannya sarat kekerasan dan kekejaman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Perceraian memang bukan sesuatu yang tabu. Tapi keutuhan rumah tangga adalah cita-cita banyak orang. Bagaimana cara menghindari perceraian?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Psikologi, Seks & Asmara 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
keluarga sehat karena melakukan perilaku hidup bersih dan sehat

4 Tips Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Lindungi Diri dan Keluarga di Era New Normal

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
memanaskan makanan

Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
makanan pedas atasi migrain

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit