Anuria (Kencing Tidak Keluar)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 November 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu anuria?

Anuria adalah sebuah kondisi ketika tubuh tidak dapat mengeluarkan urine. Artinya, organ yang memproduksi urine, yaitu ginjal, berhenti berfungsi. Kondisi ini biasanya terjadi akibat adanya gangguan pada ginjal

Ginjal berfungsi mengeluarkan limbah dan cairan berlebih dari tubuh dalam bentuk urine. Organ berbentuk kacang ini juga membantu mengatur tekanan darah, keseimbangan garam, elektrolit, dan asam-basa dalam tubuh. 

Normalnya, setiap orang mengeluarkan urine sekitar 800-2000 mililiter per hari. Pada kasus anuria, angka tersebut berkurang hingga menjadi 0-100 mililiter per hari akibat penumpukan zat beracun. 

Sebelum mengalami kondisi ini, Anda biasanya akan melewati kondisi yang disebut oliguria. Oliguria adalah kondisi ketika jumlah urine berkurang, tetapi tidak separah anuria. Sementara itu, anuria merupakan pertanda gangguan akut atau kronis pada ginjal. 

Seberapa umum kondisi ini?

Anuria dapat terjadi pada siapa saja. Namun, dibandingkan dengan oliguria, kondisi ini lebih jarang terjadi. Pasalnya, tahapan pertama kondisi ini adalah oliguria dan ketika tidak ditangani dengan tepat, anuria pun terjadi. 

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala anuria?

Pada dasarnya, tidak bisa buang air kecil alias anuria adalah gejala itu sendiri. Oleh sebab itu, gejala lainnya akan mengikuti apa penyebab kondisi ini pada tubuh. 

Berikut ini beberapa tanda dan gejala penyakit ginjal yang mungkin terjadi pada penderita anuria. 

  • Tangan dan pergelangan kaki membengkak.
  • Nyeri dan sulit buang air kecil.
  • Ada darah dalam urine (hematuria).
  • Merasa lemas dan lemah.
  • Mual dan muntah.
  • Nafsu makan menurun.
  • Nyeri pinggang di bagian samping.
  • Sulit berkonsentrasi.

Kapan saya harus ke dokter?

Jika Anda mengalami beberapa gejala yang disebutkan dan disertai dengan kondisi ini, segera periksakan diri ke dokter. Hal ini bertujuan agar Anda mendapatkan penanganan yang tepat untuk mengurangi risiko dan komplikasi. 

Penyebab

Apa saja penyebabnya?

Penyebab anuria adalah masalah yang berkaitan dengan organ ginjal. Anuria juga dapat disebabkan oleh masalah pada jantung. Namun, tidak begitu banyak pasien yang melaporkan kasus ini. 

Fungsi ginjal yang menurun bisa diakibatkan oleh berbagai hal yang kemudian menimbulkan anuria atau tidak dapat kencing. Berikut ini beberapa penyebab anuria yang perlu Anda waspadai:

Tekanan darah menurun tiba-tiba

Tekanan darah yang turun secara tiba-tiba mungkin terjadi akibat beberapa hal, seperti:

  • dehidrasi parah akibat muntah dan diare,
  • infeksi parah yang menurunkan aliran darah ke ginjal, dan
  • produksi sel darah merah menurun drastis.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan cedera ginjal akut dan anuria yang membuat Anda kesulitan buang air kecil. 

Diabetes

Kadar glukosa (gula darah) yang terlalu tinggi pada penyandang diabetes dapat menyebabkan diabetes ketoasidosis. Kondisi ini juga dapat merusak pembuluh darah yang berada di ginjal yang berisiko terhadap gagal ginjal akut

Batu ginjal

Batu ginjal dapat menimbulkan penyumbatan di ginjal atau ureter (saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih). Kondisi ini membuat urine akhirnya tidak bisa keluar (anuria). 

Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah. Akibatnya, ginjal rusak dan Anda tidak bisa kencing. 

Tumor

Adanya tumor dapat menghambat fungsi ginjal dan menyumbat saluran kemih, sehingga terjadilah penyakit anuria. 

Gagal ginjal

Jika ginjal berhenti berfungsi (gagal ginjal), darah tidak akan tersaring dengan baik dan tidak menghasilkan urine. 

Komplikasi

Apa yang terjadi ketika kondisi ini tidak diobati dengan benar?

Apabila anuria tidak segera diobati, Anda mungkin berisiko mengalami komplikasi yang dapat membahayakan jiwa. Anuria yang tidak ditangani dapat menyebabkan cedera ginjal akut dan kondisi yang paling parah adalah kerusakan ginjal permanen.

Obat dan pengobatan

Bagaimana cara mengobati anuria?

Pengobatan kondisi ini sebenarnya bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika sudah kerusakan ginjal sudah mencapai tahap akhir, Anda akan dianjurkan untuk menjalani dialisis dan transplantasi ginjal. 

Dialisis dilakukan untuk mengeluarkan cairan yang sudah tidak dibutuhkan tubuh dan mengatur cairan yang seharusnya dilakukan oleh ginjal. Sementara itu, cara lain untuk mengobati susah kencing (anuria) di antaranya: 

Cairan intravena

Cairan intravena biasanya diberikan pada penderita anuria yang disebabkan oleh dehidrasi parah dan hipotensi. 

Penggunaan ureteric stent

Ureteric stent adalah alat pengganti saluran ureter, yaitu saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Alat ini berbentuk tabung kecil atau pipa yang menghubungkan ginjal langsung ke kandung kemih.

Cara ini biasanya diberikan pada orang yang tidak bisa kencing akibat adanya obstruksi ureter. 

Prosedur pengangkatan batu ginjal

Bagi penderita kondisi ini yang disebabkan oleh batu ginjal mungkin akan dianjurkan untuk menjalani pengobatan batu ginjal. Hal ini dilakukan untuk memecah batu ginjal hingga menjadi pecahan kecil agar tidak menyumbat saluran kemih. 

Cara ini biasanya juga dilakukan oleh orang yang memiliki tumor dan mengalami kesulitan saat buang air kecil. 

Konsumsi obat sesuai anjuran dokter

Jika Anda punya hipertensi atau diabetes, penting untuk tetap mengonsumsi obat sesuai petunjuk dokter. Menerapkan gaya hidup sehat termasuk diet, olahraga, dan manajemen stres yang baik juga sangat penting. 

Dengan membaiknya kondisi hipertensi dan diabetes, anuria dapat teratasi dan kondisi berkemih menjadi kembali normal.

Transplantasi ginjal

Transplantasi ginjal adalah upaya terakhir jika pengobatan anuria berdasarkan penyebabnya tidak berhasil. Metode ini biasanya dilakukan oleh pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir. 

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Anuria adalah kondisi yang harus ditangani secara medis. Karenanya, Anda perlu mendapatkan diagnosis yang tepat dari dokter. Mendiagnosis anuria dan penyebab utamanya dimulai dengan menanyakan riwayat medis pasien secara menyeluruh

Setelah itu, Anda mungkin akan diminta untuk melakukan beberapa pemeriksaan ginjal, yakni:

  • tes darah untuk mengetahui jumlah kadar urea dan kreatinin dalam darah,
  • tes urine (urinalisis),
  • USG dan CT-Scan untuk melihat bentuk ginjal, ureter, dan kandung kemih, dan
  • biopsi ginjal untuk menganalisis ginjal lewat jaringan ginjal.

Pengobatan di rumah

Perubahan gaya hidup seperti apa yang perlu dilakukan?

Selain menjalani pengobatan dari dokter, penderita anuria juga perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemulihan. 

Berikut ini pola hidup yang mungkin perlu dilakukan oleh pasien dengan kondisi ini yang hampir serupa dengan pantangan makanan sakit ginjal

  • Batasi makanan yang tinggi gula dan lemak.
  • Makan makanan dengan nutrisi yang seimbang.
  • Batasi protein hewani dan ganti dengan protein nabati sesekali.
  • Diet rendah garam dan rendah lemak.
  • Penuhi asupan cairan sesuai anjuran dokter.
  • Olahraga secara teratur minimal 30-45 sehari, seperti bersepeda atau jogging.
  • Kelola stres dengan melakukan meditasi atau yoga.

Anuria adalah kondisi yang berkaitan dengan sejumlah masalah pada ginjal. Oleh sebab itu, Anda tidak dapat mendiagnosis diri sendiri. 

Intinya, semakin cepat penyebab anuria terdeteksi, Anda mungkin dapat menghindari risiko komplikasi. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, tanyakan kepada dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat bagi Anda. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Paling Umum Sakit Perut Sebelah Kanan

Beberapa dari Anda mungkin sering merasakan sakit perut sebelah kanan. Hati-hati karena ini bisa menjadi tanda suatu penyakit pada organ di rongga perut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Pencernaan 6 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Congestive Heart Failure (CHF)

Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah kondisi jantung tidak mampu memompa darah. Apa penyebab, gejala, dan cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Penyebab dan Faktor Risiko Batu Ginjal Berdasarkan Jenisnya

Batu ginjal sebenarnya bisa dihindari, salah satunya dengan menjaga makanan. Apa saja makanan yang berpotensi membentuk batu ginjal?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Monika Nanda
Urologi, Ginjal 31 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Memahami Manfaat dan Risiko Angioplasti, Prosedur Medis untuk Serangan Jantung

Angioplasti adalah salah satu prosedur untuk orang yang mengalami serangan jantung. Yuk, ketahui manfaat dan risiko prosedur medis ini di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Serangan Jantung 28 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gemar makan ikan

Benarkah Rutin Makan Ikan Turunkan Risiko Stroke dan Gagal Jantung?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
mencegah batu ginjal sakit batu ginjal

7 Cara Mencegah Batu Ginjal yang Dapat Dilakukan Sekarang Juga

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
neurogenic bladder

Kandung Kemih Neurogenik (Neurogenic Bladder)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
pengobatan gagal ginjal

Informasi Pengobatan dan Perawatan untuk Pasien Gagal Ginjal

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit