Inkontinensia Urin

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu inkontinensia urin?

Inkontinensia urin adalah gangguan fungsi kandung kemih yang membuat Anda tidak dapat mengontrol keluarnya urin (air kencing). Akibatnya, urin keluar tiba-tiba tanpa dikehendaki sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari.

Inkontinensia urin merupakan penyakit kandung kemih yang umum dan semua orang dapat mengalaminya. Hanya saja, kondisi ini lebih banyak dialami wanita dan orang lanjut usia. Meskipun tidak membahayakan, bukan berarti kondisi ini boleh diabaikan.

Gangguan kontrol kandung kemih yang tidak ditangani dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi. Masalah kesehatan ini bisa meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan penyakit kandung kemih, serta mengurangi kualitas hidup penderitanya.

Jika Anda bermasalah dengan inkontinensia, ada berbagai metode pengobatan untuk mengatasinya. Ada pula langkah-langkah sederhana untuk memulihkan fungsi kandung kemih agar Anda bisa kembali buang urine secara normal.

Gejala

Apa saja gejala inkontinensia urin?

Gejala utama inkontinensia urin adalah keluarnya air kencing tanpa dikehendaki. Setiap orang mungkin mengeluarkan urine dalam jumlah yang berbeda, tergantung penyebab dan seberapa parah masalah inkontinensia.

Masalah inkontinensia kandung kemih juga terbagi menjadi beberapa jenis. Setiap jenisnya memiliki gejala tersendiri, yakni sebagai berikut.

1. Stress incontinence

Urin keluar setiap kali kandung kemih tertekan. Tekanan dapat berasal dari olahraga, batuk, tertawa, bersin atau mengangkat benda berat. Kondisi ini biasanya dialami oleh wanita berusia 45 tahun ke atas, atau terkadang lebih muda.

Pada wanita, tekanan selama proses melahirkan juga menyebabkan inkontinensia. Sementara pada pria, tekanan mungkin disebabkan oleh peradangan atau pembesaran kelenjar prostat.

2. Urge incontinence

Kondisi ini terjadi ketika seseorang tiba-tiba ingin kencing (overactive bladder) dan tidak bisa ditahan. Kebanyakan orang yang mengalami tipe inkontinensia urine ini adalah penderita penyakit diabetes, Alzheimer, Parkinson, stroke dan multiple sclerosis.

Rasa ingin buang air kecil biasanya muncul begitu sering dan mendadak, termasuk saat Anda tertidur. Anda mungkin akan bangun berkali-kali di tengah malam dalam kondisi yang disebut nokturia.

3. Overflow incontinence

Kondisi ini terjadi saat ada sedikit kebocoran urine dari kandung kemih yang terisi penuh. Urine akan sering keluar atau menetes terus-menerus karena kandung kemih tidak bisa kosong seutuhnya. Biasanya, penyebabnya berkaitan dengan gangguan saraf.

4. Functional incontinence

Tipe inkontinensia ini banyak dialami orang lanjut usia atau penderita penyakit tertentu dengan fungsi kandung kemih yang sudah menurun. Mereka mungkin tidak dapat pergi ke toilet tepat waktu sehingga sudah mengompol terlebih dulu.

Kapan Anda perlu ke dokter?

Inkontinensia urine memang tidak berbahaya, tapi dampaknya besar bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari. Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila rasa ingin buang air kecil menimbulkan masalah:

  • mengganggu kegiatan sehari-hari,
  • menghambat kegiatan sosial Anda,
  • membuat Anda berisiko terjatuh karena terburu-buru ke toilet, dan
  • disertai gejala penyakit saluran kemih lainnya.

Penyebab

Apa yang menyebabkan inkontinensia urine?

Inkontinensia urine pada dasarnya bukanlah penyakit, melainkan ciri dari suatu masalah kesehatan. Penyebabnya dapat berasal dari kebiasaan sehari-hari, penyakit yang telah ada, atau kelainan pada kondisi fisik Anda.

Secara umum, berikut berbagai hal yang dapat menyebabkan inkontinensia.

1. Inkontinensia sementara

Inkontinensia sementara sering kali disebabkan karena makanan, minuman, obat, atau suplemen yang bersifat diuretik. Apa pun yang bersifat diuretik akan menambah kadar air dan garam pada urin sehingga air kencing yang dihasilkan lebih banyak.

Diuretik yang ada di sekitar Anda antara lain:

  • kafein, seperti kopi dan teh,
  • minuman beralkohol,
  • minuman bersoda,
  • cokelat,
  • pemanis buatan,
  • makanan pedas, manis, dan asam,
  • obat darah tinggi dan penyakit jantung, serta
  • suplemen vitamin C dosis besar.

Tidak hanya diuretik, inkontinensia urin sementara juga bisa disebabkan oleh gangguan kesehatan umum seperti:

  • Infeksi saluran kemih. Infeksi menyebabkan iritasi pada kandung kemih. Iritasi memicu rasa ingin buang air kecil dan terkadang inkontinensia.
  • Sembelit. Feses yang menumpuk pada rektum dapat menekan kandung kemih (cystitis) sehingga menimbulkan rasa ingin buang air kecil.

2. Inkontinensia jangka panjang

Inkontinensia jangka panjang biasanya disebabkan oleh penyakit atau perubahan pada kondisi fisik, seperti:

  • Pertambahan usia. Fungsi penyimpanan kandung kemih menurun seiring usia. Selain itu, kandung kemih juga lebih sering berkontraksi saat Anda lebih tua.
  • Kehamilan. Perubahan hormon dan perkembangan janin dapat menimbulkan tekanan pada kandung kemih sehingga terjadi inkontinensia urin.
  • Persalinan. Persalinan melalui vagina bisa melemahkan otot kandung kemih. Akibatnya, kandung kemih turun (sistokel) dan menyebabkan kebocoran urin.
  • Menopause. Penurunan hormon estrogen menyebabkan dinding kandung kemih menipis. Penipisan ini membuat urin lebih mudah keluar dari kandung kemih.
  • Pembesaran prostat. Prostat yang membesar (disebut juga penyakit BPH)¬†akan menekan kandung kemih sehingga timbul rasa ingin buang air kecil.
  • Kanker prostat. Kanker prostat maupun efek samping pengobatannya dapat memberikan tekanan pada kandung kemih dan menyebabkan inkontinensia.¬†
  • Operasi pengangkatan rahim. Prosedur operasi meningkatkan risiko kerusakan otot panggul sehingga berdampak pada inkontinensia.
  • Gangguan saraf. Penyakit Parkinson, multiple sclerosis, stroke, dan cedera tulang belakang dapat menyebabkan gangguan saraf kandung kemih.

Faktor-faktor risiko

Siapa yang lebih berisiko mengalami inkontinensia urin?

Risiko inkontinensia lebih besar pada orang-orang dengan kondisi berikut.

  • Berjenis kelamin wanita. Wanita lebih berisiko karena adanya tekanan pada daerah perut akibat anatomi tubuh, kehamilan, melahirkan, dan menopause.
  • Lanjut usia. Seiring bertambahnya usia, otot kandung kemih dan uretra akan semakin melemah.
  • Kelebihan berat badan. Berat badan berlebih memberikan tekanan pada otot kandung kemih dan area sekitarnya sehingga otot-otot tersebut melemah.
  • Menderita penyakit tertentu. Penyakit yang paling berkaitan dengan masalah inkontinensia adalah diabetes, gangguan prostat, dan penyakit terkait saraf.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis inkontinensia urine?

Diagnosis masalah inkontinensia diawali dengan melihat riwayat medis Anda. Dokter perlu mengetahui gejala apa yang Anda alami, seberapa parah gejala tersebut, dan apa dampaknya pada kehidupan Anda sehari-hari.

Dokter biasanya juga menanyakan pola hidup, pola makan, dan kebiasaan minum Anda setiap hari. Apabila Anda rutin minum obat diuretik seperti obat untuk darah tinggi atau penyakit jantung, Anda pun harus memberitahukannya kepada dokter.

Usai melihat riwayat medis, Anda akan menjalani pemeriksaan fisik dan sejumlah tes sederhana untuk mendiagnosis penyebab inkontinensia. Agar diagnosis lebih akurat, dokter juga melakukan tes untuk memeriksa fungsi kandung kemih dan saluran kemih.

Tes yang umum dilakukan yakni:

  • Tes batuk untuk mendeteksi ada-tidaknya kebocoran urine.
  • USG untuk mengetahui apakah kandung kemih bisa kosong seutuhnya.
  • Tes urodinamik untuk melihat fungsi kandung kemih dan saluran kencing.
  • Pemeriksaan lainnya untuk melihat apakah ada hernia, kandung kemih turun, atau masalah pada usus.

Obat dan pengobatan

Bagaimana cara mengobati inkontinensia urin?

Beberapa kasus inkontinensia berlangsung sementara dan bisa diatasi dengan mudah. Namun, ada pula inkontinensia yang harus ditangani dalam waktu lama dan melibatkan banyak metode sekaligus.

Melansir laman Urology Care Foundation, berikut berbagai pengobatan untuk inkontinensia urin:

1. Perubahan gaya hidup

Dokter biasanya akan menyarankan perubahan gaya hidup dahulu sebelum memilih metode pengobatan lain. Perubahan gaya hidup meliputi:

  • Menghindari makanan atau minuman yang memperparah gejala.
  • Menyesuaikan kapan dan seberapa banyak Anda perlu minum air.
  • Latihan buang air kecil secara teratur.
  • Melakukan latihan otot panggul dan senam Kegel.

2. Konsumsi obat-obatan

Jika perubahan gaya hidup tidak cukup, dokter dapat menyarankan konsumsi obat atau terapi hormon. Obat antikolinergik dapat merilekskan otot kandung kemih, sedangkan terapi hormon estrogen membantu menjaga struktur kandung kemih.

3. Operasi

Ada beragam jenis operasi dengan manfaat yang berbeda-beda. Meski efektif, operasi menimbulkan efek samping yang lebih besar daripada metode lain. Berkonsultasilah dengan dokter sebelum Anda memilih metode ini.

Perawatan di rumah

Bagaimana cara hidup sehat di rumah bila memiliki inkontinensia urine?

Perubahan gaya hidup dan pengobatan rumah berikut dapat membantu Anda mengatasi inkontinensia urine.

  • Melakukan olahraga panggul dan senam Kegel dengan benar.
  • Mengonsumsi obat-obatan sesuai arahan.
  • Menjalani pengobatan untuk menghindari iritasi kulit.
  • Menggunakan handuk yang bersih.
  • Mengeringkan kulit dengan alami.
  • Tidak sering mencuci vagina dan berendam dalam air untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih.
  • Menggunakan pelindung kulit seperti petroleum jelly atau minyak kelapa apabila mengalami iritasi kulit akibat penggunaan popok.
  • Memindahkan karpet atau perabotan yang dapat membuat Anda terpeleset atau tersandung saat pergi ke toilet.
  • Menyalakan lampu untuk menerangi jalan dan mengurangi risiko jatuh.

Inkontinensia urine merupakan masalah sistem perkemihan yang cukup umum. Kendati tidak berbahaya, gejalanya berdampak besar bagi kehidupan sehari-hari. Inkontinensia yang tidak ditangani bahkan dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Menjaga kesehatan kandung kemih dapat menjadi perhatian dan gaya hidup sehat baru untuk Anda agar tidak terkena inkontinensia urine.

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan masalah inkontinensia. Pengobatannya pun perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Oleh sebab itu, jika Anda merasa mengalami gejala inkontinensia, konsultasikan hal ini dengan dokter untuk mendapatkan solusinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bladder Outlet Obstruction (Obstruksi Outlet Kandung Kemih)

Obstruksi outlet kandung kemih (bladder outlet obstruction) adalah penyumbatan yang mengurangi atau menghentikan aliran urine ke uretra.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Urologi, Kandung Kemih 13 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

Pielonefritis (Infeksi Ginjal)

Pielonefritis adalah infeksi pada salah satu atau kedua ginjal yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Bagaimana menanganinya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Urologi, Ginjal 6 Agustus 2020 . Waktu baca 8 menit

Batu Kandung Kemih

Batu kandung kemih terbentuk akibat penumpukan kristal mineral urine di dalam kandung kemih. Pelajari penyebab, gejala, dan pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

Kandung Kemih Overaktif (Overactive Bladder)

Kandung kemih overaktif (overactive bladder) adalah masalah fungsi penyimpanan kandung kemih yang menyebabkan dorongan tiba-tiba untuk buang air kecil.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit urologi

Gejala Penyakit Urologi, Dari Nyeri Buang Air Kecil Hingga Impotensi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 7 September 2020 . Waktu baca 10 menit
urologi

Mengenal Penyakit Urologi dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 7 September 2020 . Waktu baca 7 menit
sistoskopi

Memahami Prosedur Sistoskopi untuk Masalah Kandung Kemih

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 4 September 2020 . Waktu baca 10 menit
anuria adalah

Anuria (Kencing Tidak Keluar): Penyebab, Pengobatan, dll.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit