Penyebab, Ciri, Dampak, dan Cara Mengobati Anemia Defisiensi Besi Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Anemia adalah penyakit yang juga dikenal sebagai kurang darah. Bukan cuma orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalaminya. Namun, jenis anemia yang lebih umum terjadi pada anak kecil adalah anemia defisiensi besi. Nah, Anda sebagai orangtua harus berhati-hati apabila anak mengalami anemia. Pasalnya, masalah ini bisa membuat proses pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu. Apa saja, sih, yang harus diketahui orangtua tentang anemia defisiensi besi pada anak?

Penyebab anemia defisiensi besi pada anak

Anemia defisiensi besi adalah kondisi kurangnya jumlah sel darah merah di bawah batas normal akibat tubuh kekurangan asupan zat besi. Zat besi adalah nutrisi penting untuk memproduksi hemoglobin. 

Kekurangan zat besi dapat menggangu kesehatan karena sel darah merah yang sehat seharusnya mengandung cukup hemoglobin (Hb). Hemoglobin adalah protein pewarna merah bagi darah yang sekaligus berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh agar tetap dapat bertahan hidup. 

Ketika seseorang terkena anemia, sel dan jaringan tubuh akan kekurangan asupan oksigen sehingga memengaruhi kinerja tubuh. Zat besi juga berperan penting dalam menjaga fungsi otot, menghasilkan energi, dan perkembangan otak. Akibatnya, anak dengan defisiensi zat besi mungkin mengalami kesulitan belajar dan masalah perilaku.

Hal-hal yang meningkatkan risiko anemia defisiensi besi pada anak

Di negara maju, pemenuhan zat besi seimbang untuk bayi bukanlah hal yang sulit. Secara umum, bayi yang diberi ASI cenderung mendapatkan cukup zat besi dari ibu hingga mereka mulai mengenal makanan dan minuman lain. Selain itu, bayi yang diberi susu formula kaya zat besi juga biasanya mendapatkan cukup asupan zat besi.

Masalah anemia defisiensi besi juga dapat dialami oleh balita yang terlalu banyak minum susu sapi (lebih dari 24 ons sehari) dan kurang mengonsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging merah dan sayuran berdaun hijau. Pada dasarnya, susu sapi bukan sumber zat besi yang baik. Bahkan, susu sapi menghambat tubuh untuk menyerap zat besi sehingga memicu anemia.

Masalah ini juga dapat terjadi pada anak yang gemar pilih-pilih makanan sehingga mereka mungkin tidak mendapat asupan zat besi yang cukup. Terkadang kondisi ini juga didukung oleh orang tua yang kesulitan menemukan makanan sehat yang tinggi zat besi. Anak-anak atau remaja yang vegetarian juga berpotensi kekurangan zat besi, karena zat besi yang terkandung dalam daging lebih mudah diserap daripada zat besi dalam sayuran.

Remaja laki-laki juga bisa mengalami kekurangan zat besi selama masa pubertas. Namun, kondisi ini lebih banyak dialami oleh remaja perempuan karena tubuh mereka tidak dapat menyimpan lebih banyak zat besi dan kehilangan darah selama menstruasi. Atlet muda yang sering berolahraga juga cenderung kehilangan lebih banyak zat besi sehingga terkena anemia defisiensi besi.

Tanda dan gejala anemia defisiensi pada anak

Sebelum mengetahui cara menangani anemia pada anak, ada baiknya Anda mengenali gejala-gejala yang sering muncul.

Anemia defisiensi besi terjadi secara bertahap. Pertama, jumlah zat besi dalam tubuh menurun dan anak mulai mengalami kekurangan zat besi yang memengaruhi fungsi otot dan otak.

Sel-sel darah merah tidak banyak berubah pada tahap ini karena tubuh menggunakan sebagian besar zat besi untuk membuat hemoglobin. Namun seiring waktu, tubuh mulai membuat lebih sedikit sel darah merah sehingga memicu anemia.

Pada tahap itu, beberapa gejala anemia defisiensi besi yang akan umum tampak pada anak adalah:

  • Kulit pucat atau berwarna keabu-abuan, begitu pula pada area kelopak mata dan daging kuku
  • Lemas
  • Rewel
  • Mudah lelah
  • Mudah kena infeksi karena daya tahan tubuh lemah
  • Kulit atau area mata berwarna kuning (dialami anak yang sel darahnya berkurang karena dihancurkan oleh tubuhnya sendiri)
  • Prestasi di sekolah kurang memuaskan

Pada anak dengan anemia defisiensi besi mungkin juga akan makan hal-hal aneh seperti es batu, tanah liat, tanah liat, dan tepung maizena. Perilaku ini disebut juga dengan istilah pica. Pica tidak begitu berbahaya, kecuali jika anak Anda makan sesuatu yang beracun. Biasanya pica berhenti setelah anemia diobati dan saat anak bertambah tua.

Segera temui dokter sebelum kondisi berkembang menjadi kronis dan mengganggu tumbuh kembang anak. 

Mendeteksi anemia defisiensi besi pada anak

Dalam banyak kasus, dokter tidak akan langsung mendiagnosis anemia sebelum mereka menjalankan tes darah sebagai bagian dari pemeriksaan fisik rutin. Pemeriksaan darah lengkap (complete blood count/CBC) dapat mendeteksi jumlah sel darah merah di bawah batas normal. Selain CBC, tes diagnostik untuk mendeteksi anemia, di antaranya:

  • Blood smear examination: Sampel darah diletakkan pada kaca preparat untuk pemeriksaan mikroskopis sel darah merah, yang terkadang dapat menunjukkan penyebab anemia.
  • Iron tests: Tes ini mencakup serum iron test and ferritin test, yang dapat membantu menentukan apakah anema pada anak isebabkan oleh defisiensi  zat besi atau tidak.
  • Hemoglobin electrophoresis: Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi berbagai kelainan hemoglobin dalam darah dan untuk mendiagnosis anemia sel sabit, talasemia, dan bentuk turunan lain dari anemia.
  • Bone marrow aspiration and biopsy: Tes ini dapat menentukan normal atau tidaknya produksi sel di dalam sumsum tulang. Tes ini merupakan satu-satunya cara untuk mendiagnosis anemia aplastik definitif dan juga digunakan jika penyakit yang menyerang sumsum tulang (seperti leukemia) ternyata memicu anemia.
  • Reticulocyte count: Tes ini digunakan untuk mengukur sel darah merah muda. Tujuan tes ini adalah untuk membantu menentukan tingkat normal produksi sel darah merah.

Selain melakukan tes di atas, dokter mungkin bertanya tentang riwayat anemia keluarga, gejala-gejala yang dialami, serta obat-obatan yang dikonsumsi anak Anda. Prosedur ini dapat membantu dokter dalam menentukan tes lain untuk mencari penyakit tertentu yang mungkin menyebabkan anemia.

Pengobatan anemia defisiensi besi pada anak

Pengobatan yang diberikan untuk anemia tergantung pada penyebabnya. Sebagai orangtua yang bijak, Anda sebaiknya tidak terlalu terburu-buru berasumsi bahwa gejala  anemia pada anak mungkin disebabkan oleh defisiensi atay kekurangan zat besi. Periksakan anak Anda ke dokter untuk hasil yang lebih akurat.

1. Suplemen zat besi tambahan

Pilihan pengobatan anemia defisiensi pada anak yang paling umum adalah suplementasi zat besi.

Dokter mungkin meresepkan obat tetes untuk bayi atau obat sirup maupun tablet minum untuk anak-anak yang usianya lebih tua. Suplemen zat besi biasanya harus diminum selama 3 bulan untuk mengembalikan kadar zat besi dalam tubuh.

Di samping itu, dokter mungkin menganjurkan Anda untuk memberikan makanan kaya zat besi untuk anak atau mengurangi asupan susu.

2. Vitamin tambahan

Pemberian sumplemen asam folat dan vitamin B12 dapat dianjurkan jika anemia tersebut disebabkan oleh kekurangan gizi, meskipun kasus ini jarang terjadi pada anak-anak.

3. Pengobatan berdasarkan penyebab

Bagi remaja yang terserang anemia dan memiliki periode menstruasi berat atau tidak teratur, dokter mungkin meresepkan pengobatan hormonal untuk membantu mengatur perdarahan.

Anemia yang disebabkan oleh infeksi biasanya akan membaik ketika infeksi sudah ditangani atau pulih. Jika obat tertentu diduga menjadi penyebab anemia, dokter dapat menghentikan atau mengganti pengobatan, kecuali manfaat dari obat tersebut melebihi efek samping ini.

Tergantung pada penyebabnya, pengobatan untuk anemia kronis adalah:

  • Transfusi sel darah merah dari donor
  • Pengangkatan limpa atau pemberian obat untuk mencegah sel-sel darah hilang dari peredaran atau hancur terlalu cepat
  • Pemberian obat untuk melawan infeksi atau merangsang sumsum tulang untuk membuat lebih banyak sel darah
  • Dalam beberapa kasus seperti anemia sel sabit, talasemia, dan anemia aplastik, transplantasi sumsum tulang dapat dilakukan. Dalam prosedur ini, sel-sel sumsum tulang yang diambil dari donor akan disuntikkan ke dalam vena anak; sel-sel ini masuk ke aliran darah menuju sumsum tulang dan mulai memproduksi sel-sel darah baru.

Cara mencegah anemia defisiensi besi pada anak

Cara terbaik untuk menghindari anak dari anemia adalah menjalani gaya hidup sehat dan pola makan bernutrisi seimbang. Ini dia tips-tips hidup sehat agar anak anemia bisa pulih dan berkembang dengan baik.

1. Jangan berikan susu sapi sampai umur bayi sudah di atas 12 bulan

Air susu ibu (ASI) pada dasarnya memiliki kandungan zat besi yang lebih rendah dibandingkan susu sapi. Akan tetapi, pencernaan bayi masih lebih mampu menyerap zat besi dari ASI daripada dari susu sapi.

Pemberian susu sapi sebelum anak Anda berusia setahun diyakini dapat menurunkan jumlah zat besi yang terserap di usus. Pasalnya, susu sapi dapat mengiritasi lapisan pencernaan anak.

Pencernaan anak yang terluka atau iritasi dapat memengaruhi kemampuan tubuh menyerap zat besi dengan baik.

2. Jangan minum susu kebanyakan

Orangtua umumnya senang apabila anak Anda doyan minum susu. Akan tetapi, terlalu banyak minum susu bisa membuat anak cepat kenyang. Semakin kenyang anak, semakin sedikit pula tubuhnya mendapatkan zat besi.

Hal inilah yang harus dihindari orangtua karena dapat menyebabkan anak mengalami defisiensi zat besi di kemudian hari.  Padahal, sumber zat besi dan mineral terbaik itu adanya justru pada makanan dan minuman alami, terutama sayuran hijau seperti bayam, bukan di susu sapi. 

3. Menjaga pola makan seimbang

Memberikan asupan makanan berupa biji-bijian dan sereal dapat mencegah anemia defisiensi zat besi pada anak Anda. Sumber zat besi lain yang baik untuk dikonsumsi anak misalnya daging segar rendah lemak, kentang, tomat, dan kacang-kacangan.

Anda bisa perbanyak sumber zat besi selain ASI pada anak lewat suplemen. Namun Anda wajib konsultasi dulu dengan dokter anak. Pastikan Anda memerhatikan keseimbangan nutrisi anak sehingga anak Anda bisa terhindar juga dari obesitas.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 28, 2017 | Terakhir Diedit: Januari 7, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca