Berbagai Jenis Obat Penambah Darah yang Umum Diresepkan Dokter

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Anemia adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya jumlah sel darah merah sehat untuk mengalirkan oksigen ke berbagai jaringan tubuh. Anemia sendiri punya banyak jenis, sehingga jenis pengobatan yang diperlukan mungkin juga berbeda. Selain untuk meredakan gejalanya, obat kurang darah ini juga bertujuan untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi akibat anemia

Apa saja obat untuk mengatasi anemia?

pencegahan anemia

Sesuai dengan penyebab anemia, berikut adalah daftar obat-obatan yang mungkin diresepkan dokter:

1. Obat minum untuk anemia

Obat yang tersering digunakan untuk mengatasi anemia defisiensi zat besi adalah suplemen zat besi. Dokter Anda mungkin akan merekomendasikan beberapa vitamin penambah darah, seperti suplemen zat besi atau vitamin C. 

Anda bisa mengonsumsi suplemen zat besi sebagai upaya menambah darah saat Anda didiagnosis anemia. Namun Anda harus berkonsultasi dulu untuk mengetahui dosis yang sesuai untuk Anda. Untuk mengobati jenis anemia ini, orang dewasa umumnya dianjurkan minum 100-200 mg suplemen zat besi setiap hari.

Sementara untuk jenis anemia lain, yaitu anemia defisiensi B12 dan asam folat, dokter dapat meresepkan multivitamin yang mengandung keduanya.

Obat ini dapat digunakan untuk mengobati kurang darah yang disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi dari makanan, kehilangan darah, penyakit tertentu, kehamilan, gangguan pencernaan, dan kondisi lainnya.

2. Suntikan zat besi

Jika Anda masih mengalami gejala anemia, meski sudah mengonsumsi suplemen zat besi, dokter akan menjadwalkan terapi suntikan atau infus zat besi.

Selama pengobatan anemia ini, dokter akan memantau jumlah sel darah merah, termasuk tingkat hematokrit, hemoglobin, dan ferritin. Dalam kasus anemia defisiensi besi yang sangat mengancam jiwa, pengobatan mungkin melibatkan transfusi darah.

Sementara itu, obat suntik untuk anemia akibat kekurangan vitamin B12 dan asam folat, dokter akan memberikan hydroxocobalamin dan cyanocobalamin. Hydroxocobalamin umumnya lebih disarankan karena efeknya lebih bertahan lama di dalam tubuh. Suntikan dapat diberikan setiap hari selama 2 minggu sekali atau sampai gejala Anda mulai membaik.

Anemia Defisiensi Besi

3. Obat antibiotik atau antivirus

Anak-anak yang memiliki anemia sel sabit dapat diresepkan antibiotik penisilin oleh dokter. Pengobatan ini berfungsi untuk membantu mencegah infeksi, seperti pneumonia, yang dapat mengancam nyawa bayi atau anak kecil.

Orang dewasa juga dapat diberikan obat ini jika limpanya telah diangkat atau terkena radang paru-paru. Antibiotik diperlukan karena organ limpa yang diangkat atau bermasalah tidak lagi menyaring darah dengan maksimal. Ini membuat risiko infeksi bakteri di dalam tubuh meningkat sehingga harus diantisipasi dengan antibiotik.

Antibiotik dan antivirus juga kemungkinan akan diberikan juga dalam pengobatan anemia aplastik. Pasalnya, kondisi ini dapat membuat sistem kekebalan tubuh melemah karena jumlah sel darah putih untuk melawan virus atau bakteri di tubuh Anda sedikit. Kondisi ini rentan menyebabkan Anda terkena infeksi. 

4. Hydroxyurea

Obat hidroksiurea biasa diberikan untuk mengurangi rasa sakit dan mengurangi kebutuhan transfusi darah pada pasien salah satu jenis anemia, yaitu anemia sel sabit.

Obat anemia ini diminum dengan menelannya secara utuh (oral) tanpa menghancurkan, mengunyah, atau membuka kapsul.

5. Epoetin alfa

Anemia akan berangsur membaik ketika penyakit kronis yang memicunya berhasil diobati. Namun terkadang, pasien penyakit ginjal dan pasien kanker yang mengidap anemia akibat kemoterapi diberikan obat epoetin alfa untuk merangsang sel darah merah.

Obat epoetin alfa digunakan untuk mengatasi kurang darah akibat beberapa kondisi, yaitu:

  • Anemia pascakemoterapi
  • Anemia akibat penyakit ginjal kronis
  • Anemia yang disebabkan oleh penggunaan zidovudine untuk mengobati HIV (human immunodeficiency virus).

Obat ini juga digunakan untuk mengurangi kebutuhan transfusi sel darah merah pada orang yang menjalani prosedur operasi tertentu. Epoetin alfa adalah bentuk protein buatan manusia yang membantu tubuh memproduksi sel darah merah.

Obat anemia ini diberikan memalui suntikan melalui infus. Namun, dokter tidak menyarankan untuk menggunakan obat ini lewat suntik bila Anda memiliki:

  • Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan
  • Memiliki aplasia sel merah murni (sejenis anemia) setelah menggunakan epoetin alfa
  • Menggunakan botol epoetin alfa multidosis saat sedang hamil dan menyusui.

6. Immunosupresan

Untuk orang anemia aplastik yang tidak dapat menjalani transplantasi sumsum tulang, dokter akan memberikan obat imunosupresan, seperti cyclosporin dan anti-thymocyte globulin. 

Obat-obatan ini berfungsi menekan aktivitas sel-sel kekebalan yang merusak sumsum tulang Anda. Obat ini juga membantu sumsum tulang Anda pulih dan menghasilkan sel darah baru agar gejala anemia aplastik dapat dikendalikan. 

7. Obat stimulan sumsum tulang belakang

Jenis pengobatan anemia lain yang mungkin direkomendasikan dokter adalah obat stimulan. Obat tersebut dapat diresepkan untuk membantu mengatasi gejala anemia aplastik. Obat seperti sargramostim, filgrastim, dan pegfilgrastim berguna untuk membantu merangsang sumsum tulang  menghasilkan sel darah baru.

Apa saja efek samping minum obat untuk mengatasi anemia?

penderita anemia minum suplemen saat puasa

Umumnya, dalam pengobatan anemia, Anda akan diberikan suplemen zat besi sebagai salah satu obat untuk mengatasi kurang darah. Mengonsumsi nutrisi kaya zat besi memang dapat mengatasi dan mencegah anemia. Namun, bukannya tidak mungkin bahwa asupan zat besi Anda bisa berlebihan.

Rata-rata kandungan zat besi dalam obat penambah darah adalah sekitar 14 mg. Ini setara dengan setengah kebutuhan harian Anda. Bahkan, dosis suplemen yang lebih tinggi bisa mengandung zat besi hingga 65 mg.

Jumlah itu pun belum ditambah asupan zat besi dari makanan sehari-hari, seperti sayuran hijau, daging sapi, hati ayam, ikan, seafood, telur, dan kacang-kacangan. Sebagai gambaran, 100 gram steik memiliki kandungan zat besi sekitar 3 mg dan 100 gram bayam memiliki kandungan sekitar 2,7 mg.

Mengonsumsinya tanpa tahu takaran yang tepat tentu bisa berpotensi menimbulkan efek samping bagi kesehatan. Dikutip dari Mayo Clinic, berikut ini efek samping umum dari kelebihan zat besi yang dapat terjadi:

  • Sakit otot punggung, selangkangan, dan dada
  • Sakit perut
  • Menggigil
  • Pusing dan sakit kepala
  • Pingsan
  • Jantung berdebar
  • Demam dengan berkeringat deras
  • Penurunan fungsi indera pengecap; lidah terasa asam karat (metallic taste)
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan pada mulut dan tenggorokan
  • Gangguan pernapasan
  • Gangguan pencernaan, baik itu sembelit maupun diare
  • Ruam pada kulit

Itu sebabnya, sangat penting bagi Anda berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui dosis yang tepat bagi Anda sebelum memutuskan mengonsumsinya sendiri.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    3 Pengganti Nasi yang Lebih Sehat untuk Ibu Hamil

    Meskipun nasi boleh dimakan saat hamil, namun ada alternatif makanan pengganti nasi sebagai sumber karbohidrat yang jauh lebih sehat untuk ibu hamil.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Nutrisi, Hidup Sehat 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Mana yang Lebih Sehat Buat Payudara: Bra Biasa Atau Berkawat?

    Saat memilih bra, Anda mungkin bimbang antara bra kawat atau bra biasa tanpa kawat. Yuk, simak pertimbangan dari para ahli berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

    Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    10 Masalah Ibu Menyusui Beserta Cara Mengatasinya yang Tepat

    Menyusui seharusnya menjadi sesi membahagiakan untuk ibu dan bayinya. Namun sayangnya, ada berbagai masalah menyusui pada ibu dan bayi. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Bayi, Parenting, Menyusui 7 Oktober 2020 . Waktu baca 16 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    makanan untuk penderita thalasemia

    Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
    bmt transplantasi sumsum tulang

    Memahami Prosedur Transplantasi Sumsum Tulang Belakang (BMT)

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
    pekerjaan rumah tangga saat hamil

    Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

    Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit