Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)
Colonoscopy atau kolonoskopi adalah prosedur medis untuk melihat bagian dalam usus besar (kolon) menggunakan alat yang disebut kolonoskopi. Prosedur ini adalah cara yang efektif untuk mencari tahu apakah ada masalah dalam usus besar Anda.
Kolonoskopi juga kerap disebut sebagai endoskopi saluran pencernaan bagian bawah. Berbeda dengan endoskopi atas yang mencakup kerongkongan, lambung, dan usus halus, bagian yang diperiksa pada kolonoskopi adalah usus besar dan rektum.
Pemeriksaan ini bisa mendeteksi, mendiagnosis, hingga mengobati sejumlah penyakit pada saluran pencernaan bawah. Dokter biasanya menyarankan kolonoskopi kepada pasien yang berisiko terkena kanker usus besar atau mengalami gejala tertentu.
Prosedur ini sangat aman dan berguna untuk mendeteksi penyakit. Tentu ada risiko komplikasi seperti sakit perut, infeksi, luka robek, dan sebagainya. Namun, risiko ini dapat dikurangi dengan persiapan yang matang dan perawatan yang tepat.
Dokter dapat menyarankan prosedur ini kepada Anda dengan tujuan sebagai berikut.
Kolonoskopi bisa diandalkan untuk menyelidiki tanda dan gejala penyakit pada usus. Prosedur ini sering kali membantu dokter dalam memeriksa kemungkinan penyebab sakit perut, BAB berdarah, sembelit kronis, diare kronis, dan masalah usus lainnya.
Jika Anda memiliki polip usus besar, dokter dapat merekomendasikan kolonoskopi lanjutan untuk melihat dan menghilangkan polip yang terbentuk. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko kanker kolorektal (rektum dan usus besar).
Dokter juga akan menyarankan prosedur ini kepada orang berusia 50 tahun atau lebih. Pasalnya, risiko kanker kolorektal kian meningkat seiring usia. Pemeriksaan mungkin perlu dilakukan setiap 10 tahun sekali, lalu semakin dekat setiap 5 tahun sekali.
Selama prosedur kolonoskopi, dokter juga dapat mengangkat polip atau tumor jinak pada dinding usus besar. Pengangkatan jaringan bisa dilakukan dengan alat berbentuk penjepit, kabel lentur, atau arus listrik. Prosedur ini dikenal sebagai polipektomi.
Jika kualitas gambar yang didapatkan dari teleskop saat kolonoskopi ternyata tidak cukup jernih, dokter dapat menyarankan endoskopi bawah ulang atau memajukan jadwal pemeriksaan berikutnya.
Bila dokter tidak dapat menggerakkan teleskop ke seluruh bagian usus besar, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan lain. Pilihan pemeriksaan yang ada termasuk barium enema (tes sinar-x usus besar) atau kolografi (scan usus besar).
Sebelum kolonoskopi, Anda perlu mengosongkan usus besar dengan cara buang air besar. Ini karena semua hal yang tersisa dalam usus besar Anda bisa mengaburkan gambar saluran pencernaan dan dubur Anda selama pemeriksaan.
Hal-hal lain yang harus Anda perhatikan adalah sebagai berikut.
Anda juga harus memberitahu dokter tentang obat dan suplemen yang sedang rutin dikonsumsi, setidaknya satu minggu sebelum pemeriksaan. Anda mungkin perlu menyesuaikan dosis atau berhenti menggunakan obatnya sementara.
Jenis obat atau suplemen yang perlu disesuaikan sebelum kolonoskopi di antaranya:
Pertama-tama, dokter akan memberikan obat bius umum untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan mencegah nyeri. Kemudian, dokter akan memasukkan alat berbentuk kabel lentur panjang yang disebut kolonoskop melalui anus Anda.
Ujung kolonoskop dilengkapi dengan kamera untuk mengambil gambar bagian dalam rektum dan usus besar. Sesekali, Anda mungkin akan merasakan udara ditiupkan ke dalam usus besar Anda agar ahli endoskopi mendapatkan gambar yang lebih jelas.
Ahli endoskopi bisa melihat masalah seperti peradangan atau polip dari gambar yang terlihat. Mereka juga bisa melakukan tindakan biopsi atau mengambil gambar untuk membantu diagnosis. Seluruh proses ini biasanya memakan waktu 30 – 45 menit.
Apabila Anda diberikan obat bius, Anda kemungkinan akan sadar dalam waktu 2 jam. Beberapa pasien juga mengeluhkan sedikit bengkak selama beberapa jam, tapi efek ini akan hilang dengan segera.
Dokter akan memberitahu Anda terkait apa yang mereka temukan pada usus besar Anda selama kolonoskopi. Tidak hanya itu, dokter juga akan berdiskusi dengan Anda mengenai pengobatan atau tindak lanjut apa yang Anda perlukan.
Anda semestinya bisa kembali melakukan aktivitas pada keesokan harinya, kecuali dokter menyarankan sebaliknya. Sebelum pulang, dokter akan menjelaskan tata cara perawatan pascaprosedur kepada Anda atau anggota keluarga yang menemani.
Endoskopi saluran pencernaan bawah merupakan prosedur rawat jalan yang tergolong aman. Meski demikian, tetap ada risiko efek samping dan komplikasi dari kolonoskopi yang perlu dipahami oleh pasien.
Risiko tersebut antara lain:
Setelah prosedur kolonoskopi selesai dan efek obat bius hilang, dokter akan mengkaji hasilnya dan menjelaskannya kepada Anda. Berikut kemungkinan dari hasil tes Anda.
Hasil kolonoskopi dikatakan negatif bila dokter tidak menemukan pertumbuhan polip ataupun kelainan lainnya dalam usus besar Anda. Meski begitu, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan ulang dengan ketentuan berikut.
Hasil kolonoskopi dikatakan positif bila dokter menemukan polip ataupun pertumbuhan jaringan abnormal lainnya pada usus besar Anda. Polip pada usus besar tidak selalu menandakan kanker, tapi beberapa kasus polip bisa berujung menjadi kanker.
Dokter biasanya akan mengambil sampel polip, lalu mengirimkannya ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. Pemeriksaan akan menentukan apakah polip merupakan jaringan kanker, prakanker, atau sama sekali bukan kanker.
Kondisi polip menentukan apakah Anda perlu menjalani pengawasan medis yang lebih ketat dalam beberapa tahun ke depan. Jika ditemukan polip berukuran 1 cm, Anda mungkin akan disarankan untuk menjalani kolonoskopi kembali dalam 5 – 10 tahun.
Pemeriksaan ulang biasanya juga disarankan lebih dini bila Anda memiliki:
Jika terdapat polip atau jaringan abnormal yang tidak bisa diangkat selama endoskopi bawah, dokter dapat menyarankan operasi dengan dokter ahli gastroenterologi.
Kolonoskopi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi lapisan dalam usus besar. Pemeriksaan ini umumnya digunakan untuk mendeteksi berbagai penyakit tertentu, terutama kanker kolorektal.
Prosedur ini memang memiliki risiko komplikasi. Akan tetapi, risiko tersebut terbilang sangat kecil dan bisa diminimalisasi dengan persiapan yang menyeluruh. Risiko yang ada dari kolonoskopi pun jauh lebih kecil dibandingkan manfaat yang diberikannya.
Catatan
Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)
Tanya Dokter
Punya pertanyaan kesehatan?
Silakan login atau daftar untuk bertanya pada para dokter/pakar kami mengenai masalah Anda.
Ayo daftar atau Masuk untuk ikut berkomentar