home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Cara Mencegah Anemia yang Perlu Anda Lakukan

7 Cara Mencegah Anemia yang Perlu Anda Lakukan

Anemia adalah kondisi yang terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah. Sel darah merah berperan vital untuk menjaga suplai nutrisi dan oksigen ke setiap sel, jaringan, dan organ tubuh agar selalu berfungsi baik. Ketika Anda kekurangan darah merah, Anda dapat berisiko mengalami gejala anemia umum seperti cepat lelah dan selalu lemas, kulit pucat, dan susah bernapas lega. Lantas, langkah pencegahan seperti apa yang tepat agar bisa terhindar dari anemia?

Apa saja langkah-langkah pencegahan anemia?

jenis anemia

Ketika didagnosis anemia, tubuh Anda tidak mendapatkan cukup darah yang mengandung banyak oksigen. Akibatnya, Anda mungkin merasa cepat lelah atau lemah, serta mudah pusing atau sakit kepala.

Setiap jenis anemia memiliki gejala yang bisa melemahkan dan mengganggu aktivitas harian, bahkan bisa menyebabkan komplikasi anemia.

Meski terdapat beberapa pilihan pilihan pengobatan kurang darah, mencegah anemia tentu jauh lebih baik daripada harus mengatasinya. Berikut adalah beberapa langkah pencegahan anemia yang bisa Anda lakukan:

1. Makan makanan kaya zat besi

Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk menghasilkan hemoglobin di dalam sel darah merah. Hemoglobin adalah zat yang memberi warna merah dan memungkinkan sel darah membawa oksigen ke seluruh tubuh Anda.

Maka dari itu, memperbanyak makan makanan tinggi zat besi bisa menjadi salah satu upaya pencegahan anemia yang cukup mudah dilakukan. Beberapa makanan yang mengandung zat besi, antara lain:

  • Daging tanpa lemak
  • Telur
  • Sayuran hijau, seperti bayam dan sawi
  • Sereal yang diperkaya zat besi

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan Indonesia, orang dewasa setidaknya butuh 26 mg zat besi per hari untuk mencegah anemia kambuh.

2. Makan makanan mengandung vitamin B12

Cara lain untuk mencegah anemia adalah dengan makan makanan tinggi vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi penting yang dapat membantu menjaga kesehatan saraf, membuat DNA, dan berperan penting dalam pembentukan sel darah merah sehat.

Masih mengutip tabel AKG milik Kemenkes, orang dewasa disarankan mencukupi kebutuhan vitamin B12 sebanyak 2,6 mcg setiap hari sebagai langkah pencegahan anemia.

Sumber vitamin B12 bisa Anda dapatkan dari makanan, seperti:

  • Hati hewan, seperti sapi dan ayam
  • Kerang laut
  • Ikan
  • Daging
  • Unggas
  • Telur
  • Susu dan produk susu lainnya yang mengandung vitamin B12

3. Makan makanan mengandung asam folat

Asam folat (vitamin B9) membantu tubuh membuat sel-sel baru, termasuk sel darah merah baru untuk menggantikan sel darah merah yang mati. Itu sebabnya, asam folat menjadi salah satu nutrisi penting untuk mencegah anemia.

Makanan yang mengandung asam folat bisa Anda dapatkan dari:

  • Sayuran berdaun hijau, seperti bayam
  • Buah jeruk
  • Kacang polong
  • Roti
  • Sereal
  • Nasi
  • Pasta

4. Mengonsumsi makanan mengandung vitamin C

Sering mengonsumsi makanan atau buah yang mengandung vitamin C dapat menjadi cara mencegah anemia secara alami. Orang dewasa setidaknya butuh 75 mg vitamin C dalam sehari untuk menjaga kesehatan sel darah dan fungsi tubuh lainnya tetap sehat.

Vitamin C berperan dalam penyerapan zat besi di dalam usus halus. Inilah alasannya orang yang kekurangan vitamin C berisiko mengalami anemia.

5. Berikan susu sapi pada anak mulai 1 tahun ke atas

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), memberikan susu sapi pada bayi bisa menjadi salah satu upaya pencegahan anemia sejak dini. Namun, pastikan Anda memberikan susu sapi pada anak saat usianya—setidaknya—mulai satu tahun ke atas.

Hal ini lantaran susu formula yang terbuat dari sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah. Masih dari AAP, susu sapi juga dapat mengiritasi lapisan usus bayi sehingga memicu perdarahan dan hilangnya zat besi di dalam tubuh anak.

Meski risikonya kecil, bayi yang terlalu cepat mengonsumsi susu sapi bisa berisiko kekurangan zat besi. ASI masih menjadi asupan nutrisi terbaik untuk bayi di bawah satu tahun.

Namun, apabila karena kondisi tertentu Anda harus memberikan susu formula pada bayi yang belum genap 1 tahun, cobalah memberikan susu kedelai untuk mencegah anemia. Anda mungkin juga perlu berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan pengganti ASI yang tepat sesuai dengan kebutuhan gizi bayi Anda.

6. Berhenti minum alkohol

Menurut alcohol.org, minuman memabukkan dapat menurunkan produksi sel darah merah di sumsum tulang. Ini karena alkohol menyebabkan nutrisi dari makanan lain tidak dapat terserap tubuh dengan baik. Nutrisi yang banyak berkurang karena minum alkohol umumnya adalah vitamin B12 dan folat.

Padahal, vitamin B12 dan asam folat sangat berguna untuk memproduksi sel darah merah. Itu sebabnya, segeralah berhenti minum alkohol sebagai salah satu cara untuk mencegah anemia.

7. Masak pakai peralatan yang terbuat dari besi

Pencegahan anemia juga dapat dilakukan dengan memasak menggunakan peralatan berbahan besi (flat iron). Panci dan wajan yang terbuat dari besi akan membantu memasukkan kadar zat besi ke dalam masakan Anda.

Meskipun belum dapat dipastikan apa hubungannya, beberapa penelitian menemukan bahwa wajan atau panci dari besi dapat melepaskan zat besi dari makanan yang dimasak.

Namun tidak semua bahan masakan bisa mengeluarkan zat besi saat dimasak di wajan besi. Cara mencegah anemia ini hanya bisa dilakukan pada makanan yang rasanya asam, misalnya saus tomat dan hidangan yang diolah dengan cuka, lemon, atau jus jeruk nipis.

Upaya pencegahan anemia ini akan berdampak optimal apabila bahan masakan yang rasanya asam dimasukkan terakhir, sesaat sebelum makanan matang, dan langsung disajikan.

8. Menggunakan KB hormon

Ketidakseimbangan hormon dapat menyebabkan rahim menebal secara berlebihan. Akibatnya, Anda mengalami perdarahan menstruasi yang lebih parah. Kehilangan banyak darah selama menstruasi akhirnya membuat Anda rentan terhadap anemia.

KB hormon membantu mencegah anemia saat menstruasi dengan menyeimbangkan hormon dalam tubuh Anda. Dikutip dari Mayo Clinic, alat KB yang Anda gunakan mengandung hormon yang dapat menipiskan rahim sehingga Anda tidak mengalami perdarahan secara berlebihan.

9. Mengatasi masalah kesehatan yang menjadi penyebabnya

Perdarahan parah saat menstruasi dapat menyebabkan anemia. Oleh karena itu, mengatasi penyebab perdarahan parah, seperti tumor rahim, polip, gangguan fungsi ovarium, penggunaan KB non-hormonal, hingga kanker bisa mencegah anemia datang kembali.

Kunci mencegah anemia saat menstruasi adalah menjaga kecukupan zat besi dan mengatasi faktor penyebab menstruasi hebat.

Meski beberapa upaya pencegahan anemia di atas cukup mudah dilakukan, beberapa jenis anemia sayangnya tak dapat dicegah. Anemia akibat kelainan genetik, seperti anemia sel sabit dan thalasemia adalah contohnya.

Namun, jangan dulu berkecil hati. Cara-cara mencegah anemia di atas juga dapat membantu agar gejala yang Anda rasakan tidak kambuh ataupun memburuk. Cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter terkait keluhan Anda agar mendapatkan perawatan yang sesuai.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Menorrhagia (heavy menstrual bleeding) – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/menorrhagia/symptoms-causes/syc-20352829

Foods to Fight Iron Deficiency. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://www.eatright.org/health/wellness/preventing-illness/iron-deficiency

Iron-deficiency anemia | Womenshealth.gov. (2017). Retrieved 17 July 2020, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/iron-deficiency-anemia

(2020). Retrieved 17 July 2020, from https://peraturan.bkpm.go.id/jdih/userfiles/batang/PMK%20No.%2075%20ttg%20Angka%20Kecukupan%20Gizi%20Bangsa%20Indonesia.pdf

Folic Acid Deficiency Anemia | Michigan Medicine. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://www.uofmhealth.org/health-library/hw152337

Office of Dietary Supplements – Vitamin B12. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminB12-Consumer/

Vitamin B12 Deficiency Anemia. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/vitamin-b12-deficiency-anemia

Iron deficiency anemia – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034

Anemia and Alcohol Abuse. (2020). Retrieved 17 July 2020, from https://www.alcohol.org/effects/anemia/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Fajarina Nurin
Tanggal diperbarui 02/10/2020
x