Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling umum terjadi di dunia. Penderita yang memiliki tingkat zat besi rendah dalam tubuhnya tidak dapat memproduksi hemoglobin, protein kaya zat besi yang merupakan komponen penting dari sel darah merah yang sehat. Tanpa hemoglobin yang cukup, tubuh tidak dapat memberikan oksigen dari paru-paru ke jaringan dan organ lain.

Penderita anemia ini kerap merasa lelah, lemah, dan mungkin mengalami sesak napas pada waktu-waktu tertentu. Jika tidak diobati, anemia defisiensi besi dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung dan organ inti lainnya. Wanita hamil dengan anemia defisiensi besi memiliki risiko melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat badan yang rendah. Sementara itu, anak-anak dengan anemia defisiensi besi mengalami gangguan pertumbuhan serta masalah perilaku dan belajar.

Sekitar 20% dari total keseluruhan wanita dan 50% wanita hamil kekurangan zat besi dalam tubuh mereka. Diperkirakan sebanyak 30-70% orang di negara-negara berkembang terserang anemia defisiensi besi.

Penyebab anemia defisiensi besi

Kondisi kekurangan zat besi dalam tubuh dapat disebabkan oleh beberapa alasan:

  • Kehilangan darah. Kehilangan darah berarti kehilangan zat besi yang terkandung dalam sel-sel darah. Jika Anda tidak memiliki cukup zat besi yang tersimpan dalam tubuh dan tulang sumsum, Anda rentan terserang anemia defisiensi besi. Wanita dengan periode menstruasi yang berat juga dapat membuat kadar zat besi dalam tubuhnya menjadi rendah. Perdarahan internal dalam saluran pencernaan akibat penggunaan aspirin kronis, ulkus, polip, atau kanker, juga dapat menyebabkan anemia. Penyebab lain termasuk perdarahan karena cedera atau trauma.
  • Pola makan yang buruk. Makanan merupakan sumber zat besi yang penting, namun tubuh hanya menyerap sekitar 1 miligram (mg) untuk setiap 10-20 mg zat besi yang masuk dalam tubuh melalui makanan. Orang yang tidak mengonsumsi makanan kaya zat besi secara teratur – atau yang mengonsumsi terlalu banyak makanan yang mengganggu penyerapan zat besi – berisiko terkena anemia defisiensi besi.
  • Perubahan bentuk tubuh. Pertumbuhan remaja yang pesat ataupun kehamilan dapat meningkatkan produksi sel darah merah yang justru menguras zat besi dalam tubuh.
  • Kesulitan menyerap zat besi. Kondisi medis, seperti penyakit celiac atau penyakit Crohn, dapat menghambat penyerapan zat besi oleh tubuh. Operasi bypass lambung juga bisa mengganggu penyerapan zat besi karena terlalu banyak menggunakan antasida.

Berdasarkan penyebab yang sudah dipaparkan di atas, terbagi beberapa kelompok yang berisiko tertinggi terkena anemia defisiensi besi. Kelompok tersebut meliputi:

  • Anak-anak yang mengalami lonjakan pertumbuhan
  • Orang yang tidak mendapatkan cukup zat besi akibat pola makan yang buruk
  • Wanita hamil atau menyusui
  • Wanita dengan periode menstruasi yang berat
  • Orang yang memiliki ulkus atau masalah pencernaan

Pengobatan anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi mudah diobati setelah terdeteksi. Anda mungkin akan merasa lelah dan lesu selama beberapa waktu sementara kadar zat besi tubuh Anda meningkat. Proses ini mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Pengobatan yang diberikan tergantung pada penyebabnya:

  • Kehilangan darah. Jika Anda mengalami perdarahan, dokter akan mendeteksi sumber perdarahan dan mengobatinya. Perawatan ini melibatkan obat-obatan untuk kasus ulkus atau operasi untuk kasus perdarahan polip atau tumor kanker. Wanita dengan periode menstruasi berat mungkin diberi alat kontrasepsi untuk mengurangi keparahan menstruasi.
  • Pola makan. Anda bisa dengan mudah mendapatkan lebih banyak asupan zat besi dari makanan kaya zat besi seperti daging merah, ayam, kalkun, daging babi, ikan, dan kerang. Selain itu, Anda dapat mencoba sumber non-daging yang kaya zat besi, seperti bayam, kacang, dan buah-buahan kering, meskipun tubuh cenderung lebih mudah menyerap zat besi dari daging. Anda juga dapat mengonsumsi suplemen zat besi, namun harus di bawah pengawasan dokter. Pasalnya, terlalu banyak tambahan zat besi justru dapat menjadi racun bagi tubuh. Asupan vitamin C juga perlu diperhatikan karena vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi oleh tubuh. Batasi asupan teh dan kedelai karena dapat mengganggu penyerapan zat besi.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa susu yang diperkaya dengan zat besi mampu meningkat cadangan besi pada balita non-anemia. Dalam studi yang sama, anak-anak non-anemia yang meningkatkan konsumsi daging merah mencegah penurunan kadar zat besi.

Wanita hamil dan anak-anak yang akan melalui lonjakan pertumbuhan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya zat besi untuk mencegah anemia defisiensi besi.

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca