Obesitas pada Anak: Gejala, Komplikasi, Hingga Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/07/2020 . Waktu baca 14 menit
Bagikan sekarang

Anak gemuk memang menggemaskan, tapi kondisi ini bukan berarti tidak bisa menimbulkan risiko kesehatan, seperti obesitas. Obesitas pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Bila si kecil sudah mengalami obesitas, berikut gejala, komplikasi, dan cara mengatasi kondisi kelebihan berat badan ini. Berikut penjelasannya.

Apa kondisi yang menentukan obesitas pada anak?

Dikutip dari Mayo Clinic, tidak semua anak yang kelebihan berat badan disebut obesitas. Lemak yang mengumpul di tubuh anak menjadi bekal untuk pertumbuhan dan perkembangan si kecil.

Bagi anak yang berusia kurang dari 5 tahun, berat badan ideal diukur lewat kurva yang dirancang oleh Kementerian Kesehatan Indonesia seperti di bawah ini:

Berat badan anak yang lebih dari rentang tersebut menandakan anak kelebihan berat badan atau obesitas.

Lalu, apa yang membuat anak disebut obesitas? Melansir dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak bisa disebut obesitas ketika berat badannya lebih dari +3 SD grafik pertumbuhan.

Sementara itu, dikatakan kelebihan berat badan atau overweight adalah ketika berat badan anak lebih dari +2 SD grafik pertumbuhan yang dibuat oleh WHO.

Untuk anak di atas 5 tahun, tanda ia mengalami obesitas bisa dilihat pada tabel di bawah ini, berdasarkan data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC):

Untuk menentukan siapa saja yang masuk dalam golongan berat badan sehat dan tidak sehat, diperlukan perhitungan BMI. 

Indeks massa tubuh alias BMI membandingkan berat dengan tinggi badan anak, dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.

Jika hasil perhitungan BMI anak Anda berada di rentang 23 – 29,9, ini berarti anak Anda memiliki berat badan berlebih (kecenderungan obesitas). 

Sementara jika hasil perhitungannya mencapai angka 30 ke atas, anak Anda sudah masuk ke dalam golongan obesitas. 

Untuk lebih memudahkan mencari tahu angka BMI anak, Hello Sehat menyediakan laman Kalkulator BMI yang hanya berlaku untuk anak-anak berusia di atas 5 tahun.

Kebutuhan kalori anak per hari

Pada dasarnya, kelebihan berat badan terjadi karena kalori yang masuk digunakan lebih sedikit. Untuk itu, salah satu untuk mengatasi obesitas pada anak dilakukan dengan mengurangi asupan kalori per hari. 

Namun, pengurangan kalori tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pasalnya, anak butuh makanan tinggi nutrisi sebagai penunjang pertumbuhannya.

Berikut asupan kalori per hari berdasarkan Angka Kecukupan Gizi yang ditetapkan oleh Kemenkes RI lewat Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2013:

  • Usia 0-6 bulan: 550 Kkal per hari
  • Usia 7-11 bulan: 725 Kkal per hari
  • Usia 1-3 tahun: 1125 Kkal per hari
  • Usia 4-6 tahun: 1600 Kkal per hari
  • Usia 7-9 tahun: 1850 Kkal per hari

Jika usia anak sudah 10 tahun atau lebih, kebutuhan kalorinya akan dibedakan menurut jenis kelamin, antara lain:

Anak laki-laki

  • Usia 10-12 tahun: 2100 Kkal per hari
  • Usia 13-15 tahun: 2475 Kkal per hari
  • Usia 16-18 tahun: 2675 Kkal per hari

Anak perempuan

  • Usia 10-12 tahun: 2000 Kkal per hari
  • Usia 13-15 tahun: 2125 Kkal per hari
  • Usia 16-18 tahun: 2125 Kkal per hari

Anda bisa sesuaikan asupan kalori si kecil dengan menu makanan sehat tapi tetap disukai anak.

Penyebab obesitas pada bayi dan anak

Ada banyak alasan sehingga anak bisa mengalami obesitas, yaitu:

  • Faktor genetik
  • Gaya hidup
  • Kebiasaan buruk (terlalu sering menonton tv)

Sebuah penelitian yang dilakukan selama 30 tahun di United Kingdom, menunjukkan bahwa anak yang menonton televisi setiap hari bisa membuat indeks massa tubuh naik hingga mencapai batas obesitas pada usia 30 tahun.  

Penelitian lain dilakukan di New Zealand dengan melibatkan sebanyak 1000 anak, yang diteliti dari mereka lahir hingga berusia 26 tahun.

Berbagai masalah yang timbul akibat obesitas pada anak

obesitas pada anak

Usia anak masih dalam proses pertumbuhan sehingga makanan penting untuk menunjang nutrisi anak.

Namun, terlalu banyak makan dan tidak diimbangi dengan kegiatan fisik juga tidak baik untuk kesehatan. Jika pola asupan tidak dapat diimbangi, anak akan mengalami obesitas.

Mengutip dari Mayo Clinic, obesitas pada anak adalah kondisi medis serius yang memengaruhi pertumbuhan anak-anak dan remaja.

Obesitas di masa kanak-kanak bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang biasanya hanya dialami oleh orang dewasa. Sebagai contoh, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi pada anak, dan gangguan pertumbuhan atau gagal tumbuh pada anak

Berikut penjelasan lengkap masalah yang timbul dari obesitas pada anak:

1. Komplikasi kesehatan

Pada umumnya komplikasi kesehatan akibat obesitas pada anak erat kaitannya dengan perkembangan penyakit degeneratif, di antaranya:

Gejala pradiabetes

Kondisi ini menyebabkan tubuh anak tidak dapat mencerna glukosa secara optimal dan meningkatkan kadar glukosa di dalam darah.

Jika kondisi ini terus berlangsung maka pada saat usia remaja, anak tersebut dapat menderita diabetes mellitus di usia dewasa nantinya.

Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala perkembangan penyakit degeneratif.

Sebagai contoh, tingginya tekanan darah, tingginya kadar kolesterol “jahat” atau LDL (low density lipoprotein) dan rendahnya kolesterol “baik” atau HDL (high density lipoprotein), serta penumpukan lemak di sekitar perut anak.

Gejala asma

Anak yang mengalami obesitas lebih berisiko mengalami asma. Mengutip dari Mayo Clinic, salah satu  yang menyebabkan hal ini adalah obesitas dapat menyebabkan inflamasi pada sistem kardiovaskular di mana jaringan lemak di sekitar pembuluh darah paru-paru.

Obesitas menjadi penyebab asma pada anak. Ini membuat paru-paru lebih sensitif terhadap rangsangan udara dari luar dan menyebabkan gejala asma.

Gangguan tidur

Dikenal juga dengan sleep apnea yang merupakan gangguan pernapasan yang terhenti untuk sesaat akibat penimbunan lemak pada anak yang mengalami obesitas.

Hepatic steatosis

Kondisi liver berlemak atau yang dikenal juga sebagai fatty liver disease merupakan penyebab penumpukan lemak di tubuh dan di dalam pembuluh darah. Meskipun tidak menimbulkan gejala yang serius di waktu muda namun dapat menimbulkan kerusakan liver.

Pubertas dini

Obesitas bisa menjadi penyebab pubertas dini pada anak. Ini merupakan gejala yang lebih banyak dialami oleh perempuan karena ditandai dengan menstruasi dini.

Pubertas dini merupakan tanda ketidakseimbangan hormonal yang nantinya dapat menimbulkan masalah kesehatan perempuan setelah dewasa.

2. Gangguan pertumbuhan muskuloskeletal

Mengutip dari American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), berat badan yang berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tulang, sendi, dan otot pada anak. 

Berikut beberapa gangguan kesehatan tulang yang berisiko dialami oleh anak dengan obesitas:

Slipped capital femoral epiphysis (SCFE)

SCFE merupakan kondisi tulang paha (femur) yang mundur ke belakang akibat area pertumbuhan tulang tidak dapat menahan berat badan.

Pada kasus yang serius kaki yang mengalami gangguan ini tidak dapat menahan berat badan sedikit pun. Ini membuat tulang pinggul anak bergeser dan tidak dalam posisi benar.

Penanganan Slipped Capital Femoral Epiphysis (SCFE) dilakukan 24 sampai 48 jam setelah didiagnosis oleh dokter. Pengobatannya berupa mengembalikan posisi tulang pinggul dengan memakai sekrup khusus.

Penyakit Blount

Gangguan ini ditandai dengan kaki yang bengkok akibat perubahan hormon dan tekanan yang terlalu berat pada kaki anak sedang mengalami pertumbuhan, sehingga mengalami kecacatan.

Pada kasus yang belum terlalu parah, anak yang mengalami penyakit blount bisa diperbaiki dengan memakai penyangga kaki atau orthotic. Namun tidak menutup kemungkinan dilakukan operasi untuk memperbaiki kondisi kaki yang bengkok.

Anak-anak yang mengalami obesitas memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi ketika menjalani operasi ini. Beberapa komplikasi yang akan terjadi seperti infeksi dan penyembuhan tulang yang terlambat.

Patah tulang

Obesitas pada anak membuat si kecil berisiko tinggi mengalami patah tulang. Apa alasannya? Bobot tubuh yang terlalu berat, bisa membuat tulang stres dan melemahkan kekuatan tulang itu sendiri.

Selain itu, anak yang mengalami obesitas berisiko mengalami patah tulang akibat berat badan berlebih karena tulang yang tidak terlalu kuat akibat jarang beraktivitas fisik.

Pada kasus obesitas anak yang cukup parah, pen atau besi tidak kuat untuk menopang bobot tubuh anak. Ini yang membuat perbaikan tulang anak yang obesitas sering mengalami kendala.

Flat feet

Anak yang mengalami obesitas atau kelebihan pada berat badannya, sering mengalami sakit saat berjalan. Tidak hanya itu, flat feet atau telapak kaki rata juga termasuk kondisi yang menyebabkan kaki anak sakit dan membuatnya mudah lelah ketika berjalan.

Bila ingin menurunkan berat badan, sebaiknya hindari aktivitas yang memberi tumpuan terlalu lama pada kaki. Anda bisa mengajak si kecil untuk berenang sebagai aktivitas untuk mengurangi lemak pada tubuh anak.

Gangguan koordinasi

Anak yang mengalami obesitas cenderung sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan memiliki kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk.

Gangguan koordinasi atau Developmental Coordination Disorder (DCD) ini ada beberapa kondisi yang termasuk di dalamnya, seperti koordinasi motorik kasar. 

Masalah dengan koordinasi kemampuan motorik kasar anak akibat gangguan koordinasi seperti sulit untuk berdiri dengan satu kaki, melompat.

Selain itu, obesitas pada anak bisa sebabkan masalah dengan koordinasi kemampuan motorik halus anak, seperti menulis, menggunting, mengikat tali sepatu, atau mengetuk dengan satu jari.

Gangguan koordinasi bisa membatasi kemampuan anak untuk bergerak dan ini bisa membuat anak menambah berat badannya.

3. Masalah dalam interaksi sosial

Anak yang mengalami obesitas cenderung mendapat stigma dan kurang diterima di lingkungan sosial seusianya.

Mereka juga cenderung mengalami pandangan negatif, diskriminasi, hingga perilaku bully oleh teman-temannya karena kondisi badan mereka. Padahal, dampak bullying pada anak bisa menimbulkan masalah serius.

Anak yang obesitas juga cenderung terpinggirkan dalam permainan yang membutuhkan kekuatan fisik, karena mereka bergerak cenderung lambat dibandingkan anak lain seusianya.

Kondisi sosial yang buruk seperti ini juga berpotensi mendorong mereka untuk menarik diri dari lingkungan dan lebih memilih untuk tinggal di rumah.

4. Gangguan psikologis pada anak obesitas

Gangguan psikologis dari anak dengan obesitas merupakan hasil dari stigma dan diskriminasi sosial, diantaranya:

Anak gemuk sering menjadi cemoohan di lingkungan, misalnya di sekolah atau di rumah. Tidak menutup kemungkinan obesitas pada anak bisa menimbulkan gangguan psikologis, seperti minder.

Sementara itu depresi pada anak disebabkan oleh akumulasi dari masalah psikologis yang dipicu oleh interaksi sosial. Tidak hanya menarik diri, anak yang mengalami depresi akan kehilangan semangat dalam beraktivitas.

Cara mengatasi obesitas pada anak

anak obesitas minum susu

Obesitas terjadi ketika energi yang dikonsumsi jauh lebih banyak dibanding energi atau kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Berikut beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada anak:

Mengembalikan kebiasaan makan sesuai usia

Mengatasi obesitas pada bayi usia 0-2 tahun berbeda dengan anak yang usianya lebih besar. Ini karena di masa 0-2 tahun ini, bayi sedang dalam proses pertumbuhan liner. 

Artinya, status gizi bayi di masa depan atau saat ia dewasa akan sangat ditentukan oleh kondisinya saat ini.

Jadi, yang bisa Anda lakukan saat ini untuk mengatasi obesitas pada bayi yakni dengan cara mengembalikan kebiasaan makan bayi setiap hari sesuai dengan usianya saat ini.

Ambil contohnya begini, jika usia bayi saat ini sudah masuk ke masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) tetapi porsi dan jadwal makan bayi di luar aturan normal, coba benarkan kembali.

Berikan frekuensi serta porsi makan bayi yang tepat sesuai dengan usianya. Jika nantinya asupan kalori harian bayi perlu dikurangi, biasanya dokter atau ahli gizi akan membantu merencanakannya dengan baik.

Hal ini bertujuan agar bayi tidak mengalami kekurangan zat gizi yang dapat menghambat tumbuh kembangnya. Namun, pastikan perubahan pola makan tersebut tidak membuat bayi susah makan.

 Makan makanan dengan diet seimbang

Tetap berikan anak berbagai makanan dengan menu yang seimbang. Ini terdiri dari:

  • Sayuran dan buah-buahan
  • Susu dan produk susu
  • Daging, ikan, kacang-kacangan, dan sumber protein tinggi lainnya
  • Sumber karbohidrat, seperti nasi merah, gandum atau makanan dari gandum utuh (seperti roti gandum dan sereal)

Anak-anak membutuhkan setidaknya 5 porsi sayuran dan buah-buahan setiap hari. Hal ini untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral anak. 

Hal tersebut juga untuk mencukupi kebutuhan serat anak agar terhindar dari konstipasi. Makanan sumber protein diperlukan anak untuk membangun sel-sel dalam tubuh. Sementara karbohidrat diperlukan sebagai sumber energi.

Konsumsi susu rendah gula

Untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada anak adalah membatasi pemberian gula pada makanan dan minuman si kecil. Sebagai contoh, memberikan susu rendah gula yang memiliki kandungan gizi yang lengkap.

Susu rendah gula kaya akan kandungan asam omega 3 dan 6 yang mendukung perkembangan otak dan kecerdasan anak.

Memilih susu rendah gula dan kaya nutrisi, mampu memenuhi kebutuhan gizi anak, termasuk untuk tumbuh kembang otak. Risiko obesitas karena asupan gula berlebih juga bisa dihindari dengan memberikan si kecil susu rendah gula.

Olahraga bersama

Konsumsi kalori yang terlalu banyak dan tubuh yang tidak bergerak, bisa memicu obesitas pada si kecil. Anda bisa mengatasinya dengan melakukan olahraga atau aktivitas fisik bersama anak.

Mengutip dari Kids Health, aktivitas fisik bisa membuat anak bergerak lebih aktif dan membakar kalori yang sudah dikonsumsi dalam sehari.

Kegiatan fisik yang bisa dilakukan bersama anak seperti joging santai, berenang, bersepeda, atau berjalan santai saat pagi atau sore hari.

Mengurangi asupan gula dalam sehari

Konsumsi gula yang terlalu banyak bisa memicu obesitas pada anak. Kurangi asupan gula dengan mengganti camilan yang biasanya terlalu banyak gula, seperti cokelat atau es krim, lalu diganti dengan buah.

Anda juga bisa mengurangi porsi nasi putih di waktu anak makan. Nasi putih mengandung kalori tinggi, berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, 100 gram atau satu centong nasi mengandung 100 kalori.

Ketika masuk ke dalam tubuh, kalori diubah menjadi gula. Bila tidak dikurangi, obesitas anak bisa semakin parah.

Kurangi waktu menonton TV

Menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar dapat membuat anak menjadi malas untuk bergerak. Hal ini dapat membuat anak lebih mungkin untuk mengalami kenaikan berat badan.

Oleh karena itu, Anda perlu membatasi waktu anak menonton tv, bermain video game, dan kegiatan lainnya. Sebaiknya waktu anak menonton tv tidak lebih dari dua jam dan tidak menaruh tv di kamar tidur anak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

13 Tips Makan Sehat untuk Orang yang Super Sibuk

Banyak yang mengira makan makanan sehat itu susah dan perlu banyak usaha, jadi orang yang sibuk tidak akan bisa. Padahal, kenyataannya tidak begitu.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Nutrisi, Hidup Sehat 22/07/2020 . Waktu baca 12 menit

Mengenal Diet Eliminasi (Elimination Diet) untuk Tahu Intoleransi Makanan

Diet eliminasi akan membantu Anda untuk menemukan beberapa jenis makanan yang memperburuk kondisi tubuh Anda. Seperti apa dietnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Alergi, Health Centers 05/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Cari tahu perbedaan protein susu sapi dan susu soya untuk si kecil. Pastikan kandungan susu yang ibu berikan baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
protein susu soya
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan memang bukan tugas mudah. Jangan khawatir, simak panduannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

berat badan turun bukan berarti lemak berkurang

Berat Badan Turun, Bukan Berarti Lemak Tubuh Berkurang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit
makan tidak teratur

6 Dampak Buruk Akibat Makan Tidak Teratur

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 4 menit
lemak paha sulit dihilangkan

Lemak Paha Anda Sulit Dihilangkan? Ini Penyebabnya

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor

Peran Penting Nutrisi untuk Kurangi Dampak Stunting pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit