Obesitas pada Anak, Gejala, Komplikasi, Hingga Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26/06/2020 . 11 mins read
Bagikan sekarang

Jangan salah kaprah, anak gemuk belum tentu sehat lho, Bu. Memang menggemaskan, tapi kondisi ini bukan berarti tidak bisa menimbulkan risiko kesehatan, seperti obesitas. Obesitas pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama faktor pola asuh orangtua dan pola pemberian asupan makanan. Bila si kecil sudah mengalami obesitas, berikut gejala, komplikasi, dan cara mengatasi kondisi kelebihan berat badan ini. Berikut penjelasannya.

Tanda obesitas pada anak

Dikutip dari Mayo Clinic, tidak semua anak yang kelebihan berat badan disebut obesitas. Lemak yang mengumpul di tubuh anak menjadi bekal untuk pertumbuhan dan perkembangan si kecil.

Lalu, apa yang membuat anak disebut obesitas? Melansir dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak bisa disebut obesitas ketika berat badannya lebih dari +3 SD grafik pertumbuhan.

Sementara itu, dikatakan kelebihan berat badan atau overweight adalah ketika berat badan anak lebih dari +2 SD grafik pertumbuhan yang dibuat oleh WHO.

Berbagai masalah yang timbul akibat obesitas pada anak

obesitas pada anak

Usia anak masih dalam proses pertumbuhan. Maka ketika si kecil banyak makan, itu momen yang sangat penting untuk menunjang nutrisi anak yang penting untuk masuk ke dalam tubuh.

Namun, terlalu banyak makan dan tidak diimbangi dengan kegiatan fisik juga tidak baik untuk kesehatan. Jika pola asupan tidak dapat diimbangi, anak akan mengalami obesitas.

Mengutip dari Mayo Clinic, obesitas pada anak adalah kondisi medis serius yang memengaruhi pertumbuhan anak-anak dan remaja.

Obesitas di masa kanak-kanak bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang biasanya hanya dialami oleh orang dewasa. Sebagai contoh, tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi pada anak.

Ketika mengalami obesitas di masa kanak-kanak, ia kemungkinan akan mengalami hal yang sama di usia dewasa bila diperkuat dengan faktor genetik. Sebagai contoh, ayah atau ibunya cenderung gemuk.

Selain itu, obesitas berisiko membuatnya mengalami gangguan pertumbuhan atau gagal tumbuh pada anak. Hal ini ditandai dengan kelebihan lemak yang dapat terlihat jelas permukaan tubuh yang melebihi proporsi tinggi badan dan usianya. 

Akibatnya terdapat komplikasi kesehatan yang disebabkan ketidakseimbangan sistem endokrin dan gangguan sistem kardiovaskular, serta pertumbuhan tulang dan otot yang tidak optimal.

Selain itu juga sering ditemukan bahwa anak yang mengalami obesitas mengalami masalah sosial dan psikologis.

Berikut penjelasan lengkap masalah yang timbul dari obesitas pada anak:

1. Komplikasi kesehatan

Pada umumnya komplikasi kesehatan akibat obesitas pada anak erat kaitannya dengan perkembangan penyakit degeneratif, di antaranya:

Gejala pradiabetes

Kondisi ini menyebabkan tubuh anak tidak dapat mencerna glukosa secara optimal dan meningkatkan kadar glukosa di dalam darah.

Jika kondisi ini terus berlangsung maka pada saat usia remaja, anak tersebut dapat menderita diabetes mellitus di usia dewasa nantinya.

Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala perkembangan penyakit degeneratif. Sebagai contoh, tingginya tekanan darah, tingginya kadar kolesterol “jahat” atau LDL (low density lipoprotein) dan rendahnya kolesterol “baik” atau HDL (high density lipoprotein), serta penumpukan lemak di sekitar perut anak.

Gejala asma

Anak yang mengalami obesitas lebih berisiko mengalami asma. Mengutip dari Mayo Clinic, salah satu  yang menyebabkan hal ini adalah obesitas dapat menyebabkan inflamasi pada sistem kardiovaskular di mana jaringan lemak di sekitar pembuluh darah paru-paru.

Obesitas menjadi penyebab asma pada anak. Ini membuat paru-paru lebih sensitif terhadap rangsangan udara dari luar dan menyebabkan gejala asma.

Gangguan tidur

Dikenal juga dengan sleep apnea yang merupakan gangguan pernapasan yang terhenti untuk sesaat akibat penimbunan lemak pada anak yang mengalami obesitas.

Hepatic steatosis

Kondisi liver berlemak atau yang dikenal juga sebagai fatty liver disease merupakan penyebab penumpukan lemak di tubuh dan di dalam pembuluh darah. Meskipun tidak menimbulkan gejala yang serius di waktu muda namun dapat menimbulkan kerusakan liver.

Pubertas dini

Obesitas bisa menjadi penyebab pubertas dini pada anak. Ini merupakan gejala yang lebih banyak dialami oleh perempuan karena ditandai dengan menstruasi dini.

Pubertas dini merupakan tanda ketidakseimbangan hormonal yang nantinya dapat menimbulkan masalah kesehatan perempuan setelah dewasa.

2. Gangguan pertumbuhan muskuloskeletal

Mengutip dari American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), berat badan yang berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tulang, sendi, dan otot pada anak. 

Pada masa anak-anak, tulang dan sendi sedang mengalami pertumbuhan sehingga belum memiliki bentuk dan kekuatan yang optimal.

Apabila seorang anak mengalami berat badan berlebih maka akan merusak area pertumbuhan tulang dan dapat mencederai tulang.

Berikut beberapa gangguan kesehatan tulang yang berisiko dialami oleh anak dengan obesitas:

Slipped capital femoral epiphysis (SCFE)

SCFE merupakan kondisi tulang paha (femur) yang mundur ke belakang akibat area pertumbuhan tulang tidak dapat menahan berat badan.

Pada kasus yang serius kaki yang mengalami gangguan ini tidak dapat menahan berat badan sedikit pun. Ini membuat tulang pinggul anak bergeser dan tidak dalam posisi benar.

Penanganan Slipped Capital Femoral Epiphysis (SCFE) dilakukan 24 sampai 48 jam setelah didiagnosis oleh dokter. Pengobatannya berupa mengembalikan posisi tulang pinggul dengan memakai sekrup khusus.

Penyakit Blount

Gangguan ini ditandai dengan kaki yang bengkok akibat perubahan hormon dan tekanan yang terlalu berat pada kaki anak sedang mengalami pertumbuhan, sehingga mengalami kecacatan.

Pada kasus yang belum terlalu parah, anak yang mengalami penyakit blount bisa diperbaiki dengan memakai penyangga kaki atau orthotic. Namun tidak menutup kemungkinan dilakukan operasi untuk memperbaiki kondisi kaki yang bengkok.

Anak-anak yang mengalami obesitas memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi ketika menjalani operasi ini. Beberapa komplikasi yang akan terjadi seperti infeksi dan penyembuhan tulang yang terlambat.

Patah tulang

Obesitas pada anak membuat si kecil berisiko tinggi mengalami patah tulang. Apa alasannya? Bobot tubuh yang terlalu berat, bisa membuat tulang stres dan melemahkan kekuatan tulang itu sendiri.

Selain itu, anak yang mengalami obesitas berisiko mengalami patah tulang akibat berat badan berlebih karena tulang yang tidak terlalu kuat akibat jarang beraktivitas fisik.

Pada kasus obesitas anak yang cukup parah, pen atau besi tidak kuat untuk menopang bobot tubuh anak. Ini yang membuat perbaikan tulang anak yang obesitas sering mengalami kendala.

Flat feet

Anak yang mengalami obesitas atau kelebihan pada berat badannya, sering mengalami sakit saat berjalan. Tidak hanya itu, flat feet atau telapak kaki rata juga termasuk kondisi yang menyebabkan kaki anak sakit dan membuatnya mudah lelah ketika berjalan.

Bila ingin menurunkan berat badan, sebaiknya hindari aktivitas yang memberi tumpuan terlalu lama pada kaki. Anda bisa mengajak si kecil untuk berenang sebagai aktivitas untuk mengurangi lemak pada tubuh anak.

Gangguan koordinasi

Anak yang mengalami obesitas cenderung sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan memiliki kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk.

Gangguan koordinasi atau Developmental Coordination Disorder (DCD) ini ada beberapa kondisi yang termasuk di dalamnya, seperti koordinasi motorik kasar. 

Masalah dengan koordinasi kemampuan motorik kasar anak akibat gangguan koordinasi seperti sulit untuk berdiri dengan satu kaki, melompat.

Selain itu, obesitas pada anak bisa sebabkan masalah dengan koordinasi kemampuan motorik halus anak, seperti menulis, menggunting, mengikat tali sepatu, atau mengetuk dengan satu jari.

Gangguan koordinasi bisa membatasi kemampuan anak untuk bergerak dan ini bisa membuat anak menambah berat badannya.

3. Masalah dalam interaksi sosial

Anak yang mengalami obesitas cenderung mendapat stigma dan kurang diterima di lingkungan sosial seusianya. Mereka juga cenderung mengalami pandangan negatif, diskriminasi, hingga perilaku bully oleh teman-temannya karena kondisi badan mereka. Padahal, dampak bullying pada anak bisa menimbulkan masalah serius.

Anak yang obesitas juga cenderung terpinggirkan dalam permainan yang membutuhkan kekuatan fisik, karena mereka bergerak cenderung lambat dibandingkan anak lain seusianya.

Kondisi sosial yang buruk seperti ini juga berpotensi mendorong mereka untuk menarik diri dari lingkungan dan lebih memilih untuk tinggal di rumah.

Jumlah teman yang lebih sedikit maka akan lebih sedikit aktivitas di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas sendetari sehingga mengurangi waktu mereka untuk beraktivitas fisik.

4. Gangguan psikologis pada anak obesitas

Gangguan psikologis dari anak dengan obesitas merupakan hasil dari stigma dan diskriminasi sosial, diantaranya:

Minder

Anak gemuk sering menjadi cemoohan di lingkungan, misalnya di sekolah atau di rumah. Tidak menutup kemungkinan obesitas pada anak bisa menimbulkan gangguan psikologis, seperti minder.

Ini merupakan kecenderungan merasa rendah diri bahkan kehilangan rasa percaya diri akibat body image yang dimiliki. Perlu melakukan beberapa cara membangun percaya diri pada anak.

Masalah perilaku dan gangguan belajar

Anak yang obesitas cenderung memiliki kecemasan dan menarik diri di lingkungan sosial, misalnya lingkungan sekolah. Hal ini dapat berdampak kepada kemampuan akademik di sekolah. 

Depresi

Depresi pada anak disebabkan oleh akumulasi dari masalah psikologis yang dipicu oleh interaksi sosial. Tidak hanya menarik diri, anak yang mengalami depresi akan kehilangan semangat dalam beraktivitas. Masalah depresi pada anak sama beratnya dengan depresi pada orang dewasa.

Dampak dari lemak tubuh berlebih pada anak tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan tetapi juga membatasi anak untuk berinteraksi serta pertumbuhan mental anak yang kurang optimal.

Cara mengatasi obesitas pada anak

anak obesitas minum susu

Obesitas pada anak bisa terjadi karena pola makan yang tidak tepat dan aktivitas sehari-hari yang kurang bergerak. Kombinasi antara makan yang terlalu banyak dan tubuh yang kurang bergerak, bisa memicu obesitas pada si kecil.

Obesitas terjadi ketika energi yang dikonsumsi jauh lebih banyak dibanding energi atau kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Berikut beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada anak:

Konsumsi susu rendah gula

Cara pertama untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada anak adalah membatasi pemberian gula pada makanan dan minuman si kecil. Sebagai contoh, memberikan susu rendah gula yang memiliki kandungan gizi yang lengkap.

Susu rendah gula kaya akan kandungan asam omega 3 dan 6 yang mendukung perkembangan otak dan kecerdasan anak.

Memilih susu rendah gula dan kaya nutrisi, mampu memenuhi kebutuhan gizi anak, termasuk untuk tumbuh kembang otak. Risiko obesitas karena asupan gula berlebih juga bisa dihindari dengan memberikan si kecil susu rendah gula.

Olahraga bersama

Konsumsi kalori yang terlalu banyak dan tubuh yang tidak bergerak, bisa memicu obesitas pada si kecil. Anda bisa mengatasinya dengan melakukan olahraga atau aktivitas fisik bersama anak.

Mengutip dari WebMD, aktivitas fisik bisa membuat anak bergerak lebih aktif dan membakar kalori yang sudah dikonsumsi dalam sehari.

Kegiatan fisik yang bisa dilakukan bersama anak seperti joging santai, berenang, bersepeda, atau berjalan santai saat pagi atau sore hari.

Mengurangi asupan gula dalam sehari

Konsumsi gula yang terlalu banyak bisa memicu obesitas pada anak. Kurangi asupan gula dengan mengganti camilan yang biasanya terlalu banyak gula, seperti cokelat atau es krim, lalu diganti dengan buah.

Anda juga bisa mengurangi porsi nasi putih di waktu anak makan. Nasi putih mengandung kalori tinggi, berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, 100 gram atau satu centong nasi mengandung 100 kalori.

Ketika masuk ke dalam tubuh, kalori diubah menjadi gula. Bila tidak dikurangi, obesitas anak bisa semakin parah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Kadar kolesterol tinggi bisa menghantui siapa pun. Pelajari sekarang juga apa itu kolesterol dan semua pertanyaan seputar kolesterol yang sering diajukan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 22/06/2020 . 5 menit baca

10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

Anda sering merasa lapar atau ingin mengunyah sesuatu meski sudah makan? Sudah saatnya mencoba menu makanan berikut ini agar Anda tidak cepat lapar.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 21/06/2020 . 5 menit baca

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Benarkah frozen yogurt memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dari es krim? Cari tahu di sini untuk memastikan apakah frozen yogurt memang lebih sehat.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 17/06/2020 . 5 menit baca

Yang Perlu Anda Tahu Seputar Pangan Rekayasa Genetika

Sudah saatnya kita meluruskan isu-isu seputar pangan rekayasa genetika (PRG) atau genetically modified foods yang penuh kontroversi ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 15/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

diet eliminasi

Mengenal Diet Eliminasi (Elimination Diet) untuk Tahu Intoleransi Makanan

Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 05/07/2020 . 5 menit baca
protein susu soya

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 6 menit baca
menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 10 menit baca
nutrisi untuk anak aktif

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . 6 menit baca