Anak Gemuk Berisiko Mengalami Obesitas Saat Dewasa

Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 02/02/2018
Bagikan sekarang

Obesitas saat ini menjadi masalah penting di dunia kesehatan. Dampaknya terhadap masalah kesehatan sangat besar. Obesitas meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, diabetes mellitus (kencing manis), penyakit sendi, dan juga kanker. Jika terjadi pada anak, obesitas juga bisa menyebabkan masalah lain yang merugikan kualitas hidup anak seperti gangguan tidur, gangguan pertumbuhan anggota gerak kaki.

Selain itu, dalam kehidupan sosial, obesitas membuat orang menjadi merasa kurang percaya diri. Banyak orang berlomba melakukan diet untuk menjaga bentuk tubuh ideal.

Cukup sulit bagi seseorang untuk mengembalikan berat badan menjadi ideal saat sudah obesitas. Karena itu, sebenarnya intervensi harus dimulai saat masih masa kanak-kanak. Sayangnya masih banyak orangtua yang menganggap bahwa anak gemuk itu menggemaskan, sehingga si kecil dibiarkan saja tetap gemuk bahkan hingga ia beranjak remaja.

Kapan seseorang disebut obesitas?

Penentuan status gizi dilakukan dengan menghitung indeks masa tubuh (IMT) alias Body Mass Index (BMI) yang menggunakan rumus berat badan dalam kilogram dibagi dengan (tinggi badan)2 dalam meter. Disebut gemuk jika hasil IMT di atas 25 dan disebut obesitas jika IMT di atas 30.

Untuk mengetahui berapa indeks massa tubuh Anda, silakan cek di Kalkulator BMI ini, atau klik link bit.ly/indeksmassatubuh

Mengapa obesitas bisa terjadi?

Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan jumlah kalori yang dikonsumsi, dengan energi yang dikeluarkan tubuh. Kegemukan juga bisa terjadi akibat pola makan yang salah, yaitu mengonsumsi makanan dalam porsi besar, tinggi lemak, tinggi karbohidrat, namun rendah serat dan tidak kaya akan vitamin dan mineral.

Hal ini juga diperburuk dengan aktivitas fisik yang kurang. Faktor lain seperti faktor genetik juga dianggap berperan dalam terjadinya obesitas.

Kegemukan pada anak bisa berlanjut hingga dewasa

Beberapa penelitian menunjukan bahwa anak-anak dan remaja yang mengalami kegemukan, berisiko 2 kali lipat untuk mengalami obesitas saat dewasa dibandingkan dengan anak-anak yang semasa kecil tidak obesitas.

Mempertahankan berat badan ideal saat masa kanak-kanak dan remaja dapat mengurangi risiko terjadinya obesitas saat dewasa.

Bagaimana cara mencegah obesitas pada anak?

Tidak seperti orang dewasa yang dapat memilih makanan, anak dan remaja lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan pada saat memilih makanan. Pada anak, faktor utama penyebab obesitas adalah orang tua yang memberikan makanan dalam porsi berlebihan. Hal ini akan menyebabkan proses penambahan berat badan yang sangat cepat. Orang tua berperan penting dalam memilihkan makanan yang akan dikonsumsi oleh anak serta mengatur aktivitas fisik harian anak.

Berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan Departemen Kesehatan untuk pencegahan obesitas:

  • Konsumsi buah dan sayur lebih dari 5 porsi sehari.
  • Kurangi makanan dan minuman manis.
  • Kurangi makanan berlemak dan gorengan.
  • Biasakan makan pagi dan membawa makanan bekal ke sekolah.
  • Biasakan makan bersama keluarga minimal satu kali sehari.
  • Makan sesuai waktunya.
  • Batasi menonton TV, bermain komputer, game/playstation menjadi kurang dari 2 jam per hari.
  • Tidak menyediakan TV di kamar anak.
  • Tingkatkan aktivitas fisik minimal satu jam per hari.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Slowing BMI in Youth Could Prevent Obesity. https://www.medscape.com/viewarticle/890409?nlid=119712_430&src=WNL_mdplsfeat_171226_mscpedit_fmed&uac=226945CN&spon=34&impID=1519220&faf=1#vp_1 Diakses pada 22 Januari 2018

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada Anak Sekolah. Jakarta:2012.

Childhood Overweight and Obesity. http://www.who.int/dietphysicalactivity/childhood/en/ Diakses pada 22 Januari 2018

dr. Deiby Sihombing adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya Jakarta. Saat ini bekerja di salah satu klinik kecantikan di Jakarta.

Artikel dari ahli dr. Deiby Sihombing

Minum Antibiotik Terlalu Lama Lewat dari Resep Dokter, Tingkatkan Risiko Batu Ginjal Pada Anak

Batu ginjal dulu adalah penyakitnya orang tua. Namun sekarang, makin banyak anak yang kena batu ginjal. Antibiotik jadi penyebab batu ginjal pada anak.

Ditulis oleh: dr. Deiby Sihombing
Minum Antibiotik Terlalu Lama Lewat dari Resep Dokter, Tingkatkan Risiko Batu Ginjal Pada Anak

6 Manfaat Hebat Ekstrak Kulit Kayu Pinus Bagi Kesehatan

Kulit kayu pinus ternyata mengandung antioksidan dan sejumlah senyawa baik lainnya. Yuk, cari tahu apa saja manfaatnya bagi tubuh!

Ditulis oleh: dr. Deiby Sihombing
6 Manfaat Hebat Ekstrak Kulit Kayu Pinus Bagi Kesehatan

Apakah Atlet Perlu Minum Suplemen untuk Meningkatkan Performanya?

Untuk meningkatkan performa, beragam cara ditempuh para atlet. Salah satunya dengan minum suplemen. Namun, apakah suplemen untuk atlet penting dan manjur?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Deiby Sihombing
Apakah Atlet Perlu Minum Suplemen untuk Meningkatkan Performanya?
READ MORE FROM dr. Deiby Sihombing

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Anak Obesitas Masih Boleh Makan Makanan Berlemak?

Lemak identik dengan berat badan yang bertambah. Jika demikian, bolehkah anak yang mengalami obesitas makan makanan mengandung lemak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

3 Manfaat Penting Buah dan Sayur Bagi Anak yang Sayang Jika Dilewatkan

Makanan tinggi serat penting untuk tumbuh kembang anak. Memang, apa saja manfaatnya makan sayur dan buah untuk bayi yang perlu orangtua tahu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Cara Mengukur Lingkar Perut yang Benar

Kesehatan tubuh bisa dideteksi lewat seberapa lebar lingkar perut Anda, lho! Yuk, cari tahu cara mengukur lingkar perut yang benar di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Apakah Pemanis Buatan Aman Dikonsumsi Anak-anak?

Pemanis buatan hadir dalam berbagai camilan kegemaran anak-anak. Lantas, apa saja bahaya pemanis buatan untuk kesehatan anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
dr. Deiby Sihombing adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya Jakarta. Saat ini bekerja di salah satu klinik kecantikan di Jakarta.

Direkomendasikan untuk Anda

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 09/05/2020
Benarkah Ada Bahaya Minum Bubble Tea untuk Kesehatan?

Benarkah Ada Bahaya Minum Bubble Tea untuk Kesehatan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 11/03/2020
Obesitas Pada Anak Bisa Memengaruhi Perkembangan Otaknya

Obesitas Pada Anak Bisa Memengaruhi Perkembangan Otaknya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020
Si Kecil Gila Cokelat di Hari Natal? Batasi Asupannya ya, Bu!

Si Kecil Gila Cokelat di Hari Natal? Batasi Asupannya ya, Bu!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 25/12/2019