Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Lho!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Tidak selamanya anak gemuk selalu sehat. Anda sebagai ibu mungkin senang memiliki anak yang gemuk, mungkin Anda berpikir bahwa Anda sukses memberinya makan dan mendukung pertumbuhannya. Orang di sekeliling anak Anda pun juga senang melihat anak Anda yang lucu dan menggemaskan. Eits.. tapi tunggu dulu, anak gemuk bukan berarti menjadi tanda bahwa anak tersebut sehat.

Risiko kesehatan yang dihadapi anak gemuk

Banyak risiko kesehatan yang ditimbulkan jika anak terlalu gemuk, baik risiko kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang, di antaranya adalah:

1. Diabetes mellitus tipe 2

Anak gemuk atau obesitas meningkatkan risiko gangguan toleransi glukosa, sehingga anak yang gemuk memiliki risiko untuk terjangkit penyakit diabetes mellitus tipe 2 suatu saat nanti. Penelitian oleh National Health and Nutrition Examination Survey 2005-2006 di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tingkat pre-diabetes pada anak yang kelebihan berat badan (overweight) sebesar 2,6 kali lebih tinggi daripada anak yang memiliki berat badan normal. Penelitian oleh National Longitudinal Study of Adolescent Health juga menunjukkan bahwa risiko diabetes lebih tinggi pada orang dewasa yang pada masa remajanya obesitas dibandingkan dengan dewasa yang baru obesitas.

2. Asma

Biasanya anak gemuk mengalami masalah pernapasan, salah satunya adalah asma. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang kelebihan berat badan atau obesitas mempunyai risiko asma sebesar 40-50% lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal. Penelitian lain yang dilakukan pada anak dan remaja usia 6-19 tahun menunjukkan bahwa Indeks Massa Tubuh (IMT) yang tinggi mempengaruhi pengembangan penyakit asma dan juga dapat menyebabkan penyakit asma yang lebih parah.

3. Obstructive Sleep Apnea

Penelitian yang menghubungkan obesitas dengan obstructive sleep apnea menunjukkan bahwa prevalensi obstructive sleep apnea pada anak dan remaja obesitas bisa mencapai 60%. Sebuah penelitian di Taiwan menunjukkan bahwa risiko obstructive sleep apnea lebih tinggi pada anak yang mengalami obesitas daripada anak yang mempunyai berat badan normal. Obstructive sleep apnea adalah gangguan pernapasan yang terjadi pada saat tidur, di mana napas terkadang berhenti mendadak selama beberapa detik saat seseorang sedang tidur.

4. Faktor risiko penyakit jantung

Penelitian Bogalusa Heart Study di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 70% anak usia 5-17 tahun yang obesitas ditemukan memiliki setidaknya satu faktor risiko untuk dapat menderita penyakit jantung. Faktor risiko penyakit jantung yang dapat ditemui pada anak obesitas adalah kadar kolesterol yang tinggi, tekanan darah tinggi, dan kelainan dalam toleransi glukosa. Penelitian lain menyimpulkan bahwa anak obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung pada saat ia dewasa, tetapi juga berhubungan dengan kerusakan jantung selama masa anak-anak.

5. Gangguan kesehatan mental

Tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah, rendah diri, tidak puas dengan tubuhnya, dan gangguan perilaku makan merupakan beberapa faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental pada anak gemuk. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko rendah diri yang berhubungan dengan gangguan kualitas hidup pada anak obesitas. Penelitian yang dilakukan oleh Millennium Cohort Study menunjukkan bahwa obesitas pada anak berhubungan dengan masalah emosional dan perilaku dari usia sangat muda, dengan anak laki-laki yang obesitas memiliki risiko tertentu.

7. Masalah pada otot dan tulang

Kelebihan berat badan memberikan tekanan yang lebih besar pada sistem otot dan tulang. Sehingga, banyak anak gemuk yang mempunyai keluhan pada otot dan tulang. Penelitian pada anak usia 2-17 tahun di Belanda menunjukkan bahwa anak yang mempunyai kelebihan berat badan atau obesitas lebih sering mengalami masalah otot dan tulang, terutama pada bagian bawah tubuh, dibandingkan dengan teman sebayanya yang memiliki berat badan normal. Nyeri pada otot dan tulang ditemukan lebih banyak pada anak yang mengalami kelebihan berat badan.

Bagaimana cara mencegah dan mengatasi kegemukan pada anak?

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebesar 11,9% anak balita memiliki status gizi gemuk. Jumlah ini lebih besar daripada anak balita yang kurus. Tampaknya masalah gizi bukan hanya seputar balita kurus saja, tetapi juga balita gemuk.

Kegemukan pada anak terjadi karena energi yang masuk melebihi energi yang keluar, sehingga energi tersebut disimpan dalam tubuh. Terlalu banyak makan dan aktivitas fisik yang sedikit menyebabkan anak mengalami kenaikan berat badan dan pada akhirnya anak akan gemuk dan obesitas.

Pada masa pertumbuhan, sebaiknya anak mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Biasanya, anak jarang bahkan tidak suka makan buah-buahan dan sayuran, padahal kedua jenis makanan ini sangat penting diberikan untuk anak. Batasi juga anak dalam mengonsumsi makanan dan minuman ringan, kebanyakan produk ini mengandung banyak kalori tetapi nol zat gizi. Selain itu, biasakan anak untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari untuk menjaga kebugaran tubuh anak.

Bagaimana mengetahui anak saya gemuk atau normal?

Anak gemuk atau anak kurus tidak hanya dilihat dari bentuk badannya saja. Bisa saja anak tersebut terlihat kurus atau terlihat gemuk, tetapi sebenarnya masih memiliki rentang berat badan yang normal.

Untuk mengetahui anak Anda termasuk gemuk atau kurus, Anda dapat melihat grafik pertumbuhan di Kartu Menuju Sehat (KMS) anak (untuk anak usia di bawah 5 tahun). Jika grafik mengikuti garis hijau artinya anak Anda memiliki berat badan normal, jika  berada di atas garis hijau artinya anak memiliki berat badan berlebih, dan jika berada di bawah garis hijau artinya anak memiliki berat badan kurang.

Oleh karena itu, sebaiknya bawa anak ke Posyandu, Puskesmas, bidan, atau dokter setiap bulan untuk melakukan penimbangan berat badan. Ini bertujuan untuk mengetahui status gizi yang dimiliki anak dan juga untuk mengetahui seberapa jauh pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak setiap bulannya.

BACA JUGA

Sumber
Yang juga perlu Anda baca