Bagaimana Cara Mengetahui Jika Anak Saya Obesitas?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 04/01/2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setiap orangtua ingin memastikan anak mereka makan banyak agar tumbuh menjadi anak yang sehat. Namun, tidak selamanya anak gemuk selalu sehat. Banyak risiko kesehatan yang mungkin terjadi jika anak kegemukan. Lantas, apa saja risiko yang dihadapi oleh anak obesitas dan bagaimana cara orangtua mengetahui jika anaknya mengalami obesitas?

Sekilas tentang obesitas pada anak

Ada banyak faktor penyebab anak obesitas. Hal yang paling umum adalah faktor genetik, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, atau kombinasi dari ketiga faktor ini. Namun, terdapat kasus spesial, seperti faktor masalah medis (gangguan hormon endokrin) yang dapat menyebabkan anak mengalami kegemukan.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016, jumlah anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami kelebihan berat badan (overweight) mencapai lebih dari 41 juta anak di seluruh dunia. Setengah dari populasi anak obesitas ini berasal dari negara-negara di Asia, termasuk juga Indonesia.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI, kasus obesitas anak Indonesia paling banyak ditemukan pada rentang usia 5-12 tahun. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) milik Kemenkes menunjukkan peningkatan angka yang cukup drastis, dari 18,8% kasus anak obesitas di tahun 2007 dan kemudian melonjak pada tahun 2013 mencapai angka 26,6%.

Sampai batas mana anak bisa dibilang kegemukan (obesitas)?

Berat badan yang ideal untuk setiap anak tentu berbeda-beda. Idealnya berat badan anak akan terus naik mengikuti bertambahnya tinggi badan. Namun, hanya sebagai gambaran, Anda bisa memerhatikan tabel rata-rata tinggi dan berat badan anak berdasarkan usianya di bawah ini. Data berikut diperoleh dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), yang setara dengan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat.

Untuk menentukan siapa saja yang masuk dalam golongan berat badan sehat dan tidak sehat, diperlukan perhitungan BMI. Indeks massa tubuh alias BMI membandingkan berat badan Anda dengan tinggi badan Anda, dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.

Jika hasil perhitungan BMI anak Anda berada di rentang 23 – 29,9, ini berarti anak Anda memiliki berat badan berlebih (kecenderungan obesitas). Sementara jika hasil perhitungannya mencapai angka 30 ke atas, anak Anda sudah masuk ke dalam golongan obesitas. Untuk lebih memudahkan Anda mencari tahu angka BMI anak Anda, Hello Sehat sudah menyediakan laman Kalkulator BMI khusus yang dapat Anda coba. Perhitungan BMI hanya berlaku untuk anak-anak berusia di atas 5 tahun.

Bagi anak yang berusia kurang dari 5 tahun, berat badan ideal diukur lewat kurva yang dirancang oleh Kementerian Kesehatan Indonesia seperti di bawah ini:

Berat badan anak yang lebih dari rentang tersebut menandakan anak kelebihan berat badan atau obesitas.

Apa saja tanda-tanda dan gejala anak obesitas?

Tidak ada tanda atau gejala pasti dari obesitas pada anak. Memang, pada dasarnya anak akan terlihat lebih gemuk dan lebih besar daripada anak lain seusianya. Meski begitu, penyebaran lemak tubuh bisa berbeda-beda di setiap anak. Terlebih, bisa saja anak Anda memang memiliki postur badan yang tinggi besar secara genetik.

Cara satu-satunya untuk memastikan apakah anak Anda kegemukan adalah dengan rutin memeriksakan anak ke dokter atau Puskesmas untuk memantau tinggi dan berat badannya sesuai grafik tumbuh kembangnya di KMS. Jika grafik sudah mengikuti garis hijau artinya anak Anda memiliki berat badan normal, tapi jika berada di atas garis hijau artinya anak memiliki berat badan berlebih.

Di Indonesia, anak sudah bisa dibilang obesitas jika perbandingan antara berat badan dan usia anak mencapai lebih dari 3 standar deviasi yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS) yang Anda miliki.

Apa saja risiko kesehatan yang mungkin dialami oleh anak obesitas?

Jangan sepelekan berat badan anak yang tidak ideal. Anak dan remaja yang kelebihan berat badan atau obesitas akan lebih rentan mengalami diabetes (kencing manis), kolesterol tinggi, penyakit jantung, tekanan darah tinggi (hipertensi), hingga kanker ketika mereka dewasa nanti.

Komplikasi kesehatan lainnya dari obesitas pada anak juga dapat mencakup asma, sleep apnea, perlemakan hati, pubertas dini, gangguan koordinasi (sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk), hingga masalah psikologis seperti rasa rendah diri hingga depresi. Terlebih, angka kematian akibat obesitas pada anak kini bisa mencapai angka 2,6 juta kasus.

Bagaimana cara mencegah dan mengatasi kegemukan pada anak?

Pada masa pertumbuhan, sebaiknya anak mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Biasakan juga anak-anak Anda untuk makan buah-buahan dan sayuran. Batasi konsumsi makanan dan minuman manis.

Selain itu, biasakan anak untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Anda bisa mengajak anak bermain di taman, berenang, berlari, hingga bersepeda setiap akhir pekan. Batasi waktu anak untuk menonton TV ataupun bermain games.

Untuk membantu mencapai target berat badan ideal dan pola makan yang sehat, konsultasikan lebih lanjut ke ahli gizi dan dokter anak Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa yang Harus Diakukan Jika Anak Step (Kejang Demam)

Wajar bila orangtua panik saat bayi atau balitanya mendadak step alias kejang saat demam. Tapi sebenarnya, kondisi ini tak seburuk kelihatannya, kok.

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Parenting, Tips Parenting 21/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Belum lagi cacingan diduga bisa jadi penyebab stunting pada anak. Cari tahu lebih jauh, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Konten Bersponsor
penyebab stunting
Kesehatan Anak, Parenting 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Cari tahu perbedaan protein susu sapi dan susu soya untuk si kecil. Pastikan kandungan susu yang ibu berikan baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
protein susu soya
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan memang bukan tugas mudah. Jangan khawatir, simak panduannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tips melatih anak belajar tengkurap

5 Cara Mudah Melatih Si Kecil Belajar Tengkurap

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor

Peran Penting Nutrisi untuk Kurangi Dampak Stunting pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit
bayi demam naik turun

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit
mengatasi anak step kejang demam saat anak kejang

Yang Harus Anda Lakukan Saat Anak Anda Kejang

Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 4 menit