Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kata Penelitian, Sejak Usia 2-6 Tahun Anak Berisiko Obesitas Bahkan Hingga Dewasa

Kata Penelitian, Sejak Usia 2-6 Tahun Anak Berisiko Obesitas Bahkan Hingga Dewasa

Banyak yang berpikiran kalau anak gemuk itu lucu. Ya, kebanyakan orangtua menganggap kegemukan itu tidak masalah jika terjadi pada anak-anak, toh nanti akan berubah saat tumbuh dewasa. Padahal pandangan seperti itu salah besar, lho. Kondisi gizi anak saat ini menentukan seperti apa status gizinya ketika dewasa. Bahkan obesitas anak bisa terjadi sejak kecil.

Obesitas pada anak sudah muncul sejak usia dini

Kebanyakan orang biasanya mengira kalau berat badan di usia anak-anak tidak akan berpengaruh pada ukuran tubuhnya saat dewasa kelak. Karena toh, ukuran tubuh masih dapat berubah seiring berjalannya waktu. Entah itu dari gemuk ke kurus, kurus ke gemuk, bahkan gemuk ke obesitas.

Faktanya, sebuah penelitian yang dimuat dalam New England Journal of Medicine, menemukan bahwa mayoritas kelompok status gizi anak-anak di usia 5 tahun, misalnya tergolong kurus, normal, atau gemuk, akan tetap bertahan di kelompok status gizi tersebut hingga usianya menginjak 15-18 tahun.

Artinya, anak dengan berat badan tergolong obesitas akan tetap memiliki tubuh obesitas sampai usia 15-18 tahun. Begitu pula dengan tubuh kurus, normal, dan gemuk. Menariknya, Antje Körner, MD, dari University of Leipzig, Jerman, serta para rekannya yang meneliti mengenai obesitas anak ini mendapatkan “patokan” utamanya.

Rentang usia 2-6 tahun tampaknya menjadi periode penting, di mana sekitar 50 persen anak yang memiliki berat badan lebih ternyata mampu mencapai berat badan normalnya ketika remaja. Sedangkan sekitar 90 persen anak-anak di usia yang sama dengan berat badan obesitas, masih bertahan dengan “cap” tubuh obesitas sampai remaja nantinya.

Kenapa obesitas anak bisa terjadi?

penyebab obesitas pada anak

Menurut para peneliti, obesitas anak yang dialami di masa remaja sebenarnya merupakan “bibit” yang berkembang sejak anak masih berusia 2-6 tahun. Bibit tersebut akan terus mengikuti seiring pertumbuhan anak sampai memasuki usia remaja.

Usut punya usut, berat saat lahir merupakan salah satu faktor risiko obesitas anak yang akan terus berkembang sampai masa remaja, bahkan dewasa. Hal ini tentu berbeda dengan anak-anak di usia yang sama dengan berat badan rendah atau stabil, yang jarang mengalami obesitas ketika remaja.

Dalam penelitian ini, kurang lebih 44 persen anak yang lahir dengan berat badan besar cenderung mengalami kelebihan berat badan atau obesitas saat remaja.

Di sisi lain, faktor genetik dari berat badan ibu dan ayah serta pola makan anak yang kurang teratur, turut menjadi penyebab obesitas pada anak yang paling umum.

Ayo, terapkan cara ini untuk mencegah obesitas anak!

Antje Körner, sebagai salah seorang peneliti, menyarankan para orangtua untuk melakukan pencegahan yang tepat agar berat badan anak tidak melonjak naik drastis seiring bertambahnya usia.

Dilansir dari laman Healthline, berikut ini beberapa langkah yang bisa dicoba sedini mungkin untuk mencegah obesitas pada anak:

  • Memberikan ASI Eksklusif, dinilai dapat membantu keseimbangan persediaan energi sekaligus penyimpanan lemak dalam tubuh bayi.
  • Kenalkan anak dengan beragam nutrisi penting nan sehat bagi tubuh sejak kecil.
  • Ajarkan anak untuk mengatur porsi camilan dan makanan harian sesuai aturan, supaya tidak terlalu banyak ataupun sedikit.
  • Batasi makan fast food jika anak menyukainya.
  • Perhatikan apa saja makanan yang dimakan anak di luar rumah.
  • Ajak anak dan anggota keluarga lainnya untuk rutin berolahraga, setidaknya sekali dalam seminggu.

Intinya, terapkan pola hidup sehat untuk seluruh anggota keluarga Anda, bukan hanya pada anak saja. Dengan begitu, anak pun akan lebih bersemangat untuk mulai menjalani pola hidup sehatnya.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Obesity in Toddlerhood Hard to Shake. https://www.medpagetoday.com/pediatrics/obesity/75478 Diakses pada 27 November 2018.

How to Prevent Obesity in Kids and Adults. https://www.healthline.com/health/how-to-prevent-obesity Diakses pada 27 November 2018.

Can Toddlers Be Overweight? https://www.webmd.com/parenting/raising-fit-kids/weight/features/toddlers-overweight#1 Diakses pada 27 November 2018.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 16/08/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team
x