home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Cuka Apel: Manfaat, Efek Samping, dan Cara Pakai

Cuka Apel: Manfaat, Efek Samping, dan Cara Pakai

Cuka apel termasuk herbal serbaguna yang disebut-sebut memiliki banyak manfaat. Bahan yang dikenal sejak zaman Yunani kuno ini bahkan tidak hanya berguna sebagai makanan, tapi juga obat tradisional. Namun, apa saja efek sampingnya?

Kandungan gizi cuka apel

Manfaat Cuka Apel

Cuka apel adalah produk yang terbuat dari sari buah apel yang difermentasi. Produsen membuatnya dengan melumatkan buah apel dan memeras sarinya. Mereka lalu menambahkan bakteri dan ragi ke dalam sari apel sehingga terjadi proses fermentasi.

Bakteri dan ragi akan mengubah gula pada sari apel menjadi alkohol. Selanjutnya, bakteri pembentuk asam asetat (acetobacter) mengubah alkohol menjadi cuka yang mengandung asam asetat, asam galat, katekin, dan senyawa lainnya.

Berbeda dengan bahan bakunya, cuka apel tidak lagi mengandung zat gizi makro yang terdapat dalam buah apel. Meski begitu, berikut kandungan gizi yang bisa Anda peroleh dari 100 mililiter (ml) cuka apel.

  • Energi: 21 kkal
  • Karbohidrat: 0,93 gram
  • Gula total: 0,4 gram
  • Kalsium: 7 miligram
  • Zat besi: 0,2 miligram
  • Magnesium: 5 miligram
  • Fosfor: 8 miligram
  • Kalium: 73 miligram
  • Natrium: 5 miligram

Selain berbagai zat gizi di atas, cuka apel juga mengandung berbagai mineral yaitu zinc (seng), tembaga, mangan, dan selenium dalam jumlah kecil. Sayangnya, produk ini tidak lagi mengandung vitamin seperti halnya buah apel.

Manfaat cuka apel untuk kesehatan

cara menjaga kesehatan jantung

Hingga kini, cuka apel masih menjadi salah satu produk alami favorit banyak orang untuk menjaga kesehatan. Di bawah ini berbagai khasiatnya.

1. Membantu menurunkan berat badan

Cuka apel diyakini dapat menurunkan berat badan. Sebuah penelitian terhadap hewan di Jepang menunjukkan bahwa asam asetat pada cuka apel dapat meningkatkan enzim AMPK. Enzim ini mampu mempercepat metabolisme dan pembakaran lemak tubuh.

Debbie Davies, RD, seorang ahli gizi di Chicago, AS, melakukan penelitian serupa. Pada penelitiannya, peserta yang mengonsumsi 2 sendok makan cuka apel sebelum makan berat ternyata mengalami penurunan berat badan sebesar 1 – 2 kilogram.

Meski begitu, patut diketahui hasil penelitian mengenai manfaat cuka apel untuk menurunkan berat badan masih beragam. Anda bisa menggunakan produk ini dalam program diet sehat, tapi tetap jadikan pola makan sehat dan olahraga sebagai prioritas.

2. Membantu mengontrol kadar gula darah

Khasiat cuka apel yang satu ini sangat dikenal oleh penderita diabetes. Bagi diabetesi, kadar gula darah yang tinggi bisa menimbulkan dampak negatif pada tubuh. Kondisi ini juga dapat memperparah gejala diabetes serta komplikasinya.

Untungnya, cuka apel terbukti dapat memperlambat proses pelepasan glukosa (gula) dari makanan ke dalam darah. Hal ini akan mencegah sugar rush, yakni suatu kondisi ketika kadar gula darah melonjak setelah Anda mengonsumsi karbohidrat.

Menurut laporan dalam Journal of Advanced Nursing, konsumsi cuka apel juga membantu menurunkan gula darah puasa dan HbA1c. Menurunnya HbA1c merupakan tanda bahwa kadar gula darah rata-rata Anda stabil selama tiga bulan terakhir.

3. Meningkatkan sensitivitas insulin

Sensitivitas insulin menunjukkan seberapa baik kemampuan tubuh dalam merespons hormon insulin. Jika sensitivitas insulin Anda cukup tinggi, artinya sel-sel tubuh Anda mampu memanfaatkan gula darah dengan sangat baik.

Berdasarkan sebuah penelitian pada 2015, cuka apel ternyata memiliki manfaat dalam meningkatkan sensitivitas insulin. Produk ini juga membantu sel tubuh dalam menyerap dan menggunakan glukosa dengan efektif sehingga kadar gula darah tetap stabil.

Penelitian lain pada orang dengan prediabetes dan diabetes juga menghasilkan temuan serupa. Konsumsi dua sendok makan cuka apel sebelum tidur terbukti menurunkan kadar gula darah hingga 6% pada pagi hari.

4. Mengatasi sembelit

Cuka apel dapat membatasi penyerapan karbohidrat dan pati dari makanan. Sebagian karbohidrat dan pati yang tidak terserap akhirnya bergerak menuju usus dan menjadi makanan bagi bakteri-bakteri usus yang bermanfaat.

Dengan memberi makan bakteri baik ini, Anda ikut menyuburkan populasinya sehingga pencernaan menjadi lebih sehat. Biasanya, khasiat ini akan lebih terasa apabila Anda menggunakan cuka apel yang belum mengalami proses penyaringan.

Jenis cuka apel ini memiliki ampas berwarna cokelat yang kaya akan probiotik. Selain menyehatkan pencernaan, bakteri baik dalam probiotik juga membantu melancarkan buang air besar dan membebaskan Anda dari penyakit sembelit (konstipasi).

5. Mengatasi diare

Proses fermentasi cuka apel menghasilkan pektin, yakni sejenis serat yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus. Pektin juga memadatkan tekstur feses sehingga baik bagi Anda yang sedang mengalami diare.

Selain itu, sebuah penelitian dalam jurnal Scientific Reports juga menunjukkan khasiat cuka apel dalam melawan bakteri. Cuka apel terbukti ampuh membunuh bakteri E. coli yang menjadi penyebab diare serta beberapa bakteri lainnya.

Meski demikian, perlu diingat bahwa cuka apel telah melalui proses fermentasi yang menghasilkan asam asetat. Pada beberapa orang, asam asetat mungkin malah dapat menjadi penyebab sakit perut, rasa mulas, dan bahkan memperparah diare.

6. Berpotensi mengatasi obesitas

Beberapa ilmuwan meyakini bahwa kandungan asam asetat pada cuka apel berpotensi mengatasi obesitas. Sebuah penelitian terhadap hewan membuktikan pemberian asam asetat meningkatkan gen-gen tertentu yang mengurangi lemak perut dan hati.

Penelitian lain yang diterbitkan satu tahun setelahnya pun menunjukkan hasil serupa. Tikus yang diberikan satu dosis cuka apel ternyata mengalami penurunan dalam hal berat badan, distribusi lemak, dan peradangan yang menjadi faktor risiko obesitas.

Berbagai temuan ini memang sangat menjanjikan, tapi perlu diketahui bahwa uji coba pada manusia belum tentu memberikan hasil serupa. Tetap pantau berat badan Anda dan jalani pola makan bergizi seimbang untuk mencegah obesitas.

7. Berpotensi menyehatkan jantung

Konsumsi cuka apel secara teratur terbukti bisa menurunkan kadar lemak (lipid) dalam darah. Menjaga kadar lipid merupakan kunci penting untuk melancarkan kerja jantung serta aliran darah ke seluruh tubuh.

Hal ini terbukti dalam penelitian terhadap hewan pada 2018. Meski tikus yang menjadi subjek penelitian mengonsumsi makanan tinggi lemak, cuka apel ternyata mampu mengurangi risiko obesitas yang berkaitan dengan pola makan ini.

Tikus yang mengonsumsi cuka apel juga cenderung tidak menunjukkan tanda-tanda yang berkaitan dengan risiko obesitas dan penyakit jantung. Meski demikian, pengaruhnya terhadap manusia masih perlu dikaji lebih lanjut.

8. Obat psoriasis alami

Khasiat cuka apel biasanya lebih banyak berkaitan dengan makanan. Namun, National Psoriasis Foundation baru-baru ini berhasil menemukan manfaat cuka apel sebagai obat psoriasis alami, terutama untuk psoriasis pada kulit kepala.

Cuka apel memiliki sifat antiseptik yang membantu mengurangi iritasi dan gatal akibat psoriasis. Beberapa orang bahkan telah mengalami penurunan gejala psoriasis setelah menggunakan cuka apel selama beberapa minggu.

Dampak negatif konsumsi cuka apel

Walaupun bermanfaat, konsumsi cuka apel yang berlebihan atau terlalu sering justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Berikut beberapa efek samping produk ini pada tubuh Anda.

1. Memperlambat pengosongan perut

Cuka apel dapat memperlambat perpindahan makanan hasil pencernaan lambung menuju usus. Hal ini mungkin tidak berdampak besar pada orang dengan pencernaan yang sehat, tapi lain halnya dengan mereka yang mengalami gastroparesis.

Penderita gastroparesis mengalami gangguan fungsi saraf pada lambungnya sehingga makanan yang telah dicerna butuh waktu lebih lama untuk bergerak menuju usus. Konsumsi cuka apel, apalagi dalam jumlah banyak, dapat memperparah kondisi ini.

2. Gangguan pencernaan

Cuka apel memiliki sifat asam yang dapat memperparah gejala gangguan pencernaan. Orang yang rentan mengalami maag mungkin akan merasakan mual atau sakit perut setelah mengonsumsi cuka apel dalam jumlah yang banyak.

Selain itu, cuka apel yang punya banyak manfaat sekalipun bisa berdampak buruk bagi kesehatan kerongkongan. Ini sebabnya orang-orang yang sering mengalami gangguan pencernaan dan kesulitan menelan sebaiknya tidak mengonsumsi cuka apel.

3. Masalah gigi

Makanan dan minuman asam telah terbukti dapat merusak lapisan email gigi. Email atau enamel gigi yang terus-menerus terkikis bisa berujung menyebabkan kerusakan lebih lanjut, seperti gigi berlubang.

Tidak hanya itu, cuka apel secara alamiah juga dapat menimbulkan efek kekuningan pada gigi serta membuat gigi menjadi lebih sensitif. Apalagi bila Anda menggunakan cuka apel tanpa melarutkannya dengan air terlebih dulu.

4. Luka pada kerongkongan

Konsumsi cuka apel secara berlebihan dapat menyebabkan iritasi pada kerongkongan. Ini karena sifat asam pada cuka apel cukup kuat untuk mengikis jaringan kerongkongan yang tipis. Alhasil, kerongkongan mengalami luka dan peradangan.

Inilah mengapa Anda harus selalu mencampur cuka apel dengan air putih sebelum menggunakannya. Air dapat meningkatkan kadar keasaman (pH) cuka apel sehingga sifat asamnya tidak lagi merusak kerongkongan.

5. Hipoglikemia

Cuka apel memang mempunyai khasiat untuk menurunkan gula darah. Namun, dalam jumlah yang berlebihan, konsumsi cuka apel justru bisa menyebabkan penurunan gula darah melebihi kadar normal alias hipoglikemia.

Penurunan gula darah dalam jumlah besar dapat mengurangi suplai gula menuju otak. Tanpa adanya gula sebagai sumber energi, otak tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya sehingga Anda berisiko mengalami pingsan, koma, hingga kematian.

Cara mengonsumsi cuka apel yang benar

khasiat cuka apel

Jika Anda ingin mendapatkan manfaat cuka apel bagi kesehatan, hal terpenting yang harus Anda perhatikan yakni cara mengonsumsinya. Jangan mengonsumsi cuka apel tanpa melarutkannya ke dalam air putih terlebih dulu.

Cuka apel murni memiliki sifat asam yang dapat melukai kerongkongan. Selain itu, sifat asam pada produk ini juga berbahaya untuk kesehatan gigi karena dapat mengikis lapisan email gigi. Dampaknya, Anda mungkin akan memiliki gigi yang keropos.

Larutkan cuka apel ke dalam air putih dengan perbandingan 1:10. Ini berarti jika Anda menggunakan 1 sendok makan cuka apel, campurkan dengan 10 sendok makan air putih. Jangan mengonsumsi lebih dari 2 sendok makan cuka apel dalam sehari.

Tidak ada aturan khusus mengenai waktu yang tepat untuk mengonsumsi cuka apel, tapi beberapa orang mengonsumsi produk ini pada pagi hari atau sebelum makan. Kapan pun waktu yang Anda pilih, yang terpenting jangan lupa berkumur setelahnya.

Jika Anda ingin mengonsumsi cuka apel secara rutin atau menggunakannya sebagai obat alami, pastikan Anda telah berkonsultasi kepada dokter. Jangan menjadikannya pengganti bagi obat-obatan yang sedang rutin Anda konsumsi.

Di bawah ini beberapa aturan dasar dalam menggunakan cuka apel.

  • Batasi porsinya. Gunakan sedikit demi sedikit secara bertahap, maksimum 2 sendok (30 mL) makan per hari atau tergantung toleransi masing-masing.
  • Gunakan sedotan saat minum. Hal ini bertujuan agar cuka apel yang asam tidak langsung menyentuh gigi.
  • Bilas mulut Anda. Berkumurlah setelah mengonsumsi minuman mengandung cuka apel. Untuk mencegah kerusakan ;lapisan email gigi, sikat gigi Anda 30 menit setelahnya.
  • Perhatikan kondisi kesehatan Anda. Jika Anda memiliki gastroparesis, hindari produk ini atau batasi konsumsinya agar tidak lebih dari satu sendok teh (5 mL) dalam sehari.

Cuka apel merupakan bahan alami dengan segudang manfaat. Akan tetapi, Anda tetap harus bijak dalam menggunakannya mengingat produk ini juga memiliki sejumlah efek samping. Gunakanlah seperlunya dan sesuai kebutuhan Anda.

Cuka apel tetap tidak bisa menjadi pengganti obat-obatan yang utama. Beberapa orang mungkin juga tidak bisa menoleransi sifat asamnya. Segera hentikan penggunaan cuka apel jika Anda mengalami gangguan tertentu setelahnya.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Vinegar, cider. (2019). Retrieved 4 August 2021, from https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/173469/nutrients

Natural treatment options for psoriasis and psoriatic arthritis. (2021). Retrieved 4 August 2021, from https://www.psoriasis.org/integrative-approaches-to-care/

Hlebowicz, J., Darwiche, G., Björgell, O., & Almér, L. (2007). Effect of apple cider vinegar on delayed gastric emptying in patients with type 1 diabetes mellitus: a pilot study. BMC Gastroenterology, 7(1). doi: 10.1186/1471-230x-7-46

Yamashita, H. (2015). Biological Function of Acetic Acid–Improvement in Obesity and Glucose Tolerance by Acetic Acid in Type 2 Diabetic Rats. Critical Reviews In Food Science And Nutrition, 56(sup1), S171-S175. doi: 10.1080/10408398.2015.1045966

Cheng, L., Jiang, Y., Wu, V., & Wang, W. (2019). A systematic review and meta‐analysis: Vinegar consumption on glycaemic control in adults with type 2 diabetes mellitus. Journal Of Advanced Nursing, 76(2), 459-474. doi: 10.1111/jan.14255

Mitrou, P., Petsiou, E., Papakonstantinou, E., Maratou, E., Lambadiari, V., & Dimitriadis, P. et al. (2015). Vinegar Consumption Increases Insulin-Stimulated Glucose Uptake by the Forearm Muscle in Humans with Type 2 Diabetes. Journal Of Diabetes Research, 2015, 1-7. doi: 10.1155/2015/175204

Yagnik, D., Serafin, V., & J. Shah, A. (2018). Antimicrobial activity of apple cider vinegar against Escherichia coli, Staphylococcus aureus and Candida albicans; downregulating cytokine and microbial protein expression. Scientific Reports, 8(1). doi: 10.1038/s41598-017-18618-x

Beh, B., Mohamad, N., Yeap, S., Ky, H., Boo, S., & Chua, J. et al. (2017). Anti-obesity and anti-inflammatory effects of synthetic acetic acid vinegar and Nipa vinegar on high-fat-diet-induced obese mice. Scientific Reports, 7(1). doi: 10.1038/s41598-017-06235-7

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 13/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan