home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Proses Fermentasi Makanan dan Produknya

Definisi makanan fermentasi|Proses fermentasi makanan|Manfaat|Risiko konsumsi makanan fermentasi
Mengenal Proses Fermentasi Makanan dan Produknya

Definisi makanan fermentasi

Fermentasi adalah proses alami ketika mikroorganisme seperti ragi dan bakteri mengubah karbohidrat, seperti pati dan gula, menjadi alkohol atau asam.

Alkohol atau asam berperan sebagai pengawet alami dan menghasilkan rasa yang berbeda pada makanan fermentasi. Proses fermentasi makanan biasanya mengembangkan bakteri baik yang disebut sebagai probiotik.

Bakteri baik yang satu ini telah terbukti memiliki manfaat yang besar bagi tubuh, mulai dari meningkatkan sistem imun hingga baik untuk pencernaan.

Ada banyak produk yang bisa difermentasikan, seperti:

  • anggur (wine),
  • susu dan yogurt,
  • cuka apel,
  • tempe,
  • kimchi,
  • miso,
  • sauerkraut, hingga
  • sosis fermentasi.

Proses fermentasi makanan

Makanan fermentasi telah ada sejak zaman dahulu dan digunakan agar rasanya menjadi enak atau lebih awet disimpan. Bahkan, makanan yang diawetkan ini juga menawarkan segudang kebaikan bagi kesehatan.

Agar lebih tahu, kenali bagaimana proses fermentasi makanan, terutama pada bahan makanan tempe yang cukup populer dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Proses fermentasi tempe

Tempe merupakan salah satu olahan kedelai yang dibuat melalui proses fermentasi. Sebelum bisa dihidangkan atau dimakan, kedelai sebagai bahan baku tempe harus melewati proses yang melibatkan jamur Rhizopus sp.

Kehadiran jamur ini bertujuan memadatkan kacang kedelai hingga membentuk tempe. Selama proses fermentasi makanan berlangsung, jamur akan tumbuh pada permukaan.

Dengan begitu, jamur bisa menembus ke dalam kedelai, sehingga biji kedelai satu sama lain akan menyatu dan menjadi tempe yang bisa disantap.

Proses fermentasi kedelai menjadi tempe ternyata membantu menambah kandungan gizi di dalamnya. Selain itu, rasa kacang dari kedelai akan hilang digantikan rasa tempe yang khas.

Jadi, inti dari proses fermentasi makanan merupakan menambahkan jamur guna menambah zat gizi atau mengubah rasa makanan atau minuman menjadi lezat.

Manfaat

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kebanyakan hasil dari proses fermentasi makanan menawarkan manfaat bagi kesehatan tubuh.

Di bawah ini beberapa keuntungan yang bisa Anda peroleh dari makanan dan minuman fermentasi.

1. Melancarkan sistem pencernaan

Salah satu manfaat dari proses fermentasi makanan yakni membantu melancarkan sistem pencernaan.

Bagaimana tidak, probiotik yang dihasilkan selama fermentasi dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik pada usus. Hal ini tentu dapat mengurangi beberapa masalah pencernaan, seperti sindrom iritasi usus.

Dilansir dari Harvard Health, beberapa jenis probiotik terbukti dapat meringankan gejala IBS, seperti diare dan perut kembung.

Oleh sebab itu, makanan fermentasi seperti yogurt sering dimasukkan ke dalam pola makan pasien yang mengalami masalah usus.

2. Memperkuat sistem kekebalan tubuh

Selain melancarkan pencernaan, hasil dari proses fermentasi makanan ternyata juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Alasannya pun tak lain tak bukan berkat probiotik di dalam makanan fermentasi. Saluran usus sebenarnya mengandung banyak bakteri dengan jenis yang berbeda.

Salah satu jenis bakteri tersebut yakni Lactobacillus rhamnosus yang dapat menyeimbangkan lingkungan pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Terlebih banyak makanan fermentasi memiliki kandungan vitamin C, sehingga tidak heran bila makanan yang diawetkan ini dipercaya dapat memperkuat sistem imun.

3. Meningkatkan suasana hati

Tahukah Anda bahwa konsumsi makanan fermentasi yang kaya akan probiotik ternyata bisa meningkatkan suasana hati? Temuan ini dibuktikan melalui penelitian dari Journal of neurogastroenterology and motility.

Studi yang mengujicobakan hewan ini melaporkan bahwa strain probiotik Lactobacillus helveticus dan Bifidobacterium longum meringankan gejala depresi.

Kedua jenis probiotik ini bisa Anda jumpai pada makanan fermentasi. Namun, para ahli masih perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah efeknya sama terhadap manusia.

4. Membantu mencerna makanan

Bakteri baik yang berasal dari fermentasi makanan ternyata membantu tubuh memecah karbohidrat kompleks yang dimakan.

Mikrobiota usus memang sangat banyak, sehingga tubuh membutuhkan banyak kandungan serat larut dari makanan, seperti kacang-kacangan, dan jeruk.

Sementara itu, serat tidak larut yang bisa dijumpai di biji-bijian memang berkhasiat bagi tubuh. Sayangnya, jenis serat ini tidak mudah difermentasi, sehingga tidak terlalu berkontribusi terhadap keanekaragaman bakteri usus.

5. Membantu menurunkan berat badan

Bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan, konsumsi makanan fermentasi mungkin bisa menjadi solusi.

Dilansir dari The British journal of nutrition, jenis probiotik tertentu, yakni Lactobacillus rhamnosus dan Lactobacillus gasseri dapat menurunkan berat badan.

Bahkan, kedua probiotik yang dihasilkan dari proses fermentasi makanan ini diduga bisa mengurangi lemak pada perut. Namun, penelitian lanjutan masih dibutuhkan guna memastikan temuan ini.

Risiko konsumsi makanan fermentasi

Umumnya, makanan yang telah melewati proses fermentasi dianggap aman dikonsumsi. Akan tetapi, beberapa orang mungkin akan mengalami efek samping produk fermentasi akibat probiotik, seperti:

  • reaksi alergi, seperti gatal, ruam kulit, hingga sulit bernapas,
  • infeksi pada penderita penyakit autoimun,
  • masalah pencernaan, termasuk mual, muntah, dan perut kembung, hingga
  • komplikasi akibat penggunaan obat-obatan tertentu.

Gejala yang disebutkan di atas mungkin dapat memburuk usai memakan makanan fermentasi yang kaya serat, seperti kimchi atau sauerkraut.

Selain itu, beberapa produk mungkin mengandung gula tambahan, garam, serta lemak yang tinggi. Itu sebabnya, penting membaca label informasi nilai gizi untuk memastikan apakah Anda memilih makanan yang tepat.

Jika mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi guna memahami solusi yang tepat untuk Anda.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fermented foods: the latest trend. (2018). Heart Foundation. Retrieved 21 April 2021, from https://www.heartfoundation.org.nz/about-us/news/blogs/fermented-foods-the-latest-trend 

Dimidi, E., Cox, S. R., Rossi, M., & Whelan, K. (2019). Fermented Foods: Definitions and Characteristics, Impact on the Gut Microbiota and Effects on Gastrointestinal Health and Disease. Nutrients, 11(8), 1806. https://doi.org/10.3390/nu11081806. Retrieved 21 April 2021. 

Ask the doctor: Will probiotics help IBS? (2013). Harvard Health. Retrieved 21 April 2021, from https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/will-probiotics-help-ibs 

Sanchez, M., Darimont, C., Drapeau, V., Emady-Azar, S., Lepage, M., Rezzonico, E., Ngom-Bru, C., Berger, B., Philippe, L., Ammon-Zuffrey, C., Leone, P., Chevrier, G., St-Amand, E., Marette, A., Doré, J., & Tremblay, A. (2014). Effect of Lactobacillus rhamnosus CGMCC1.3724 supplementation on weight loss and maintenance in obese men and women. The British journal of nutrition, 111(8), 1507–1519. https://doi.org/10.1017/S0007114513003875. Retrieved 21 April 2021. 

Peran Fermentasi pada Tempe. (2018). Kanal Pengetahuan dan Informasi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. Retrieved 21 April 2021, from https://kanalpengetahuan.tp.ugm.ac.id/menara-ilmu/2018/1321-peran-fermentasi-pada-tempe.html 

Wang, H., Lee, I. S., Braun, C., & Enck, P. (2016). Effect of Probiotics on Central Nervous System Functions in Animals and Humans: A Systematic Review. Journal of neurogastroenterology and motility, 22(4), 589–605. https://doi.org/10.5056/jnm16018. Retrieved 21 April 2021. 

Ritchie, M. L., & Romanuk, T. N. (2012). A meta-analysis of probiotic efficacy for gastrointestinal diseases. PloS one, 7(4), e34938. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0034938. Retrieved 21 April 2021.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x