Bagaimana Cara Mencegah atau Mengatasi Anemia pada Ibu Menyusui?

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anemia rentan terjadi pada ibu yang sedang hamil. Tubuh ibu akan membutuhkan lebih banyak darah untuk mendukung perkembangan janin sehingga ibu perlu asupan nutrisi lebih banyak, termasuk zat besi. Jika nutrisi yang dibutuhkan tidak terpenuhi, anemia kemungkinan besar bisa terjadi. Tak hanya ketika masa kehamilan saja, anemia juga dapat terjadi pada saat ibu sudah melahirkan atau ketika masa-masa menyusui. Lalu bagaimana cara mencegah dan mengatasi anemia saat menyusui?

Apakah ibu dapat menyusui meski mengalami anemia?

Sebagian besar anemia terjadi sejak ibu masih mengandung sang buah hati, tetapi keadaan tersebut dapat berlanjut hingga saat menyusui atau setelah melahirkan. Jangan khawatir, ibu tetap diperbolehkan memberikan ASI karena menyusui merupakan proses yang sangat vital untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Untuk mengatasi anemia saat menyusui, ibu perlu berkonsultasi pada dokter dan apakah perlu mengonsumsi suplemen zat besi. Suplemen penambah zat besi aman digunakan meskipun sedang menyusui. Rekomendasi asupan zat besi pada Ibu menyusui perlu tambahan sebanyak 9 miligram selain anjuran untuk wanita seusianya (26 mg) setiap harinya.

Selain karena kekurangan zat besi, ibu menyusui dapat menderita anemia karena kehilangan banyak darah saat proses persalinan. Oleh karena itu, kadar hemoglobin darah mungkin akan diperiksa. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa parah anemia yang ibu derita dan apakah membutuhkan suplemen zat besi atau tidak untuk mengatasi anemia saat menyusui.

Mencegah dan mengatasi anemia saat menyusui

Anemia merupakan masalah kesehatan yang penting untuk diperhatikan, terutama di kalangan wanita usia reproduksi. Tak hanya di Indonesia, bahkan di beberapa negara dengan pemasukan rendah hingga menengah, contohnya seperti India dan Vietnam juga mengalami masalah yang sama.

Pada umumnya, anemia terjadi karena kurangnya asupan zat besi. Ibu hamil memerlukan zat besi tak hanya untuk kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga untuk si Kecil yang ada dalam kandungan. Anemia yang disebabkan kekurangan atau defisiensi zat besi juga mungkin menyerang setelah proses persalinan.

Konsekuensi dari anemia selama periode postpartum (enam minggu setelah kelahiran anak) dapat menjadi serius dan menyebabkan masalah kesehatan dalam jangka panjang baik untuk ibu dan anak. Menurut kajian yang diterbitkan oleh Journal of Pediatric Genetics, salah satu dampak dari anemia yang terjadi pada ibu hamil adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada anak.

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Nutrition & Food Sciences menunjukkan, dari 327 ibu menyusui, 28,7% ibu mengalami anemia. Dari data tersebut dapat terlihat bagaimana kasus anemia yang cukup tinggi terjadi. Sehingga pencegahan perlu dilakukan.

WHO merekomendasikan tambahan asupan zat besi dan asam folat yang berasal dari suplemen sebagai langkah pencegahan. Suplemen dapat menurunkan risiko anemia dengan cara meningkatkan asupan zat besi dari ibu yang menyusui.

Suplementasi oral yang berupa suplemen zat besi atau yang juga mengandung asam folat diperbolehkan untuk diberikan pada ibu dengan jangka waktu 6 sampai 12 minggu setelah melahirkan untuk mengurangi risiko anemia.

Mencegah anemia saat menyusui dengan asupan makanan

Sumber zat besi dan asam folat sebenarnya dapat ditemukan dalam makanan. Ibu perlu mempertimbangkan untuk lebih sering mengonsumsi makanan berikut dalam upaya mencegah anemia saat menyusui.

  • Makanan kaya zat besi. Jenis zat besi yang mudah diserap tubuh adalah heme dan terdapat pada makanan seperti daging merah dan putih, ikan, telur, kacang-kacangan dan sereal yang difortifikasi (seperti oatmeal yang difortifikasi zat besi). Jenis zat besi lainnya adalah non-heme yang terdapat pada sayuran.
  • Makanan kaya asam folat. Contohnya seperti, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan jus jeruk.
  • Makanan kaya vitamin C. Vitamin C berperan dalam membantu mempermudah penyerapan zat besi. Contoh makanan kaya vitamin C adalah buah sitrus (jeruk, lemon, dan sebagainya) dan sayuran mentah atau belum diolah.

Mencegah anemia sebenarnya tidak sulit karena Anda hanya perlu mengonsumsi makanan yang tinggi akan zat besi dan asam folat. Namun, terkadang ibu kurang memperhatikan hal ini. Untuk itu, agar kebutuhan zat besi ibu dan anak (mendapat asupan zat besi dari ASI) dapat terpenuhi, sebaiknya selalu jaga pola makan dan jika perlu penuhi kebutuhan nutrisi melalui suplementasi.

Ibu dapat memilih suplemen penambah zat besi yang mengandung lipofer, yaitu bentuk zat besi yang lebih mudah diserap oleh tubuh. Selain itu, suplemen zat besi juga pada umumnya mengandung nutrisi lain seperti vitamin B kompleks dan asam folat untuk membantu menjaga metabolisme tubuh dan pembentukan sel darah merah selama masa kehamilan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ferrous Gluconate

Ferrous Gluconate Obat Apa?Untuk apa obat Ferrous Gluconate digunakan? Ferrous gluconate adalah suplemen zat besi yang digunakan untuk mengobati defisiensi zat besi (kadar zat besi darah rendah). Kondisi ini biasanya ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 28 Juli 2017 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

suplemen zat besi untuk anak

Apakah Anak Boleh Diberikan Suplemen Zat Besi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Maret 2019 . Waktu baca 5 menit
suplemen zat besi

4 Aturan Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum Minum Suplemen Zat Besi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2019 . Waktu baca 3 menit
wanita usia 50 tahun

5 Pedoman Hidup Sehat untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 20 Agustus 2018 . Waktu baca 4 menit
citicoline obat tablet dosis

Ferrous Fumarate

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 28 Juli 2017 . Waktu baca 10 menit