Mengenal Hipertensi Pada Anak, Apakah Sama Seperti Orang Dewasa?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/12/2019 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Dulu, kondisi tekanan darah tinggi atau hipertensi banyak dialami oleh orang dewasa atau lansia. Akan tetapi, sekarang ini kondisi tersebut juga sudah dimiliki anak-anak dan remaja. Ya, hipertensi tak lagi identik dengan usia tua, anak-anak pun juga bisa mengalaminya. Lantas, apa penyebab hipertensi pada anak? Apakah sama seperti hipertensi pada dewasa? Bagaimana pengobatannya?

Apa saja tanda dan gejala hipertensi pada anak?

Faktanya, anak yang berusia 3 tahun sudah bisa mengalami tekanan darah tinggi. Hipertensi pada anak tentu saja akan membuatnya berisiko hipertensi juga ketika dewasa. Sementara itu, hipertensi pada orang dewasa telah terbukti bisa menimbulkan berbagai komplikasi hipertensi, risiko penyakit kronis, hingga kematian dini.

Sedikit berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki batasan tersendiri dalam menentukan tekanan darahnya naik atau tidak. Berikut adalah batas hipertensi pada anak:

0-13 tahun

  • Tekanan darah normal: di bawah persentil 90
  • Prehipertensi: persentil 90-95
  • Hipertensi: lebih dari persentil 95

14-18 tahun

  • Tekanan darah normal: di bawah 120/80 mmHg
  • Prehipertensi: 120/80 sampai 129/80 mmHg
  • Hipertensi: 130/80 mmHg

Pada anak di bawah 13 tahun, batasan tekanan darah menggunakan persentil, sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan tinggi badannya. Untuk tahu apakah si kecil memang benar mengalami darah tinggi, sebaiknya periksakan anak ke dokter.

Penyebab hipertensi pada anak

Hipertensi yang terjadi pada anak-anak sebenarnya memiliki penyebab yang sama dengan hipertensi pada orang dewasa. Tekanan darah naik akibat jantung yang bekerja dan memompa darah lebih keras akibat sesuatu hal. Maka itu, tidak menutup kemungkinan anak dapat mengalami serangan jantung akibat hipertensi.

Nah, penyebab jantung memompa lebih keras ini tergantung dengan jenis hipertensi yang si kecil alami. Hipertensi pada anak terbagi menjadi dua, tergantung dengan penyebabnya, yaitu:

  • Hipertensi primer, yaitu kondisi tekanan darah yang terjadi langsung karena pola hidup yang kurang baik.
  • Hipertensi sekunder. Tekanan darah meningkat akibat suatu kondisi kesehatan tertentu yang sebelumnya telah dialami. Misalnya saja si kecil mengalami suatu gangguan fungsi ginjal atau jantung.

Pengobatan apa yang dilakukan untuk mengatasi hipertensi pada anak?

Pengobatan hipertensi pada anak akan disesuaikan dengan penyebabnya. Jika si kecil alami hipertensi primer, maka yang akan dilakukan adalah penerapan pola makan sehat, diet rendah garam, dan program penurunan berat badan bagi anak yang obesitas. Semua hal tersebut dilakukan demi menurunkan tekanan darah agar tetap di batas normal.

Sementara, bila anak mengalami tekanan darah tinggi akibat kondisi kesehatan lain, misalnya gangguan fungsi ginjal, maka tentu kondisi kesehatan tersebut yang harusnya diobati terlebih dulu. Untuk mengetahui obat darah tinggi yang cocok bagi si kecil, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak.

Pengobatan untuk hipertensi pada anak biasanya meliputi:

1. Diuretik

Diuretik bekerja dengan cara membantu ginjal anak membuang sodium dan air dari dalam tubuh. Dengan demikian, tekanan darah pun dapat menurun.

2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat ACE inhibitor diberikan untuk membantu mengendurkan pembuluh darah anak dengan cara menghambat pembentukan senyawa kimiawi di dalam tubuh yang mempersempit pembuluh darah. Jika pembuluh darah tidak lagi menyempit, aliran darah pada tubuh anak akan lebih lancar dan tekanan darah pun menurun.

3. Angiotensin II receptor blocker

Serupa dengan ACE inhibitor, obat ini bekerja dengan cara menenangkan pembuluh darah, sehingga aliran darah pun semakin lancar.

4. Calcium channel blocker

Pemberian obat calcium channel blocker bertujuan untuk menenangkan otot pada pembuluh darah anak. Hal ini penting agar detak jantung anak menurun dan aliran darah lebih lancar.

5. Beta blocker

Jantung pada penderita hipertensi, termasuk pada anak, akan bekerja lebih keras sehingga tekanan darah pun meningkat. Dengan meresepkan obat beta blocker, jantung anak akan bekerja secara lebih ringan dan berdetak lebih pelan. Namun, obat beta blocker biasanya bukanlah pilihan pengobatan utama untuk anak-anak.

Obat-obatan antihipertensi di atas mungkin akan diberikan pada anak untuk sementara waktu atau hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Hal ini tergantung pada kondisi kesehatan anak.

Selain itu, jika hipertensi pada anak disebabkan oleh obesitas, dokter mungkin hanya akan menyarankan anak untuk mengubah pola makan dan gaya hidup. Kemudian, pemberian obat-obatan tidak perlu dilakukan.

Jangan cemas, hipertensi pada anak sangat mungkin dicegah

Hipertensi primer sangat mungkin untuk dicegah, apalagi jika masih anak-anak. Sebagian besar, hipertensi primer disebabkan karena pola hidup yang kurang baik. Misalnya saja anak gemuk, jarang melakukan aktivitas fisik, serta tidak makan makanan yang sehat dan berserat, bisa saja membuat ia terkena darah tinggi.

Maka itu, sebaiknya terapkan pola hidup yang sehat pada si kecil sejak dini. Dengan begitu, ia akan terlepas dari risiko kegemukan dan penyakit kronis lainnya yang mungkin bisa menyerang anak-anak.

Berikut adalah beberapa perubahan gaya hidup yang dapat Anda terapkan pada anak-anak untuk mencegah hipertensi:

1. Mengontrol berat badan anak

Apabila anak Anda memiliki faktor risiko obesitas, atau memang sudah memiliki berat badan di atas angka BMI normal, pastikan Anda mulai mengontrol berat badan anak.

Anda dapat mengatur pola makan anak dengan menu yang lebih bergizi dan sehat. Pilihlah makanan seperti sayur, buah-buahan, gandum utuh, produk susu rendah lemah, serta protein dari ikan dan kacang-kacangan.

Batasilah konsumsi lemak dan gula pada menu makanan anak. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mengurangi konsumsi garam (sodium) pada anak. Menurut Mayo Clinic, asupan garam harian pada anak berusia 4-8 tahun tidak boleh melebihi 1.200 mg. Pada anak di atas 8 tahun, konsumsi garam sebaiknya tidak lebih dari 1.500 mg sehari.

Kurangi juga konsumsi makanan cepat saji dan makanan olahan. Hal ini dikarenakan makanan tersebut biasanya mengandung garam, lemak, dan kalori yang lebih tinggi.

2. Ajak anak untuk lebih aktif bergerak

Mencegah hipertensi pada anak juga dapat dilakukan dengan aktif bergerak. Usahakan Anda mengajak anak untuk berkegiatan fisik setidaknya 1 jam sehari. Biasanya, anak akan lebih aktif bergerak saat di sekolah. Jadi, Anda mungkin dapat mengajak anak olahraga di pagi atau sore hari.

Anak Anda mungkin akan kesulitan menerapkan gaya hidup lebih aktif apabila tidak ada anggota keluarga yang memberi contoh. Maka itu, ada baiknya Anda dan seluruh anggota keluarga juga ikut memulai gaya hidup sehat. Hal ini bisa dilakukan dengan bersepeda, lari pagi di kegiatan car free day, atau piknik ke alam terbuka bersama-sama.

Hal yang tidak kalah penting adalah kurangi waktu anak Anda dengan gadget. Semakin sering anak Anda menghabiskan waktu di depan layar telepon genggam atau TV, semakin jarang pula anak beraktivitas fisik. Risiko anak untuk menderita hipertensi pun akan meningkat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Mungkin Anda kaget saat tahu kalau kelopak mata bengkak tiba-tiba. Ada banyak hal yang bisa bikin kelopak mata Anda bengkak. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Para ibu mungkin sudah tidak asing lagi dengan kemunculan ruam susu atau ruam di pipi bayi. Namun, apakah ruam susu itu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit