home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berapa Lama Seharusnya Waktu yang Dihabiskan Anak untuk Nonton TV?

Berapa Lama Seharusnya Waktu yang Dihabiskan Anak untuk Nonton TV?

Durasi anak nonton TV terkadang menjadi dilema besar bagi para orangtua. Pasalnya, televisi dan gadget lain bisa membantu orangtua dalam mengalihkan perhatian anak ketika harus sibuk dengan urusan lain. Namun tidak bisa dihindari, ada efek samping dari kebiasaan anak terlalu sering nonton TV. Lalu, berapa lama durasi ideal anak menonton televisi? Berikut penjelasannya.

Batasan nonton TV untuk usia balita

durasi nonton tv anak

Mengutip dari Kids Health, dua tahun pertama usia bayi adalah waktu di saat otak bayi sedang berkembang sangat pesat.

Maka, sangat penting bagi si kecil untuk mengenal dan mengasah panca inderanya dengan melihat, mendengar, dan merasakan.

Namun, mengasah panca indera si kecil sebaiknya tidak dilakukan dengan menonton TV.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan untuk bayi di bawah 18 bulan tidak menonton TV sama sekali.

Kecuali untuk video call kakek, nenek, tante, atau keluarga lainnya yang membuat bayi bisa berinteraksi.

Dr. Vic Strassburger sebagai perwakilan dari AAP menyatakan bahwa durasi menonton TV yang ideal untuk anak usia 2 tahun ke bawah harus kurang dari 1 jam setiap hari.

Sementara anak-anak usia 2 tahun ke atas maksimal dua jam per hari.

Berikut aturan menonton TV untuk anak-anak dari American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP):

  • Batas screentime bayi usia di bawah 18 bulan adalah hanya untuk video call keluarga.
  • Anak usia 18-24 bulan harus menonton tayangan edukasi dengan pendamping.
  • Anak usia 2-5 tahun nonton tayangan TV non edukasi hanya maksimal 1 jam per hari.
  • Saat akhir pekan, maksimal durasi menonton 3 jam.
  • Matikan TV selama makan dan acara keluarga.
  • Hindari memberi tayangan 30-60 menit sebelum tidur.

Anak-anak tidak boleh punya akses internet atau jaringan TV kabel sendiri di kamar. Ini membuat orangtua sulit untuk memantau jenis tontonan anak dan apa yang anak-anak lihat di media.

Apa efek anak terlalu banyak nonton TV?

obesitas pada anak

Tidak menutup kemungkinan bahwa tayangan video di sosial media dan TV memiliki manfaat untuk anak. Sebagai contoh, mengenalkan nama binatang, warna, dan belajar bercerita.

Namun yang orangtua perlu sadari, ada efek samping yang berbahaya bila anak terlalu lama nonton TV, berikut penjelasannya.

Komunikasi satu arah

Mengutip dari Mayo Clinic, terlalu banyak nonton TV berpengaruh pada perkembangan otak anak karena tayangan hanya bersifat satu arah.

Hal ini berisiko membuat anak terlambat bicara dan mengganggu perkembangan bahasa anak.

Berbagai pengetahuan yang si kecil lihat di dalam video hanya ia terima tanpa ada interaksi. Berbeda bila anak dibacakan buku cerita atau bermain kartu dengan orangtua.

Anda bisa bertanya mengenai tokoh di dalam cerita, pakaian yang digunakan, warna, dan lainnya.

Di sini, anak akan belajar pemecahan masalah atau problem solving meski dengan cara sederhana.

Obesitas atau kegemukan

Terlalu lama menonton TV bisa membuat anak menjadi obesitas atau kegemukan, terutama bila ia memiliki TV sendiri di kamar tidur.

Berat badan anak yang menonton TV lebih dari 5 jam per hari memiliki kemungkinan besar mengalami kenaikan, dibanding anak yang durasi menontonnya hanya 0-2 jam.

Anak cenderung makan atau ngemil sambil nonton TV dan membuatnya tidak bisa mengontrol makanan yang dikonsumsi.

Gangguan tidur

Mengutip dari Healthy Children, nonton TV terlalu lama bisa mengganggu kualitas tidur anak. Apalagi bila si kecil menonton video dari ponsel sambil posisi tidur.

Ini membuatnya tidak tidur nyenyak dan jadwal istirahat di malam hari terganggu.

Tips mendampingi anak nonton TV

anak menonton film berdasarkan umur

Meski memiliki efek buruk untuk anak-anak, bukan berarti orangtua harus melarang pemakaian TV dan ponsel sama sekali.

Anda masih bisa berkompromi dengan hal ini dengan berbagai cara, yaitu:

Membuat jadwal nonton TV untuk anak

Cara pertama yang bisa dilakukan adalah membuat jadwal nonton TV untuk anak dengan aturan yang berlaku.

Sebagai contoh, tidak menonton TV saat sedang makan, bermain, dan menjelang tidur.

Buat kesepakatan sederhana dengan si kecil bila ia melanggar hal tersebut.

Anak usia balita sudah mengerti tentang rutinitas yang terjadwal dengan baik. Bila dilakukan secara disiplin, perlahan ia akan mengerti.

Nonton TV bersama anak

Sebagai cara untuk membatasi dan mengawasi waktu anak menonton TV, dampingi anak ketika sedang menonton.

Langkah ini juga memudahkan anak ketika bertanya tentang tayangan yang tidak ia mengerti.

Ajak diskusi sederhana tentang tayangan yang sedang ia tonton. Di sini, anak akan belajar berinteraksi dengan orang lain dan mencoba melakukan problem solving bersama-sama.

Berikan tontonan sesuai usia anak

Orangtua perlu memerhatikan jenis tontonan untuk si kecil. Bila memiliki TV pintar atau smart TV, Anda bisa memilih tontonan sesuai dengan usia anak.

Beberapa tayangan sudah memiliki bagian khusus untuk anak, sehingga film dan cerita yang disuguhkan memang untuk si kecil.

Tetap beraktivitas di luar ruangan

Buat aktivitas atau olahraga santai di luar ruangan agar membantu si kecil aktif perkembangan kognitif anak tetap baik. Nonton TV terlalu lama membuat tubuh anak tidak bergerak banyak.

Hal ini bisa berdampak buruk pada kesehatan si kecil, seperti obesitas dan tantrum.

Lakukan olahraga ringan seperti berjalan santai sekitar rumah atau peregangan agar tubuh anak tetap segar. Ini juga bisa menjadi cara untuk mengatasi anak hiperaktif.

Hindari memberi tontonan saat anak rewel

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menyarankan untuk tidak memberikan tontonan ketika anak rewel.

Ketika anak sedang tantrum, rewel, atau menangis, hindari memberikan TV atau video sebagai ‘obat’ agar ia diam.

Jika dituruti, hal ini akan menjadi senjata anak ke depannya saat ia menginginkan sesuatu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Screen Time Guidelines for Babies and Toddlers (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 18 September 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/screentime-baby-todd.html

Kids, C. (2020). Screen time and young children – Caring for Kids. Retrieved 18 September 2020, from https://www.caringforkids.cps.ca/handouts/screen-time-and-young-children

Screen Time and Children . (2020). Retrieved 18 September 2020, from https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Children-And-Watching-TV-054.aspx

Tips to manage kids’ screen time. (2020). Retrieved 18 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/screen-time/art-20047952

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 20/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x