Tanda dan Gejala Hipertensi yang Harus Diwaspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/07/2020 . 10 menit baca
Bagikan sekarang

Dari berbagai masalah kesehatan yang mendominasi dunia kesehatan modern, hipertensi termasuk salah satu yang perlu diwaspadai. Pasalnya, tekanan darah tinggi atau hipertensi kerap kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Beberapa bahaya atau komplikasi darah tinggi yang mungkin ditimbulkan, seperti gagal jantung, serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal. Bahkan, bila sudah terjadi gagal ginjal, Anda mungkin akan memerlukan transplantasi ginjal atau cuci darah (dialisis). Untuk itu, penting bagi Anda untuk mewaspadai tanda dan gejala darah tinggi sedini mungkin agar terhindar dari hipertensi yang semakin parah.

Gejala tekanan darah tinggi atau hipertensi yang harus diwaspadai

penyebab hipertensi

Tekanan darah tinggi sering kali tidak menunjukkan ciri, tanda, atau gejala tertentu. Adapun satu-satunya cara untuk mengetahui darah tinggi adalah melalui tes tekanan darah. Bila tekanan darah Anda berada di bawah 120/80 mmHg, maka Anda memiliki tekanan darah normal, tetapi bila tekanan darah Anda mencapai 140/90 mmHg atau lebih, maka Anda sudah tergolong hipertensi.

Meskipun tidak memiliki tanda atau gejala yang jelas, beberapa orang dengan riwayat hipertensi kerap mengeluhkan beberapa gejala. Umumnya, gejala ini bisa dirasakan bila Anda memiliki kondisi kesehatan lain yang mungkin menjadi penyebab hipertensi atau yang juga dikenal dengan jenis hipertensi sekunder. Selain itu, gejala juga bisa dirasakan bila Anda memiliki tekanan darah yang sangat tinggi atau disebut dengan krisis hipertensi.

Berikut ini beberapa gejala yang sering dikaitkan dengan darah tinggi dan yang paling umum terjadi:

1. Bercak merah pada mata

American Heart Association (AHA) menyebut bercak merah pada mata (pendarahan subkonjungtiva) adalah salah satu gejala tekanan darah tinggi yang paling umum ditemukan. Selain pada penderita hipertensi, gejala ini juga terkadang ditemukan pada penderita diabetes.

Namun, tekanan darah tinggi dan diabetes bukanlah penyebab bercak merah pada mata tersebut. Maka itu, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter apabila terdapat gejala serupa pada mata Anda. Dokter mata (oftamologi) dapat mendeteksi adanya kerusakan pada saraf optik mata Anda, yang mungkin disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang tidak diobati.

2. Wajah menjadi merah

Selain bercak merah pada mata, AHA juga menyebut penderita tekanan darah tinggi kerap mengeluhkan gejala kemerahan pada wajah.

Wajah yang berubah warna menjadi merah terjadi akibat pembesaran pada pembuluh darah wajah Anda. Kondisi ini biasanya dapat terjadi secara mendadak, atau merupakan respon dari kondisi tertentu, seperti terpapar sinar matahari, udara dingin, makanan pedas, angin, minuman panas, atau produk perawatan wajah tertentu.

Kemerahan pada wajah juga dapat terjadi akibat adanya tekanan psikis atau stres, terkena air panas, konsumsi alkohol, dan olahraga. Kondisi-kondisi tersebut dapat memicu tekanan darah tinggi untuk sementara waktu, sehingga gejala kemerahan pun muncul.

Meskipun gejala kemerahan pada wajah dapat terjadi akibat tekanan darah tinggi, kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh penyakit ini.

3. Pusing

Pusing adalah efek samping atau gejala dari berbagai macam kondisi. Bahkan, konsumsi obat-obatan tertentu juga dapat mengakibatkan pusing muncul. Jadi, tidak menutup kemungkinan pusing yang Anda alami merupakan bagian dari gejala darah tinggi.

Tak semua jenis pusing dapat disebabkan oleh hipertensi. Namun, Anda sebaiknya tidak meremehkan gejala tersebut, terlebih lagi jika pusing muncul secara mendadak.

Anda juga perlu waspada apabila pusing disertai dengan gejala-gejala tekanan darah tinggi lainnya, seperti tubuh kehilangan keseimbangan dan kesulitan berjalan. Gejala-gejala darah tinggi ini berpotensi memicu terjadinya stroke.

4. Sakit kepala

sakit kepala jenis gejala hantavirus

Berbeda dengan pusing yang umumnya hanya berupa sensasi berputar di kepala, sakit kepala adalah gejala darah tinggi atau hipertensi yang lebih serius. Anda mungkin akan merasakan nyeri yang berdenyut (throbbing) di bagian kepala Anda.

Namun, sama seperti pusing, sakit kepala bukanlah gejala yang langsung disebabkan oleh hipertensi. Sakit kepala umumnya terjadi ketika seseorang mengalami tekanan darah yang sangat tinggi atau yang disebut dengan krisis hipertensi atau hipertensi maligna.

Saat hipertensi maligna, sakit kepala yang dirasakan berbeda dengan sakit kepala biasa. Umumnya, ada gejala lain yang juga akan dirasakan bersamaan dengan sakit kepala ini, seperti pandangan kabur, nyeri dada atau sesak napas.

Selain itu, sakit kepala pada penderita hipertensi juga mungkin terjadi karena tekanan darah tinggi bisa menyebabkan pembengkakan otak (yang juga umum terjadi pada hipertensi maligna), karena kondisi medis lain yang menyebabkan hipertensi (hipertensi sekunder), atau efek samping dari obat hipertensi.

Oleh karena itu, untuk mengatasi sakit kepala karena hipertensi umumnya dilakukan dengan cara mengobati penyebabnya, baik itu hipertensi maligna, hipertensi sekunder, atau mengganti obat darah tinggi sesuai dengan ketentuan dokter.

5. Sesak napas

Jika tekanan darah tinggi memengaruhi pembuluh darah yang berada di jantung dan paru-paru Anda, kemungkinan gejala tekanan darah tinggi yang akan Anda rasakan adalah sesak napas.

Kondisi ini disebut dengan hipertensi pulmonal, yaitu ketika bagian kanan jantung kesulitan memompa darah melewati paru-paru, sehingga darah yang mengandung oksigen tidak dapat dialirkan dengan baik.

Selain hipertensi pulmonal, sesak napas juga bisa terjadi bila Anda menderita hipertensi biasa atau hipertensi sistemik. Namun, gejala ini umumnya dirasakan saat Anda mengalami hipertensi krisis atau maligna.

6. Muncul darah dalam urine

Gejala hipertensi lain yang perlu Anda waspadai adalah adanya darah di dalam urine. Saat Anda buang air kecil dan terdapat darah di dalam urine Anda, ada kemungkinan hipertensi yang Anda alami berkaitan dengan masalah pada ginjal,.

Darah mungkin juga tidak dapat terlihat pada urine, tetapi sel darah merah akan terlihat apabila diperiksa menggunakan mikroskop. Oleh karena itu, bila dokter curiga hipertensi Anda berkaitan dengan penyakit ginjal, Anda mungkin akan diminta melakukan tes urin untuk memastikan diagnosanya.

Kondisi urine berdarah ini disebut dengan hematuria. Salah satu penyebab utamanya adalah pecahnya kista di dalam ginjal, atau adanya pembuluh-pembuluh darah kecil di sekitar kista. Gejala darah tinggi yang satu ini biasanya berlangsung selama sehari atau beberapa hari.

7. Detak jantung tidak beraturan

Gejala lain dari darah tinggi atau hipertensi adalah detak jantung yang tidak beraturan. Kondisi ini umumnya terjadi ketika jantung berdebar terlalu cepat, tidak teratur, atau bahkan berhenti berdetak selama sepersekian detik.

Selain itu, Anda mungkin merasakan jantung Anda berdetak terlalu kuat atau dipaksakan. Terkadang, Anda juga akan merasakan sensasi tersebut di tenggorakan, leher, dan rahang.

Pada kondisi ini, umumnya tekanan darah tinggi yang Anda alami sudah berkembang menjadi aritmia. Adapun aritmia juga dapat meningkatkan risiko gagal jantung.

8. Hidung mengeluarkan darah atau mimisan

Mimisan atau hidung berdarah merupakan gejala hipertensi yang tidak terlalu umum. Hal ini bisa saja terjadi pada penderita hipertensi, tetapi kasusnya sangatlah jarang.

Para ahli pun masih memperdebatkan apa yang menyebabkan kondisi ini. Namun, dilansir dari Mayo Clinic, seseorang yang mengalami mimisan bisa semakin parah bila disertai dengan tekanan darah yang tinggi.

Pada orang dewasa yang lebih tua, mimisan bisa terjadi karena adanya pengerasan pada pembuluh darah atau yang disebut aterosklerosis. Adapun aterosklerosis bisa disebabkan oleh tekanan darah yang tinggi.

Beragam kondisi yang dapat menyertai gejala hipertensi

Tanda-tanda dan gejala tekanan darah tinggi lainnya yang mungkin muncul apabila kondisi Anda sudah cukup parah meliputi:

  • Penglihatan buram.
  • Rasa cemas yang berlebihan.
  • Mual atau muntah.
  • Tampak kebingungan.
  • Nyeri di daerah dada.
  • Mati rasa atau terasa lemah di bagian lengan, kaki, wajah, dan area tubuh lainnya.
  • Kejang.

Seberapa sering Anda membutuhkan pemeriksaan tekanan darah berbeda-beda pada setiap kasus, tergantung pada keparahan gejala darah tinggi yang dialami. Secara umum, jika Anda khawatir tentang gejala-gejala tekanan darah tinggi Anda saat ini, segeralah periksa ke dokter.

Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?

periksa ke dokter diabetes

Apabila terdapat gejala-gejala tekanan darah tinggi yang muncul, seperti yang disebutkan di atas, Anda harus segera rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Pasalnya, gejala-gejala tersebut menunjukkan bahwa hipertensi yang Anda miliki sudah parah.

Kondisi ini umumnya disebut dengan krisis hipertensi atau hipertensi maligna, yaitu kenaikan tekanan darah secara cepat yang mencapai 180/120 mmHg atau lebih. Adapun krisis hipertensi biasanya ditangani dengan pemberian obat melalui infus. Bila tidak ditangani dengan segera dan tepat, ini bisa berkembang ke penyakit lainnya, seperti stroke atau serangan jantung.

Untuk mencegah hal tersebut, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin sedini mungkin. Bagi orang dewasa sehat, sebaiknya lakukan pemeriksaan tekanan darah setiap dua tahun sekali.

Namun, jika Anda memiliki prehipertensi (tekanan darah di antara 120/80 mmHg dan 140/90 mmHg), sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan tekanan darah satu tahun sekali atau sesuai anjuran dokter. Pasalnya, seseorang yang memiliki prehipertensi berisiko mengalami hipertensi pada masa mendatang.

Sementara itu, jika Anda tergolong hipertensi, dokter biasanya akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah lebih sering. Apalagi jika Anda merasakan gejala-gejala tertentu yang mengarah pada penyakit lain.

Apabila Anda tidak dapat mengunjungi dokter secara rutin, Anda mungkin dapat melakukan cek tekanan darah di puskesmas atau apotik terdekat. Anda juga dapat membeli alat pengukur tekanan darah untuk dapat digunakan di rumah. Namun, ada baiknya untuk selalu mengonsultasikan dengan dokter mengenai pemeriksaan tekanan darah yang tepat untuk Anda.

Bila Anda memiliki hipertensi, dokter biasanya akan memberikan pengobatan dengan dosis yang rendah terlebih dahulu. Beberapa obat darah tinggi yang biasa diresepkan dokter adalah obat diuretik, obat penghambat reseptor angiotensin, beta-blocker, dan obat pereda gejala darah tinggi lainnya.

Namun, dokter juga akan meminta Anda melakukan perubahan gaya hidup dan pola makan yang sehat untuk menurunkan tekanan darah. Gaya hidup sehat tersebut diantaranya melakukan olahraga rutin, diet hipertensi, serta makan lebih banyak sayur dan buah yang dapat membantu mengatasi gejala dan mencegah kenaikan tekanan darah semakin tinggi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Anak-anak mungkin mengalami tekanan darah tinggi. Orangtua dapat mengukur tekanan darah anak di rumah dengan panduan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Hipertensi, Health Centers 22/04/2020 . 7 menit baca

Bagaimana Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Bisa Memicu Hipertensi?

Menurut penelitian di tahun 2018, keadaan post-traumatic stress disorder yang dimiliki seseorang bisa memicu naiknya risiko hipertensi.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hipertensi, Health Centers 20/04/2020 . 4 menit baca

Tidur Siang Baik untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Sebuah studi menyatakan bahwa tidur siang dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Simak selengkapnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hipertensi, Health Centers 12/02/2020 . 5 menit baca

4 Tips Mudah Mengurangi Makan Garam Agar Tak Kena Hipertensi

Katanya, makanan tanpa garam tak sedap. Namun, jika makan garam terlalu banyak bikin tekanan darah naik. Lalu, bagaimana cara mengurangi makan garam?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hipertensi, Health Centers 15/11/2019 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
senam hipertensi

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020 . 7 menit baca
pantangan darah tinggi

11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020 . 11 menit baca
tekanan darah tinggi saat puasa

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020 . 5 menit baca