Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pola Makan Sehat Anak Agar Bebas dari Masalah Pencernaan dan Tumbuh Optimal

Pola Makan Sehat Anak Agar Bebas dari Masalah Pencernaan dan Tumbuh Optimal

Orangtua tentu ingin memberikan nutrisi yang terbaik untuk anak demi mendukung tumbuh kembang optimal. Nutrisi yang tepat juga dapat memperkuat dan mendukung perkembangan otak si Kecil. Namun terkadang si Kecil dapat tiba-tiba mengalami masalah pencernaan yang menyebabkan terhambatnya asupan makanan sebagai sumber nutrisi sehingga berakibat pada sistem imun melemah daripada memperkuatnya serta mengganggu perkembangan otak dan proses belajarnya. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan ini adalah dengan menerapkan pola makan sehat untuk anak. Bagaimana caranya? Mari simak penjelasannya berikut ini.

Masalah pencernaan yang umum dialami anak

alergi anak atau masalah pencernaan

Makanan merupakan salah satu kunci kesehatan pencernaan anak. Pola makan sehat dan seimbang bisa menjauhkan si Kecil dari berbagai masalah pencernaan serta menjaga energi agar tetap bisa aktif. Ketika pola makan tidak dijaga, si Kecil bisa mengalami dampak kesehatan, seperti:

  • Sembelit. Masalah pencernaan yang memiliki gejala sulit dan menurunnya frekuensi BAB. Penyebab utamanya adalah kurang asupan serat dan ketika si Kecil sudah mulai latihan buang air di toilet (toilet training).
  • Diare. Mengakibatkan frekuensi BAB meningkat disertai feses yang berair. Meski umum dialami anak dan seringkali pulih dengan sendirinya, diare bisa menjadi pertanda anak memiliki alergi makanan yang perlu penanganan lebih lanjut.

Sebenarnya terdapat beberapa masalah pencernaan lain yang umum dialami si Kecil. Namun, kedua kondisi tersebut adalah contoh yang paling erat hubungannya dengan pola makan anak setiap hari.

Mengulik dan memahami pola makan sehat bagi anak

makanan berserat untuk anak

Kebutuhan nutrisi anak sebenarnya memiliki prinsip yang sama seperti pada orang dewasa pada umumnya. Menurut Mayo Clinic, pola makan sehat terdiri dari vitamin, mineral, karbohidrat, protein, dan lemak. Satu hal yang membedakan adalah takaran atau jumlah dari masing-masing nutrien tersebut.

Mengutip dari situs Family Doctor, pola makan sehat tak hanya baik untuk mencegah gangguan pada pencernaan saja. Manfaat lainnya antara lain:

  • Menjaga keseimbangan energi
  • Meningkatkan kemampuan berpikir dan mendukung perkembangan otak and brain development
  • Suasana hati menjadi selalu ceria
  • Membantu anak menjaga berat badan ideal
  • Bermanfaat juga bagi kesehatan mental, seperti mencegah depresi dan kecemasan (anxiety)
  • Membangun sistem imun yang kuat

Oleh karena itu, pola makan sehat perlu menjadi perhatian utama para orangtua agar si Kecil bebas dari masalah pencernaan serta memperkuat kemampuan belajar mereka berkat perkembangan otak yang optimal. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.

1. Mulai hari dengan sarapan bernutrisi

Sarapan adalah waktu makan paling penting. Upayakan agar si Kecil selalu sarapan setiap hari. Pastikan terdapat protein dan vitamin dalam menu sarapan si Kecil.

Dilansir dari Cleveland Clinic, protein penting untuk membantu pembentukan otot, memproduksi hormon, memperkuat kulit dan tulang, dan mengangkut nutrisi. Selain itu, berdasarkan artikel ilmiah berjudul Protein Malnutrition and Brain Development, protein termasuk salah satu nutrien penting bagi otak karena dapat mendukung tumbuh kembang dalam proses belajar bersosialisasi dan perilaku. Hal ini tentunya dapat memengaruhi kemampuan belajar si Kecil.

Mengutip dari laman NPR.org, beberapa bukti telah menyatakan bahwa sarapan bernutrisi mampu membantu kemampuan belajar anak. Salah satunya adalah penelitian yang diikuti 4.000 siswa sekolah dasar dan dilakukan tes ingatan. Hasilnya, siswa yang rutin sarapan memiliki hasil tes yang lebih baik dibandingkan dengan yang sering melewatkan sarapan.

Untuk sarapan praktis dan bernutrisi, berikut beberapa contoh menunya:

  • Roti gandum dengan telur
  • Roti gandum panggang (toast) dilengkapi protein dari selai kacang
  • Telur rebus, toast, dan satu buah apel

Jika Anda memiliki waktu lebih, siapkan sarapan untuk anak yang lebih lengkap dan beragam seperti menyediakan buah, sayur, sumber protein, dan karbohidrat lainnya.

2. Pola makan seimbang kunci pencernaan anak yang sehat

Menu makan yang seimbang terdiri makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). Sebagai panduan, berikut sumber dan anjuran asupan dari beberapa nutrisi bagi si Kecil.

  • Protein. Mudah ditemukan dalam daging, ayam, dan ikan. Kacang dan biji-bijian bisa menjadi alternatif sumber protein juga. Anjuran protein bagi anak usia 2-4 tahun sekitar 56 hingga 150 gram per hari.
  • Mendorong si Kecil untuk mengonsumsi buah dan sayur dalam berbagai warna. Misalnya buah beri, paprika, brokoli karena makanan tersebut kaya akan antioksidan. Jeruk dan buah citrus lainnya kaya akan vitamin C yang bermanfaat dalam meningkatkan imunitas dan berperan sebagai pelindung dari infeksi. Sayuran hijau seperti bayam kaya akan zat besi dan dapat membantu tubuh memproduksi sel darah putih serta antibodi.
  • Susu dan olahannya. Susu merupakan sumber terbaik kalsium yang dibutuhkan si Kecil untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang. Rekomendasi susu untuk anak usia 2 tahun ke atas setidaknya 500 ml setiap hari.

Sayuran juga mengandung serat yang tak kalah penting bagi kesehatan saluran cerna dan baik juga bagi sistem imun mengingat kesehatan usus penting bagi sistem pencernaan, tempat infeksi biasanya berasal.

Kandungan serat juga sangat penting untuk menjaga kelancaran pencernaan, seperti mencegah terjadinya sembelit pada anak. Beberapa makanan tinggi serat seperti nasi merah, roti gandum, serta kacang dan biji-bijian.

3. Pastikan kadar cairan dalam tubuh si Kecil tetap terjaga

Penting untuk selalu minum air sepanjang hari. Pola makan sehat tidak akan lengkap apabila kebutuhan cairan anak tidak mencukupi.

Tak hanya mencegah dehidrasi, air bisa membantu membuang kotoran sisa makanan dan melunakkan feses. Lalu, air juga penting agar serat bisa bermanfaat dalam tubuh.

Berdasarkan NHS, serat berperan menyerap air. Ketika tubuh kekurangan air, serat tidak bisa bekerja atau bermanfaat dalam tubuh, sehingga berdampak pada sembelit dan berujung pada melemahnya sistem pencernaan. Kondisi tersebut dapat turut mengganggu tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak anak.

Pola makan anak yang mengidap alergi makanan

Alergi makanan menjadi salah satu tantangan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Oleh karena itu, Ibu perlu cermat dalam memilih sumber nutrisi agar tumbuh kembang si Kecil tetap terjaga, sekaligus membantu alergi hilang seiring dengan bertambahnya usia. Menurut laman Stanford Children’s Health, beberapa makanan yang umum menjadi penyebab alergi merupakan jenis yang kaya akan nutrisi, seperti:

  • Susu
  • Telur
  • Gandum
  • Soya
  • Ikan
  • Kerang (atau makanan laut)

Orangtua perlu mencari alternatif lain sebagai pengganti makanan tersebut, misalnya saja susu. Anak yang mengidap alergi susu sapi akan kesulitan menerapkan pola makan sehat karena tidak bisa mengonsumsi susu pertumbuhan normal yang berbasis protein sapi.

Salah satu solusinya adalah dengan beralih ke susu pertumbuhan terhidrolisa ekstensif. Susu jenis ini memiliki protein yang lebih bersahabat dengan anak yang alergi susu sapi.

Selain itu, susu pertumbuhan terhidrolisa ekstensif merupakan rekomendasi utama dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) untuk dikonsumsi selama 2-4 minggu sebagai sumber nutrisi bagi anak dengan alergi susu sapi ringan hingga menengah. Dengan begitu, kebutuhan nutrisi harian si Kecil tetap bisa terpenuhi dan bisa mengurangi risiko terjadinya gangguan sistem pencernaan.

Ketika nutrisi harian terpenuhi, si Kecil tidak akan mudah jatuh sakit karena daya tahan tubuh juga ikut terjaga. Pola makan yang sehat dan seimbang merupakan modal utama tumbuh kembang serta perkembangan otak yang optimal.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mayo Clinic. (2017). What nutrients does your child need now?https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/nutrition-for-kids/art-20049335

Family Doctor. (2017, July 20). Nutrition Tips for Kids. https://familydoctor.org/nutrition-tips-for-kids/

NHS Choices. (2019). Good foods to help your digestion – Eat well. https://www.nhs.uk/live-well/eat-well/good-foods-to-help-your-digestion/

Mayo Clinic. (2019). Constipation in children – Symptoms and causes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation-in-children/symptoms-causes/syc-20354242

Stanford Children’s Health. (n.d.). Diarrhea in Children. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=diarrhea-in-children-90-P01990&sid=

Stanford Children’s Health. (n.d.). Food Allergies in Children. fromhttps://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=food-allergies-in-children-90-P01685&sid=

IDAI. (2016). Susu Formula Alternatif untuk Alergi Susu Sapi. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/susu-formula-alternatif-untuk-alergi-susu-sapi 

Children’s Health Team. (2017, June 26). Why Extra Protein for Your Child Is Unnecessary – and Possibly Dangerous. Health Essentials from Cleveland Clinic; https://health.clevelandclinic.org/why-extra-protein-for-your-child-is-unnecessary-and-possibly-dangerous/ 

Chertoff, M. (2015). Protein Malnutrition and Brain Development. Brain Disorders & Therapy, 04(03). https://doi.org/10.4172/2168-975x.1000171 

NPR.org. A Better Breakfast Can Boost a Child’s Brainpower. https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=5738848

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Roby Rizki Diperbarui 01/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x