Apa itu disentri?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu disentri?

Disentri adalah radang usus yang menyebabkan diare disertai darah atau lendir. Diare sendiri ditandai dengan sering buang air besar yang lembek atau cair.

Berdasarkan penyebabnya, disentri terbagi menjadi dua jenis:

  • Disentri basiler atau shigellosis. Terjadi ketika tubuh terinfeksi oleh bakteri shigella.
  • Disentri amuba atau amoebiasis. Terjadi ketika tubuh terinfeksi Entamoeba histolytica yaitu amuba yang banyak ditemukan di daerah tropis.

Amuba dan bakteri penyebab disentri dapat berpindah melalui kontak langsung dengan bakteri pada feses, serta melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, atau berenang di air yang terkontaminasi.

Penyakit ini sangat menular. Jika tidak segera ditangani, disentri dapat menyebabkan dehidrasi berat yang mengancam jiwa.

Seberapa umum disentri?

Disentri adalah penyakit yang umum. Penyakit satu ini dapat terjadi pada semua kalangan dengan usia berapapun. Namun, anak-anak berusia 2 hingga 4 tahun lebih mudah terkena kondisi ini. Hal ini disebabkan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih lemah.

Penyakit ini juga juga sering kali menyerang orang yang sering jajan sembarangan, serta tinggal di pemukiman kumuh dengan sanitasi yang buruk dan air bersih yang terbatas. Anda dapat mengatasi penyakit ini dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Silakan diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala disentri?

Gejala disentri bisa muncul dalam skala ringan hingga berat. Sebagian besar gejala disentri tergantung pada kualitas sanitasi di mana infeksi telah menyebar. Di negara maju, tanda dan gejala disentri cenderung lebih ringan daripada di negara berkembang atau daerah tropis.

Secara umum, gejala disentri adalah:

  • Diare yang sering kali disertai darah atau lendir.
  • Demam.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Kram perut.

Gejala disentri biasanya mulai muncul dari 1 atau 2 hari setelah Anda terinfeksi bakteri. Sementara penyakit ini biasanya berlangsung selama 5 sampai 7 hari. Pada beberapa orang, terutama anak-anak kecil dan lansia, diare yang terjadi sebagai gejala disentri dapat menjadi sangat serius dan diperlukan rawat inap di rumah sakit. Beberapa orang lainnya yang terinfeksi mungkin tidak mengalami gejala disentri sama sekali namun masih menyebarkan bakteri ke orang lain.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala disentri yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran mengalami gejala disentri tertentu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala disentri parah seperti berikut ini:

  • Diare disertai darah atau diare yang cukup parah.
  • Sakit saat buang air besar.
  • Muntah berulang-ulang.
  • Demam tinggi.
  • Penurunan berat badan secara drastis.
  • Memunculkan gejala dehidrasi, seperti merasa sangat kehausan, pusing, jantung berdebar.

Selain itu, hubungi dokter apabila Anda atau anak Anda mengalami diare dan demam hingga mencapai 40º Celsius atau lebih tinggi.

Penyebab

Apa penyebab disentri?

Penyebab disentri dibagi menjadi dua, yaitu bakteri dan amoeba.

  • Penyebab disentri akibat bakteri

Infeksi bakteri adalah penyebab utama dari disentri. Infeksi tersebut meliputi spesies bakteri Shigella, Campylobacter, E. coli, dan Salmonella. Bakteri shigella adalah penyebab disentri yang paling umum.

Bakteri penyebab disentri dapat ditemukan dalam tinja orang yang terinfeksi dan menyebar melalui banyak cara. Misalnya saat seseorang tidak mencuci tangan sampai bersih setelah buang air besar. Selain kebiasaan mencuci tangan yang buruk, Anda juga mungkin terinfeksi bakteri penyebab disentri jika mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Menyentuh benda atau bagian tubuh yang sudah terkontaminasi bakteri penyebab disentri juga bisa meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini. Bahkan, Anda juga berisiko terkena penyakit ini jika berenang di air yang terkontaminasi, seperti danau ataupun korang renang.

Disentri sering ditemukan di pusat penitipan anak, panti jompo, tempat pengungsian, di sekolah, dan tempat-tempat lain di mana banyak orang dan sanitasi buruk.

  • Penyebab disentri akibat amoeba (amoebiasis)

Disentri juga dapat disebabkan oleh amuba yang disebut Entamoeba histolytica. Amuba sendiri adalah parasit bersel satuBiasanya amuba jenis ini banyak ditemukan di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Sama seperti jenis disentri yang disebabkan oleh bakteri, amuba penyebab disentri dapat ditemukan di tempat-tempat yang memiliki sanitasi buruk.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk disentri?

Ada banyak faktor hal yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit disentri, di antaranya:

  • Balita. Infeksi ini paling banyak terjadi pada anak-anak berusia di antara 2 hingga 4 tahun.
  • Tinggal di perumahan padat penduduk atau mengikuti aktivitas kelompok. Kontak yang dekat dengan orang lain memudahkan penyebaran bakteri dari seseorang ke orang lain. Wabah shigella lebih umum terjadi di pusat penitipan anak, kolam rendam umum, panti jompo, penjara, dan barak militer.
  • Tinggal atau berpergian ke daerah dengan sanitasi yang buruk. Orang yang tinggal atau berpergian ke negara-negara berkembang lebih mudah terkena infeksi bakteri atau amoeba penyebab disentri.
  • Laki-laki gay yang aktif secara seksual. Pria yang melakukan hubungan seks dengan pria memiliki risiko yang lebih besar akibat kontak oral-anal secara langsung atau tidak langsung.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi dari penyakit ini?

Jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius. Beberapa komplikasi ini termasuk:

  • Artritis. Komplikasi satu ini memengaruhi sekitar 2 persen orang yang mendapatkan jenis bakteri Shigella tertentu, yaitu bakteri Shigella flexneri. Orang-yang terinfeksi bakteri tersebut dapat mengalami nyeri sendi, iritasi mata, dan buang air kecil yang menyakitkan. Kondisi ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
  • Infeksi aliran darah. Atau disebut juga septisemia, yaitu ketika bakteri yang menginfeksi bagian tubuh tertentu telah memasuki aliran darah. Komplikasi ini jarang terjadi, tapi akan lebih rentan dialami oleh orang dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, kanker, atau sedang menjalani kemoterapi.
  • Kejang. Anak-anak paling rentan mengalami kejang akibat komplikasi dari penyakit disentri. Sampai saat ini belum diketahui pasti mengapa anak-anak bisa mengalami komplikasi satu ini. Namun, kejang akibat penyakit disentri umumnya akan hilang tanpa pengobatan.
  • Sindrom uremik hemolitik (HUS). Salah satu jenis bakteri Shigella, yaitu S. dysenteriae, kadang-kadang dapat menyebabkan HUS adalah gangguan yang biasanya terjadi ketika infeksi pada sistem pencernaan memproduksi zat beracun yang merusak sel-sel darah merah. Ini adalah kondisi serius yang harus segera mendapatkan pertolongan medis.
  • Abses hati. Dalam kasus yang jarang terjadi, penyakit disentri yang disebabkan karena terkena infeksi amuba juga dapat menyebabkan abses hati. Tak hanya itu saja, infeksi parasit ini juga bisa menyebar hingga ke paru-paru dan otak.

Bahkan diare yang terlalu barah juga bisa menyebabkan kematian. Mengapa? Saat diare, tubuh akan kehilangan banyak cairan dan ion tubuh. Hal ini membuat orang yang mengalami diare rentan dehidrasi. Ketika kadar cairan dalam tubuh Anda berkurang, maka keseimbangan ion dalam tubuh juga terganggu. Akibatnya, fungsi organ dan jaringan tubuh Anda tidak bisa bekerja optimal.

Nah, jika dehidrasi sudah masuk dalam fase yang parah, seseorang akan lebih berisiko mengalami berbagai komplikasi serius seperti gangguan fungsi ginjal, kejang, asidosis metabolik, hingga syok hipovolemik akibat kehilangan cairan yang terlalu banyak. Syok ini bisa menyebabkan hilang kesadaran (pingsan) atau bahkan kematian.

Oleh sebab itu diare tidak boleh dianggap enteng walaupun kondisi ini umum terjadi.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana penyakit ini didiagnosis?

Jika Anda atau anak Anda memiliki gejala disentri seperti yang sudah disebutkan di atas, segera konsultasi ke dokter. Karena banyaknya penyakit yang dapat menyebabkan demam dan diare yang berdarah, tes laboratorium adalah cara paling tepat untuk mendiagnosis penyakit ini.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan pertanyaan mengenai gejala, makanan yang baru Anda konsumsi, serta lingkungan pekerjaan dan rumah Anda. Dokter juga akan memeriksa sampel feses untuk mengonfirmasi diagnosis. Tes darah dapat dilakukan apabila gejala parah atau untuk mengeliminasi penyebab lainnya yang mungkin terjadi.

Dokter Anda mungkin juga akan melakukan pemeriksaan tambahan lainnya untuk memutuskan apakah pengobatan dengan antibiotik sudah cukup membantu atau tidak.

Bagaimana disentri diobati?

Penting untuk dipahami bahwa setiap pasien membutuhkan perawatan yang berbeda-beda. Penanganan penyakit ini akan tergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami pasien. Hanya dokterlah yang dapat menilai dan mentukan perawatan terbaik apa saja yang dibutuhkan setiap pasiennya.

Beberapa pasien mungkin harus mendapatkan perawatan di rumah sakit selama beberapa hari. Sementara pasien lainnya cukup di rawat di rumah dengan istirahat total.

Namun secara umum ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit ini, di antaranya:

  • Antibiotik

Antibiotik adalah obat disentri yang paling ampuh. Dokter biasanya akan meresepkan obat antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab disentri dalam tubuh. Beberapa antibiotik yang sering digunakan adalah Ceftriaxone (biasanya diberikan jika pasien sedang hamil), Chloramphenicol, Ampisilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan Ciprofloxacin. 

Selain itu, dokter juga mungkin akan meresepkan antibiotik metronidazole (Flagyl) atau tinidazole (Tindamax). Obat-obatan tersebut dapat membunuh parasit. Dalam beberapa kasus, obat lanjutan diberikan untuk memastikan semua parasit hilang.

Antibiotik paling ampuh ketika jumlah obat di dalam tubuh dijaga dengan tingkat yang konsisten. Maka, minum obat antibiotik yang diresepkan dokter dengan interval yang kurang lebih sama.

Menggunakan antibiotik saat tidak dibutuhkan meningkatkan risiko terkena infeksi yang kebal dengan pengobatan antibiotik. Oleh sebab itu, konsumsi obat antibiotik tersebut sesuai dengan yang diinstruksikan dokter.

Lanjutkan menggunakan obat antibiotik sampai habis, meskipun gejala disentri menghilang setelah beberapa hari. Berhenti minum obat terlalu dini justru dapat membuat bakteri penyebab disentri tetap tumbuh, yang berakibat kambuhnya infeksi. Beritahu dokter jika kondisi gejala yang Anda alami tidak kunjung hilang atau memburuk. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

  • Pengganti cairan dan garam

Bagi beberapa orang, diare ringan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, bagi beberapa orang lainnya, diare yang dialaminya mungkin lebih berat, sehingga bisa menyebabkan masalah lain, seperti dehidrasi (kehilangan terlalu banyak cairan tubuh). Dehidrasi ini disebabkan karena terlalu banyak cairan yang keluar dari tubuh melalui buang air besar yang terlalu cair dan sering pada saat diare.

Untuk orang dewasa yang dalam kondisi sehat, minum air cukup untuk melawan efek dehidrasi dari diare. Anak-anak dapat menggunakan cairan hidrasi oral, seperti oralit. Namun ingat, oralit tidak bisa menyembuhkan disentri, melainkan membantu mengobati ataupun mencegah pasien mengalami dehidrasi.

Anda bisa membuat oralit dengan tiga bahan dasar yang sudah pasti ada di rumah, yaitu gula, garam, dan air. Campurkan semua bahan tersebut dalam sebuah wadah dan minumlah selama beberapa kali dalam sehari sampai tubuh benar-benar pulih. Jika tidak memungkin membuat sendiri, Anda dapat membeli oralit kemasan di apotek terdekat lalu dilarutkan dalam segelas air.

Untuk bayi yang berusia di bawah 6 bulan, Anda bisa terus memberikannya ASI eksklusif (ASI saja) untuk mencegah diare semakin memburuk. Kandungan dalam ASI dapat menghambat pertumbuhan kuman yang menyebabkan diare.

Sementara bagi anak-anak dan orang tua yang mengalami dehidrasi parah memerlukan penanganan di unit gawat darurat di rumah sakit. Hal ini agar mereka dapat menerima garam dan cairan melalui infus, dibanding lewat mulut. Hidrasi melalui infus memberikan air dan nutrisi yang penting pada tubuh lebih cepat dari cairan oral.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi disentri?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi disentri:

  • Perbanyak istirahat, hindari melakukan aktivitas yang berat selama beberapa waktu.
  • Minum obat sesuai yang dianjurkan dokter.
  • Jika anak Anda menggunakan popok dan memiliki infeksi bakteri, bersihkan tempat penggantian popok dengan disinfektan, seperti cairan pemutih perabotan dan buang popok di tempat sampah yang tertutup. Kemudian cuci tangan Anda dengan sabun dan air hangat.
  • Orang yang memiliki infeksi bakteri tidak boleh mempersiapkan makanan atau menuangkan air untuk orang lain. Bakteri masih ada di tubuh orang yang memiliki shigellosis sampai 1 atau 2 minggu setelah gejala muncul.
  • Menjaga kebersihan makanan atau minuman, dan alat makan agar infeksi tidak menyebar ke orang di sekitar Anda.
  • Mengonsumsi makanan lunak, tinggi protein dan rendah serat.
  • Hindari mengonsumsi makanan yang terlalu pedas, asam, berminyak, berlemak, dan makanan mentah.
  • Hindari mengonsumsi susu dan produk susu lainnya yang tidak dipasteuriasi.
  • Hindari mengonsumsi minuman kemasan jika segelnya rusak.
  • Cukupi kebutuhan cairan tubuh Anda dengan banyak minum air putih.
  • Cuci tangan teratur dengan sabun dan air hangat untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: Agustus 23, 2018 | Terakhir Diedit: Agustus 23, 2018

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca