home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Buang Air Besar (BAB) Berdarah

Definisi buang air besar (BAB) berdarah|Tanda dan gejala BAB berdarah|Penyebab dan faktor risiko|Diagnosis dan pengobatan|Pencegahan BAB berdarah
Buang Air Besar (BAB) Berdarah

Definisi buang air besar (BAB) berdarah

Buang air besar (BAB) berdarah adalah penggambaran adanya darah yang keluar melalui anus, baik bersama feses maupun tidak. Darah umumnya berasal dari perdarahan pada saluran pencernaan, seperti lambung, anus, rektum, atau bagian bawah usus besar.

Kondisi yang juga disebut sebagai berak darah ini tak selalu ditandai dengan keluarnya darah bersama feses. Bila Anda mendapati darah pada tisu toilet, atau air dalam kloset berwarna merah muda, ini juga gejala terjadinya gangguan pencernaan.

Anda perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk membedakan BAB berdarah akibat wasir dengan perdarahan rektum akibat kondisi lainnya. Konsultasikan dengan dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Seberapa umum kondisi BAB berdarah?

BAB berdarah adalah kondisi yang menandakan adanya masalah pada saluran pencernaan. Salah satu gejala penyakit pencernaan ini memang sering memicu kekhawatiran.

Walaupun demikian, hal ini tidak selalu menandakan gangguan kesehatan serius. Sebagian besar kasus buang air besar berdarah biasanya disebabkan oleh sembelit atau wasir.

Sementara itu, penyebab feses berdarah juga bisa menjadi pertanda kanker pada saluran atau salah satu organ pencernaan, seperti kanker usus besar.

Tanda dan gejala BAB berdarah

Banyak orang yang mengalami BAB berdarah tidak menyadari atau mengalami gejala apa pun. Namun, ada beberapa orang yang merasakan gejala lain, seperti:

  • muntah,
  • tubuh lesu,
  • sulit bernapas,
  • sakit perut,
  • jantung berdebar,
  • pingsan,
  • diare, dan
  • kehilangan berat badan.

Berbagai gejala di atas bisa menjadi petunjuk bagi dokter untuk mengetahui penyebab munculnya darah saat buang air besar.

Namun, dokter terkadang membutuhkan petunjuk tambahan mengenai kondisi pasien dari warna feses.

Warna feses berubah

Warna feses yang dihasilkan oleh pasien adalah salah satu penanda penting yang menunjukkan dari mana perdarahan terjadi. Dilansir dari Cleveland Clinic, ada beberapa perbedaan warna BAB yang diamati oleh dokter, yakni:

  • merah segar, artinya perdarahan terjadi pada bagian bawah organ usus besar,
  • merah gelap, menandakan perdarahan terjadi pada bagian atas usus besar atau bawah usus halus, serta
  • gelap menyerupai tar (melena), menunjukkan perdarahan terjadi sejak di dalam lambung.

Kapan harus periksa ke dokter?

Warna merah atau hitam pada feses tidak selalu menandakan perdarahan pada saluran pencernaan. Anda bisa saja mengalami kondisi ini bila mengonsumsi banyak makanan berwarna merah atau suplemen zat besi.

Namun, Anda perlu waspada bila mengalami BAB berdarah atau perubahan warna feses yang disertai dengan gejala seperti:

  • tekanan darah menurun drastis,
  • peningkatan denyut jantung,
  • tidak dapat buang air kecil, atau
  • kebingungan atau kehilangan kesadaran.

Jika Anda merasakan satu atau lebih gejala yang disebutkan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Penyebab dan faktor risiko

BAB berdarah termasuk tanda saluran pencernaan tengah mengalami masalah dan salah satunya bisa disebabkan oleh perdarahan. Berikut sederet gangguan pencernaan yang bisa menjadi penyebab buang air besar bercampur darah.

1. Wasir (ambeien)

Wasir merupakan penyebab BAB berdarah yang paling umum. Penyakit yang dikenal juga dengan ambeien ini disebabkan oleh pembengkakan dan peradangan pada saluran cerna bagian bawah, yaitu jaringan anus.

Masalah pada jaringan anus ini diakibatkan oleh pelebaran pembuluh vena yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti:

Ketiga hal di atas dapat membuat feses mengeras dan menyebabkan sembelit. Akibatnya, gejala wasir bertambah parah saat feses yang keluar bercampur dengan darah.

2. Divertikulitis

Divertikulitis merupakan peradangan pada kantong-kantong kecil yang terbentuk dalam lapisan usus. Selain feses berdarah, divertikulitis juga ditandai dengan kondisi lainnya, meliputi:

  • demam,
  • mual,
  • muntah, dan
  • sakit perut.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, penyebab divertikulitis berhubungan dengan faktor genetik dan gaya hidup termasuk makanan yang dikonsumsi, kebiasaan merokok, dan kurang berolahraga.

3. Fisura ani

Penyebab BAB bercampur darah lainnya yaitu fisura ani atau kondisi ketika adanya robekan pada kulit anus. Perdarahan saluran pencernaan bawah ini biasanya mengeluarkan darah yang berwarna merah terang.

Meski terlihat mengkhawatirkan, perdarahan biasanya akan cepat berhenti dan sembuh sendiri dalam beberapa minggu saja. Anda mungkin juga akan mengalami rasa ingin buang air besar meskipun usus sudah kosong.

Penyebab BAB berdarah yang satu ini biasanya adalah sembelit kronis yang tidak diobati dengan tepat.

4. Penyakit radang usus

Penyakit peradangan usus (IBD) biasanya terjadi pada lapisan usus besar atau rektum. Peradangan ini bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, yakni:

  • infeksi bakteri dan virus,
  • gangguan autoimun,
  • penyakit Crohn, hingga
  • aliran darah menuju usus terhambat.

Peradangan usus yang tidak diobati dapat menyebabkan pembentukan luka atau kolitis ulseratif. Meskipun penyebab ini tidak dapat disembuhkan, obat-obatan dapat meringankan gejala sekaligus menurunkan risiko komplikasi.

5. Angiodisplasia

Bagi lansia yang sering mengalami buang air besar berdarah mungkin disebabkan oleh angiodisplasia. Kondisi ini terjadi akibat penuaan dan kerusakan dinding pembuluh darah di sekitar usus yang membengkak.

Bila tidak ditangani dengan tepat, gangguan pencernaan ini dapat memicu anemia hingga kematian karena tubuh kekurangan suplai darah. Perawatan angiodisplasia biasanya mengharuskan pasien diopname dan menjalani operasi bedah.

6. Tukak lambung

Tukak lambung yaitu luka pada lapisan lambung atau duodenum, yaitu bagian atas usus kecil yang juga dikenal sebagai usus dua belas jari. Perdarahan saluran pencernaan atas ini dapat terjadi akibat berbagai hal, antara lain:

7. Polip usus berubah menjadi kanker

Polip adalah tumor jinak yang tumbuh pada jaringan lain. Pada kasus ini polip terbentuk pada usus dan berukuran kecil, sehingga biasanya tidak memicu gejala apa pun.

Kondisi yang jarang disadari ini baru akan menimbulkan gejala ketika kutil membesar dan menyebar. Salah satu gejala yang cukup terasa yaitu BAB berdarah yang bisa disertai berat badan menurun, diare, hingga sakit perut.

8. Fistula ani

Meski terdengar mirip, fistula ani berbeda dengan fisura ani. Fistula ani adalah istilah untuk menggambarkan pembentukan saluran kecil antara ujung usus (lubang anus) dan kulit di sekitarnya.

Saluran kecil ini dapat terbentuk akibat infeksi di dekat anus yang menyebabkan kumpulan nanah (abses). Akibatnya, feses berdarah pun tidak dapat dihindari.

9. Sindrom iritasi usus besar

Iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS) merupakan masalah pencernaan yang memengaruhi fungsi usus besar. Pasien IBS biasanya mengalami kontraksi otot yang terjadi saat makanan melewati usus besar dan hal ini bukan kondisi yang normal.

Hal ini dikarenakan kontraksi yang berlebihan bisa memicu diare, sedangkan kontraksi yang terlalu sedikit dapat menyebabkan sembelit. Akibatnya, kontraksi otot yang tidak teratur ini bisa memicu rasa sakit dan penyebab BAB bercampur darah.

10. Infeksi saluran pencernaan lainnya

Infeksi saluran cerna, baik pada bagian atas maupun bawah, juga bisa disebabkan oleh bakteri, seperti:

Ketiga bakteri ini dapat menyebabkan gejala penyakit pencernaan seperti diare, kram pada perut, muntah, serta demam. Akibat kontraksi ini, darah dalam usus bisa ikut keluar ketika buang air besar.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana cara mendiagnosis BAB berdarah?

Beragamnya penyebab BAB berdarah membuat dokter perlu memeriksa kondisi Anda lebih lanjut. Dokter akan mengawali pemeriksaan dengan menanyakan gejala yang Anda rasakan, melihat riwayat kesehatan, dan melakukan tes kesehatan.

Tes kesehatan yang direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis penyebab buang air besar berdarah adalah sebagai berikut.

1. Pemeriksaan tinja

Pemeriksaan feses atau tinja cukup mudah. Sampel tinja pasien dapat dikirim ke laboratorium untuk diperiksa apakah ada kandungan darahnya.

2. Nasogastric lavage

Pemeriksaan ini akan memberi tahu dokter apakah perdarahan terjadi pada bagian atas atau bawah saluran cerna. Prosedurnya adalah dengan mengambil isi lambung melalui tabung yang dimasukkan ke dalam lambung melalui hidung.

3. Esophagogastroduodenoscopy (EGD)

Prosedur EGD termasuk bentuk dari pemeriksaan endoskopi dengan memasukkan tabung lentur berujung kamera. Alat EGD akan dimasukkan melalui mulut, lalu diteruskan ke kerongkongan, lambung, dan duodenum.

4. Kolonoskopi

Prosedur kolonoskopi hampir sama dengan EGD, tapi alat dimasukkan melalui rektum untuk melihat usus besar. Kolonoskopi kadang juga dilakukan untuk mengumpulkan sampel jaringan melalui biopsi.

5. Enteroskopi

Prosedur ini hampir sama seperti kolonoskopi, tapi bagian saluran cerna yang diamati adalah usus kecil. Pada beberapa kasus, endoskop akan dimasukkan ke dalam tubuh untuk melihat kondisi saluran pencernaan yang menjadi penyebab BAB berdarah.

Apa saja pilihan obat dan perawatan BAB berdarah?

Pada dasarnya, obat BAB berdarah baru dapat diberikan atau dilakukan setelah dokter memastikan apa penyebab dari penyakit berak darah ini.

Hal tersebut bertujuan agar pengobatan tidak hanya menghentikan perdarahan saluran pencernaan, melainkan juga mencegah kekambuhan.

Selain obat, Anda mungkin juga membutuhkan tindakan bedah jika penyebab perdarahan yaitu polip pada usus yang berkembang menjadi kanker. Selalu diskusikan dengan dokter terkait pilihan obat dan pengobatan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Pencegahan BAB berdarah

Setelah berhasil menghentikan perdarahan, sebaiknya jalani gaya hidup sehat guna mengurangi risiko buang air besar berdarah. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah BAB berdarah, yakni:

  • konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian kaya serat untuk mencegah sembelit,
  • perbanyak konsumsi makanan tinggi asam folat,
  • batasi asupan sumber lemak hewani, terutama daging merah,
  • minum air putih secukupnya untuk melancarkan BAB,
  • rutin buang air besar dan tidak sengaja menundanya,
  • hindari rokok dan konsumsi alkohol untuk mengurangi risiko kanker lambung,
  • ikuti anjuran dokter bila harus mengonsumsi obat secara rutin, dan
  • jaga kebersihan tangan dan makanan untuk mengurangi risiko keracunan makanan.

BAB berdarah dapat menjadi pertanda dari berbagai masalah pencernaan, mulai dari wasir hingga kanker usus besar. Bila Anda mendapat darah pada feses saat BAB, Anda tidak perlu panik.

Selalu konsultasikan dengan dokter ketika mengkhawatirkan sebuah gejala yang dialami untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Rectal bleeding. (2020). Retrieved 3 December 2020, from http://www.nhs.uk/conditions/rectal-bleeding/Pages/Introduction.aspx

The colon and rectum. (2020). Retrieved 3 December 2020, from http://www.cancer.ca/en/cancer-information/cancer-type/colorectal/colorectal-cancer/the-colon-and-rectum/?region=on

Rectal Bleeding. (2020). Retrieved 3 December 2020, from  https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/14612-rectal-bleeding

Hemorrhoids. (2020). Retrieved 3 December 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15120-hemorrhoids

Mayo Clinic. (2020). Retrieved 3 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ulcerative-colitis/symptoms-causes/syc-20353326

Anal Fissures. (2020). Retrieved 3 December 2020, from  https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/13177-anal-fissures

Anal fistula. (2020). Retrieved 3 December 2020, from  https://www.nhs.uk/conditions/anal-fistula/

Symptoms & Causes of Diverticular Disease. (2020). Retrieved 3 December 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diverticulosis-diverticulitis/symptoms-causes.

Angiodysplasia of the colon. (2020). Retrieved 3 December 2020, from  https://medlineplus.gov/ency/article/000238.htm

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji pada 11/02/2021
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x