home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Fakta Penting Seputar Antitoksin Difteri, Obat Baru untuk Mengatasi Difteri

5 Fakta Penting Seputar Antitoksin Difteri, Obat Baru untuk Mengatasi Difteri

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Corynebacterium diptheriae. Pada bulan November 2017, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa Indonesia sedang mengalami KLB (kejadian luar biasa) difteri yang ditandai dengan peningkatan kasus difteri di hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Bakteri ini ditularkan melalui udara dan bisa masuk ke dalam saluran pernapasan. Dalam tubuh, bakteri ini akan mengeluarkan toksin (zat racun) yang membahayakan. Gejala yang ditimbulkan antara lain lemas, sakit tenggorokan, demam, pembengkakan leher, muncul pseudomembran alias lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandel yang bila diangkat akan berdarah, sulit bernapas, serta sulit menelan.

Apabila Anda mencurigai gejala difteri, sebaiknya segera berobat ke dokter. Saat ini, pengobatan difteri dilakukan dengan dua cara, yaitu:

  • Pemberian antitoksin difteri untuk mencegah kerusakan akibat toksin difteri
  • Pemberian antibiotik untuk melawan bakteri

Semua yang perlu Anda tahu seputar antitoksin difteri

1. Antitoksin difteri harus diberikan secepatnya

Untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien, antitoksin difteri harus diberikan sesegera mungkin. Antitoksin ini bahkan sudah bisa diberikan pada pasien sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium dan terbukti diagnosis penyakitnya.

Akan tetapi, antitoksin ini hanya diberikan pada pasien yang secara klinis menunjukkan gejala-gejala difteri seperti yang telah disebutkan di atas serta setelah dilakukan uji hipersensitivitas terhadap antitoksin ini.

Meski tidak perlu menunggu hasil laboratorium, bukan berarti Anda tidak perlu melakukan pemeriksaan apa-apa. Anda tetap perlu melakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Ini berguna untuk memastikan Anda tidak mengidap penyakit infeksi lainnya.

2. Bagaimana cara kerja antitoksin difteri?

Antitoksin bekerja dengan menetralisir toksin Corynebacterium diptheriae yang terlepas di pembuluh darah (unbound) sehingga dapat mencegah komplikasi penyakit. Antitoksin ini berasal dari serum kuda, maksudnya diracik dari plasma kuda yang kebal terhadap penyakit ini.

3. Antitoksin difteri diberikan dalam bentuk apa?

Antitoksin ini biasanya diberikan dalam bentuk suntikan intramuskular (suntikan ke otot) pada kasus difteri yang lebih ringan. Sedangkan pada kasus berat, antitoksin difteri biasanya diberikan dalam cairan infus.

Dosis antitoksin difteri anak dan dewasa pada umumnya tidak berbeda. Dosis disesuaikan dengan gejala klinis yang muncul.

  • Penyakit tenggorokan yang terjadi selama dua hari diberikan 20.000 hingga 40.000 unit
  • Penyakit nasofaring diberikan 40.000 sampai 60.000 unit
  • Penyakit berat atau pasien dengan pembengkakan leher yang difus diberikan 80.000 sampai 100.000 unit
  • Lesi kulit diberikan 20.000 hingga 100.000 unit

4. Antitoksin difteri bisa diberikan sebagai tindakan pencegahan

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat (setara dengan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Indonesia), ada beberapa kondisi di mana antitoksin difteri dapat digunakan untuk pencegahan penyakit, bukan untuk mengobati.

Berikut adalah orang-orang yang mungkin membutuhkan antitoksin untuk pencegahan difteri.

  • Orang-orang yang terpapar toksin difteri
  • Orang dengan riwayat imunisasi difteri yang tidak jelas (lupa sudah pernah imunisasi Dt dan Td atau belum)
  • Tidak bisa dirawat di rumah sakit untuk dipantau perkembangan gejala klinisnya atau tidak dapat dilakukan kultur jaringan untuk melihat bakteri difteri
  • Orang yang memilki riwayat atau dicurigai tersuntik toksin difteri (misalnya pekerja di laboratorium atau rumah sakit)

5. Efek samping antitoksin yang perlu diwaspadai

Sama seperti obat-obatan lainnya, antitoksin juga berisiko menyebabkan efek samping. Maka, pemberian berulang tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping. Efek samping yang dapat muncul setelah penyuntikan antitoksin difteri antara lain:

1. Alergi dan syok anafilaktik

Alergi terhadap antitoksin umumnya ditandai dengan kulit gatal, kemerahan, biduran dan angioedema. Sedangkan pada kasus alergi yang parah, yaitu syok anafilaktik, gejalanya yaitu sesak napas, penurunan tekanan darah, dan aritmia. Akan tetapi, kasus ini sangat jarang terjadi.

2. Demam

Demam bisa muncul 20 menit sampai satu jam setelah penyuntikan antitoksin difteri. Demam setelah penyuntikan ditandai dengan peningkatan suhu tubuh yang cepat disertai dengan rasa menggigil dan sesak.

3. Serum sickness

Kondisi ini ditandai dengan gejala kemerahan kulit, biduran, demam, disertai dengan nyeri sendi, pegal, dan pembesaran kelenjar limfa.

Gejala ini bisa muncul tujuh sampai sepuluh hari setelah pemberian serium antidifteri. Pengobatan untuk serum sickness adalah dengan memberikan obat anthistamin, obat antiradang non-steroid, dan obat kortikosteroid.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Himbauan IDAI tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri [Internet]. 2017. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri (Diakses : 2 Desember 2017)

Himbauan IDAI tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri [Internet]. 2011. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri (Diakses : 2 Desember 2017)

Tiwari T, Yu Y. Expanded Access Investigational New Drug ( IND ) Application Protocol : Use of Diphtheria Antitoxin ( DAT ) for Suspected Diphtheria Cases. Centers Dis Control Prev. 2016;(7):0–17.


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Angelina Yuwono
Tanggal diperbarui 12/12/2017
x