Apa Itu Henti Jantung (Cardiac Arrest)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu cardiac arrest (henti jantung)?

Henti jantung atau yang disebut juga sebagai cardiac arrest atau sudden cardiac arrest (SCA) adalah kondisi di mana jantung Anda tiba-tiba berhenti berdetak. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan yang sangat serius.

Apabila jantung berhenti berdetak, darah akan berhenti dipompa dari jantung menuju organ vital lainnya, seperti otak, hati, dan paru-paru. Kondisi ini dapat mengakibatkan penderitanya tidak sadarkan diri, tidak bernapas dengan normal, bahkan berhenti bernapas.

Jantung memiliki sistem elektrik internal yang mengendalikan ritme detak jantung. Beberapa masalah detak jantung dapat terjadi jika sistem elektrik internal tersebut mengalami kerusakan. Salah satunya adalah henti jantung.

Kondisi ini terkadang berkaitan erat dengan masalah detak jantung lainnya, seperti aritmia dan serangan jantung.

Aritmia menyebabkan jantung berdetak tidak beraturan. Sementara itu, serangan jantung merupakan matinya jaringan otot jantung akibat kehilangan pemasukan darah.

Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan jantung berhenti bekerja dengan tiba-tiba. Apabila tidak ditangani dengan segera, henti jantung dapat menyebabkan kematian atau disabilitas.

Saat jantung berhenti, kurangnya suplai darah dengan oksigen dapat menyebabkan kerusakan otak. Kematian atau kerusakan otak permanen dapat terjadi dalam 4-6 menit.

Maka dari itu, apabila Anda atau orang lain mengalami gejala henti jantung, segera cari bantuan medis darurat.

Seberapa umumkah henti jantung?

Henti jantung adalah kondisi yang sangat serius dan persentase kejadiannya pun cukup tinggi. Diperkirakan ada sebanyak 7 juta kasus henti jantung yang berakhir dengan kematian setiap tahunnya.

Selain itu, kondisi ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan, dengan perbandingan sebesar 3:1. Kasus jantung berhenti juga lebih banyak terjadi pada orang-orang berusia lanjut, antara 45 hingga 75 tahun.

Orang-orang yang memiliki masalah atau penyakit pada jantungnya juga lebih rentan mengalami kondisi ini. Henti jantung dapat ditangani dengan cara mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala henti jantung?

Pada orang-orang yang mengalami henti jantung, akan muncul tanda-tanda dan gejala seperti pusing, jantung berdetak cepat secara tiba-tiba, sebagai pertanda bahwa jantung mengalami masalah.

Namun, pada beberapa kasus, jantung berhenti mendadak atau sudden cardiac arrest terjadi tanpa disertai gejala awal.

Berikut adalah tanda-tanda dan gejala henti jantung yang paling sering muncul:

  • Kepala pusing
  • Napas lebih pendek dari biasanya
  • Dada terasa sakit
  • Sesak napas
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Detak jantung mendadak lebih cepat
  • Mengi (wheezing)
  • Kejang di kaki dan lengan
  • Kehilangan kesadaran atau pingsan
  • Napas berhenti

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jantung tiba-tiba berhenti merupakan kondisi yang sangat berbahaya. Jika Anda mengalami gejala-gejala seperti di bawah ini, segera pergi ke dokter:

  • Nyeri dada yang berulang dengan sering
  • Jantung berdebar-debar atau Palpitasi jantung
  • Detak jantung melambat atau bradikardia
  • Detak jantung cepat dan tidak teratur
  • Wheezing atau sesak napas tanpa alasan yang jelas
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Pusing

Tubuh masing-masing orang menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, segera hubungi dokter terdekat.

Apa saja komplikasi henti jantung?

Apabila jantung Anda tiba-tiba berhenti berdetak, aliran darah dan oksigen ke otak Anda akan berkurang secara drastis. Kondisi ini dapat menyebabkan Anda kehilangan kesadaran.

Jika ritme jantung tidak segera kembali ke semula, kemungkinan akan terjadi kerusakan otak dan kematian. Orang yang selamat dari kondisi ini menunjukkan beberapa tanda kerusakan otak.

Penyebab

Apa penyebab henti jantung?

Penyebab paling utama dari jantung yang berhenti secara mendadak adalah adanya masalah pada sistem elektrik di dalam jantung.

Hal ini disebabkan oleh fibrilasi ventrikel, yaitu kondisi ritme jantung yang tidak wajar. Jantung Anda terdiri dari 4 ruang, yaitu dua ruang di bawah yang disebut dengan bilik (ventrikel) dan dua sisanya di atas adalah serambi (atrium).

Pada fibrilasi ventrikel, ventrikel akan bergetar secara tidak terkendali. Kondisi ini menyebabkan ritme jantung berubah secara drastis.

Ventrikel yang bermasalah menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah dengan baik. Pada beberapa kasus, peredaran darah akan berhenti total. Hal tersebut dapat menyebabkan kematian.

Ketika fibrilasi ventrikel terjadi, nodus sinoatrial (SA) tidak dapat mengirimkan impuls elektrik dengan baik. Nodus SA berada di ruang kanan jantung. Fungsinya adalah mengatur seberapa cepat jantung memompa darah.

Berikut adalah masalah-masalah jantung lainnya yang dapat menyebabkan detak jantung terhenti:

1. Luka di jaringan jantung

Apabila terdapat luka pada jantung, kondisi tersebut dapat memicu terjadinya aritmia dan serangan jantung.

2. Penebalan otot jantung (kardiomiopati)

Kardiomiopati adalah kondisi di mana otot jantung mengalami pelebaran atau penebalan. Kondisi ini dapat memicu terjadinya aritmia, yang berakibat pada henti jantung.

3. Kelainan sistem elektrik jantung

Beberapa orang menderita kelainan ritme jantung primer, yang umumnya merupakan sindrom Brugada atau sindrom Long QT.

4. Kelainan pembuluh darah

Pada kasus yang jarang terjadi, henti jantung dapat disebabkan oleh kelainan pembuluh darah, terutama pada arteri koroner dan aorta. Aktivitas fisik yang terlalu intens dan berat dapat memicu terjadinya kondisi tersebut.

5. Penyakit arteri koroner

Arteri koroner yang mengalami penyumbatan akibat kolesterol dan kondisi lainnya dapat mengurangi aliran darah ke jantung. Kondisi ini dapat memengaruhi detak jantung Anda.

6. Serangan jantung

Apabila serangan jantung terjadi, hal tersebut dapat menimbulkan terjadinya fibrilasi ventrikel dan henti jantung.

7. Penyakit katup jantung

Katup jantung yang menyempit atau bocor dapat menyebabkan otot jantung melebar dan menebal. Kondisi ini menyebabkan aritmia terjadi, sehingga jantung berpotensi berhenti mendadak.

8. Penyakit jantung bawaan lahir

Apabila kondisi jantung berhenti terjadi pada anak kecil atau bayi, biasanya jantung telah mengalami kecacatan sejak bayi masih di dalam kandungan.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk henti jantung?

Henti jantung adalah kondisi yang dapat menyerang setiap orang dari berbagai golongan usia dan ras. Namun, terdapat berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini.

Tetapi, orang yang memiliki satu atau semua faktor risiko belum tentu akan mengalami henti jantung. Ada beberapa kasus di mana penderita hanya memiliki satu faktor risiko, atau tidak ada sama sekali.

Berikut adalah beberapa faktor risiko yang memicu seseorang terkena kondisi ini:

1. Usia

Kondisi ini cenderung lebih mudah terjadi pada orang-orang berusia lanjut, di antara 45 hingga 75 tahun.

2. Jenis kelamin

Apabila Anda berjenis kelamin laki-laki, risiko Anda terkena kondisi ini lebih tinggi dibanding orang-orang berjenis kelamin perempuan.

3. Pernah mengalami serangan jantung

Sebanyak 75% kasus sudden cardiac arrest berhubungan dengan terjadinya serangan jantung. Risiko seseorang mengalami henti jantung lebih tinggi setelah 6 bulan mengalami serangan jantung.

4. Memiliki penyakit arteri koroner

Sebanyak 80% kasus jantung mendadak berhenti juga dikaitkan dengan penyakit ini.

5. Menderita penyakit jantung iskemik

Salah satu faktor risiko utama cardiac arrest adalah penyakit jantung iskemik. Namun, terkadang beberapa penderita penyakit jantung iskemik tidak menyadari adanya penyakit tersebut, hingga akhirnya mengalami kejadian jantung berhenti.

6. Pernah mengalami henti jantung sebelumnya

Apabila Anda pernah mengalami kondisi ini sebelumnya, terlebih jika terjadi beberapa kali, ada kemungkinan Anda akan mengalaminya lagi di lain waktu.

7. Memiliki anggota keluarga dengan riwayat jantung pernah berhenti

Anda juga memiliki peluang mengalami kondisi ini lebih besar jika ada anggota keluarga Anda yang pernah mengalaminya.

8. Pernah menderita atau memiliki keluarga dengan riwayat kelainan ritme jantung

Jika Anda atau keluarga Anda memiliki kelainan ritme jantung, termasuk sindrom Long QT, atau sindrom Wolff-Parkinson-White, risiko Anda mengalami kondisi ini lebih tinggi.

9. Memiliki cacat jantung atau kelainan pembuluh darah bawaan lahir (congenital)

Apabila Anda telah memiliki jantung atau pembuluh darah yang tidak normal sejak lahir, kemungkinan Anda dapat mengalami kondisi ini.

10. Menderita kardiomiopati

Kardiomiopati atau pelebaran jantung berhubungan dengan 10% kasus henti jantung. Karena itulah, orang-orang dengan penyakit ini juga memiliki peluang lebih besar dibanding orang dengan jantung yang normal.

11. Berat badan berlebih atau obesitas

Kelebihan berat badan atau obesitas terbukti berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan, terutama jantung. Orang yang mengalami obesitas berpeluang besar untuk menderita kondisi ini.

12. Menderita diabetes

Diabetes juga terbukti memengaruhi kesehatan organ-organ vital dalam tubuh, termasuk jantung.

13. Mengonsumsi obat-obatan terlarang

Anda berpotensi mengalami henti jantung jika Anda meminum obat-obatan seperti kokain dan amphetamin.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana henti jantung didiagnosis?

Apabila Anda mengalami kondisi ini dan berhasil diselamatkan, dokter akan mencari tahu apa penyebabnya untuk mencegah terjadi di lain waktu.

Jadi, tujuan dari diagnosis adalah untuk mengetahui penyebab atau masalah kesehatan dibalik terjadinya henti jantung.

Beberapa tes dan pemeriksaan yang mungkin akan dokter lakukan dalam mendiagnosis adalah:

1. Elektrokardiogram (EKG)

Tes ini dilakukan untuk mendeteksi dan merekam aktivitas listrik jantung. Dengan tes EKG, dokter dapat mengetahui seberapa cepat jantung berdetak serta keteraturan ritmenya.

Tes EKG juga dapat merekam kekuatan dan waktu aliran listrik yang berada di jantung. Penyakit seperti serangan jantung dan jantung iskemik dapat diketahui dengan tes ini.

2. Ekokardiogram

Tes ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menciptakan gambar jantung Anda. Dokter dapat melihat ukuran, bentuk, dan seberapa baik kinerja katup jantung Anda.

3. Tes multiple gated acquisition (MUGA)

Pada tes MUGA, dokter akan menganalisis seberapa baik jantung Anda memompa darah. Dalam prosedur ini, dokter akan menyuntikkan sedikit cairan radioaktif ke pembuluh darah Anda, yang akan mengalir menuju jantung.

Cairan tersebut mengeluarkan energi yang nanti akan terdeteksi oleh kamera. Kamera tersebut akan menghasilkan foto-foto jantung secara detail.

4. MRI jantung

Prosedur ini menggunakan gelombang magnet dan radio untuk menghasilkan gambar yang detail dari jantung Anda. Dokter menggunakan tes ini untuk memeriksa struktur dan fungsi jantung.

5. Kateter jantung atau angiogram

Kateter jantung dilakukan dengan cara memasukkan tabung ke dalam pembuluh darah Anda, bisa melalui pangkal paha, leher, atau lengan.

Dengan kateter, dokter dapat melakukan diagnosis lebih akurat terhadap masalah-masalah pada jantung Anda.

6. Tes darah

Dokter juga mungkin akan mengambil sampel darah Anda untuk diperiksa. Beberapa aspek seperti kadar potassium, magnesium, hormon, dan zat kimia lainnya akan dicek dalam darah Anda.

Tes darah juga dapat mendeteksi adanya cedera atau serangan pada jantung.

Bagaimana henti jantung ditangani?

Apabila jantung Anda tiba-tiba tidak berdetak, perlu dilakukan penanganan darurat sesegera mungkin. Beberapa di antaranya adalah:

1. CPR

Cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru merupakan salah satu tindakan yang diambil untuk situasi darurat.

Dengan menjaga aliran darah ke organ-organ vital, CPR dapat mengatasi kondisi ini untuk sementara hingga Anda mendapatkan penanganan medis selanjutnya.

2. Defibrilasi

Apabila henti jantung terjadi akibat aritmia dan fibrilasi ventrikel, penanganan yang paling tepat adalah dengan defibrilasi. Prosedur ini menggunakan setrum listrik yang dialirkan menuju jantung.

Prosedur ini menghentikan ritme jantung yang tidak beraturan untuk sementara. Dengan ini, jantung akan kembali berdetak dengan ritme normalnya.

3. Penanganan di ruang gawat darurat

Apabila Anda telah sampai di ruang gawat darurat, para staf medis akan berusaha menstabilkan kondisi Anda. Tenaga medis akan melakukan penanganan pada kemungkinan adanya serangan jantung, gagal jantung, atau ketidakseimbangan elektrolit tubuh.

4. Penanganan lanjutan

Apabila Anda telah kembali pulih, dokter akan berdiskusi dengan Anda atau anggota keluarga Anda mengenai penanganan selanjutnya untuk mendiagnosis penyebab henti jantung. Dokter juga akan meresepkan obat-obatan yang dapat mengurangi risiko terjadinya kondisi tersebut di lain waktu.

Berikut adalah obat-obatan dan penanganan lanjutan yang direkomendasikan:

  • Beta blockers
  • Inhibitor enzim angiotensin-converting (ACE)
  • Blocker saluran kalsium
  • Pemasangan mesin ICD
  • Angioplasti koroner
  • Operasi bypass koroner
  • Ablasi kateter radiofrekuensi
  • Operasi perbaikan jantung

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi henti jantung?

Berikut adalah perubahan gaya hidup yang dapat membantu Anda mencegah henti jantung:

  • Hindari merokok
  • Pastikan konsumsi alkohol tidak lebih dari 1-2 gelas sehari, atau lebih baik tidak minum sama sekali
  • Jalankan pola makan bergizi dan seimbang
  • Rutin berolahraga, setidaknya 30 menit sehari

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: Maret 12, 2016 | Terakhir Diedit: Agustus 2, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca