home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Waspadai Ventrikel Fibrilasi, Salah Satu Penyebab Utama Serangan Jantung

Waspadai Ventrikel Fibrilasi, Salah Satu Penyebab Utama Serangan Jantung

Ventrikel fibrilasi atau ventricular fibrillation merupakan salah satu penyebab serangan jantung. Seperti apa jenis aritmia bisa terjadi dan apa saja faktor risikonya? Simak selengkapnya di bawah ini.

Apa itu ventrikel fibrilasi?

Ventrikel fibrilasi (V-fib/Ventricular Fibrillation) adalah salah satu jenis gangguan irama jantung atau aritmia yang disebabkan oleh gangguan sinyal listrik pada bilik jantung (ventrikel) yang terletak di bagian bawah.

Bilik jantung bekerja memompa darah keluar-masuk jantung sehingga darah bisa dialirkan ke seluruh tubuh. Pada ventrikel fibrilasi, sinyal listrik yang seharusnya memerintahkan bilik jantung untuk berdenyut memompa darah malah menyebabkan bilik jantung bergetar saja.

Akibatnya, jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh dan bisa mengakibatkan henti jantung mendadak.

Ventrikel fibrilasi merupakan kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera karena bisa menyebabkan kematian. Kondisi ini seringnya terjadi pada orang yang berusia 45-75 tahun dan merupakan salah satu penyebab umum serangan jantung.

Tanda-tanda dan gejala

serangan jantung

Saat mengalami ventrikel fibrilasi, Anda akan mengalami penurunan kesadaran, tidak dapat merespons saat disentuh, dan megap-megap karena kesulitan bernapas. Selanjutnya, Anda bisa mengalami henti napas.

Namun, terdapat gejala awal yang bisa mengindikasikan terjadinya ventrikel fibrilasi seperti di bawah ini.

Berkonsultasilah segera dengan dokter jika mengalami tanda-tanda awal dari ventrikel fibrilasi sebelum kondisi ini menyebabkan serangan jantung.

Apabila Anda melihat seseorang mengalami gejala serangan jantung, segera minta bantuan orang sekitar, hubungi faskes terdekat, atau pergi ke unit gawat darurat untuk mendapatkan penanganan medis.

Apa yang menyebabkan ventrikel fibrilasi?

Mengetahui bagaimana normalnya jantung memompa darah dapat membantu Anda memahami penyebab ventrikular fibrilasi.

Pada bagian atas jantung, terdapat serambi kanan yang berfungsi mengatur sinyal listrik untuk memerintahkan jantung berdenyut. Dari serambi kanan, sinyal listrik akan dilepaskan ke pembuluh darah untuk diteruskan ke bilik yang terletak di bagian bawah jantung.

Ketika sinyal listrik tiba di area AV node, laju listrik akan melambat. Hal ini membantu bilik jantung mengisi seluruh ruangnya dengan darah. Sampai akhirnya sinyal listrik tiba di ventrikel, bilik jantung pun siap memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Hal ini ditandai dengan jantung yang berdenyut normal

Pada jantung yang normal, proses perpindahan sinyal listrik ini akan berlangsung lancar. Namun dalam ventrikel fibrilasi, sinyal listrik tidak mengalir dengan stabil sehingga bilik jantung tidak dapat memompa darah dengan optimal.

Nah, penyebab tidak stabilnya sinyal listrik yang menghambat proses pemompaan darah bisa berasal dari beberapa penyakit jantung.

Menurut American Heart Association, berikut ini adalah kondisi dan penyakit jantung yang bisa menyebabkan ventrikular fibrilasi.

  • Kardiomiopati (gangguan otot jantung)
  • Sepsis (infeksi di pembuluh darah)
  • Gangguan pembuluh arteri jantung (arteri koroner)
  • Kerusakan otot jantung, misalnya akibat serangan jantung
  • Keracunan obat-obatan

Penyebab lainnya bisa meliputi ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh, seperti kadar natrium yang terlalu rendah, serta efek samping obat atau kelainan genetik yang memengaruhi produksi sinyal listrik pada jantung.

Komplikasi ventrikel fibrilasi

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan kematian dalam hitungan menit. Sebab, irama jantung yang tidak tidak stabil bisa menyebabkan jantung tiba-tiba berhenti memompa darah.

Semakin lama tubuh kehilangan pasokan darah, semakin tinggi risiko terjadinya kerusakan serius pada otak dan organ vital lainnya. Terdapat juga kemungkinan komplikasi jangka panjang, tergantung seberapa efektif dan cepat penanganan medis yang dilakukan untuk mengatasi ventrikel fibrilasi.

Bagaimana dokter mendiagnosis kondisi ini?

aritmia jantung

Dalam melakukan penanganan darurat, dokter bisa dengan cepat mendeteksi terjadinya ventrikel fibrilasi dari pemeriksaan denyut nadi atau rekam jantung.

Jika terjadi serangan jantung, dokter tidak bisa meraba denyut nadi. Sementara pemeriksaan rekam jantung bisa memperlihatkan adanya gangguan sinyal listrik.

Setelah kondisi berhasil tertangani, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi atau penyakit yang menyebabkan ventrikel fibrilasi.

Inilah beberapa pemeriksaan jantung yang bisa membantu dokter mendiagnosis penyebabnya.

  • Elektrokardiogram (EKG) untuk mengukur aktivitas listrik di dalam jantung sehingga bisa diketahui jantung berdenyut dengan normal atau tidak.
  • X-ray dada untuk mengambil gambar jantung untuk melihat apakah terdapat kelainan pada bentuk atau ukuran jantung, dan mengetahui kondisi pembuluh darah jantung.
  • Ekokardiogram untuk mengambilan gambar struktur jantung menggunakan gelombang.
  • Angiogram untuk mengetahui adanya penyumbatan atau penyempitan pembuluh arteri jantung.
  • Tes darah bisa memperlihatkan kebocoran enzim ke aliran darah yang mengindikasikan gangguan jantung.

Pengobatan ventrikel fibrilasi

Dalam kondisi darurat, pengobatan medis berfokus unjuk menjaga darah tetap mengalir ke seluruh tubuh guna mencegah kerusakan otak dan organ.

Pengobatan darurat untuk ventrikular fibrilasi bisa dilakukan melalui resusitasi jantung paru (CPR) dan defibrilasi dengan alat kejut jantung.

1. Resusitasi jantung paru (CPR)

Dokter atau petugas medis akan memberi tekanan pada dada untuk memompa darah keluar dari jantung. CPR bisa dilakukan sampai jantung kembali berdenyut dengan stabil.

2. Defibrilasi

Pengobatan darurat ini mengandalkan alat kejut jantung (AED) yang bisa menghantarkan listrik ke dinding dada pasien.

Penggunaan AED dapat memberikan hantaran listrik yang lebih kuat yang membuat jantung kembali memompa darah. Aliran listrik dari AED bahkan bisa menstimulasi jantung untuk kembali berdenyut dengan normal.

Pengobatan aritmia

Setelah kondisi pasien lebih stabil, pengobatan dilanjutkan dengan pemberian obat-obatan yang mengatasi penyakit penyebabnya.

Dokter biasanya akan memberikan obat antiaritmia yang berfungsi menjaga jantung berdetak dengan normal. Pengobatan aritmia juga mengurangi risiko ventrikel fibrilasi kembali terjadi di kemudian hari.

Biasanya, obat antiaritmia seperti aspirin, adenosin, dan warfarin dikonsumsi secara jangka panjang dan Anda perlu melakukan konsultasi medis secara rutin untuk memantau kondisi jantung.

Operasi jantung

Jika konsumsi obat-obatan tidak membantu mengatasi ventrikel fibrilasi, operasi jantung bisa dilakukan. Jenis operasi yang dilakukan tergantung dengan penyakit penyebabnya.

Melansir John Hopkins Medicine, dokter bisa melakukan ablasi kateter untuk menghancurkan sebagian area jantung yang menyebabkan detak jantung tidak teratur.

Pilihan operasi lainnya adalah denervasi simpatis jantung untuk mengatasi ventrikel fibrilasi yang tidak terkendali. Kondisi ini umumnya dialami pasien aritmia yang disebabkan oleh kelainan genetik.

Bagaimana mencegah kondisi ini?

cara menjaga kesehatan jantung

Pencegahan bisa dilakukan dengan mendeteksi dan mengatasi penyakit yang menyebabkan ventrikular fibrilasi.

Kelompok orang yang paling berisiko perlu segera melakukan upaya pencegahan. Beberapa orang yang berisiko mengalami ventrikel fibrilasi memiliki kondisi seperti di bawah ini.

  • Kardiomiopati
  • Pernah mengalami serangan jantung
  • Mengonsumsi obat yang memengaruhi kerja jantung
  • Kadar elektrolit dalam tubuh tidak normal
  • Penyakit genetik seperti Sindrom QT pendek, Sindrom Brugada, atau kardiomiopati hipertrofik

Beberapa obat-obatan bisa dikonsumsi untuk mengurangi risiko termasuk mencegah serangan jantung. Dokter mungkin menyarankan Anda memasang defibrillator implan yang bisa membantu jantung tetap berdetak dalam ritme normalnya.

Namun untuk mencegah ventrikel fibrilasi, pengobatan juga harus dibarengi dengan penerapan gaya hidup sehat untuk jantung.

  • Pola makan sehat dan seimbang yang meliputi konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, sumber protein rendah lemak, dan mengurangi garam, gula, dan lemak tak jenuh.
  • Berolahraga secara rutin terutama latihan aerobik yang menguatkan jantung, setidaknya 75 menit dalam seminggu.
  • Berhenti merokok dan kurangi konsumsi alkohol
  • Menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol dalam batas normal atau yang dianjurkan dokter.

Ventrikel fibrilasi adalah gangguan irama jantung yang bisa menyebabkan akibat fatal. Jika Anda mengalami tanda-tanda aritmia seperti sering nyeri dada, pusing, jantung berdebar tidak teratur, dan tubuh sering lemas segera periksakan ke dokter spesialis jantung.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Szabó, Z., Ujvárosy, D., Ötvös, T., Sebestyén, V., & Nánási, P. (2020). Handling of Ventricular Fibrillation in the Emergency Setting. Frontiers In Pharmacology, 10. doi: 10.3389/fphar.2019.01640

Nichol, G., Sayre, M., Guerra, F., & Poole, J. (2017). Defibrillation for Ventricular Fibrillation. Journal Of The American College Of Cardiology, 70(12), 1496-1509. doi: 10.1016/j.jacc.2017.07.778

American Heart Association. (2021). Ventricular Fibrillation. Retrieved 18 August 2021, from https://www.heart.org/en/health-topics/arrhythmia/about-arrhythmia/ventricular-fibrillation

John Hopkins Medicine. (2021).Ventricular Fibrillation. Retrieved 18 August 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/ventricular-fibrillation

Mayo Clinic. (2021). Ventricular fibrillation – Diagnosis and treatment. Retrieved 18 August 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ventricular-fibrillation/diagnosis-treatment/syc-20364524

Mayo Clinic. (2021). Ventricular fibrillation – Symptoms and causes.  Retrieved 18 August 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ventricular-fibrillation/symptoms-causes/syc-20364523

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 01/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.