home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa yang Terjadi Bila Tubuh Kelebihan Vitamin (Hipervitaminosis)?

Apa yang Terjadi Bila Tubuh Kelebihan Vitamin (Hipervitaminosis)?

Tahukah Anda bahwa Anda hanya perlu meminum vitamin dalam jumlah kecil? Kelebihan asupan vitamin alias hipervitaminosis justru bisa menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Simak definisi, gejala, hingga penanganannya pada ulasan berikut ini.

Pengertian kelebihan vitamin (hipervitaminosis)

kelebihan vitamin

Hipervitaminosis adalah kondisi penumpukan vitamin yang sangat berlebihan di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan keracunan. Gejala yang ditampilkan bisa berbeda, tergantung dari vitamin apa yang kadarnya berlebihan dalam tubuh.

Misalnya, kelebihan vitamin A disebut sebagai hipervitaminosis A yang gejalanya dapat meliputi pengeroposan massa tulang. Kelebihan vitamin lain tentu akan menimbulkan gejala yang berbeda pula.

Penumpukan vitamin di dalam tubuh umumnya disebabkan oleh konsumsi suplemen yang berlebihan, bukan dari sumber makanan. Vitamin yang paling rentan menumpuk dalam tubuh yaitu jenis vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K).

Tubuh bisa menyimpan keempat vitamin tersebut lebih lama dibandingkan vitamin B dan C yang larut air. Jadi, jika makanan sehari-hari Anda sudah kaya akan vitamin larut lemak, konsumsi suplemen justru bisa meningkatkan risiko penumpukan vitamin.

Hipervitaminosis vitamin B dan C biasanya lebih jarang terjadi, sebab tubuh mampu membuang vitamin yang berlebih melalui urine. Meski begitu, ada juga kasus kelebihan vitamin B6 yang masuk ke dalam golongan vitamin larut air.

Gejala kelebihan vitamin sesuai jenisnya

hipervitaminosis

Hipervitaminosis bisa menimbulkan gejala yang berbeda-beda, tergantung jenis vitamin yang Anda konsumsi. Berikut rinciannya.

1. Hipervitaminosis A

Hipervitaminosis A bisa bersifat akut yang berarti terjadi dalam waktu singkat. Gejala mungkin muncul dalam beberapa jam atau hari setelah mengonsumsi suplemen vitamin dengan dosis tinggi. Kondisi ini biasanya banyak dialami oleh anak-anak.

Gejala yang muncul dapat berupa:

  • mengantuk,
  • mudah marah,
  • sakit perut,
  • mual atau muntah, serta
  • meningkatnya tekanan pada otak.

Kelebihan vitamin A juga dapat bersifat kronis. Vitamin A menumpuk di dalam tubuh akibat konsumsi rutin suplemen dalam dosis tinggi. Lambat laun, penderita akan menunjukkan tanda-tanda seperti:

  • perubahan penglihatan,
  • bengkak pada tulang,
  • nyeri tulang,
  • berkurangnya nafsu makan,
  • pusing,
  • mual dan muntah,
  • sensitif terhadap sinar matahari,
  • kulit mengelupas, kering, kasar, atau gatal-gatal,
  • kuku jari pecah-pecah,
  • kulit pecah-pecah pada sudut mulut,
  • terdapat luka pada mulut,
  • penyakit kuning,
  • rambut rontok,
  • infeksi pernapasan, serta
  • linglung.

Pada bayi dan anak-anak, hipervitaminosis A dapat menimbulkan tonjolan lunak pada bagian atas tengkorak bayi. Bayi mungkin juga mengalami penglihatan ganda dan berat badannya sulit bertambah.

Bukan Hanya Wortel, Berikut 5 Makanan Sumber Vitamin A Lainnya

2. Hipervitaminosis D

Asupan vitamin D yang berlebih dapat berasal dari suplemen serta obat-obatan untuk hipertensi dan penyakit jantung. Jumlah vitamin D dalam tubuh juga dapat bertambah bila Anda sering menggunakan tanning bed untuk membuat warna kulit lebih gelap.

Tanda-tanda kelebihan vitamin D antara lain:

Lama-kelamaan, kelebihan vitamin D di dalam tubuh dapat menyebabkan kelebihan kalsium atau hiperkalsemia. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko pengeroposan tulang, gangguan fungsi ginjal, dan pembentukan plak kalsium pada pembuluh darah.

3. Hipervitaminosis E

Konsumsi vitamin E dari makanan biasanya tidak menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Sebaliknya, overdosis vitamin E akibat konsumsi suplemen secara berlebihan berisiko menyebabkan keracunan.

Dalam jumlah besar, vitamin E dapat mengencerkan darah sehingga tubuh Anda lebih mudah mengalami memar dan perdarahan. Anda mungkin juga akan mudah kelelahan, tampak lesu, serta mengalami sakit kepala dan gangguan pencernaan.

Sebuah studi terbitan Journal of the American Medical Association pun menunjukkan bahwa kelebihan vitamin E berkaitan dengan meningkatnya risiko stroke hemoragik. Ini merupakan kondisi gawat darurat akibat pecahnya pembuluh arteri pada otak.

4. Hipervitaminosis K

Ada tiga jenis vitamin K. Vitamin K1 dan K2 merupakan vitamin alami yang ada pada makanan. Sementara itu, vitamin K3 alias menadione merupakan vitamin sintetis yang digunakan untuk mencegah penumpukan kalsium di dalam tubuh.

Vitamin K1 dan K2 umumnya tidak menyebabkan keracunan, bahkan ketika dikonsumsi dalam jumlah besar. Sebaliknya, konsumsi vitamin K3 dalam dosis yang salah dapat menyebabkan hipervitaminosis. Ciri utamanya yaitu kelelahan dan penyakit kuning.

5. Hipervitaminosis B6

Asupan vitamin B6 dari makanan tidak menimbulkan efek negatif bagi tubuh, bahkan dalam jumlah besar sekalipun. Pasalnya, tubuh mampu membuang kelebihan vitamin ini melalui urine.

Namun, seperti vitamin K, vitamin larut air dalam bentuk sintetis dapat menyebabkan overdosis bila dosisnya tidak tepat. Konsumsi suplemen vitamin B6 secara berlebihan dapat menimbulkan gejala berupa:

  • gangguan kendali otot (ataksia),
  • mual dan nyeri pada ulu hati,
  • sensitif terhadap sinar matahari,
  • mati rasa,
  • muncul luka yang terasa nyeri pada kulit, serta
  • menurunnya kemampuan kulit untuk merasakan nyeri atau suhu ekstrem.

Cara mengatasi overdosis vitamin

kebutuhan vitamin harian

Jika Anda mengalami gejala hipervitaminosis selama mengonsumsi suplemen, segera hentikan penggunaan suplemen tersebut. Hipervitaminosis yang bersifat ringan dan akut biasanya akan membaik dengan cara ini.

Perhatikan kondisi tubuh Anda setelah berhenti mengonsumsi suplemen. Segera cari bantuan medis bila terjadi penurunan atau perubahan pada kondisi psikologis Anda. Anda mungkin perlu mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.

Pasien yang mengalami hiperkalsemia akibat kelebihan vitamin D akan diberikan obat mengandung bifosfonat untuk menurunkan kadar kalsium dalam darahnya. Bila kondisi pasien cukup parah, dokter biasanya juga memberikan glukokortikoid.

Pada kasus overdosis vitamin larut air, gejala biasanya berkurang begitu Anda berhenti meminum suplemen ini. Namun, efek negatif vitamin B6 yang berlebih mungkin akan menjadi permanen bila telah terjadi kerusakan saraf.

Vitamin merupakan zat gizi mikro yang berarti dibutuhkan dalam jumlah kecil. Asupan yang berlebihan justru bisa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, pastikan Anda mendapatkan asupan vitamin dalam jumlah yang tepat.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hypervitaminosis A. (2018).Retrieved 1 April 2021, from https://www.healthline.com/health/hypervitaminosis-a

Vitamin E Toxicity: All You Need to Know. (2020). Retrieved 1 April 2021, from https://www.healthline.com/nutrition/vitamin-e-overdose

Vitamin E. (2021). Retrieved 1 April 2021, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminE-HealthProfessional/

Vitamin B6. (2021). Retrieved 1 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements-vitamin-b6/art-20363468

Hypervitaminosis. (2015). Retrieved 1 April 2021, from https://patient.info/doctor/hypervitaminosis

Sesso, H. D., Buring, J. E., Christen, W. G., Kurth, T., Belanger, C., MacFadyen, J., Bubes, V., Manson, J. E., Glynn, R. J., & Gaziano, J. M. (2008). Vitamins E and C in the prevention of cardiovascular disease in men: the Physicians’ Health Study II randomized controlled trial. JAMA, 300(18), 2123–2133. https://doi.org/10.1001/jama.2008.600

Elango, G., Venkataraman, D., Rao, S. & Kiran, R. (2015). Hypervitaminosis. International Journal of Biomedical Research, 6(3), p.151.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Kemal Al Fajar Diperbarui 12/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x