home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

9 Gejala Tubuh Anda Kekurangan Vitamin B12

9 Gejala Tubuh Anda Kekurangan Vitamin B12

Vitamin B12 (kobalamin) penting dalam pembentukan sel darah merah dan pemeliharaan saraf. Konsumsi makanan yang beragam sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin ini. Akan tetapi, ada mereka yang rentan kekurangan vitamin B12.

Siapa saja yang rentan kekurangan vitamin B12?

peregangan untuk lansia

Kekurangan (defisiensi) vitamin B12 lebih umum terjadi pada orang lanjut usia (lansia). Ini karena kemampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12 dari makanan berjalan lebih lambat seiring dengan bertambahnya usia.

Selain itu, risiko kekurangan kobalamin juga lebih besar pada orang-orang dengan kondisi sebagai berikut.

  • Menjalani operasi yang menghilangkan bagian usus penyerap B12.
  • Anemia berat yang membuat tubuh kesulitan saat menyerap vitamin B12.
  • Penderita diabetes yang mengonsumsi obat metformin.
  • Menjalani diet vegan yang ketat.
  • Mengonsumsi obat antasida (obat asam lambung) dalam jangka panjang.
  • Terkena penyakit yang memengaruhi penyerapan usus seperti penyakit Crohn, penyakit Celiac, serta infeksi bakteri atau parasit.
  • Kelainan sistem kekebalan tubuh, seperti penyakit Graves atau lupus.

Hal ini dapat diatasi dengan mengonsumsi sumber vitamin B12 termasuk suplemen tambahan. Akan tetapi, sebaiknya berkonsultasilah kepada dokter terlebih dahulu untuk mengetahui jenis suplemen yang sesuai dengan Anda.

Gejala kekurangan vitamin B12

anemia kekurangan vitamin b12

Gejala kekurangan kobalamin biasanya tidak langsung terlihat jelas dan bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk muncul. Begitu kondisi ini sudah berdampak pada tubuh, Anda kemungkinan akan menunjukkan gejala berikut.

1. Kulit pucat

Orang yang mengalami kekurangan vitamin B12 kerap tampak pucat, terutama pada bagian kulit dan bagian matanya. Hal ini terjadi karena asupan vitamin B12 yang kurang menyebabkan penurunan produksi sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh.

Kekurangan kobalamin bisa menghambat produksi DNA. Bila produksi DNA terganggu, tubuh tidak bisa membentuk sel darah merah dengan sempurna. Akibatnya, bentuk sel darah merah menjadi lonjong, besar, dan rapuh.

Sel darah merah yang tidak sempurna tentu tidak mampu membawa oksigen dengan jumlah yang seharusnya. Inilah yang akhirnya membuat kulit dan kelopak mata Anda terlihat pucat. Kondisi ini dikenal sebagai anemia megaloblastik.

2. Badan lemas dan letih

Gejala umum lainnya dari kekurangan vitamin B12 yaitu badan lesu dan letih, bahkan saat Anda sudah tidur cukup semalaman sekalipun. Kondisi ini berkaitan dengan produksi sel darah merah yang terganggu karena kurangnya asupan kobalamin.

Tubuh tidak mempunyai cukup bahan baku untuk membuat sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, oksigen tidak dapat diedarkan ke seluruh tubuh secara maksimal dan membuat tubuh Anda terasa lelah.

3. Tubuh seperti tertusuk jarum

Defisiensi vitamin B12 dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf. Hal ini terjadi karena vitamin B12 sangat diperlukan untuk menghasilkan myelin. Myelin yaitu lemak yang menyelubungi sel saraf dan memperlancar penghantaran sinyal.

Tanpa asupan kobalamin yang memadai, tubuh tidak bisa membentuk myelin dengan sempurna. Sel saraf pun rentan mengalami kerusakan dan pengiriman sinyal menjadi terganggu. Dampaknya, muncul sensasi tertusuk jarum terutama pada tangan dan kaki.

4. Keseimbangan terganggu

Gejala yang satu ini masih berhubungan dengan gejala sebelumnya. Jika kekurangan vitamin B12 tidak segera ditangani, kerusakan pada sistem saraf dapat menjalar ke saraf motorik yang mengatur kemampuan berjalan dan bergerak.

Kondisi ini paling sering terlihat pada lansia yang memang rentan mengalami kekurangan vitamin B12. Namun, jangan salah, hal ini juga dapat terjadi pada orang berusia muda dengan defisiensi vitamin B12 parah yang tidak mendapatkan penanganan.

5. Sariawan dan peradangan pada lidah

Suatu penelitian menunjukkan bahwa pembengkakan dan peradangan pada lidah yang disertai luka panjang di atasnya bisa menjadi gejala awal dari kekurangan vitamin B12. Kondisi ini dikenal sebagai glositis.

Apabila Anda mengalami glositis, lidah Anda akan mengalami perubahan warna dan bentuk sehingga terasa nyeri, merah, serta bengkak. Pada beberapa kasus, kondisi ini bahkan dapat membuat penderitanya sulit makan dan berbicara.

Selain itu, beberapa orang dengan defisiensi B12 mungkin mengalami gejala penyakit mulut lainnya. Keluhan yang paling sering muncul yakni sariawan, perasaan seperti tertusuk jarum pada bagian lidah, atau rasa terbakar dan gatal di mulut.

6. Pusing dan sesak napas

Jika defisiensi kobalamin sudah mengganggu produksi sel darah merah, Anda mungkin akan mengalami pusing atau sesak napas. Keduanya merupakan gejala yang sering muncul saat seseorang mengalami anemia megaloblastik.

Seseorang mengalami pusing bila sel darah merahnya tidak mampu mengangkut cukup oksigen menuju otak. Jika kekurangan suplai oksigen ini terjadi pada jaringan atau sel tubuh, inilah yang menjadi penyebab sesak napas.

7. Pandangan kabur

Defisiensi vitamin B12 yang cukup berat dapat mengakibatkan sejumlah gangguan penglihatan, contohnya pandangan kabur. Kondisi ini berawal dari kerusakan saraf optik (penglihatan) akibat asupan vitamin B12 yang tidak memadai.

Kerusakan pada saraf optik menghambat penghantaran sinyal dari mata ke otak. Otak pun tidak bisa menerjemahkan sinyal yang terganggu tersebut. Akibatnya, pandangan Anda tampak kabur, berbayang, atau pandangan ganda.

8. Mood berubah-ubah

Sejumlah penelitian menemukan bahwa kadar vitamin B12 yang rendah berhubungan dengan gangguan mood. Ini mungkin disebabkan oleh kadar homosistein yang tinggi. Homosistein dapat merusak jaringan otak dan mengganggu sinyal menuju organ ini.

Para ahli menyarankan konsumsi suplemen vitamin B12 untuk mengatasi masalah ini. Meski demikian, suplemen vitamin tidak bisa menggantikan peran obat-obatan untuk masalah terkait mood yang lebih serius, misalnya depresi atau bipolar.

9. Badan terasa panas

Kenaikan suhu tubuh akibat defisiensi vitamin B12 termasuk langka. Prosesnya belum diketahui secara pasti. Meski begitu, beberapa dokter telah melaporkan penurunan kasus demam setelah pasien diberikan obat dengan kadar vitamin B12 dosis rendah.

Penting untuk diingat bahwa suhu tubuh yang tinggi lebih sering disebabkan oleh penyakit tertentu ketimbang defisiensi kobalamin. Maka dari itu, segeralah berkonsultasi kepada dokter untuk diagnosis yang lebih tepat.

Kekurangan vitamin B12 merupakan kondisi yang cukup langka. Namun, masalah ini dapat menimbulkan gangguan serius pada tubuh Anda.

Begitu seseorang terdiagnosis mengalami defisiensi vitamin B12, langkah pengobatan dimulai dengan memberikan vitamin B12 dalam bentuk suplemen. Setelah kondisi Anda cukup stabil, Anda bisa kembali memenuhi kebutuhan vitamin ini dari makanan.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Vitamin B12 deficiency can be sneaky, harmful. (2020). Retrieved 2 March 2021, from https://www.health.harvard.edu/blog/vitamin-b12-deficiency-can-be-sneaky-harmful-201301105780

Vitamin B12 or folate deficiency anaemia. (2019). Retrieved 2 March 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/vitamin-b12-or-folate-deficiency-anaemia/symptoms/

Vitamin deficiency anemia. (2019). Retrieved 2 March 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/vitamin-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355025

Watanabe, F., Yabuta, Y., Tanioka, Y., & Bito, T. (2013). Biologically active vitamin B12 compounds in foods for preventing deficiency among vegetarians and elderly subjects. Journal of agricultural and food chemistry, 61(28), 6769–6775. https://doi.org/10.1021/jf401545z

Briani, C., Dalla Torre, C., Citton, V., Manara, R., Pompanin, S., Binotto, G., & Adami, F. (2013). Cobalamin deficiency: clinical picture and radiological findings. Nutrients, 5(11), 4521–4539. https://doi.org/10.3390/nu5114521

Crawford, J. R., & Say, D. (2013). Vitamin B12 deficiency presenting as acute ataxia. BMJ case reports, 2013, bcr2013008840. https://doi.org/10.1136/bcr-2013-008840

Graells, J., Ojeda, R. M., Muniesa, C., Gonzalez, J., & Saavedra, J. (2009). Glossitis with linear lesions: an early sign of vitamin B12 deficiency. Journal of the American Academy of Dermatology, 60(3), 498–500. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2008.09.011

Ralapanawa, D. M., Jayawickreme, K. P., Ekanayake, E. M., & Jayalath, W. A. (2015). B12 deficiency with neurological manifestations in the absence of anaemia. BMC research notes, 8, 458. https://doi.org/10.1186/s13104-015-1437-9

Bhatia, P., & Singh, N. (2015). Homocysteine excess: delineating the possible mechanism of neurotoxicity and depression. Fundamental & clinical pharmacology, 29(6), 522–528. https://doi.org/10.1111/fcp.12145

Manuel, K., Padhi, S., & G’boy Varghese, R. (2013). Pyrexia in a patient with megaloblastic anemia: a case report and literature review. Iranian journal of medical sciences, 38(2 Suppl), 198–201.

Foto Penulis
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri Diperbarui 09/04/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x