Melakukan Tanning, Apa Efeknya untuk Kesehatan Kulit?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Tanning dapat dilakukan di luar ruangan maupun di dalam ruangan. Kerap dilakukan untuk mempercantik tampilan kulit, apa sebenarnya efek yang akan diberikan dari perawatan kulit ini? Lalu, apakah tanning benar-benar aman untuk kulit?

Apa itu tanning?

mitos tanning dan paparan sinar matahari

Tanning adalah sebuah prosedur yang dilakukan untuk membuat kulit agar berwarna lebih coklat.

Kebanyakan orang melakukan tanning dengan tujuan kecantikan, tapi ada juga yang ingin membuat kulit agar lebih tahan terhadap sunburn. Prosedur ini memanfaatkan radiasi dari sinar UV.

Tanning yang paling mudah dan tanpa biaya cukup dilakukan dengan berjemur di bawah sinar matahari. Namun, banyak orang khawatir dengan dampak yang akan terjadi setelahnya meski telah menggunakan tabir surya sekalipun.

Sebab, matahari mengeluarkan sinar UVB yang dapat menebalkan jaringan epidermis kulit sehingga akan menyebabkan struktur kulit manusia terbakar. UVB juga dapat meningkatkan risiko terhadap melanoma, jenis kanker kulit yang berbahaya.

Oleh karena itu, banyak orang beralih pada indoor tanning yang ditawarkan oleh salon atau klinik kecantikan. Tanning di dalam ruangan menggunakan alat bernama tanning bed yang berbentuk tempat tidur dan dilengkapi dengan penutup.

Tanning bed bekerja dengan cara melepas radiasi sinar UV. Tidak seperti sinar matahari, sinar UV yang diradiasikan pada alat ini adalah sinar UVA. Sinar UVA tidak bersifat membakar kulit seperti sinar UVB, jadi penggunaannya dirasa lebih aman.

Apakah indoor tanning benar-benar aman?

gambar indoor tanning bed

Meski risiko akan terkena sunburn lebih kecil, tapi sinar UVA ternyata memiliki bahaya tersendiri. Pasalnya, sinar UVA bisa menembus lebih dalam ke jaringan kulit jika dibandingkan dengan sinar UVB.

Memang, secara kasat mata sinar UVA tidak terlihat memberikan efek samping, tapi sinar UVA bisa saja merusak jaringan dan pembuluh darah pada kulit bila digunakan terlalu sering.

Terlebih lagi efek tanning terutama yang di dalam ruangan tidak akan langsung tampak setelah melakukan perawatannya. Alhasil Anda harus melakukan perawatan ini berulang kali.

Kekuatan sinar UVA yang digunakan pada tanning bed bisa 12 kali lipat lebih kuat daripada sinar UVA yang dihasilkan dari matahari.

Orang-orang yang terlalu sering melakukan indoor tanning memiliki risiko 2,5 kali lebih besar terhadap kanker sel squamous di kemudian hari, serta 1,5 kali lebih besar untuk menderita kanker sel basal.

Gejala kerusakan kulit ini tidak terlihat dalam waktu dekat, tetapi baru bisa muncul setelah bertahun-tahun kemudian.

Selain itu, terlepas dari jenisnya, paparan sinar UV yang berlebih juga akan membuat kulit mengalami gejala seperti:

  • timbul bintik-bintik berwarna cokelat,
  • timbul kerutan-kerutan halus dan tanda-tanda penuaan lain lebih cepat dari seharusnya karena sinar UVA yang merusak jaringan kulit hingga ke bagian dalam,
  • muncul bisul, jerawat, atau ruam kulit yang kasar, dan
  • terbakarnya kulit atau sunburn, yang diakibatkan oleh tingginya paparan sinar UVB.

Efek tanning bagi kesehatan tubuh

Tak hanya merusak kulit, efek sinar UVA juga dapat mempengaruhi sistem imun. Ini karena radiasi sinar UV diserap kulit hingga ke level molekul dan memicu terjadinya perubahan pada molekul dan sel yang berperan dalam sistem imun.

Gangguan kesehatan kulit yang lebih parah bisa terjadi setelah menjalani tanning selama bertahun-tahun, di antaranya adalah:

  • Kanker kulit non-melanoma: kanker ini dapat terjadi di bagian squamous, sel yang membentuk bagian tengah hingga bagian terluar lapisan kulit, serta di bagian basal, sel yang berfungsi memproduksi sel kulit baru. Di antara keduanya, kanker sel basal paling sering terjadi tetapi mudah untuk diobati karena biasanya tidak menyebar ke bagian tubuh lain dan pertumbuhannya sangat lambat. Sementara kanker yang terjadi di bagian squamous sedikit lebih berbahaya karena bisa menyebar ke bagian tubuh lain, tetapi pertumbuhannya cenderung lambat dan bisa diangkat dengan operasi.
  • Melanoma: tipe kanker ini jarang terjadi tetapi merupakan jenis kanker kulit yang paling berbahaya. Kanker melanoma dapat berbentuk seperti tahi lalat atau freckles pada awalnya. Tetapi, melanoma memiliki bentuk yang tidak teratur dan warnanya juga tidak merata, terkadang timbul rasa gatal pada melanoma. Penanganan secepatnya meningkatkan kemungkinan untuk sembuh karena kanker melanoma berkembang dengan cepat dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain.

Bagaimana cara mencoklatkan kulit yang aman?

sunscreen kimia dan mineral

Bagaimana pun, jika Anda menginginkan warna kulit yang lebih coklat, cahaya matahari alami jauh lebih baik dibandingkan tanning bed di salon. Hindari berjemur di bawah sinar matahari tanpa menggunakan sunblock atau suncreen.

Jangan lupa bahwa produk-produk ini harus dioleskan ulang ke kulit setiap 1 – 2 jam sekali (tergantung SPF-nya), dan setiap setelah Anda berenang. Batasi juga waktu berjemur agar tak terlalu lama.

Untuk mengurangi efek tanning yang membahayakan bagi kesehatan, Anda bisa mencoba sunless tanning, yang tidak melibatkan sinar UVA maupun UVB.

Sunless tanning ini biasanya berupa produk-produk yang dapat menggelapkan warna kulit. Bentuknya berupa lotion, krim, dan spray yang diaplikasikan ke kulit sehingga menciptakan efek seperti sehabis tanning.

Bahan dasarnya adalah pewarna dan dihydroxyacetone (DHA). Saat dioleskan ke kulit, DHA akan bereaksi dengan sel-sel kulit mati yang berada pada permukaan kulit dan menggelapkan warna kulit sementara. Sunless tanning ini biasanya akan bertahan selama beberapa hari.

Cara apa pun yang Anda pilih nantinya, sebaiknya konsultasikan dahulu kepada dokter spesialis kulit untuk mendapatkan solusi terbaik.

Baik tanning di dalam ruangan maupun di luar ruangan dapat menimbulkan risiko kanker kulit, jadi Anda tetap harus berhati-hati dan mempertimbangkan segala efek sampingnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

4 Penyebab Buah Zakar Anda Gatal dan Ingin Terus Digaruk

Menggaruk alat kelamin terkadang sudah menjadi kebiasaan, tapi bisa juga karena memang terasa gatal. Apa saja penyebab buah zakar gatal? Apakah berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit



Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit