Suara Berubah Saat Hamil, Apa Penyebabnya, Ya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Kehamilan tidak hanya mengubah bentuk tubuh. Beberapa di antaranya, mengaku merasakan adanya perubahan suara. Suara yang berubah saat hamil ini juga turut dirasakan oleh Adele, penyanyi berkebangsaan Inggris.

Ia mengungkapkan, “Saya menulis lagu Skyfall ketika hamil.” Begitu lagu ini dibawakan pada konsernya, ia merasa sedikit kesulitan karena nadanya yang sangat rendah. “Suara saya jadi jauh lebih rendah selama kehamilan,” tambahnya.

Melihat hal tersebut, Anda tentu bertanya-tanya, apakah perubahan suara saat hamil itu normal? Lantas, apa penyebabnya? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Penyebab suara berubah saat hamil

Kehamilan umumnya mengubah fisiologis, metabolisme, dan anatomi pada tubuh wanita. Namun, tidak banyak yang tahu jika kehamilan juga turut memengaruhi suara. Ya, ini merupakan perubahan yang jarang diketahui namun sebenarnya normal terjadi. Jadi, tidak perlu cemas jika merasakan hal ini selama masa kehamilan.

Studi yang dilakukan University of Sussex mencari tahu penyebab perubahan suara pada ibu hamil. Studi yang dipimpin oleh Dr. Kasia Pisanski, PhD, mengamati suara wanita selama 10 tahun (5 tahun sebelum dan 5 tahun setelah melahirkan).

Periset menemukan bahwa suara saat hamil dan setelah melahirkan akan berubah jadi semakin rendah dan monoton. Maksudnya, nada suara yang dikelurkan jadi lebih datar dan cenderung sama dari awal sampai akhir.

Setelah diselidiki, perubahan ini tidak disebabkan oleh penuaan, karena suaranya akan kembali ke frekuensi awal satu tahun kemudian.

Periset percaya bahwa perubahan suara ini disebabkan oleh perubahan hormon. Ini didukung dengan penelitian sebelumnya, yang menemukan bahwa nada suara wanita dapat meningkat di masa ovulasi setiap bulan dan akan menurun setelah menopause.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perubahan hormonal bisa memengaruhi suara Anda. Akibatnya, suara saat hamil akan berubah jadi lebih berat setelah melahirkan. Suara Anda akan kembali seperti semula apabila hormon dalam tubuh juga telah kembali normal.

bahaya hamil berdiri lama

Selain hormon, tenyata faktor ini juga bisa jadi penyebabnya

Selain perubahan hormon, ada banyak faktor yang memengaruhi perubahan suara saat hamil dan melahirkan, yakni:

1. Pita suara membengkak

Selama kehamilan, bagian tubuh tertentu akan mengalami pembengkakan, salah satunya pita suara. Pembengkakan terjadi karena cairan, termasuk darah, di dalam tubuh meningkat. Adanya pembengkakan dan tekanan di sekitar pita suara inilah yang menyebabkan suara jadi berubah saat hamil.

2. Mengubah sendiri suara yang dikeluarkan

Selain perubahan pada tubuh, perilaku juga memengaruhi perubahan suara. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bersuara rendah terkesan lebih kompeten, dewasa, dan dominan.

Para wanita kemungkinan memodulasi suara mereka sendiri jadi lebih berat setelah melahirkan, agar terlihat lebih berwibawa saat mengasuh buah hatinya.

3. Stres dan kelelahan

Suara yang berubah saat hamil dan setelah melahirkan juga bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental. Setelah melahirkan, seorang ibu tidak hanya mengurus dirinya sendiri. Ia juga perlu merawat buah hatinya.

Kondisi tersebut menyebabkan mereka kelelahan sehingga membuat suara mereka jadi lebih lemah dan terkesan lebih rendah.

Selain kelelahan, beberapa ibu juga mengalami stres atau depresi setelah melahirkan. Kondisi ini memengaruhi suasana hati mereka dan cara mereka mengeluarkan suara ketika berbicara.

Perlukah periksa ke dokter?

Suara yang berubah saat hamil dan setelah melahirkan adalah kondisi normal. Apalagi jika ini merupakan pengalaman pertama menjadi seorang ibu. Jadi, jangan dulu panik ataupun sampai membuat Anda stres.

Melakukan pemeriksaan rutin selama kehamilan dan setelah melahirkan itu penting. Tujuannya, untuk mengawasi kehamilan dan persalinan berjalan dengan lancar.

Namun, bila Anda merasakan perubahan suara disertai rasa sakit di tenggorokan dan gejala lain yang mengganggu, segeralah konsultasi ke dokter.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca