Anda sedang hamil? Ayo ikut komunitas Ibu Hamil kami sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengulas Semua Hal Penting Seputar Program Bayi Tabung (IVF)

Proses bayi tabung|Apa yang terjadi setelah prosedur bayi tabung?|Tips untuk meningkatkan keberhasilan bayi tabung|Risiko yang bisa terjadi pada proses bayi tabung
Mengulas Semua Hal Penting Seputar Program Bayi Tabung (IVF)

Bayi tabung atau in fitro vertilization (IVF) dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang sulit memiliki momongan. Meski tampak sebagai jalan pintas agar cepat hamil, sebenarnya proses bayi tabung cukup panjang dan perlu persiapan yang matang. Berikut ini penjelasan lengkap mengenai program bayi tabung yang perlu Anda ketahui.

Proses bayi tabung

program hamil bayi tabung

Bayi tabung, alias fertilisasi in vitro (IVF) adalah salah satu dari penanganan infertilitas untuk membantu orang-orang dengan masalah kesuburan yang sulit mempunyai anak.

Dikutip dari Mayo Clinic, secara singkat prosedur bayi tabung adalah menggabungkan sel telur dan sperma di luar tubuh.

Kemudian, sel telur yang sudah dibuahi dan sudah dalam fase siap akan dipindahkan ke dalam rahim wanita.

Berikut adalah langkah-langkah proses bayi tabung yang tergolong panjang, jika Anda ingin melakukannya.

1. Mengetahui siklus menstruasi

Sebelum memulai program bayi tabung atau IVF, Anda harus mengetahui bagaimana siklus menstruasi terlebih dahulu.

Anda juga mungkin disarankan untuk mengonsumsi pil kontrasepsi sebelum melakukan program ini.

Mengonsumsi pil kontrasepsi terbukti dapat meningkatkan kesuksesan dari program bayi tabung.

Lalu, pil ini pun dipercaya dapat menurunkan risiko sindrom hiperstimulasi dan kista ovarium.

Namun, memang tidak semua dokter biasanya merekomendasikan hal ini.

Pada masa subur sebelum menstruasi, dokter akan memberikan antagonis GnRH (seperti Ganirelix) atau agonis GnRH (seperti Lupron).

Obat ini biasanya berupa obat suntik. Obat ini memungkinkan dokter untuk mengontrol penuh siklus masa subur atau ovulasi Anda saat program bayi tabung dimulai.

2. Stimulasi dan pemantauan ovarium

Umumnya pada siklus ovulasi normal setiap bulan, ovarium hanya akan memproduksi satu sel telur.

Saat menjalani program ini, Anda akan menggunakan obat yang selama 8-14 hari untuk mendorong folikel di dalam ovarium, untuk memproduksi sel telur yang lebih banyak.

Stimulasi ovarium dalam program bayi tabung atau IVF biasanya akan dilakukan dengan obat suntik.

Nantinya, Anda juga akan diajarkan bagaimana cara menyuntikkan obat tersebut sendiri di rumah.

Berapa banyak suntikan dan berapa lama penggunaan obat akan tergantung dari aturan pengobatan.

Biasanya Anda akan diminta untuk menyuntikkan 1-4 obat setiap hari selama seminggu sampai sepuluh hari.

Stimulasi ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah telur yang diproduksi oleh ovarium.

Semakin banyak telur yang bisa diambil dan dibuahi, semakin besar pula kesempatan Anda untuk hamil.

Selama stimulasi ovarium ini, dokter akan memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel dengan cara melakukan tes darah dan USG setiap beberapa hari.

Dokter akan melihat kadar estrogen Anda, terutama E2 atau estradiol.

Tes ini dilakukan untuk memastikan ovarium Anda “tidur”, sebab inilah efek yang diinginkan dari suntikan antagonis GnRH.

Pemantauan sangat penting dilakukan untuk menentukan seberapa banyak dosis obat Anda. Apakah perlu ditingkatkan atau malah diturunkan.

Jika folikel Anda sudah memiliki ukuran yang besar, kira-kira berukuran 16-18 mm, mungkin perlu dipantau setiap hari.

3. Pematangan oosit (telur dalam ovarium)

Sebelum diambil, telur pada proses bayi tabung harus berkembang dan tumbuh dengan sesuai. Untuk memicu pematangan oosit, diperlukan suntikan human chorionic gonadotropin (hCG).

Biasanya, suntikan hCG diberikan ketika empat atau lebih folikel telah berukuran sekitar 18-20 mm dan kadar estradiol Anda sudah lebih dari 2000 pg/ ml.

Suntikan hormon ini dilakukan sebanyak satu kali dan harus dilakukan pada waktu yang tepat. Jika dilakukan terlalu dini, bisa-bisa telur tidak cukup matang.

Apabila dilakukan terlalu lama, telur akan terlalu tua dan tidak bisa berbuah dengan baik.

Maka, penggunaan ultrasound diperlukan untuk melihat kapan waktu yang tepat dalam melakukan suntik.

4. Pengambilan telur

Pengambilan telur dalam proses bayi tabung dilakukan sekitar 34-36 jam setelah Anda menerima suntikan hCG.

Sebelum pengambilan telur, Anda akan dianestesi agar tidak merasakan sakit. Metode yang paling sering digunakan untuk proses ini adalah USG transvaginal.

USG transvaginal dilakukan untuk memandu dokter dalam pengambilan telur. Sebuah alat pemeriksa akan dimasukkan ke dalam vagina untuk mengidentifikasi folikel.

Terdapat satu oosit (telur) tiap satu folikel yang diambil dari ovarium.

Jumlah folikel yang diambil bisa berbeda-beda antar individu. Oosit ini kemudian akan dibawa ke laboratorium embriologi untuk dilakukan pembuahan.

Setelah proses dari tahap keempat bayi tabung ini selesai, Anda akan diminta untuk istirahat sebentar selama beberapa jam.

Jika Anda memiliki tanda-tanda sindrom hiperstimulasi ovarium, seperti:

  • Kembung
  • Mual
  • Diare
  • Kenaikan berat badan
  • Nyeri ringan atau ketidaknyamanan pada perut

Sebaiknya segera laporkan tanda-tanda tersebut pada dokter Anda. Sindrom hiperstimulasi ovarium bisa terjadi pada 10% wanita yang menjalani bayi tabung.

Kondisi ini merupakan efek samping dari penggunaan obat kesuburan saat program bayi tabung.

5. Pengambilan sperma

Proses berikutnya adalah pengambilan sperma untuk membuahi sel telur.

Sebelumnya, sel sperma akan diminta dengan pemberian sampel air mani kepada dokter atau ahli medis profesional.

Umumnya air mani tersebut dihasilkan melalui proses masturbasi.

Sel sperma juga bisa didapatkan dari metode lainnya, misalnya melalui prosedur operasi untuk mendapatkan sperma secara langsung dari testis.

Saat dibawa ke dalam laboratorium, sperma akan dikumpulkan dan dipisahkan dari air mani pasangan Anda.

6. Pembuahan telur

Langkah berikutnya dalam proses bayi tabung adalah pembuahan telur.

Sebelumnya, telur atau folikel yang sudah diambil dari folikel vagina akan dipilih mana yang baik.

Sperma kemudian dipisahkan dari hal-hal lain pada air mani dan juga dipilih bibit yang paling bagus.

Sekitar 10.000 sperma kemudian akan ditempatkan dengan telur pada wadah khusus.

Wadah ini kemudian akan diinkubasi di laboratorium. Dalam waktu 12-24 jam diharapkan sudah terjadi pembuahan antara sperma dengan telur.

Pada pria yang mempunyai kualitas sperma rendah, sperma mungkin perlu disuntikkan langsung ke telur yang matang.

Ini disebut dengan intra-cytoplasmic sperm injection (ICSI).

7. Pemindahan telur yang sudah dibuahi (embrio) ke dalam rahim

Setelah telur dibuahi, telur akan disimpan selama 3-5 hari di tempat khusus sebelum dipindahkan ke rahim wanita.

Pemindahan telur yang sudah dibuahi (embrio) biasanya dilakukan pada hari kelima setelah pembuahan.

Yaitu, ketika embrio sudah berada pada fase blastosit atau terbentuknya rongga kecil.

Embrio pada fase blastosit sudah mampu menempel dengan baik pada rahim wanita.

Beberapa hari sebelum pemindahan embrio dalam proses bayi tabung ini, Anda akan diberikan obat hormon progesteron untuk membantu mempersiapkan dinding rahim.

Saat pemindahan embrio, tabung tipis atau kateter yang berisi cairan embrio akan dimasukkan ke dalam serviks Anda.

Jumlah embrio yang dipindahkan tergantung pada kualitas embrio. Biasanya hanya 2-5 embrio yang dipindahkan.

Kemudian, Anda akan diminta untuk tetap berbaring selama beberapa jam.

Jika masih ada embrio kualitas baik yang tersisa, bisa dilakukan proses pembekuan. Embrio ini bisa digunakan nanti jika proses IVF belum berhasil.

Apa yang terjadi setelah prosedur bayi tabung?

Setelah menjalani rangkaian proses program bayi tabung atau IVF, Anda bisa menjalani kegiatan seperti biasanya.

Namun, pada saat itu, ukuran ovarium mungkin masih membesar.

Akan lebih baik jika Anda bisa menghindari kegiatan yang terlalu berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah menjalani proses bayi tabung, ada beberapa efek samping yang perlu diketahui, di antaranya adalah:

  • Vagina mengeluarkan darah tepat setelah prosedur
  • Payudara terasa sakit karena tingginya kadar hormon estrogen
  • Perut terasa sedikit kembung atau kram
  • Konstipasi atau sembelit

Jika Anda merasakan sakit setelah prosedur transfer embrio, segera hubungi dokter untuk mengevaluasi komplikasi yang mungkin dialami.

Apakah saya pasti hamil setelah proses bayi tabung?

Berdasarkan data dari PERFITRI REGISTRY tahun 2017, rata-rata peluang atau tingkat keberhasilan bayi tabung mencapai 29%. Semakin cepat Anda memulainya, akan semakin baik.

Jika Anda dan pasangan mulai program IVF di bawah usia 35 tahun, peluang suksesnya bisa hingga 40%.

Usia yang lebih muda berarti tubuh masih mampu memproduksi sel telur dan sel sperma yang lebih sehat dan berkualitas

Umumnya, Anda harus menunggu waktu selama dua minggu untuk mengetahui apakah berhasil hamil atau tidak.

Pada waktu ini, sebaiknya lakukan kegiatan seperti biasa dan hindari stres mengenai keberhasilan perencanaan kehamilan ini.

Setelah dua minggu program bayi tabung ini berlalu, lakukan tes kehamilan selama beberapa hari.

Apabila positif hamil, jangan lupa untuk memeriksakan kehamilan Anda ke dokter.

Meski demikian, program bayi tabung atau IVF tidak selalu langsung berhasil. Ada risiko kegagalan dalam tahapan prosesnya.

Oleh karena itu, Anda tetap harus menyiapkan diri pada kemungkinan ini saat menjalaninya.

Beberapa hal yang bisa membuat proses bayi tabung gagal:

  • Kurangnya kualitas embrio, yaitu sperma dan sel telur.
  • Respon ovarium yang buruk, memproduksi sedikit telur atau tidak sama sekali.
  • Implantasi yang gagal.
  • Pertumbuhan lapisan rahim yang tidak optimal.

Tips untuk meningkatkan keberhasilan bayi tabung

program hamil bayi tabung

Ada berbagai faktor yang membuat program bayi tabung akan berhasil, di antaranya:

1. Menanam embrio lebih dari satu

Menurut para peneliti Medical Research Council di Bristol dan University of Glasgow, menanam dua embrio lebih baik dibandingkan dengan satu embrio.

Hal ini bertujuan meningkatkan peluang kehamilan dari proses bayi tabung, terutama pada wanita dengan usia lebih tua.

Beberapa penelitian membuktikan wanita yang berusia di atas 40 tahun dan menanamkan dua embrio, memiliki kemungkinan untuk hamil lebih tinggi.

2. Menjalani gaya hidup sehat

Hal wajib yang perlu dilakukan agar bayi tabung berhasil adalah mengonsumsi makanan yang dapat menambah peluang kehamilan.

Perbanyak makanan yang mengandung anti-oksidan, protein, rendah glikemik, sehat, dan bervariasi.

Jika sebelumnya Anda dan pasangan merupakan perokok aktif juga mengonsumsi alkohol, disarankan untuk menghentikannya.

Jangan lupa berolahraga untuk menjaga berat badan tetap ideal sehingga bisa meningkatkan keberhasilan program bayi tabung.

3. Menjaga asupan vitamin dan suplemen

Tidak hanya dari makanan, pastikan asupan vitamin kesuburan tetap terpenuhi untuk menambah keberhasilan proses bayi tabung atau IVF.

Beberapa makanan yang mengandung vitamin D seperti ikan yang mengandung lemak baik (salmon, tuna, makarel, dan sarden), telur, serta daging merah.

Jika diperlukan, Anda juga bisa mendapatkan asupan vitamin D dari suplemen ataupun multivitamin yang direkomendasikan dokter.

Ada pula suplemen lainnya seperti follistatin yang dipercaya dapat membuat dinding rahim menjadi lebih kuat dan baik untuk calon janin.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi suplemen DHEA (Dehydroepiandrosterone) memiliki kemungkinan berhasil yang lebih tinggi pada program bayi tabung.

Suplemen ini dapat meningkatkan kadar hormon dalam tubuh.

Hal yang terpenting, ikuti saran dan anjuran dokter kandungan Anda selama menjalani program bayi tabung agar tujuan tercapai.

4. Menghindari stres dan terlalu lelah

Sebuah studi yang diterbitkan tahun 2014 dalam Human Reproduction menyatakan bahwa ada hubungan antara tingkat stres yang tinggi dengan ketidaksuburan.

Meski tidak berhubungan secara langsung, mengelola stres dapat membantu meningkatkan keberhasilan bayi tabung.

Lalu, hindari pula aktivitas fisik yang berlebihan karena dapat menghambat pelepasan sel telur dan mengubah siklus menstruasi secara keseluruhan.

Beberapa jenis aktivitas fisik juga dapat memengaruhi perkembangan dinding rahim. Kondisi ini menyebabkan penebalan rahim menjadi tidak optimal.

Risiko yang bisa terjadi pada proses bayi tabung

Pada dasarnya, proses bayi tabung melibatkan sedikit ketidaknyamanan atau rasa sakit.

Namun sifatnya lebih subjektif, tergantung kondisi fisik pasien dan toleransi rasa sakitnya.

Sebelum menjalani proses bayi tabung atau IVF Anda juga perlu mengetahui beberapa risiko komplikasi kehamilan yang bisa terjadi:

1. Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS)

Risiko komplikasi bayi tabung yang pertama adalah kondisi ovarium menghasilkan sel telur lebih banyak dari normalnya. Sekitar 2% wanita yang menjalani bayi tabung mengalami sindrom ini.

Biasanya terjadi sebagai efek samping obat penyubur yang diberikan saat menjalani proses IVF.

2. Kelahiran kembar

Bayi tabung memang cukup banyak menghasilkan anak kembar. Sekitar 17% kasus kehamilan kembar berasal dari program IVF.

Namun, kehamilan kembar bukanlah “gol” utama yang diinginkan dari program IVF.

Hal ini karena efeknya sangat berisiko tinggi mengalami persalinan prematur serta berbagai komplikasi lainnya.

3. Kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan)

Komplikasi kehamilan ektopik ini terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel di tempat lain selain rahim.

Kehamilan ektopik sering kali terjadi di tuba falopi, rongga perut, atau pada leher rahim.

Ciri-ciri utama dari kehamilan ektopik adalah sakit perut hebat di satu sisi, keputihan cenderung keruh atau gelap, dan bercak darah ringan.

Punya cerita soal kehamilan?

Ayo gabung dengan komunitas Ibu Hamil Hello Sehat dan temukan berbagai cerita menarik seputar kehamilan.


Kalkulator Masa Subur

Kalkulator Masa Subur

Memantau siklus haid, menentukan hari kesuburan dan lebih membantu Anda untuk merencanakan kehamilan lebih baik.

Kalkulator Masa Subur

Memantau siklus haid, menentukan hari kesuburan dan lebih membantu Anda untuk merencanakan kehamilan lebih baik.

Kalkulator Masa Subur

Berapa lama siklus haid Anda?

(hari)

28

Berapa lama Anda haid?

(hari)

7

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

IVF Step-by-Step – Am I a Candidate for IVF? – Infertility – Services – Strong Fertility Center – UR Medicine Obstetrics & Gynecology – Rochester, NY – University of Rochester Medical Center . (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://www.urmc.rochester.edu/ob-gyn/fertility-center/services/infertility/ivf/ivf-step-by-step.aspx

In vitro fertilization (IVF) – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/in-vitro-fertilization/about/pac-20384716

What Is In-Vitro-Fertilization (IVF)?. (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://www.plannedparenthood.org/learn/pregnancy/fertility-treatments/what-ivf

Vitamin D and Fertility – Fertility Treatment – Los Angeles Fertility. (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://uscfertility.org/fertility-treatments/vitamin-d-fertility/

Paul T. Fullerton, Diana Monsivais, Ramakrishna Kommagani, Martin M. Matzuk. Follistatin is critical for mouse uterine receptivity and decidualization. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2017; 201620903 DOI: 10.1073/pnas.1620903114

In Vitro Fertilization (IVF): Side Effects and Risks. (2012). Retrieved 6 August 2020, from https://americanpregnancy.org/infertility/in-vitro-fertilization/

In vitro fertilization (IVF): What are the risks? . (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://www.reproductivefacts.org/news-and-publications/patient-fact-sheets-and-booklets/documents/fact-sheets-and-info-booklets/in-vitro-fertilization-ivf-what-are-the-risks/

Maryam Eftekhar, A. (2012). Comparison of conventional IVF versus ICSI in non-male factor, normoresponder patients. Iranian Journal Of Reproductive Medicine, 10(2), 131. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4163275/

Coping if treatment doesn’t work | Human Fertilisation and Embryology Authority. (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://www.hfea.gov.uk/treatments/explore-all-treatments/coping-if-treatment-doesnt-work/

What is intracytoplasmic sperm injection (ICSI)? . (2020). Retrieved 6 August 2020, from https://www.reproductivefacts.org/news-and-publications/patient-fact-sheets-and-booklets/documents/fact-sheets-and-info-booklets/what-is-intracytoplasmic-sperm-injection-icsi/

Saili, T., Said, S., Setiadi, M., Agungpriyono, S., Toelihere, M., & Boediono, A. (2005). Intracytoplasmic sperm injection (ICSI) sebagai teknik reproduksi unggulan. Bogor Agriculture University. Retrieved from https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53666

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Atifa Adlina Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x