Hati-Hati, Mirror Syndrome Bisa Mengintai Kesehatan Ibu dan Janin

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 10/12/2019
Bagikan sekarang

Salah satu komplikasi kehamilan yang menjadi mimpi buruk para ibu hamil adalah mirror syndrome. Kondisi ini terjadi ketika janin mengalami kelebihan cairan dan ibu mengalami preeklampsia (hipertensi saat hamil).

Bila ini kali pertama Anda mendengar soal mirror syndrome, ini saatnya mengetahui kenapa hal ini mungkin terjadi pada ibu hamil.

Gejala mirror syndrome pada ibu hamil mirip dengan preeklampsia

kaki bengkak setelah melahirkan

Mirror syndrome atau dikenal dengan istilah Ballantyne Syndrome dan triple edema, merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi.

Terkadang mirror syndrome ditafsir sebagai preeklampsia, karena memiliki kemiripan gejala. Padahal keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda.

Mirror syndrome pada ibu hamil biasanya ditandai dengan berbagai gejala seperti:

  • Terjadi pembengkakan parah pada beberapa bagian tubuh
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Adanya protein di dalam urin atau proteinuria (bisa diketahui melalui tes urin)
  • Berat badan naik dalam waktu singkat

Selain melalui gejala di atas, biasanya, mirror syndrome dapat diketahui secara pasti melalui tes darah. Pada mirror syndrome, hasil tes akan menunjukkan terjadinya hemodilusi. 

Hemodilusi bisa terjadi ketika jumlah plasma darah di atas normal, sementara sel darah merah di bawah batas normal.

Menurut penelitian dari Department of Obstetrics, Obstetrics and Gynecology Hospital of Fudan University Shanghai, China, ada beberapa gejala lain yang dapat dialami ibu.

Selain hipertensi dan proteinuria, gejala yang muncul pada ibu hamil dengan mirror syndrome di antaranya anemia dan jantung yang berdetak lebih cepat.

Sementara itu, janin juga mengalami pelebaran plasenta sehingga komplikasi yang terjadi dapat mengakibatkan janin meninggal dalam kandungan. 

Gejala mirror syndrome mungkin muncul pada minggu ke-16 kehamilan dan terkait erat dengan hidrops fetalis. Sementara preeklampsia dapat didiagnosis pada usia kehamilan 20 minggu.

Hidrops fetalis adalah kondisi ketika cairan keluar dari pembuluh darah dan menumpuk pada jaringan fetus. Hidrops fetalis dapat disebabkan karena ketidakmampuan fetus mengatur cairan tubuhnya.

Komplikasi kehamilan yang menyebabkan hidrops fetalis antara lain infeksi, sindrom genetik, gangguan jantung, kelainan metabolik, dan lainnya. 

Dalam beberapa kasus, ibu yang hamil anak kembar, dapat menimbulkan komplikasi twin-to-twin syndrome, sehingga menyebabkan fetalis hidrops.

Bagaimana cara mendiagnosis mirror syndrome?

proses kehamilan

Meskipun kondisi ini memiliki gejala, sayangnya belum ada tes yang secara spesifik mengindetifikasi mirror syndrome pada ibu hamil.

Namun, gejala seperti penumpukan cairan pada janin dapat diketahui melalui ultrasound. 

Sementara itu, preeklampsia juga dapat didiagnosis oleh dokter melalui tekanan darah dan tes urin. Melalui rangkaian tes dan ultrasound, dokter akan dengan mudah menganalisa gejala mirror syndrome.

Setelah dokter menganalisa gejala yang ada, pengobatan biasanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Dalam kondisi tertentu, ibu yang mengalami preeklampsia disertai dengan tanda-tanda kelahiran, persalinan akan segera direkomendasikan.

Saat bayi sudah lahir, umumnya gejala yang dialami ibu berangsur mereda. Di lain sisi, bayi akan menjalani perawatan khusus di ruang NICU.

Tetap cek rutin ke dokter kandungan selama masa kehamilan

bidan atau dokter kandungan

Maka dari itu, penting untuk ibu memeriksakan kehamilan setidaknya 4 kali selama kehamilan.

Selain memeriksakan kesehatan kandungan, pemeriksaan ini merupakan langkah antisipatif yang bisa ditempuh untuk mengidentifikasi mirror syndrome dan masalah kehamilan lainnya.

Pasalnya, mirror syndrome menjadi ancaman besar untuk ibu hamil dan janin yang ada di dalam kandungan.

Bila Anda memiliki keluhan tertentu, jangan ragu untuk konsultasikan kepada dokter. Bagaimanapun, diagnosis awal perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko komplikasi selama kehamilan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memahami Bahaya Hipertensi Saat Hamil, Ini yang Mesti Diwaspadai Ibu

Hipertensi pada ibu hamil tidak hanya dapat membahayakan kesehatan ibu, tapi juga perkembangan janin. Berikut informasi selengkapnya.

Ditinjau secara medis oleh: Nimas Mita Etika M
Ditulis oleh: Diah Ayu

7 Masalah yang Rentan Menyerang Ibu Hamil di Trimester Tiga

Saat sedang hamil trimester ketiga, Anda perlu lebih sering berkonsultasi ke dokter. Pasalnya,di usia ini kehamilan rentan mengalami 7 masalah ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Tekanan Darah Tinggi Saat Hamil? Hati-hati Tanda Preeklampsia

Agar terhindar dari berbagai komplikasi akibat preeklampsia yang dapat membahayakan ibu dan janin, yuk ketahui berbagai tanda preeklampsia.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Menikah Muda, Penyebab Utama Kematian Ibu Saat Melahirkan di Usia Belia

Indonesia adalah negara dengan kasus perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia. Jangan dimaklumkan! Imbasnya bisa berakibat fatal pada kesehatan.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila

Direkomendasikan untuk Anda

pusing saat hamil

Ragam Penyebab Pusing Saat Hamil Pada Tiap Trimester

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 10/10/2019
jari tangan bengkak saat hamil

4 Tips Mengatasi Jari Tangan yang Bengkak Saat Hamil

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18/08/2019
vitamin b kompleks untuk jantung

Tak Banyak yang Tahu, Vitamin B Ternyata Baik untuk Jaga Kesehatan Jantung

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 11/07/2019
bahaya fibroid rahim

Apakah Fibroid Rahim Berbahaya Bagi Kehamilan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2019